Linda Amalia Sari Gumelar

21 10 2011

Linda Amalia Sari Gumelar, Senang Berorganisasi Sejak Kecil 

Menjadi Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak bukanlah hal mudah. Banyak tantangan dan masalah yang harus diselesaikan. Oleh karena sejak kecil sudah aktif berorganisasi, Linda tak canggung lagi dengan lingkungan barunya. Perjalanan hidup Linda bisa Anda ikuti mulai nomor ini.

Jika ditanya saya berasal dari mana, mungkin bisa dibilang saya adalah orang Indonesia sejati. Ayah, H. Ahmad Tahir (alm.) berasal dari Salatiga, sementara kakek menikah dengan orang Melayu. Sedangkan Ibu, Hj. Rooslila Tahir (alm.), berayah orang Batak dan ibunya berasal dari Pariaman.

Ayah bekerja di TNI AD dan sempat menjabat sebagai Menteri Pariwisata, Pos dan Telekomunikasi, sedangkan Ibu aktif berorganisasi. Ibu pernah menjadi anggota DPR RI dan anggota Dewan Kesenian, ia seorang seniman dan wartawati. Beliau banyak bergerak di organisasi perempuan dan aktivis, bahkan punya sekolah di Medan.

Berhubung Ayah tentara, tugasnya pun selalu berpindah-pindah. Saya lahir di Kota Kembang, 15 November 1951, ketika ayah sedang bertugas di Bandung. Tapi, hanya sampai dua tahun di sana, lalu kami sekeluarga pindah ke Jakarta sampai sekarang. Uniknya, saya malah dapat suami, Agum Gumelar, yang asli orang Bandung. Ha ha ha.

Sering Berpindah-pindah
Saya diberi nama Linda Amalia Sari. Linda diambil dari bahasa Spanyol artinya manis. Lalu Amalia artinya anak yang diharapkan beramal baik dalam ilmu, selalu memperhatikan orang yang sedang kesulitan. Dalam falsafah agama, manusia harus banyak membantu orang. Sedangkan Sari artinya inti.

Setiap Ayah berpindah tugas, saya pun ikut pindah sekolah. Enam tahun di SD, ya enam kali pula pindah sekolah. Di usia 5-6 tahun saya sekolah di Roma, Italia ketika Ayah menjadi atase militer disana. Setahun disanapindah keJakartadi SD Cikini. Baru sebentar diJakarta, Ayah ditugaskan keBandungselama setahun.

Lantaran tahu akan dipindahkan ke Jakarta, sebelumnya kami

 

Read the rest of this entry »





Inche Yusof bin Ishak

18 10 2011

By Marsita Omar written on 27-Jul-2006

National Library Board Singapore

Comments on article: InfopediaTalk

Inche Yusof bin Ishak (b. 12 August 1910, Padang Gajah, Trong, Perak – d. 23 November 1970, Singapore) was Singapore’s first president when Singapore became a republic on 9 August 1965. The presidency was a natural transition as Inche Yusof had been the Yang di Pertuan Negara or the Head of State of Singapore since 3 December 1959, after Singapore achieved self-rule.  Inche Yusof became Singapore’s Head of State six months after the PAP won the first election in self-government Singapore on 30 May 1959. He replaced the first Yang di Pertuan Negara and last Governor of Singapore, Sir William Goode.

Early life
Yusof Ishak was of Minangkabau descent. His ancestor was a Minangkabau nobleman, Datok Janaton, who together with his brother, Datok Setia, and 80 followers, migrated to Kedah in 1789 and swore allegiance to the Sultan of Kedah.

Yusof’s father was Ishak bin Ahmad, the eldest of nine children. Being English-educated, Ishak found work in the Malayan Administrative Service, serving as clerk in the District office in Taiping and later in the Fisheries Department.  In 1923, Ishak was transferred to Singapore to assume the position of Assistant Inspector of Fisheries.  He was the first non-European to be a Director of the Fisheries Department.

