Sosiolog bergelar doktor dari Universitas Singapura ini dikenal sebagai ahli Minangkabau. Tampil dalam Seminar Disiplin Nasional di Universitas Andalas, September 1983, membawakan makalah ”Konsep Disiplin dalam Kebudayaan Minangkabau”, Mochtar Naim mendapat tanggapan ramai. Di sana ia membagi konflik, yang konon dahulu sudah ada di Nusantara, dalam dua kubu: kekuatan antipoda budaya M dan J.
Ciri pola budaya M (bisa diduga: Minangkabau), katanya, berorientasi horisontal, egaliter, sentrifugal, dan sinkretis. Pada budaya J (Jawa, tentu) pola budaya lokal yang mengarah ke kutub ini jumlahnya lebih banyak dan lebih dominan — episentra disiplin harus dicari pada orang-orangnya, dan dalam nilai budaya yang membentuk peri laku mereka.
Lalu, di mana berada berbagai masyarakat budaya Nusantara lainnya? ”Dalam konteks polarisasi kebudayaan N (Nusantara) ini, dapat diperkirakan bahwa mereka berada di antara kedua kutub J dan kutub M,” katanya. Konsep dua pola budaya utama di Nusantara ini memang pernah dikemukakan Mochtar pada kesempatan yang lain, misalnya dalam Seminar Internasional tentang Kesusastraan dan Kebudayaan Minangkabau di Bukittinggi, September 1980.
Masa kecil ilmuwan dari Sungaipenuh, Sumatera Barat, ini cukup sengsara. ”Saya lahir sungsang,” tutur Mochtar. Ketika ia berusia lima tahun, ibunya meninggal saat melahirkan (juga dengan sungsang) adiknya. Ternyata, cobaan belum cukup. Ayahnya, seorang pedagang kecil, yang menduda, lalu pergi dan menikah kembali.


















Recent Comments