<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Urang Minang</title>
	<atom:link href="http://urangminang.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://urangminang.wordpress.com</link>
	<description>All about Profile Minangkabau people's,</description>
	<lastBuildDate>Tue, 20 Dec 2011 05:45:02 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='urangminang.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Urang Minang</title>
		<link>http://urangminang.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://urangminang.wordpress.com/osd.xml" title="Urang Minang" />
	<atom:link rel='hub' href='http://urangminang.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Linda Amalia Sari Gumelar</title>
		<link>http://urangminang.wordpress.com/2011/10/21/linda-amalia-sari-gumelar/</link>
		<comments>http://urangminang.wordpress.com/2011/10/21/linda-amalia-sari-gumelar/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 21 Oct 2011 01:54:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Is Sikumbang</dc:creator>
				<category><![CDATA[Apa dan Siapa]]></category>
		<category><![CDATA[bukittinggi]]></category>
		<category><![CDATA[bundo kanduang]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Jakarta]]></category>
		<category><![CDATA[minangkabau]]></category>
		<category><![CDATA[padang]]></category>
		<category><![CDATA[Pariaman]]></category>
		<category><![CDATA[perempuan]]></category>
		<category><![CDATA[tokoh minang]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://urangminang.wordpress.com/?p=327</guid>
		<description><![CDATA[Linda Amalia Sari Gumelar, Senang Berorganisasi Sejak Kecil  Menjadi Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak bukanlah hal mudah. Banyak tantangan dan masalah yang harus diselesaikan. Oleh karena sejak kecil sudah aktif berorganisasi, Linda tak canggung lagi dengan lingkungan barunya. Perjalanan hidup Linda bisa Anda ikuti mulai nomor ini. Jika ditanya saya berasal dari mana, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=urangminang.wordpress.com&amp;blog=2533188&amp;post=327&amp;subd=urangminang&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Linda Amalia Sari Gumelar, Senang Berorganisasi Sejak Kecil </strong></p>
<p><a href="http://urangminang.files.wordpress.com/2011/10/linda.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-328" title="linda" src="http://urangminang.files.wordpress.com/2011/10/linda.jpg?w=510" alt=""   /></a>Menjadi Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak bukanlah hal mudah. Banyak tantangan dan masalah yang harus diselesaikan. Oleh karena sejak kecil sudah aktif berorganisasi, Linda tak canggung lagi dengan lingkungan barunya. Perjalanan hidup Linda bisa Anda ikuti mulai nomor ini.</p>
<p>Jika ditanya saya berasal dari mana, mungkin bisa dibilang saya adalah orang Indonesia sejati. Ayah, H. Ahmad Tahir (alm.) berasal dari Salatiga, sementara kakek menikah dengan orang Melayu. Sedangkan Ibu, Hj. Rooslila Tahir (alm.), berayah orang Batak dan ibunya berasal dari Pariaman.</p>
<p>Ayah bekerja di TNI AD dan sempat menjabat sebagai Menteri Pariwisata, Pos dan Telekomunikasi, sedangkan Ibu aktif berorganisasi. Ibu pernah menjadi anggota DPR RI dan anggota Dewan Kesenian, ia seorang seniman dan wartawati. Beliau banyak bergerak di organisasi perempuan dan aktivis, bahkan punya sekolah di Medan.</p>
<p>Berhubung Ayah tentara, tugasnya pun selalu berpindah-pindah. Saya lahir di Kota Kembang, 15 November 1951, ketika ayah sedang bertugas di Bandung. Tapi, hanya sampai dua tahun di sana, lalu kami sekeluarga pindah ke Jakarta sampai sekarang. Uniknya, saya malah dapat suami, Agum Gumelar, yang asli orang Bandung. Ha ha ha.</p>
<p><strong>Sering Berpindah-pindah</strong><br />
Saya diberi nama Linda Amalia Sari. Linda diambil dari bahasa Spanyol artinya manis. Lalu Amalia artinya anak yang diharapkan beramal baik dalam ilmu, selalu memperhatikan orang yang sedang kesulitan. Dalam falsafah agama, manusia harus banyak membantu orang. Sedangkan Sari artinya inti.</p>
<p>Setiap Ayah berpindah tugas, saya pun ikut pindah sekolah. Enam tahun di SD, ya enam kali pula pindah sekolah. Di usia 5-6 tahun saya sekolah di Roma, Italia ketika Ayah menjadi atase militer disana. Setahun disanapindah keJakartadi SD Cikini. Baru sebentar diJakarta, Ayah ditugaskan keBandungselama setahun.</p>
<p>Lantaran tahu akan dipindahkan ke Jakarta, sebelumnya kami</p>
<p>&nbsp;</p>
<p align="center"><span id="more-327"></span>dipindahkan dulu ke SD Cilacap. Kami dititipkan di rumahOmdi daerah Cipete. Tahun 1959, daerah Cipete masih hutan dan gelap. Kami tinggal di Perumahan Deplu. Kemudian, Ibu mendapat rumah di Panglima Polim, yang sampai kini jadi rumah saya bersama keluarga. Lalu kami sekolah di SD Kwitang V, Jakarta Selatan, dekat rumah.</p>
<p>Bagi saya, berpindah-pindah tempat menjadi pengalaman unik sekaligus merepotkan. Makanya, ketika saya dapat suami tentara juga, saya tak mau anak-anak mengalami hal yang sama. Akhirnya anak-anak tetap di satu tempat, cukup saya saja yang berpindah-pindah mengikuti suami.</p>
<p>Dulu, semasa kecil, saya harus melakukan banyak penyesuaian di sekolah yang selalu berpindah-pindah. Dan itu tidak mudah. Makanya, saya jadi tak punya sahabat atau teman baik. Baru kenalan sebentar sudah pindah rumah. Sisi positifnya, saat memasuki dunia organisasi di masyarakat, saya jadi cepat menyesuaikan diri.</p>
<p>Baru di SMP 13 Jakarta saya menemukan sahabat sejati. Pertemanan kami cukup kental, karena merasa senasib seperjuangan. Malah sampai kini, kami rutin bertemu di acara perkumpulan dan arisan. Begitu juga dengan teman-teman di SMA 6 Bulungan Jakarta, sampai kini kami tetap bersahabat.</p>
<p>Meski dulu pernah mengalami masa susah, Ayah adalah sosok yang tekun dan banyak berjuang. Beliau juga seorang guru dan pernah memproklamirkan kemerdekaan di Sumatera. Ayah selalu berjuang, mendidik kami dengan disiplin, dan membantu dalam pelajaran.</p>
<p>Jadi, beliau tak pernah memanggil guru les seperti zaman sekarang. Lucunya, karena kasihan melihat anak-anak, PR sekolah pernah dikerjakan Ayah. Lalu, paginya dijelaskan bagaimana cara penyelesaiannya. Nah, ketika sampai di sekolah, teman-teman bertanya, “Eh, Papa kamu sudah bikin PR, ya?” Dan mereka pun mencontek PR saya. Ha ha ha. Tapi, itu sesekali saja, lho.</p>
<p>Ayah memang sangat berpengaruh banyak dalam pendidikan kami. Jika kami ujian, selalu ditunggui, lalu pulang ujian pun dijemput beliau. Begitu ujian selesai, bersama teman-teman, saya diajak makan gado-gado Purbawisesa oleh Ayah. Untuk ukuran zaman dulu, makanan itu sudah top sekali.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p align="center"><strong>Gemuk &amp; Doyan Makan</strong></p>
<p>Saya anak ke-4 dari 6 bersaudara, dan hanya ada dua anak perempuan. Nah, kepada anak perempuannya, Ayah sangat sayang, terutama saya. Jika semua kakak dan adik tak berhasil minta sesuatu, sayalah yang turun tangan menghadap Ayah. Soalnya saya termasuk anak yang tak pernah minta sesuatu. Misalnya, kami mau pergi beramai-ramai ke suatu tempat tapi tak diberi izin. Lalu saya minta ke Ayah, eh, langsung diberi izin.</p>
<p>Sementara sosok Ibu adalah orang yang aktif berorganisasi. Hal itulah yang menurun ke saya, senang berorganisasi. Rumah kami sudah terbiasa menjadi tempat orang-orang mengadakan rapat.</p>