Yusof’s education started in the Malay school in Kuala Kurau, Perak, and later at the Malay School at Taiping. In 1921 he began his English studies at King Edward VII School, Taiping.  In Singapore, Yusof attended Victoria Bridge School (now Victoria School) for his primary education and Raffles Institution (RI) for his secondary education. He excelled both in the academic and extra-curricular fields.  He scored Distinctions in both the 1927 Cambridge School Certificate and in the Senior Cambridge Exams. Yusof was admitted into the prestigious Queen’s Scholarship Class at RI, a group of only 13 and Yusof was the only Malay. He missed the Queen’s Scholarship by a few points.

Outside the classroom, Yusof was a school athlete, representing RI in many games including hockey, cricket, swimming, water polo, basketball, boxing and weightlifting.  He emerged champion in boxing, winning the Aw Boon Par cup in 1932, and weightlifting, becoming the national lightweight champion in 1933.  Away from the court, Yusof was the co-editor of Rafflesian, a prefect, and the first student in the history of the National Cadet Corps to be made a Second Lieutenant. His years in RI exposed him to a multi-cultural environment where he learnt to appreciate the aspirations and hopes of the other communities.

Read the rest of this entry »





Haji Alay, “Dokter Mal” asal Bukittinggi

25 09 2011

Oleh : Yuyun Manopol (SWA.co.id)

Ia disebut-sebut sebagai “penguasa” Pasar Tanah Abang karena memiliki banyak kios/toko. Ia pun dijuluki “dokter mal” karena mampu menggairahkan mal dan pusat perbelanjaan yang mati suri di berbagai kota. Kini, kiprah pebisnis senior ini lebih banyak di dunia sosial dan pendidikan.

 

Pagi itu sekitar pukul 09.00 suasana Blok F3 Pasar Tanah Abang sudah ramai dengan pedagang dan pembeli. Haji Alay mampir ke salah satu tokonya, Zona Scarf, yang menjual berbagai jenis kerudung dengan label Zona. “Biasanya pukul tujuh pagi saya sudah ada di toko,” ujar pria yang gemar berbaju koko dan berpeci ini.

 

Di seputar Pasar Tanah Abang, Haji Alay merupakan sosok kondang. Pria berusia 58 tahun asal Minang ini disebut-sebut sebagai salah satu penguasa toko di Pasar Tanah Abang. Ia juga dikenal sebagai pebisnis bertangan dingin yang mampu menggairahkan kembali sejumlah mal dan pusat perbelanjaan yang mati suri di beberapa daerah seperti Cipadu, Sukabumi, Cilegon, Makassar dan Ciputat.

 

Ini terbukti ketika penulis berjalan beriringan denganya menuju kantor dari tokonya yang berjarak beberapa ratus meter. Pria kelahiran Bukittinggi, 30 Mei 1953, ini beberapa kali bertukar sapa dengan para pedagang di sepanjang jalan. Mereka saling berjabat tangan dan kadang berpelukan hangat, sembari menanyakan kabar masing-masing. Bahkan, ada seorang ibu tua dengan pakaian lusuh bercerita tentang kondisi kesehatannya yang membaik setelah sebelumnya sulit berjalan karena sakit varises.

 

Read the rest of this entry »





