Hendra Esmara

17 01 2008

HENDRA ESMARA
Hendra Esmara menilai bahwa format Repelita yang dipergunakan sekarang belum sepenuhnya dapat menjangkau permasalahan yang semakin kompleks. Ia merasa perlu adanya penyempurnaan dan peningkatan teknik penyusunannya. Pelaksanaan Repelita I sampai III, dan sebagian Repelita IV, diakuinya telah mampu meningkatkan taraf hidup rakyat. Tetapi ada kesan, ”Akibat kelemahan format itu sendiri, hasil-hasil yang telah dicapai belum mencapai titik optimal.” Peningkatan dan penyempurnaannya dinilainya penting menghadapi tahap tinggal landas dalam Repelita VI, 1994-1999. Penilaian Prof. Hendra Esmara, S.E., ini dikemukakan dalam pidato pengukuhannya selaku guru besar perencanaan pembangunan pada Fakultas Ekonomi Universitas Andalas, Padang, 27 Juli 1985. Pidato pengukuhan itu berjudul ”Politik Perencanaan Pembangunan: Teori, Kebijaksanaan, dan Prospek”.

Read the rest of this entry »





Gusnaldi

17 01 2008

Gusnaldi Semula, penata rias bukan cita-cita Gusnaldi. Namun belakangan ia berubah. “Profesi ini menjanjikan bagi masa depan saya,” kata lelaki Minang kelahiran Bukittinggi ini. Dan waktu membuktikan. Selain kini memiliki beberapa salon, ia pun telah meraih pengakuan sebagai The Best Make Up Artist 2000. Lalu apa cita-citanya dulu? “Waktu kecil saya sebenarnya sangat ingin menjadi dokter atau pramugara,” papar Gusnaldi.

Read the rest of this entry »





Adinegoro

17 01 2008


Djamaluddin Adinegoro Datuk Maharadjo Soetan

Pada suatu hari, di tahun 1985 menjelang HUT PWI ke-39, saya waktu itu Ketua PWI Cabang Sumatra Barat, akan meresmikan pemberian nama gedung PWI Sumatra Barat sekarang dengan nama Balai Wartawan Djamaluddin Adinegoro. Putra Beliau, Adiwarsita Adinegoro telah berjanji dengan saya akan hadir pada upacara peresmian nama Balai Wartawan Padang tersebut dengan nama ayahnya. Sementara pihak kemenakannya di Talawi (menurut garis ibu) juga telah mengizinkan pemakaian nama pamannya itu yang akrab dipanggilnya dengan Om Djamal.

Read the rest of this entry »





Deliar Noer

17 01 2008

DELIAR Noer
Dua kali Deliar Noer terpaksa melepas jabatannya. Pada 1964, dari jabatan dosen Universitas Sumatera Utara (USU), karena dituding anti-Nasakom. Pada 1974, seiring dengan larangan pembacaan pidato pengukuhannya selaku guru besar IKIP Jakarta, doktor lepasan Universitas Cornell, AS, itu diberhentikan sebagai rektor institut yang sama. Setelah masa-masa sulit — tanpa penghasilan tetap dan tinggal di rumah kontrakan — pria Minang kelahiran Medan ini memutuskan bekerja sebagai peneliti pada Universitas Nasional Australia (ANU) di Canberra. ”Daripada tidak bisa makan di negeri sendiri, lebih baik cari makan di negeri orang,” kata anak kedua dari tiga bersaudara itu.

Read the rest of this entry »





Bagindo Aziz Chan

17 01 2008


Mengenang Pahlawan Nasional Bagindo Aziz Chan

Tulisan ini berasal dari majalah resmi pemerintah “Madjalah Penerangan Sumatera Tengah” No. 112, 15 Djuli 1953, tahun IV dengan judul tulisan “PAHLAWAN NASIONAL AZIZ CHAN”
Melihat judul tulisan di atas serta suara-suara yang berkembang belakangan ini agar beliau diusulkan sebagai “Pahlawan Nasional”, hemat penulis sebelum permintaan itu disampaikan, ada baik diteliti terlebih dahulu mengapa sampai ada judul majalah pemerintah tahun 1953 itu seperti demikian. Walikota Padang Pertama Pemerintah Inggris di London mengumumkan akan menarik pasukannya dari seluruh wilayah Indonesia mulai tanggal 30 Nopember 1946.

Read the rest of this entry »





Arwin Rasyid

17 01 2008

Arwin Rasyid LAHIR di Roma, Italia, ia kemudian melewatkan masa kanak-kanak di Swiss selama enam tahun dan Singapura lima tahun. Ketika ia pulang ke Indonesia, apa yang terjadi? Arwin Rasyid tidak bisa berbahasa Indonesia. “Saya pikir bahasa Indonesia itu bahasa Padang,” tutur Direktur Utama Bank Danamon ini. Karena sehari-hari keluarganya berbahasa Inggris dan bahasa Padang. Ayahnya seorang diplomat asal Sumatera Barat; ibunya berdarah Sumatera Barat pula. Atas dispensasi dari Departemen P&K, Arwin masuk sekolah internasional, The Gandhi Memorial School Jakarta, yang tidak memakai bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar. Tapi, setelah lulus sekolah internasional itu, ayah dan ibunya menginginkan Arwin kuliah di dalam negeri. Tapi kalau ayahnya menginginkannya masuk fakultas hukum, mau sang ibu agar bungsu dari empat bersaudara itu masuk fakultas kedokteran. Padahal, Arwin berpeluang kuliah di University of New Delhi di New Delhi, India, dengan beasiswa dari The Gandhi Memorial School. Apa yang terjadi, Arwin menentukan sendiri pilihannya.