Dr Sjahrir (1945-2008)

29 07 2008

Ekonom Pendiri PIB

Innalillahi wa’inna illaihi rojiuun! Satu lagi kita kehilangan tokoh nasional asal Minangkabau,

Ekonom Dr Sjahrir, yang akrab dipanggil Ciil, pendiri Partai Indonesia Baru (PIB) meninggal dunia di RS Mount Elizabeth, Singapura, Senin 28 Juli 2008 sekitar pukul 08.00 WIB. Aktivis Malari yang terakhir menjadi anggota Dewan Pertimbangan Presiden Bidang Ekonomi, itu dimakamkan di TPU Tanah Kusir, Jakarta Selatan, Selasa 29 Juli 2008.

Sjahrir meninggal akibat menderita penyakit kanker. Jenazah tiba Senin pukul 20.55 dan disemayamkan di rumah duka Jalan Sukabumi Nomor 15, Menteng, Jakarta Pusat. Sejumlah tokoh datang melayat. Di antaranya para rekannya di Dewan Pertimbangan Presiden, seperti Ali Alatas, Rachmawati Soekarnoputri, Adnan Buyung dan Emil Salim.

Sekitar pukul 22.00, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono didampingi Ny Ani Yudhoyono juga melayat di rumah duka. Juga beberapa menteri, di antaranya Menteri Keuangan/Plt Menko Perekonomian Sri Mulyani Indrawati, Gubernur BI Boediono, Mensesneg Hatta Rajasa, Menneg LH Rachmat Witoelar. Juga Dorodjatun Kuntjoro-Jakti dan Akbar Tandjung.

Ciil meninggalkan istri, Kartini, serta dua anak, Pandu dan Gita. Sjahrir adalah anak tunggal pasangan mantan Bupati Magelang, Ma’moen Al Rasyid (almarhum) dan Rusma Malik (almarhumah).

Read the rest of this entry »





Hj.Rosma

28 07 2008

Pengabdian Ibu Yang Tidak Berbatas

Oleh : Nita Indrawati/ Padangkini.com

Hj. Rosma, memiliki ribuan anak jahit
yang pernah belajar di rumahnya.

Memasuki usia 82 tahun pada 10 Agustus mendatang, Hj. Rosma tampak tak banyak berubah. Semangat dan motivasinya untuk membangun daerah melalui pendidikan ketrampilan masih tergolong tinggi. Ia merasa perjuangannya belum selesai. Masih banyak yang harus ia kerjakan.

Ketuaan tak jadi hambatan bagi Rosma. Ia tetap terampil mendesain motif dan masih telaten mengajarkan anak didiknya menyulam dan membordir. Mata tuanya masih betah berlama-lama mengamati jahitan hasil karya anak didiknya. Dari desa Bonjo Panampuang, Ampek Angkek Canduang, kabupaten Agam, masih terdengar deru mesin jahit yang didengungkan oleh anak-anak didiknya.

“Jumlah anak-anak yang belajar disini memang makin sedikit. Dibanding pada tahun 70-an, jauh bedanya. Kalau pada masa itu dalam setahun saja jumlah anak-anak yang belajar sampai ratusan bahkan ribuan, sekarang tak sampai 100 orang, ” ungkap Rosma kepada padangmedia.com, suatu hari ketika berkunjung ke rumahnya. Saat ini di rumah jahitnya sekitar 20 anak rutin belajar menjahit saban hari. Bulan Agustus mendatang diperkirakan akan bertambah 10 orang dari Pekan Baru dan 10 orang dari Padang.

Hj. Rosma sendiri juga heran, kenapa semangat juang anak muda sekarang semakin rendah. Tidak seperti dulu, ketika anak-anak didiknya, terdiri dari remaja putus sekolah datang dari berbagai pelosok, ingin belajar menjahit dan membordir. “Apakah remaja sekarang memang begitu ? Mereka tidak tertarik lagi belajar menjahit. Yang saya lihat, banyak dari mereka lebih suka menjadi pelayan toko dari pada belajar menjahit. Padahal dengan belajar menjahit mereka akan memiliki keahlian seumur hidup. Mungkin karena belajar ini butuh perjuangan. Sementara jadi pelayan toko, bisa instan, kerja sebulan, langsung dapat gaji. Padahal berapalah gaji sebagai pelayan toko yang cuma tamat SMA,” papar Rosma yang masih dipercaya menjadi Ketua Bundo Kanduang di Agam. Padahal ia sudah berkali-kali mengusulkan agar posisinya digantikan oleh yang lebih muda.

Read the rest of this entry »