Saldi, Tokoh Muda Inspiratif Nasional yang Penulis

30 07 2011

Saldi Isra, Tokoh Muda Inspiratif Nasional yang Penulis

 Oleh Yurnaldi
Sumatera Barat atau Ranah Minangkabau itu gudang pemikir dan intelektual nasional yang mumpuni dan diperhitungkan, orang sudah tahu. Sejarah bangsa ini, telah mencatat banyak nama. Dan pada suatu massa di zaman Orde Baru, sudah mulai terjadi krisis pemikir yang sekaligus penulis. Tak banyak lagi nama-nama yang mencuat ke permukaan secara nasional. Jumlahnya bisa dihitung dengan jari
Ketika saya mulai bergabung di Kompas, tahun 1995, saya mendapat pertanyaan, apa tak ada lagi orang semacam Hendra Asmara dan AA Navis di Sumatera Barat? Hendra Asmara dikenal secara nasional karena ia ekonom yang penulis dan sering jadi narasumber untuk persoalan ekonomi bangsa. Pemikirannya sangat disegani, bernas, cerdas, dan mencerahkan. Begitu juga AA Navis, ia dikenal tidak saja sebagai sastrawan, tetapi juga budayawan.
Mendapat pertanyaan itu, saya seolah ditantang; kalau memang ada silakan dorong dan orbitkan. Kompas sangat terbuka bagi mereka.
Dalam perjalanan, hanya di bidang kesusastraan agak banyak penulis dan pemikir yang muncul dari Sumatera Barat. Menyebut sejumlah nama, misalnya, ada Mursal Esten, Harris Effendi Thahar, Hasanuddin WS, Darman Moenir, Gus tf Sakai, dan Yusrizal KW. Bidang kesejarahan ada Mestika Zed.
Sedangkan di bidang lain, boleh dikata tidak ada. Ketika ada suatu isu, mereka tidak siap memberikan pandangan dan pemikirannya. Kepakarannya belum teruji. Alasan yang selalu dikemukakan, “Saya belum tahu. Saya belum membaca. Buat pertanyaan tertulis, nanti saya jawab”.
Beda dengan seorang Saldi Isra. Di usia mudanya ia sudah menunjukkan kepakarannya. Ia sangat menguasai isu terkini dan selalu ada pemikiran yang orisinal darinya. Ia sering menulis di Koran daerah di Padang, sejak mahasiswa.
Tak ingat kapan pertama kali bertemu dengan Saldi. Akan tetapi untuk pertama kali ia saya jadikan narasumber adalah ketika heboh kasus ‘korupsi berjemaah’ di Sumatera Barat. Judul berita dengan narasumber Saldi waktu itu “Cacat Hukum, Pengesahan APBD Sumbar” (Kompas, 2 Februari 2002, halaman 19). Berlanjut kemudian “APBD Sumatera Barat 2002 Boros” (Kompas, 6 Februari 2002, halaman 20), “Lagi, Dana Aspirasi DPRD Sumbar Rp11 Miliar” (Kompas, 7 Februari 2002, halaman 19), dan “Diduga Melakukan Korupsi: Seluruh Anggota DPRD Sumbar Dilaporkan Kekejaksaan” (Kompas, 12 Februari 2002, halaman 20). Setelah itu Saldi tak putus-putusnya jadi narasumber Kompas.
Nama Saldi mencuat, sejalan dengan mencuatnya kasus korupsi yang heboh secara nasional itu. Gerakan sosial melawan korupsi yang dilakukan Forum Peduli Sumatera Barat (FPSB) di tahun 2002. Dia salah satu –tanpa menafikan sejumlah nama lain—nama yang cukup mencuat, apalagi Saldi Isra ketika itu menjadi koordinatornya.
Saldi tak hanya jadi narasumber yang selalu siap bila berhadapan dengan wartawan. Jauh sebelumnya, menjelang gerakan reformasi, Saldi sudah menulis di pemikirannya di harian Kompas. Opini Saldi Isra pertama kali dimuat judulnya “Saatnya, Perbaikan Tap MPRS No XX/1966” (Kompas, 14 Januari 1998, halaman 5). Kemudian opini “Wakil Presiden Jadi Ketua DPA? Tanggapan untuk G Moedjanto” (Kompas, 4 Maret 1998, halaman 5). Opini ketiga lahir tiga tahun kemudian, yaitu “Sekitar Pengisian Jabatan Wakil Presiden” (Kompas, 25 Juli 2001, halaman 4).
Hingga tulisan ini dibuat, 22 Januari 2010, Saldi Isra telah menulis 113 opini di harian Kompas. Terakhir berjudul “Menunggu Giliran SBY” (Kompas, 21 Januari 2010, halaman 4).
Kalau tidak salah, tahun 2008, Saldi Isra tercatat sebagai penulis paling produktif di harian Kompas. Bahkan, hingga Januari 2010, sudah 248 kali menjadi sumber berita Kompas. Read the rest of this entry »