<p>Ibu adalah Ketua Umum Istri Pajurit Angkatan Darat (Persit). Dulu, istri panglima belum tentu jadi Ketua Persit karena masih dipilih dari seluruh Indonesia. Nah, Ibu terpilih dua kali. Jadi, saya selalu melihat suasana kegiatan ibu-ibu di rumah.</p>
<p>Ibu sangat aktif berorganisasi, memperjuangkan hak-hak wanita. Atau kegiatan seni seperti latihan paduan suara dan tari-tarian. Ada peristiwa lucu yang tak pernah saya lupakan. Bila sedang ada rapat di rumah, saya ikut duduk di ruang tamu. Bukan untuk mendengarkan ibu-ibu rapat, melainkan menunggu kue yang dihidangkan di meja.</p>
<p>Badan saya dulu gemuk karena doyan makan. Di antara saudara lainnya, badan saya paling gemuk. Kalau dikasih makan, saya pasti langsung terdiam. Jadilah saya dititipkan kakak-kakak untuk mengamati kue-kue itu. Nantinya kue lapis legit buat siapa, kue mangkok atau lemper buat siapa.</p>
<p>Dulu, kan, zaman sulit, kue seperti itu belum gampang diperoleh. Jadi, kami juga ingin ikut menikmati kue itu. Mata saya tak pernah berhenti menatap kue itu. Jika kue lapisnya sudah dimakan orang lain, saya lapor ke kakak, ”Kue lapisnya sudah dimakan!” Begitu seterusnya setiap ada kue yang dimakan oleh tamu. Ha ha ha.</p>
<p><strong>Aktif Organisasi</strong><br />
Saya mulai aktif berorganisasi sejak SD, misalnya jadi Ketua Kelas. Bila ada kegiatan sekolah, saya selalu jadi panitia. Di SMP, karena aktif sekali, saya sampai pernah mengkoordinir demo dengan menyewa truk. Saya koordinatornya, jadi duduknya di sebelah sopir. Ha ha ha.</p>
<p>Ketika ada malam penggalangan dana, kami juga bisa mengundang penyanyi super top kala itu, Dara Puspita. Hebat ya, saya bisa mendatangkan mereka. Meski begitu, kedua orangtua selalu mengajarkan sikap-sikap baik. Ketika Ayah jadi Panglima, kami harus bisa menjadi diri sendiri, jangan merasa jadi anak panglima.</p>
<p>Semua fasilitas jangan dipakai, misalnya ayah pakai ajudan, anaknya ya jangan ikut-ikutan. Hal ini saya turunkan juga ke anak-anak, meski dulu kakeknya menteri dan papanya juga menteri, lalu saya kini juga jadi menteri, anak-anak tak perlu berubah sikapnya.</p>
<p>Pernah sekali waktu, kebetulan Ayah sedang bertugas ke luar negeri saat menjadi anggota dewan telekomunikasi. Suasana di Indonesia mencekam karena sedang terjadi pemberontakan. Kami bahkan diteror dan diawasi. Ayah tak bisa pulang karena kondisinya tak memungkinkan. Lantaran khawatir, Ibu terpaksa membawa kami mengungsi selama 3 bulan di suatu tempat. Untungnya kami tetap bisa bersekolah.</p>
<p>Kasih sayang Ibu kepada kami sangat besar. Sosoknya tegar dan mau berjuang. Beliau suka sekali masak dan selalu menyiapkan makanan buat kami. Beliau juga sangat memperhatikan keluarga. Bahkan, adik-adik Ibu pun dibesarkan dan tinggal bersama Ibu. Tapi sayang, kepandaiannya memasak tidak menurun ke saya, melainkan ke kakak saya.</p>
<p><strong>Jadi Vokalis Band</strong><strong> </strong><br />
Saking banyaknya yang hidup bersama kami di rumah, Tante kami juga ikut ke luar negeri saat Ayah sedang bertugas. Begitu juga saat harus ke Italia, kami pergi berbondong-bondong ke Roma.</p>
<p>Dulu, mobil di sana masih besar-besar seperti Cadillac. Jadi, saat kami turun dari mobil sambil pakai jaket karena dingin, orang-orang di sana sampai bingung melihat rombongannya banyak sekali. Satu persatu kami dihitung. “Mamma Mia,” kata mereka. Pasti mereka pikir anaknya banyak banget. Ha ha ha.</p>
<p>Begitu juga saat saya di SMA, kebetulan Ayah mendapat tugas sebagai Gubernur Akabri di Magelang. Suasana di Magelang sepi sekali. Oleh karena suka musik, akhirnya kami membuka stasiun radio pemancar, namanya Antariksa.</p>
<p>Waktu itu modelnya masih radio pemancar. Saat itu usia saya 16 tahun dan sudah jadi penyiar. Kode namanya, Lima Alfa Sierra atau singkatkan dari nama saya. Kami juga pernah bikin band keluarga, lho! Saya main organ dan jadi vokalis. Suaranya semampunya saja, tapi kayaknya sudah paling top saja waktu itu. Saya memang sempat belajar piano tapi tak terlalu jago.</p>
<p>Kegiatan itu kami lakukan hanya untuk mengisi kekosongan saja. Kadang manggung di Akademi Militer atau di rumah saat ada acara tertentu. Setelah saya jadi mahasiswa, sudah tak pernah main band lagi.</p>
<p>Selama setahun di Magelang, sebelum lulus SMA, saya dipindah ke SMA 6 Bulungan untuk persiapan jurusan dan kuliah. Khawatir Ayah ditugaskan lagi ke lain kota, jadi saya lebih dulu pindah ke Jakarta untuk mempersiapkan diri jadi mahasiswi.</p>
<p>Saya sempat kuliah di Fakultas Farmasi Universitas Pancasila. Saya sebetulnya ingin jadi dokter, tapi tak diterima di Universitas Indonesia. Sayang, saya tak bisa meneruskan kuliah karena menikah. Kelak saya melanjutkan kuliah di Universitas Terbuka, Fakultas Ilmu Sosial Politik, Jurusan Administrasi Negara sampai selesai.</p>
<p>Selain menambah wawasan ilmu, intinya saya ingin memberi contoh kepada anak-anak. Belajar tidak ada batas usianya. Jadi, ketika mereka belajar bersama teman-temannya, saya juga ikut belajar. Makanya, tak ada alasan bagi mereka untuk bermalas-malasan. Mereka jadi rajin belajar karena ibunya saja masih terus belajar. Hal itu saya lakukan untuk memotivasi mereka.</p>
<p><strong>Noverita K. Waldan</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Sumber : <a href="http://www.tabloidnova.com/Nova/Profil/Linda-Amalia-Sari-Gumelar-Senang-Berorganisasi-Sejak-Kecil-2">http://www.tabloidnova.com/Nova/Profil/Linda-Amalia-Sari-Gumelar-Senang-Berorganisasi-Sejak-Kecil-2</a></strong></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/urangminang.wordpress.com/327/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/urangminang.wordpress.com/327/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/urangminang.wordpress.com/327/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/urangminang.wordpress.com/327/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/urangminang.wordpress.com/327/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/urangminang.wordpress.com/327/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/urangminang.wordpress.com/327/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/urangminang.wordpress.com/327/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/urangminang.wordpress.com/327/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/urangminang.wordpress.com/327/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/urangminang.wordpress.com/327/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/urangminang.wordpress.com/327/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/urangminang.wordpress.com/327/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/urangminang.wordpress.com/327/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=urangminang.wordpress.com&amp;blog=2533188&amp;post=327&amp;subd=urangminang&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://urangminang.wordpress.com/2011/10/21/linda-amalia-sari-gumelar/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/2b3fb6c0851c864df7ef92665bc2b754?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">tan marajo</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://urangminang.files.wordpress.com/2011/10/linda.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">linda</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Inche Yusof bin Ishak</title>
		<link>http://urangminang.wordpress.com/2011/10/18/inche-yusof-bin-ishak/</link>
