Taufik Abdullah

30 06 2008

Sejarawan dan Peneliti

Mantan Ketua Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) ini seorang sejarawan dan peneliti yang teguh berpegang pada etika ilmiah. Pria kelahiran Bukittinggi, 3 Januari 1936, lulusan Jurusan Sejarah Fakultas Sastra & Kebudayaan UGM Yogyakarta (1961) dan doktor (S3) Universitas Cornell, Ithaca, AS (1970), ini senang menjadi peneliti, karena merasa tidak terpasung pada birokrasi.

Menurutnya seorang peneliti dituntut untuk berpegang teguh pada etika ilmiah. Karena itu, diperlukan kejujuran, sehingga tercapai integritas intelektual. Sikap wajar diperlukan, di samping rasional dan jernih dalam berpikir — sikap yang bukannya tidak mengundang risiko.

Prof Dr Taufik Abdullah menganggap sejarawan Indonesia masih terbelenggu pada asumsi-asumsi teoretis maupun primordial. Posisi sejarawan hendaknya netral, dan menjaga jarak dari sasaran penelitian, sehingga dapat memberi makna obyektif terhadap realitas.

Dipandang dari segi peranan kaum intelektual, masa Orde Baru, di mata Taufik, terbagi dalam tiga periode. Masa 1966-1974 merupakan periode kreatif-produktif bagi kaum intelektual. Dalam periode itu berbagai masalah strategi pembangunan dibicarakan. Masa 1974-1978 merupakan periode transisi. Di sini, dilihatnya, ada kecenderungan kaum teknokrasi makin dihargai. Yang dihargai, menurut dia, bukan gagasan mereka, tetapi pelaksanaannya. Periode 1978 hingga sekarang, peranan intelektual semakin diambil oleh penguasa. ”Akibatnya, kesegaran berpikir berkurang, dan eksesnya merangsang untuk bertindak radikal,” kata Taufik.

Read the rest of this entry »





Melanie Putria Dewita Sari

30 06 2008

Dara Minang, Putri Indonesia 2002

Setelah melalui proses pemilihan yang ketat, Melanie Putria Dewita Sari(20), mahasiswi, wakil dari Sumatera Barat, terpilih menjadi Putri Indonesia 2002. Pemilihan kali ini diikuti oleh 34 finalis yang mewakili 30 provinsi di Indonesia (DKI Jakarta diwakili empat finalis). Rissa Susmex, puteri asal Aceh yang pernah menjadi juara pidato berbahasa Spanyol di Venesia, terpilih sebagai runner up satu. Runner up dua adalah finalis asal DKI Jakarta, Sagita Sinta Pratiwi. Fransisca Sani Laurent (Papua) sebagai putri persahabatan, sementara favorit pemirsa adalah Komang Ayu Butiny (Bali).

Sebagai Putri Indonesia 2002, Imel menerima hadiah antara lain adalah rumah dinas, mobil dinas, dan uang sejumlah Rp25 juta. Juara lomba nyanyi Asia Bagus 1999, peraih medali emas paduan suara di Austria dan juga Miss London School ini akan bertugas sebagai duta Indonesia, di antaranya di bidang pariwisata, seni dan kebudayaan, serta kampanye antinarkoba selama setahun mendatang.

Setelah sepuluh hari berada dalam karantina panitia, pada malam final pemilihan Putri Indonesia 2002 di Teater Tanah Airku, TMII, Jumat (12/7/02), 34 finalis disaring lagi berturut-turut menjadi kelompok 10 besar, 5 besar, hingga 3 besar. Di setiap babak, dewan juri yang terdiri dari 11 orang dari berbagai kalangan meminta kontestan untuk beropini tentang suatu hal. Mulai masalah sosial, teknologi, pariwisata, hingga pengetahuan umum.

Ketua Dewan Juri, Kusumadewi, menilai Imel, panggilan akrab Melanie, terlihat sangat menonjol. “Saat menjawab berbagai pertanyaan yang disampaikan kepadanya, ia tampak yakin, percaya diri. Ia memberi jawaban yang sangat berbobot,” tutur Kusumadewi kepada Media. Selain itu, lanjutnya, Imel memiliki inner dan outer beauty. Selain cantik, Imel selalu menunjukkan sikap yang santun dan relijius.

Read the rest of this entry »