Yurnaldi, “Wartawan Hebat” di Redaksi Kompas

29 07 2011

Oleh: Muhammad Subhan

(Catatan: profil ini telah dimuat di majalah “Rantau” oleh penulisnya)


Bagi kalangan wartawan senior dan pemula di Sumatera Barat, kota Padang khususnya, bisa dibilang tak ada yang tidak mengenal sosok wartawan kalem ini. Siapa lagi kalau bukan Yurnaldi, wartawan Harian Kompas yang sejak beberapa tahun lalu ditarik ke kantor pusatnya di Jakarta untuk memperkuat jajaran redaksi harian terbesar di Indonesia itu. Baginya, dapat hijrah ke ibukota merupakan sebuah prestasi luar biasa.

Alumni Universitas Negeri Padang (UNP) ini seringkali memotivasi wartawan maupun penulis pemula dalam setiap kesempatan bersamanya, baik melalui seminar kepenulisan maupun dalam diskusi-diskusi nonformal di kampus. Baginya, semua orang memiliki potensi menulis yang luar biasa, tinggal saja mau tidaknya mengasah potensi itu.
“Setiap kita pasti ingin meraih sesuatu prestasi. Prestasi, memang, tak selalu identik dengan meraih gelar juara. Dari tidak lihai, menjadi lihai menulis, itu sudah prestasi. Dari belum pernah dimuat di media nasional, lalu tiba-tiba bisa tembus media nasional, juga prestasi yang membanggakan bagi penulisnya,” ujar Yurnaldi dalam kesempatan berbincang-bincang dengan “Rantau” beberapa waktu lalu.




Prof. Dr. Azyumardi Azra

26 05 2011

Sir Azra dan Islam Indonesia

Oleh : Prof M Bambang Pranowo

Guru Besar Sosiologi Agama, UIN Jakarta/Direktur Lembaga Kajian Islam dan Perdamaian

Indonesia patut berbangga. Betapa tidak! Salah seorang putra terbaiknya, Prof. Dr. Azyumardi Azra, mendapat gelar Commander of the Order of British Empire (CBE) dari Kerajaan Inggris Raya. Pemberian gelar tersebut menjadikan

putra kelahiran Sumatera Barat ini adalah orang pertama di luar negara-negara Persemakmuran (Commonwealth) yang berhak memakai gelar Sir dan mendapat hak-hak istimewa dari Kerajaan Inggris.

Di antara hak-hak istimewanya, Sir Azyumardi Azra, CBE berhak dimakamkan di Inggris (kalau mau) dan juga bisa bolak-balik ke Inggris tanpa visa. Gelar yang dianugerahkan Ratu Inggris kepada Bung Edi—panggilan akrab guru besar UIN Jakarta—ini lebih tinggi ketimbang gelar yang diberikan kepada David Beckham (Officer of the Order of British Empire atau OBE), pemain sepak bola Inggris yang dikagumi Azra.

Gelar ini, jelas sangat menggembirakan—bukan hanya bagi Azra, tapi juga bagi bangsa Indonesia. Sebab pemberian gelar ini atas pertimbangan peran Azra dalam mendorong terbentuknya Islam yang moderat dan menghargai pluralisme.