		<comments>http://urangminang.wordpress.com/2011/10/18/inche-yusof-bin-ishak/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 18 Oct 2011 05:54:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Is Sikumbang</dc:creator>
				<category><![CDATA[Diplomat]]></category>
		<category><![CDATA[minangkabau]]></category>
		<category><![CDATA[bukittinggi]]></category>
		<category><![CDATA[padang]]></category>
		<category><![CDATA[tokoh minang]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://urangminang.wordpress.com/?p=322</guid>
		<description><![CDATA[By Marsita Omar written on 27-Jul-2006 National Library Board Singapore Comments on article: InfopediaTalk Inche Yusof bin Ishak (b. 12 August 1910, Padang Gajah, Trong, Perak &#8211; d. 23 November 1970, Singapore) was Singapore&#8217;s first president when Singapore became a republic on 9 August 1965. The presidency was a natural transition as Inche Yusof had been the Yang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=urangminang.wordpress.com&amp;blog=2533188&amp;post=322&amp;subd=urangminang&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2><span class="Apple-style-span" style="font-size:13px;font-weight:normal;">By <strong>Marsita Omar</strong> written on 27-Jul-2006</span></h2>
<div id="description">
<p>National Library Board Singapore</p>
<p>Comments on article: <a href="http://infopediatalk.nl.sg/biographies/SIP_1097_2006-07-28">InfopediaTalk</a></p>
</div>
<div id="article">
<p><a href="http://urangminang.files.wordpress.com/2011/10/yusof-ishak.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-323" title="yusof ishak" src="http://urangminang.files.wordpress.com/2011/10/yusof-ishak.jpg?w=510" alt=""   /></a><a class="zem_slink" title="Yusof bin Ishak" href="http://www.istana.gov.sg/FormerPresidents/YusofIshak" rel="homepage">Inche Yusof bin Ishak</a> (<em>b. 12 August 1910, <a class="zem_slink" title="Padang Gajah" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Padang_Gajah" rel="wikipedia">Padang Gajah</a>, Trong, Perak &#8211; d. 23 November 1970, Singapore</em>) was Singapore&#8217;s first president when Singapore became a republic on 9 August 1965. The presidency was a natural transition as Inche Yusof had been the <a class="zem_slink" title="Yang di-Pertuan Negara" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Yang_di-Pertuan_Negara" rel="wikipedia">Yang di Pertuan Negara</a> or the <a class="zem_slink" title="Head of state" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Head_of_state" rel="wikipedia">Head of State</a> of Singapore since 3 December 1959, after Singapore achieved self-rule.  Inche Yusof became Singapore&#8217;s Head of State six months after the PAP won the first election in self-government Singapore on 30 May 1959. He replaced the first Yang di Pertuan Negara and last Governor of Singapore, Sir William Goode.</p>
<p><strong><span style="text-decoration:underline;">Early life</span></strong><br />
Yusof Ishak was of Minangkabau descent. His ancestor was a Minangkabau nobleman, Datok Janaton, who together with his brother, Datok Setia, and 80 followers, migrated to Kedah in 1789 and swore allegiance to the Sultan of Kedah.</p>
<p>Yusof&#8217;s father was Ishak bin Ahmad, the eldest of nine children. Being English-educated, Ishak found work in the Malayan Administrative Service, serving as clerk in the District office in Taiping and later in the Fisheries Department.  In 1923, Ishak was transferred to Singapore to assume the position of Assistant Inspector of Fisheries.  He was the first non-European to be a Director of the Fisheries Department.</p>
<p>Yusof&#8217;s education started in the Malay school in Kuala Kurau, Perak, and later at the Malay School at Taiping. In 1921 he began his English studies at <a class="zem_slink" title="King Edward VII School (Sheffield)" href="http://maps.google.com/maps?ll=53.3762,-1.4957&amp;spn=0.01,0.01&amp;q=53.3762,-1.4957 (King%20Edward%20VII%20School%20%28Sheffield%29)&amp;t=h" rel="geolocation">King Edward VII School</a>, Taiping.  In Singapore, Yusof attended Victoria Bridge School (now <a class="zem_slink" title="Victoria School" href="http://vs.moe.edu.sg" rel="homepage">Victoria School</a>) for his primary education and Raffles Institution (RI) for his secondary education. He excelled both in the academic and extra-curricular fields.  He scored Distinctions in both the 1927 Cambridge School Certificate and in the Senior Cambridge Exams. Yusof was admitted into the prestigious Queen&#8217;s Scholarship Class at RI, a group of only 13 and Yusof was the only Malay. He missed the Queen&#8217;s Scholarship by a few points.</p>
<p>Outside the classroom, Yusof was a school athlete, representing RI in many games including hockey, cricket, swimming, water polo, basketball, boxing and weightlifting.  He emerged champion in boxing, winning the Aw Boon Par cup in 1932, and weightlifting, becoming the national lightweight champion in 1933.  Away from the court, Yusof was the co-editor of <em><a class="zem_slink" title="Raffles Institution (Secondary)" href="http://www.ri.edu.sg" rel="homepage">Rafflesian</a></em>, a prefect, and the first student in the history of the National Cadet Corps to be made a Second Lieutenant. His years in RI exposed him to a multi-cultural environment where he learnt to appreciate the aspirations and hopes of the other communities.</p>
<p><strong><span style="text-decoration:underline;"><span id="more-322"></span>Early Career</span></strong><br />
Yusof was interested in law but his father could not afford to send him to England to further his studies. Yusof joined the Police Academy in Kuala Lumpur but due to some disagreements left the Academy and returned to Singapore.  There, he started a magazine, <em>Sportsman</em>, with friends Ong Chin Beng and Soh Swee Tuck but the magazine failed commercially. At the invitation of another school friend, Syed Hussein bin Ali Alsagoff, he joined the Alsagoff-owned newspaper, <em>Warta Malaya</em>, as a clerk.  He rose rapidly to be Assistant Manager, running the company&#8217;s finances.  <em>Warta Malaya</em> was the voice of the Arabs in Singapore and was influenced by the developments of the Middle East.  But Yusof&#8217;s calling was for a truly Malay newspaper that was owned by, run by and dedicated to the Malays.  When he was Manager of <em>Warta Malaya</em>, he seriously formed the idea of turning this vision to reality.</p>
<p>In early 1938, together with some 20 Malay leaders in Singapore including Yahya Abdul Rahman, Yunos Haji Daim, Osman Hassan, Embok Soloh, Sudin Abdul Rahman and Abdullah Abdul Ghani, Yusof established the <a class="zem_slink" title="Utusan Malaysia" href="http://www.utusan.com.my/" rel="homepage">Utusan Melayu</a> Press Ltd, located at 64 Queen Street.  The Press published a Malay newspaper, <em>Utusan Melayu</em>, which first circulated on 29 May 1939. True to Yusof&#8217;s vision, <em>Utusan Melayu</em> was the first paper to be owned and financed by the Malays. Yusof was wholly dedicated to this newspaper; sourcing for capital to start the paper as well as competent journalistic staff, acquiring machines and advertisers, and looking after company accounts and its general administration.</p>
<p><strong><span style="text-decoration:underline;">WWII and Post-War</span></strong><br />