Islam Indonesia

Menurut Azra, para pemimpin Muslim Inggris selama ini hanya mengenal kehidupan beragama yang mengacu ke Arab Saudi atau Asia Selatan. Mereka tidak pernah menyangka ada kehidupan dan pemikiran Islam yang sedemikian moderat serta inklusif seperti di Indonesia. Para pemimpin Islam Inggris kagum melihat Indonesia bisa memiliki dasar negara Pancasila yang menempatkan Ketuhanan Yang Maha Esa pada tempat pertama.

Read the rest of this entry »





Syekh Thahir Djalaluddin Al-Azhari Al-Falaki

29 04 2011

Ulama Besar Semenanjung Malaysia Keturunan Minangkabau

Ditulis ulang : MuhammadIlham (c) Tim Peneliti FIBA

“Kehadiran Thahir Djalaluddin, menurut Roff, telah menarik perhatian para ulama kaum tua di Semenanjung. Mayoritas para ulama tua ini merasa tersaingi dan terkesan kehadiran ahli falak ini menggerogoti otoritas dan domain keilmuan mereka” (William Roff)

Syekh Thahir Djalaluddin Al-Azhari Al-Falaki (selanjutnya disebut Thahir Djalaluddin) pada waktu kecil memiliki nama Muhammad Thahir. Beliau lahir di nagari Ampek Angkek Canduang, Bukittinggi pada tanggal 7 Desember 1869. Beliau kembali ke Rahmatullah pada tanggal 26 Oktober 1956 di Kuala Kangsar Perak, Malaysia. Secara genetik, Thahir Djalaluddin merupakan keturunan ”darah biru ulama”. Ayahnya bernama Muhammad, yang biasa dipanggil dengan Syekh Cangkiang. Gelar Syekh ini menunjukkan bahwa ayah Thahir Djalaluddin merupakan seorang ulama. Sementara itu, kakeknya bernama Ahmad Djalaluddin dengan gelar Tuanku Sami’, seorang kadi pada masa Paderi. Thahir Djalaluddin merupakan saudara sepupu dari Syekh Ahmad Khatib al-Minangkabawi. Sementara itu, ibu Thahir Djalaluddin, Limbak Urai, merupakan kakak dari Gandam Urai, ibu dari Syekh Ahmad Khatib. Thahir Djalaluddin memiliki empat orang saudara yaitu Aishah, Maryam, Muhammad Amin dan Halimah. Ketika beliau berumur 2 tahun, ayah Thahir Djalaluddin meninggal dunia dan enam tahun kemudian sang ibu-pun menyusul ke rahmatullah. Sejak itu, beliau diasuh oleh adik ibunya, Limbak Urai.Thahir Djalaluddin mempunyai enam orang istri yang dinikahinya dalam waktu yang berbeda. Istri pertama beliau bernama Aishah binti Haji Mustafa yang dinikahinya ketika beliau pertama sekali tinggal di Kuala Kangsar. Dengan aishah ini, Thahir Djalaluddin dikaruniai enam orang anak yang bernama Rahmah, Muhammad Al-Johary, Ahmad, azizah, Hamid dan Hamdan. Sedangkan lima orang lagi istri beliau merupakan keturunan Minangkabau yang dinikahinya ketika Thahir Djalaluddin berkunjung ke Minangkabau. Dengan istri-nya yang lima orang keturunan Minangkabau tersebut, Thahir Djalaluddin tidak dikaruniai anak. Sampai akhir hayatnya, Thahir Djalaluddin tetap menjaga perkawinannya dengan istrinya yang pertama Aishah binti Haji Mustafa. Pada tahun 1880, Thahir Djalaluddin berangkat ke Mekkah untuk menuntut ilmu Islam menyusul kakak sepupunya yang terlebih dahulu ke Mekkah. Syekh Ahmad Khatib berangkat ke Mekkah tahun 1871. Di Mekkah ini, beliau belajar selama 13 tahun (dari tahun 1880-1893), termasuk belajar pada kakak sepupunya Syekh Ahmad Khatib. Karena Thahir Djalaluddin belum merasa puas selama belajar di Mekkah, Thahir Djalaluddin berangkat ke Mesir dan melanjutkan studinya di Al-Azhar selama 3 tahun (1895-1898). Kemudian beliau kembali lagi ke Mekkah dan bergabung sambil belajar dengan sepupunya yang pada waktu itu telah diangkat menjadi Guru dan Imam Mazhab Syafei di Masjidil Haram. Limbak Urai merupakan istri dari Abdul Lathif Khatib Nagari yang merupakan tokoh di kampung halaman Thahir Djalaluddin ketika itu.Pada tahun 1898, beliau kemudian meninggal Mekkah dan menetap di Malaya.Intensitas kegiatan Thahir Djalaluddin kemudian selanjutnya terfokus di daerah Perak, Johor dan Singapura. Kalau tidak mendapat tantangan dari beberapa ulama tua-tradisionalis di Perak, beliau berkemungkinan besar diangkat menjadi Mufti Kerajaan Perak.