The Japanese Occupation disrupted Yusof&#8217;s newspaper activities.  The Utusan Melayu Press was closed and its equipment requisitioned to publish the Japanese paper, <em>Berita Malai</em>.  Yusof sold off his camera and with the money moved to Taiping where he lived quietly and ran a provision shop.  When British took over Malaya in 1945 ,Yusof rushed back to Singapore and resumed <em>Utusan Melayu</em>.</p>
<p>The post-war climate was changing with the Malays awakened to their political rights. Yusof through <em>Utusan Melayu</em> fanned this fervour which culminated in the formation of United Malay Nationalist Organisation (<a class="zem_slink" title="United Malays National Organisation" href="http://www.umno-online.com/" rel="homepage">UMNO</a>) in 1946.  But soon UMNO&#8217;s vision (restoration of the Sultan) and Yusof&#8217;s democratic ideals clashed and tension between them erupted repeatedly in <em>Utusan Melayu</em>.</p>
<p>In 1957, Yusof moved from Singapore to live in Kuala Lumpur.  The headquarters of <em>Utusan Melayu</em> also shifted to Kuala Lumpur and started to publish the newspaper from there in February 1958. Yusof&#8217;s hold on <em>Utusan Melayu</em> started to loosen as UMNO began buying shares in Utusan.  Yusof resisted but eventually sold all his shares in 1959 and resigned from the newspaper.  He moved to Singapore in the same year to assume the position of Chairman, Public Service Commission of Singapore, at the invitation of Lee Kuan Yew.</p>
<p><span style="text-decoration:underline;"><strong>Political Career</strong></span><br />
When PAP won the election and formed the government in May 1959, Yusof was a leading choice for the Head of State. Yusof was chosen because he was a man of integrity, dignity, honesty, and had high moral principles. On 3 December 1959, he was appointed as the Head of State of Singapore, representing the Queen of England. When Singapore gained independence on 9 August 1965, Yusof Ishak became the first President of the <a class="zem_slink" title="Singapore" href="http://maps.google.com/maps?ll=1.28333333333,103.833333333&amp;spn=10.0,10.0&amp;q=1.28333333333,103.833333333 (Singapore)&amp;t=h" rel="geolocation">Republic of Singapore</a>.</p>
<p>It was a delicate task for Inche Yusof as Singapore was at a very challenging period of political, social and economic development. He was steadfast in promoting multi-racialism. He worked very hard, going out to meet people of different races and helping to bring trust and confidence in the new republic. On 28 February 1966, in appreciation of Inche Yusof&#8217;s interest in the Singapore Arts Society, the latter commissioned a white marble bust of Inche Yusof  in suit and tie, which was presented to him in a ceremony at the Istana.</p>
<p>Inche Yusof&#8217;s health started to deteriorate in 1968. He had been hospitalised for heart trouble and other illnesses. On 23 November 1970, during his third term in office, he passed away due to heart failure.</p>
<p>To commemorate Singapore&#8217;s first president, Singapore launched a new series of currency notes bearing the portrait of Inche Yusof Ishak at the turn of the 21st century.</p>
<p><strong><span style="text-decoration:underline;">Timeline</span></strong><br />
1929 : Started sports publication, <em>Sportsman</em><br />
1932 : Joined the Malay newspaper, <em>Warta Melayu</em>, achieving Assistant Manager and Acting Editor rapidly<br />
1938 : Established a Malay newspaper, Utusan Melayu Press Ltd (<em>Syarikat Utusan Melayu</em>), which launched the Malay newspaper, <em>Utusan Melayu</em>, on 29 May 1939.  Yusof Ishak was the company&#8217;s first Managing Director<br />
1942-1945 : Remained in Taiping during most of the Japanese Occupation years<br />
3 Sep 1945 : Returned to Singapore. Immediately resumed <em>Utusan Melayu</em>.<br />
1948 : Visited Britain as a member of the First Press Delegation.<br />
1948 1950 : Served on the Film Appeal Committee.<br />
Jul 1959 : Chairman, Public Service Commission, Singapore<br />
1 Dec 1959 : Appointed by Queen Elizabeth as Yang di Pertuan Negara<br />
2 Dec 1959 : Moved to Government House (the Istana)<br />
3 Dec 1959 : Sworn-in as Yang di Pertuan Negara of Singapore<br />
Apr 1963 : Visited Cambodia together with his wife, Puan Noor Aishah. Performed Haj in Saudi Arabia where they were the State Guests of the Kingdom of Saudi Arabia.<br />
May 1963 : State visit to Ceylon.<br />
3 Jul 1965 : Chancellor of the University of Singapore.<br />
9 Aug 1965 : Became the first President of the Republic of Singapore</p>
<p><strong><span style="text-decoration:underline;">Honours</span></strong><br />
Nov 1960 : First Class Order of the Darjah Kerabat (The Most Esteemed Royal Family Order of Brunei).<br />
Nov 1963 : Darjah Kebesaran Sri Maharajah Mangku Negara (S.M.N.) by the Yang di Pertuan Agong of Malaysia.</p>
<p><strong><span style="text-decoration:underline;">Family</span></strong><br />
Wife, Puan Noor Aishah (<em>m. 1948</em>)<br />
Children : Three, one son (Imran) and two daughters (Kamariah, Zuriana).</p>
<p><strong>Author<br />
</strong>Marsita Omar</p>
<p><strong><br />
References</strong><br />
Ainon Kuntom. (1973). <em>Malay newspapers, 1876-1973: A historical survey of the literature</em> (pp. 27-32).<br />
(Call no.: RSING q079.5951 AIN)</p>
<p>Ang. H. S. (1991). <em>Dialogues with S. Rajaratnam, former Senior Minister in the Prime Minister&#8217;s Office</em> (pp. 132-145). Singapore: Shin Min Daily News.<br />
(Call no.: RSING 320.95957 RAJ )</p>
<p>Chew, M. (1996). <em>Leaders of Singapore</em> (pp. 180-186). Singapore: Resource Press.<br />
(Call no. RSING 920.05957 CHE )</p>
<p><em>The presidential notes</em> (Vol. 2). (1999). Singapore: SNP Publishing.<br />
(Call no.: RSING q769.5595957 PRE)</p>
<p><em>Singapore Chronicles</em> (pp. 48-49). (1995).  Hong Kong : Illustrated Magazine Pub.<br />
(Call no.: RSING 959.57 SIN  -[HIS])</p>
<p>Board of Commissioners of Currency, Singapore. (1999). <em>The portrait notes</em>. Retrieved May 26, 2005, from<a href="http://www.starsgroup.com/singaporecurrency/portraitnotes.html">www.starsgroup.com/singaporecurrency/portraitnotes.html</a></p>
<p>President&#8217;s Office, Republic of Singapore. (1999). <em>Istana archives</em>. Retrieved May 26, 2005, from <a href="http://www.istana.gov.sg/history.html#yusof">www.istana.gov.sg/history.html#yusof</a></p>
<p>Straus, S. (n.d.).<em>Polymer bank notes of the world: Yusof bin Ishak</em>. Retrieved May 26, 2005, from <a href="http://www.polymernotes.org/biographies/SGP_bio_binishak.htm">www.polymernotes.org/biographies/SGP_bio_binishak.htm</a></p>
<p>The information in this article is valid as at 2005 and correct as far as we are able to ascertain from our sources.  It is not intended to be an exhaustive or complete history of the subject.  Please contact the Library for further reading materials on the topic.</p>
</div>
<p><strong>Subject</strong><br />
Personalities&gt;&gt;Biographies&gt;&gt;Political Leaders<br />
Yusof Ishak, 1910-1970<br />
Political leadership&#8211;Singapore&#8211;Biography<br />
Presidents&#8211;Singapore&#8211;Biography<br />
Law and government&gt;&gt;Political process&gt;&gt;Leadership</p>
<p><strong><br />
</strong></p>
<p>All Rights Reserved. National Library Board Singapore 2006.</p>
<p>Sumber : <a href="http://infopedia.nl.sg/articles/SIP_1097_2006-07-28.html">http://infopedia.nl.sg/articles/SIP_1097_2006-07-28.html</a></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/urangminang.wordpress.com/322/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/urangminang.wordpress.com/322/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/urangminang.wordpress.com/322/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/urangminang.wordpress.com/322/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/urangminang.wordpress.com/322/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/urangminang.wordpress.com/322/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/urangminang.wordpress.com/322/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/urangminang.wordpress.com/322/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/urangminang.wordpress.com/322/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/urangminang.wordpress.com/322/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/urangminang.wordpress.com/322/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/urangminang.wordpress.com/322/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/urangminang.wordpress.com/322/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/urangminang.wordpress.com/322/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=urangminang.wordpress.com&amp;blog=2533188&amp;post=322&amp;subd=urangminang&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://urangminang.wordpress.com/2011/10/18/inche-yusof-bin-ishak/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/2b3fb6c0851c864df7ef92665bc2b754?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">tan marajo</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://urangminang.files.wordpress.com/2011/10/yusof-ishak.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">yusof ishak</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Haji Alay, “Dokter Mal” asal Bukittinggi</title>
		<link>http://urangminang.wordpress.com/2011/09/25/haji-alay-%e2%80%9cdokter-mal%e2%80%9d-asal-bukittinggi/</link>
		<comments>http://urangminang.wordpress.com/2011/09/25/haji-alay-%e2%80%9cdokter-mal%e2%80%9d-asal-bukittinggi/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 25 Sep 2011 15:30:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Is Sikumbang</dc:creator>
				<category><![CDATA[Apa dan Siapa]]></category>
		<category><![CDATA[bukittinggi]]></category>
		<category><![CDATA[Cilegon]]></category>
		<category><![CDATA[Jakarta]]></category>
		<category><![CDATA[Makassar]]></category>
		<category><![CDATA[minangkabau]]></category>
		<category><![CDATA[Palembang]]></category>
		<category><![CDATA[Sukabumi]]></category>
		<category><![CDATA[Tanah Abang]]></category>
		<category><![CDATA[tokoh minang]]></category>
		<category><![CDATA[Ulama]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://urangminang.wordpress.com/?p=319</guid>
		<description><![CDATA[Oleh : Yuyun Manopol (SWA.co.id) Ia disebut-sebut sebagai “penguasa” Pasar Tanah Abang karena memiliki banyak kios/toko. Ia pun dijuluki “dokter mal” karena mampu menggairahkan mal dan pusat perbelanjaan yang mati suri di berbagai kota. Kini, kiprah pebisnis senior ini lebih banyak di dunia sosial dan pendidikan. &#160; Pagi itu sekitar pukul 09.00 suasana Blok F3 Pasar [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=urangminang.wordpress.com&amp;blog=2533188&amp;post=319&amp;subd=urangminang&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h3><span class="Apple-style-span" style="font-size:13px;font-weight:normal;">Oleh : Yuyun Manopol (SWA.co.id)</span></h3>
<p><img class="alignleft" src="http://swa.co.id/image.php/Haji%20Alay,%20%E2%80%9CDokter%20Mal%E2%80%9D%20asal%20Bukittinggi.jpg?width=200&amp;cropratio=3:3&amp;image=http://swa.co.id/wp-content/uploads/21249_1.jpg" alt="" width="200" height="200" /></p>
<p>Ia disebut-sebut sebagai “penguasa” Pasar <a class="zem_slink" title="Tanah Abang" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Tanah_Abang" rel="wikipedia">Tanah Abang</a> karena memiliki banyak kios/toko. Ia pun dijuluki “dokter mal” karena mampu menggairahkan mal dan pusat perbelanjaan yang mati suri di berbagai kota. <a class="zem_slink" title="Kini" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Kini" rel="wikipedia">Kini</a>, kiprah pebisnis senior ini lebih banyak di dunia sosial dan pendidikan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Pagi itu sekitar pukul 09.00 suasana Blok F3 Pasar Tanah Abang sudah ramai dengan pedagang dan pembeli. Haji Alay mampir ke salah satu tokonya, Zona Scarf, yang menjual berbagai jenis kerudung dengan label Zona. “Biasanya pukul tujuh pagi saya sudah ada di toko,” ujar pria yang gemar berbaju koko dan berpeci ini.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Di seputar Pasar Tanah Abang, Haji Alay merupakan sosok kondang. Pria berusia 58 tahun asal Minang ini disebut-sebut sebagai salah satu penguasa toko di Pasar Tanah Abang. Ia juga dikenal sebagai pebisnis bertangan dingin yang mampu menggairahkan kembali sejumlah mal dan pusat perbelanjaan yang mati suri di beberapa daerah seperti Cipadu, <a class="zem_slink" title="Sukabumi" href="http://maps.google.com/maps?ll=-6.9196,106.9272&amp;spn=0.1,0.1&amp;q=-6.9196,106.9272 (Sukabumi)&amp;t=h" rel="geolocation">Sukabumi</a>, <a class="zem_slink" title="Cilegon" href="http://maps.google.com/maps?ll=-6.0156,106.0531&amp;spn=0.1,0.1&amp;q=-6.0156,106.0531 (Cilegon)&amp;t=h" rel="geolocation">Cilegon</a>, <a class="zem_slink" title="Makassar" href="http://maps.google.com/maps?ll=-5.13333333333,119.416666667&amp;spn=0.1,0.1&amp;q=-5.13333333333,119.416666667 (Makassar)&amp;t=h" rel="geolocation">Makassar</a> dan <a class="zem_slink" title="Ciputat" href="http://maps.google.com/maps?ll=-6.31111111111,106.761944444&amp;spn=1.0,1.0&amp;q=-6.31111111111,106.761944444 (Ciputat)&amp;t=h" rel="geolocation">Ciputat</a>.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Ini terbukti ketika penulis berjalan beriringan denganya menuju kantor dari tokonya yang berjarak beberapa ratus meter. Pria kelahiran Bukittinggi, 30 Mei 1953, ini beberapa kali bertukar sapa dengan para pedagang di sepanjang jalan. Mereka saling berjabat tangan dan kadang berpelukan hangat, sembari menanyakan kabar masing-masing. Bahkan, ada seorang ibu tua dengan pakaian lusuh bercerita tentang kondisi kesehatannya yang membaik setelah sebelumnya sulit berjalan karena sakit varises.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><span id="more-319"></span>Keakraban tersebut, menurut sejumlah kalangan, terbentuk karena selama ini pria yang menginspirasi lahirnya komunitas Tangan di Atas (TDA) — sebuah komunitas <em>entrepreneur —</em>ini dikenal sebagai sosok yang suka membagi ilmu berbisnis dan mendukung pedagang kecil, bahkan mantan preman, untuk berdagang di sana.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kantornya amat sederhana. Ketika kami sampai di sana, tidak ada staf yang terlihat. Ruang kerjanya dipenuhi buku-buku dakwah, tak ada barang mewah.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>H. Nuzli Arismal, begitulah nama Haji Alay yang sebenarnya. Tak banyak orang yang tahu nama ini.Ia memang lebih kondang dengan panggilan Haji Alay.