Syekh Ahmad Khatib al Minangkabawy – Pelopor Gerakan Pembaharu di Minangkabau

19 04 2011

Oleh : Buya Mas’oed Abidin

Syeikh Ahmad Khatib al-Minankabawi – Imam dan khatib Masjid al-Haram Mekah -, Pelopor Gerakan Pembaruan di Minangkabau dan Tanah jawi (Nusantara)
Salah seorang pelopor gerakan pembaruan di Minangkabau yang menyebarkan pikiran-pikirannya dari Mekah pada awal abad ke-20 adalah Syekh Ahmad Khatib EL Minangkabawy (1855).[1]

Syekh Ahmad Khatib adalah turunan dari seorang hakim gerakan Padri yang sangat anti penjajahan Belanda. Ia dilahirkan di Bukittinggi (lahir Isnin, 6 Zulhijjah 1276 H/26 Jun 1860 M, wafat 9 Jamadilawal 1334 H/13 Mac 1916 M) dalam catatan lainnya beliau dilahirkan pada tahun 1855 oleh ibu bernama Limbak Urai, yang adalah saudara dari Muhammad Shaleh Datuk Bagindo, Laras, Kepala Nagari Ampek Angkek yang berasal dari Koto Tuo Balaigurah, Kecamatan Ampek Angkek Candung. Ayahnya adalah Abdullatief Khatib Nagari, saudara dari Datuk Rangkayo Mangkuto, Laras, Kepala Nagari Kotogadang, Kecamatan IV Koto, di seberang ngarai Bukittinggi.

Baik dari pihak ibu ataupun pihak ayahnya, Ahmad Khatib adalah anak terpandang, dari kalangan keluarga yang mempunyai latar belakang agama dan adat yang kuat, anak dan kemenakan dari dua orang tuanku Laras dari Ampek dan Ampek Angkek. Ditenggarai, bahwa ayah dan ibu Ahmad Khatib dipertemukan dalam pernikahan berbeda nagari ini, karena sama-sama memiliki kedudukan yang tinggi dalam adat, dari keluarga tuanku laras, dan latar belakang pejuang Paderi, dari keluarga Pakih Saghir dan Tuanku nan Tuo.

Read the rest of this entry »





Dua Bundo Kanduang Kala Menentang Sang Putra Fajar

18 04 2011

Oleh : Muhammad Ilham

Dua orang wanita Minangkabau pada masa rezim Sukarno yang berani menentang “kemapanan” putra sang-Fajar ini. Pertama Rohana Kudus dan yang kedua Rahmah el-Yunusiyah.