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Sebelum sukses seperti sekarang, Haji Alay telah mengenal dunia dagang sejak kecil. tepatnya kala berusia enam tahun. Waktu itu ia tinggal di Bukittinggi, <a class="zem_slink" title="West Sumatra" href="http://maps.google.com/maps?ll=-1.0,100.5&amp;spn=1.0,1.0&amp;q=-1.0,100.5 (West%20Sumatra)&amp;t=h" rel="geolocation">Sumatera Barat</a>. “Saya berjualan serabi buatan Ibu seharga 5 sen, keliling kampung dan kamp tentara,” ujarnya seraya menyebutkan, kala itu masih dalam suasana pergolakan PRRI. Dagangannya laris karena orang jarang berdagang lantaran takut ke luar rumah. “Dari situ saya jadi senang berbisnis,” ujarnya. Tak hanya kue, ia juga berjualan balon, baling-baling kertas, kerupuk dan pisang. Bahkan, bawaan kakeknya (seorang pedagang tembakau) dari kebun berupa cabe rawit, jengkol dan pete pun ia jual. “Saya senang punya uang. Tidak perlu minta orang tua,” ujarnya. Bagi Alay, kakek adalah sosok panutan berbisnis. “Dari beliaulah saya belajar ilmu berdagang. Ajarannya, berdagang dengan jujur dan baik. Artinya, bahasa harus manis dan jujur,” ungkapnya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Ketika menginjak bangku SMA, ia pindah ke <a class="zem_slink" title="Palembang" href="http://maps.google.com/maps?ll=-2.99110833333,104.756733333&amp;spn=0.1,0.1&amp;q=-2.99110833333,104.756733333 (Palembang)&amp;t=h" rel="geolocation">Palembang</a> ikut pamannya. Di kota ini ia tinggal dari 1969 sampai 1975. “Saya hanya sempat sekolah tiga bulanan di Pusat Latih Kejuruan Industri (PLKI, selevel SMA),” katanya. Meskipun asyik berdagang, ia tak melupakan sekolahnya. Setelah keluar dari PLKI, ia mengambil kursus malam hari mengenai ilmu agama dan mubaligh. Di Palembang ia berdagang banyak barang, mulai dari rokok, pakaian, hingga tekstil (kain meteran). Modalnya pinjaman dari pamannya senilai Rp 10 ribu atau senilai sekitar 7 gram emas. “Dalam 15 hari, pinjaman itu sudah terbayar,” Haji Alay mengenang, bangga.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Tahun 1975, putra pasangan Rajudin Ismail dan Lamsiar ini mencoba berdagang pakaian ke <a class="zem_slink" title="Lampung" href="http://maps.google.com/maps?ll=-5.45,105.266666667&amp;spn=1.0,1.0&amp;q=-5.45,105.266666667 (Lampung)&amp;t=h" rel="geolocation">Lampung</a>. “Tadinya saya ingin pindah langsung ke <a class="zem_slink" title="Jakarta" href="http://maps.google.com/maps?ll=-6.2,106.8&amp;spn=0.1,0.1&amp;q=-6.2,106.8 (Jakarta)&amp;t=h" rel="geolocation">Jakarta</a>. Sebab, uang kan banyak di Jakarta. Dari sini (Lampung) sebagai bantu loncatan saja ke Jakarta,” cerita sulung dari enam bersaudara ini. Di Lampung ia menjadi pedagang pakaian keliling atau musiman. Ketika musim panen cengkeh, ia datang berdagang. Begitu juga ketika musim panen kopi. “Orang punya banyak duit saat itu,” ujarnya. Di Lampung ia tak hanya berdagang pakaian, tetapi juga emas, elektronik, jam tangan dan radio. Modalnya tak lain hasil dagangnya di Palembang.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Setelah dua tahun berdagang di Lampung, pada 1977 ia memberanikan diri pindah ke Jakarta. Ia memilih berdagang di Pasar Rawamangun. Ukuran tokonya saat itu 2×4 m2. Di sini ia fokus berdagang pakaian. Namun, tahun 1979 ia memutuskan pindah ke Pasar Tebet karena tempatnya lebih elite. Berkat ketekunannya, bisnisnya berkembang cepat. Pada 1983, ia memiliki total tujuh kios: lima kios untuk berdagang pakaian dan dua kios untuk berdagang sepatu. Sejak 1984, ia mendesain sendiri baju-baju yang dijual di kios-kiosnya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Namun, kegembiraan itu tak berlangsung lama. Saat itu ada gerakan antipungli yang digencarkan Pemerintahan Soeharto. Alhasil, daya beli masyarakat pun ikut turun. Bersamaan dengan itu, mulai muncul banyak <em>department store</em>. Pelanggannya sedikit demi sedikit ikut tergerus. Pendapatannya pun tergerus, sehingga hanya bisa untuk bayar utang ke bank.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Tahun 1984 Haji Alay mencoba berdagang di Pasar Tanah Abang. Rupanya, di sinilah peruntungannya. Ia tampaknya enggan bercerita banyak tentang keberhasilannya di pasar grosir terbesar di Asia Tenggara tersebut. Seorang sumber yang dekat dengannya mengatakan, saat ini Haji Alay memiliki puluhan toko. Sang sumber juga menyebutkan, ia tak hanya menjadi pemilik dan pengelola properti di Tanah Abang, tetapi juga di pusat perbelanjaan Mangga Dua dan ITC Cempaka Mas. Haji Alay kini juga menjadi distributor sejumlah merek garmen beken, seperti Lois, Lea, Cardinal, H&amp;R, Watchout, Country Fiesta,Tira, Dadung dan ie-be. Menurut pengakuan Haji Alay, bisnis distributor produk garmen luar sudah diserahkan kepada keluarganya (anak dan keponakan). Alasannya, ia merasa sudah tua dan anak-anaknya pun sudah besar-besar.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Yang paling istimewa dari Haji Alay adalah kemampuannya menghidupkan mal-mal belanja yang mati suri. Ia dikenal berhasil menggairahkan kembali sejumlah mal di Sukabumi, Cipadu, Cilegon, Makassar dan Ciputat. Adapun proyek pertamanya adalah Mayofill Mall (1998) di Cilegon dan Sukabumi yang luasnya masing-masing satu hektare lebih. “Ada orang yang datang ke saya. Mereka bertanya, ada mal mati, bagaimana cara menghidupkannya.,” ujarnya. Karena ia adalah ketua pedagang kaki lima (PKL) dan akrab dengan mereka, ia berpikir bagaimana para pedagang kecil itu diberdayakan dan dapat membangun ekonomi umat. “Sementara pemerintah kan <em>nggak</em> pernah mencarikan solusinya,” ujarnya mengkritik. Ternyata, berhasil. Dari sini, ia kemudian dipercaya menggarap Agrope atau semacam pusat ruko (terdiri dari 140 ruko) di Cipadu. Luasnya kurang-lebih tiga ha. Agrope ini dipegang Haji Alay tiga tahun lalu. “Kini perkembangannya luar biasa,” ujarnya menggambarkan kinerja pusat ruko tersebut. Dari Cipadu, ia kemudian dipercaya menggarap Latanete Plaza di Makassar (2002-04) dan Choliva di Ciputat (11 ruko).</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Tengoklah proyek Choliva di Ciputat. Beberapa tahun sebelumnya, mal ini sepi pengunjung. Kini mal tersebut ramai pengunjung setelah Haji Alay diminta mengelolanya. Itu terjadi kurang dari setahun. “Itu (Choliva) tadinya tempat timbunan sampah. Sekarang sudah menjadi ruko bagus,” ujarnya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Haji Alay juga pernah dipercaya mengelola pusat grosir pakaian di Jalan Banceuy, Bandung. Pertokoan yang diharapkan menjadi pusat garmen terlengkap seperti pertokoan Tanah Abang di daerah Bandung ini diberi nama ATC, singkatan dari Abdurrahman bin Auf Trade Center.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Proyek paling anyar Haji Alay adalah meramaikan Blok F Tanah Abang. Sebelumnya, blok ini sepi pengunjung. Namun, setelah ia tangani, jadi ramai. Secara bergurau, ia sering menyebut dirinya sebagai “dokter mal”. “Hampir semua menawari saya. Sekarang lantai 4 dan 5 (di Metro Tanah Abang) menjadi toko termahal,” ujar Ketua Syarikat Masyarakat Industri dan Pasar Indonesia ini bangga.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Bagaimana caranya menggairahkan Pasar Tanah Abang ini? Ayah sembilan anak ini mengaku merangkul para PKL dan pedagang rokok jalanan. Ia mempersilakan para pedagang menempati kios-kios di kompleks pertokoan Tanah Abang tanpa dipungut ongkos sewa sepeser pun. Mereka baru membayar sewa jika usaha mereka telah berjalan dan mendapatkan keuntungan. Gebrakannya ternyata manjur. Pusat pertokoan Blok F Tanah Abang, yang tahun-tahun sebelumnya sepi karena tidak laku, tak berapa lama kemudian menjadi ramai. Proyek di blok ini selesai pada pertengahan 2010.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>“Pertama, pertayaannya adalah ‘kenapa mati’? Ya, karena tidak ada ‘gula’-nya,” kata Haji Alay. Lalu, ia pun mencarikan gulanya. Karena mulanya digratiskan, pasti para pedagang menjual dagangannya dengan harga murah. “Karena murah, orang jadi ramai berdatangan, lama-lama toko bisa sewa, lalu bisa dibeli. Jadi, menghidupkan ekonomi dengan baik. Pemerintah pun senang karena tidak perlu repot-repot mengusir pedagang kaki lima,’ ujarnya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Haji Alay berkeyakinan, konsep meramaikan mal semuanya sama, yakni merangkul PKL. Para PKL ini dibina untuk memilih dagangan. Selanjutnya, Haji Alay yang mengarahkan. Setelah hidup, dijual ke PKL. Caranya, bagi hasil saja. Misalnya, ada anak yatim, disewakan toko. Mereka berjualan di toko tersebut dengan pola bagi hasil. “Saya senang mengontrakkan toko kepada orang, lalu untungnya bagi dua.”</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kakek tujuh cucu ini tampaknya memang senang berbagi. Sejak 1977 ia sudah menyebarkan jiwa berdagang atau berbisnis kepada orang lain. “Sudah sejak dulu, preman mabuk pun saya<em>samperin</em>,” katanya. Ia mengaku sudah banyak orang seperti ini yang dibantunya. Caranya, ia mengajak istri mereka berdagang dengan memberi modal dagang dengan sistem bagi hasil. Kemudian, anak-anaknya diajari ilmu agama. “Mereka (para preman) itu kan jadi segan untuk bertindak tidak baik lagi,” ungkapnya. “Mereka juga saya biayai umroh,” ujarnya. Dari awal ia mengajarkan hidup yang bermanfaat bagi orang lain.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>“Dasar beragama yaitu kalau kita membantu orang lain, Allah akan membantu kita. Saya memberi jalan kepada orang dengan motivasi agama, Allah akan memberi (membalasnya) berlipat ganda,” katanya. Ia menambahkan, hal yang paling bagus bagi masyarakat Indonesia saat ini adalah menjadi pengusaha. “Karena Indonesia ini kekurangan pengusaha. Kurang dari 1%, paling tidak (kita butuh) sekitar 8% pengusaha.”</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kini Haji Alay menyediakan makin banyak waktunya untuk kegiatan seminar kewirausahaan, ceramah agama dan pendidikan. Itulah sebabnya, ia aktif di komunitas TDA. “Ia bagaikan air bagi TDA, sedangkan saya mengemasnya seperti Aqua,” ujar Badroni Yuzirman, pendiri dan Ketua TDA. Roni, begitu ia akrab dipanggil, menyebut Haji Alay sebagai inspirator dan sesepuh komunitas TDA.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Roni mengungkapkan, terbentuknya komunitas TDA pada Januari 2006 terinspirasi perbincangannya dengan Haji Alay yang sangat peduli pada tumbuhnya wirausaha di lingkungannya. “Usia beliau sudah tidak muda, namun semangatnya seperti anak muda,” katanya. Hal ini tampak dari ide-ide dan sikapnya yang senang hal-hal yang baru dan mengeksekusinya dengan cepat. “Jadi, sikapnya <em>action-oriented</em>,” ujar pemilik Manet Busana Muslim Plus itu.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Bahkan dalam tulisannya di situs TDA, Roni menceritakan pengalamannya ditelepon Haji Alay pada awal 2010. Saat itu, Haji Alay mengungkapkan bahwa ia sedang membangun 300 kios di Tanah Abang dan disewakan kepada para pedagang dengan harga murah, yakni Rp 35 juta/tahun. Selanjutnya, Haji Alay akan membangun gedung untuk membuat 5.000 kios. Sebagai gambaran, harga pasaran kios di Blok A dan B di Tanah Abang berkisar Rp150 -500 juta/m2.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Menurut Haji Alay, motivasi dirinya menyemangati TDA adalah ia ingin sekali menjadikan penduduk negeri ini sebagai pengusaha yang bisa menjelajah dunia seperti orang Cina di Asia, atau India di Afrika. Jadi, nantinya Indonesia bukan lagi meraih devisa dari pembantu melainkan dari warga negara yang berada di luar negeri. “Kita tidak lagi ekspor tenaga kerja melainkan pengusaha,” ujarnya optimistis.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kiprah Haji Alay bukan hanya di dunia bisnis dan kewirausahaan, tetapi juga di dunia pendidikan. Pada 2010, ia mendirikan sekolah di Bukittinggi bernama Mage Islamic Center dan telah diresmikan oleh Gubernur Sumatera Barat Irwan Prayitno dan Ketua Mahkamah Konstitusi Mahfud MD. Lalu, di Ciputat, bersama rekan–rekan pedagang Tanah Abang ia mendirikan TK dan SD Nurul Fatahillah yang kini telah mempunyai 1.200 murid. Sekolah ini sama sekali tidak mengambil untung. “Ini sejak tujuh tahun yang lalu. Insya Allah sampai SMA,” ujarnya. Nilai plusnya, semua sekolah yang dikembangkan tersebut berbasis kewirausahaan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Bahkan, Haji Alay juga sedang merintis pendirian yayasan yang akan mengelola sekolah wirausaha dari TK sampai S-1 dengan nama Haji Alay Foundation. Total luas lahan yang sudah dimilikinya di Ciawi saat ini 5.000 m2. Rencananya, areal akan diperluas hingga 10 ha. “Sekarang (sekolah itu) sudah mulai dibangun,” katanya. Selain itu, saat ini ia pun tengah membuat Kampung Sehat Indonesia di Cibinong, Sentul. Total luas tanah rencananya akan mencapai 11 ha. Ia pun merintis klinik pengobatan sejak akhir 2010. Namanya, Klinik H. Alay. Klinik ini fokus pada pengobatan penyakit jantung koroner dan kanker dengan menggunakan obat herbal dan lintah.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Di usia yang semakin lanjut, Haji Alay kian aktif berdakwah. Tak hanya di Tanah Air, tetapi juga hingga Malaysia dan Singapura. “Saya tidak pernah mempunyai waktu senggang. Karena hidup kita nanti dipertanggungjawabkan di akhirat, saya membaca kemudian memberikan ilmu kepada orang lain,” ujarnya. Tak mengherankan, ia telah menyerahkan manajemen Hoklay Corporation, perusahaan di bidang jual-beli properti miliknya, kepada keluarganya. “Saya lebih menginginkan toko akhirat, bukan toko duniawi,” katanya menegaskan. (*)</p>
<p>Sumber:  <a href="http://swa.co.id/2011/07/haji-alay-dokter-mal%E2%80%9D-asal-bukittinggi/">http://swa.co.id/2011/07/haji-alay-dokter-mal%E2%80%9D-asal-bukittinggi/</a></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/urangminang.wordpress.com/319/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/urangminang.wordpress.com/319/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/urangminang.wordpress.com/319/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/urangminang.wordpress.com/319/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/urangminang.wordpress.com/319/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/urangminang.wordpress.com/319/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/urangminang.wordpress.com/319/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/urangminang.wordpress.com/319/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/urangminang.wordpress.com/319/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/urangminang.wordpress.com/319/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/urangminang.wordpress.com/319/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/urangminang.wordpress.com/319/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/urangminang.wordpress.com/319/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/urangminang.wordpress.com/319/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=urangminang.wordpress.com&amp;blog=2533188&amp;post=319&amp;subd=urangminang&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://urangminang.wordpress.com/2011/09/25/haji-alay-%e2%80%9cdokter-mal%e2%80%9d-asal-bukittinggi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/2b3fb6c0851c864df7ef92665bc2b754?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">tan marajo</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://swa.co.id/image.php/Haji%20Alay,%20%E2%80%9CDokter%20Mal%E2%80%9D%20asal%20Bukittinggi.jpg?width=200&#038;cropratio=3:3&#038;image=http://swa.co.id/wp-content/uploads/21249_1.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Saldi, Tokoh Muda Inspiratif Nasional yang Penulis</title>