Rohana Kudus, saudari dari Sutan Syahrir menentang keinginan beberapa “petualang politik” di MPRS agar mentahbiskan Sukarno menjadi Presiden se-Umur Hidup. Sebagai jurnalis, Rohana Kudus mentransformasikan pemikirannya ini dalam “kata-kata”. Sementara, Rahmah e-Yunusiyah, memanfaatkan “hak eksklusifnya” sebagai anggota MPRS menentang Sukarno. Sejarah kemudian mencatat bahwa Rahmah dan Rohana Kudus dikenal sebagai perempuan-perempuan yang membuat repot Soekarno. Sikap keras kepala dan penentangannya pada Presiden RI yang pertama itu, yang membuat Rahmah berseberangan dengan Soekarno. Rahmah menganggap Soekarno telah melenceng dari demokrasi terpimpinnya dan kedekatannya dengan kaum komunis. Konsekuensinya, Rahmah dikucilkan. Sekali pun Rahmah adalah anggota MPRS dari Sumatra Bagian Tengah, ia memilih bergerilya di hutan ketimbang harus ikut dengan kemauan pemerintah pusat. Rahmah mengalami masa-masa sulit di dalam hutan Sumatra, provinsi Jambi pada tahun 1950-an itu. Namun ia teguh pada pendirian, menentang komunis di bumi Minang.

Read the rest of this entry »





Rosihan Anwar

15 04 2011
Putera Seorang Demang di Padang itu Telah Pergi

Putera Seorang Demang di Padang anak keempat dari sepuluh bersaudara putra Anwar Maharaja Sutan telah berpulang Kamis (14/4) pagi sekitar pukul 09.00 WIB, Ia masuk ruang gawat darurat (ICU) Rumah Sakit (MMC) Jakarta, sejak Senin (7/3).  Ia dirawat karena gangguan serangan jantung.

Innalillahi Wainailaihi Radjiun. Dunia pers Indonesia kembali kehilangan sosok tokoh dan guru yang terkenal kritis. Penulis dan wartawan senior H Rosihan Anwar (89) dikabarkan meninggal dunia sekitar pukul 08.15 WIB di Rumah Sakit Metropolitan Medical Center (MMC) Kuningan Jakarta Selatan.  Almarhum sebelumnya sempat dirawat lebih dari sebulan.

Anak seorang demang di Padang, Sumatera Barat ini menyelesaikan sekolah rakyat (HIS) dan SMP (MULO) di Padang. Ia pun melanjutkan pendidikannya ke AMS di Yogyakarta. Dari sana Rosihan mengikuti berbagai workshop di dalam dan di luar negeri, termasuk di Yale University dan School of Journalism di Columbia University, New York, Amerika Serikat.

Rosihan telah hidup dalam ‘multi-zaman’. Di masa perjuangan, dirinya pernah disekap oleh penjajah Belanda di Bukitduri, Jakarta Selatan. Kemudian di masa Presiden Soekarno koran miliknya, Pedoman pada 1961 ditutup oleh rezim saat itu. Namun di masa peralihan pemerintah Orde Baru, Rosihan mendapat anugerah sebagai wartawan sejak sebelum Revolusi Indonesia dengan mendapatkan anugerah Bintang Mahaputra III, bersama tokoh pers Jakob Oetama.

Sayangnya rezim Orde Baru ini pun menutup Pedoman pada tahun 1974-kurang dari setahun setelah Presiden Soeharto mengalungkan bintang itu di leher para penerimanya.
Rosihan memulai karier jurnalistiknya sebagai reporter Asia Raya di masa pendudukan Jepang tahun 1943 hingga menjadi pemimpin redaksi Siasat (1947-1957) dan Pedoman (1948-1961). Selama enam tahun, sejak 1968, ia menjabat Ketua Umum Persatuan Wartawan Indonesia (PWI). Bersama Usmar Ismail, pada 1950 ia mendirikan Perusahaan Film Nasional (Perfini). Dalam film pertamanya, Darah dan Doa, ia sekaligus menjadi figuran. Dilanjutkan sebagai produser film Terimalah Laguku. Sejak akhir 1981, aktivitasnya di film adalah mempromosikan film Indonesia di luar negeri dan tetap menjadi kritikus film sampai sekarang.

Read the rest of this entry »








Follow

Get every new post delivered to your Inbox.