		<link>http://urangminang.wordpress.com/2011/07/30/saldi-tokoh-muda-inspiratif-nasional-yang-penulis/</link>
		<comments>http://urangminang.wordpress.com/2011/07/30/saldi-tokoh-muda-inspiratif-nasional-yang-penulis/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 30 Jul 2011 14:07:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Is Sikumbang</dc:creator>
				<category><![CDATA[Apa dan Siapa]]></category>
		<category><![CDATA[bukittinggi]]></category>
		<category><![CDATA[hukum]]></category>
		<category><![CDATA[minangkabau]]></category>
		<category><![CDATA[saldi isra]]></category>
		<category><![CDATA[tokoh minang]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://urangminang.wordpress.com/?p=313</guid>
		<description><![CDATA[Saldi Isra, Tokoh Muda Inspiratif Nasional yang Penulis  Oleh Yurnaldi Sumatera Barat atau Ranah Minangkabau itu gudang pemikir dan intelektual nasional yang mumpuni dan diperhitungkan, orang sudah tahu. Sejarah bangsa ini, telah mencatat banyak nama. Dan pada suatu massa di zaman Orde Baru, sudah mulai terjadi krisis pemikir yang sekaligus penulis. Tak banyak lagi nama-nama [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=urangminang.wordpress.com&amp;blog=2533188&amp;post=313&amp;subd=urangminang&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h3>Saldi Isra, Tokoh Muda Inspiratif Nasional yang Penulis</h3>
<div> Oleh Yurnaldi</div>
<div id="post-body-5281412422868569427">
<div><a href="http://urangminang.files.wordpress.com/2011/07/saldi-isra.jpg"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-314" title="saldi isra" src="http://urangminang.files.wordpress.com/2011/07/saldi-isra.jpg?w=150&#038;h=117" alt="" width="150" height="117" /></a>Sumatera Barat atau Ranah <a class="zem_slink" title="Minangkabau" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Minangkabau" rel="wikipedia">Minangkabau</a> itu gudang pemikir dan intelektual nasional yang mumpuni dan diperhitungkan, orang sudah tahu. Sejarah bangsa ini, telah mencatat banyak nama. Dan pada suatu massa di zaman Orde Baru, sudah mulai terjadi krisis pemikir yang sekaligus penulis. Tak banyak lagi nama-nama yang mencuat ke permukaan secara nasional. Jumlahnya bisa dihitung dengan jari<br />
Ketika saya mulai bergabung di Kompas, tahun 1995, saya mendapat pertanyaan, apa tak ada lagi orang semacam Hendra Asmara dan AA Navis di Sumatera Barat? Hendra Asmara dikenal secara nasional karena ia ekonom yang penulis dan sering jadi narasumber untuk persoalan ekonomi bangsa. Pemikirannya sangat disegani, bernas, cerdas, dan mencerahkan. Begitu juga AA Navis, ia dikenal tidak saja sebagai sastrawan, tetapi juga budayawan.<br />
Mendapat pertanyaan itu, saya seolah ditantang; kalau memang ada silakan dorong dan orbitkan. Kompas sangat terbuka bagi mereka.<br />
Dalam perjalanan, hanya di bidang kesusastraan agak banyak penulis dan pemikir yang muncul dari Sumatera Barat. Menyebut sejumlah nama, misalnya, ada Mursal Esten, Harris Effendi Thahar, Hasanuddin WS, Darman Moenir, Gus tf Sakai, dan Yusrizal KW. Bidang kesejarahan ada Mestika Zed.<br />
Sedangkan di bidang lain, boleh dikata tidak ada. Ketika ada suatu isu, mereka tidak siap memberikan pandangan dan pemikirannya. Kepakarannya belum teruji. Alasan yang selalu dikemukakan, “Saya belum tahu. Saya belum membaca. Buat pertanyaan tertulis, nanti saya jawab”.<br />
Beda dengan seorang Saldi Isra. Di usia mudanya ia sudah menunjukkan kepakarannya. Ia sangat menguasai isu terkini dan selalu ada pemikiran yang orisinal darinya. Ia sering menulis di Koran daerah di <a class="zem_slink" title="Padang, Indonesia" href="http://maps.google.com/maps?ll=-0.95,100.353055556&amp;spn=0.1,0.1&amp;q=-0.95,100.353055556 (Padang%2C%20Indonesia)&amp;t=h" rel="geolocation">Padang</a>, sejak mahasiswa.<br />
Tak ingat kapan pertama kali bertemu dengan Saldi. Akan tetapi untuk pertama kali ia saya jadikan narasumber adalah ketika heboh kasus ‘korupsi berjemaah’ di Sumatera Barat. Judul berita dengan narasumber Saldi waktu itu “Cacat Hukum, Pengesahan APBD Sumbar” (Kompas, 2 Februari 2002, halaman 19). Berlanjut kemudian “APBD Sumatera Barat 2002 Boros” (Kompas, 6 Februari 2002, halaman 20), “Lagi, Dana Aspirasi DPRD Sumbar Rp11 Miliar” (Kompas, 7 Februari 2002, halaman 19), dan “Diduga Melakukan Korupsi: Seluruh Anggota DPRD Sumbar Dilaporkan Kekejaksaan” (Kompas, 12 Februari 2002, halaman 20). Setelah itu Saldi tak putus-putusnya jadi narasumber Kompas.<br />
Nama Saldi mencuat, sejalan dengan mencuatnya kasus korupsi yang heboh secara nasional itu. Gerakan sosial melawan korupsi yang dilakukan Forum Peduli Sumatera Barat (FPSB) di tahun 2002. Dia salah satu –tanpa menafikan sejumlah nama lain—nama yang cukup mencuat, apalagi Saldi Isra ketika itu menjadi koordinatornya.<br />
Saldi tak hanya jadi narasumber yang selalu siap bila berhadapan dengan wartawan. Jauh sebelumnya, menjelang gerakan reformasi, Saldi sudah menulis di pemikirannya di harian Kompas. Opini Saldi Isra pertama kali dimuat judulnya “Saatnya, Perbaikan Tap MPRS No XX/1966” (Kompas, 14 Januari 1998, halaman 5). Kemudian opini “Wakil Presiden Jadi Ketua DPA? Tanggapan untuk G Moedjanto” (Kompas, 4 Maret 1998, halaman 5). Opini ketiga lahir tiga tahun kemudian, yaitu “Sekitar Pengisian Jabatan Wakil Presiden” (Kompas, 25 Juli 2001, halaman 4).<br />
Hingga tulisan ini dibuat, 22 Januari 2010, Saldi Isra telah menulis 113 opini di harian Kompas. Terakhir berjudul “Menunggu Giliran SBY” (Kompas, 21 Januari 2010, halaman 4).<br />
Kalau tidak salah, tahun 2008, Saldi Isra tercatat sebagai penulis paling produktif di harian Kompas. Bahkan, hingga Januari 2010, sudah 248 kali menjadi sumber berita Kompas.<span id="more-313"></span>Rendah hati, mau bertanya<br />
Saldi Isra termasuk penulis dan dosen yang rendah hati dan mudah bergaul. Dia selalu menyediakan dirinya buat wartawan. Dengan saya, Saldi sempat diskusi beberapa kali. Topik cerita soal menulis artikel dan ide-ide yang bisa diangkat. Intinya saling memotivasi. Saya berharap ada penulis, inetelektual Sumbar yang disegani, muncul di pentas nasional. Saldi Isra saya cermati, sepertinya bisa diharapkan.<br />
Saldi mungkin masih ingat kiat-kiat yang sempat saya berikan. Misalnya, bagaimana memberikan opini yang masih aktual dengan memberitakan tanggapan terhadap opini seseorang. Tentunya harus dibarengi dengan argumentasi yang bernas, gagasan orisinal, dan solusi yang kadang tak terduga. Sebab, itulah salah satu kriteria layak opini Kompas.<br />
Pada suatu kali, Saldi pun tak segan-segan bertanya. “Nal, apa lagi yang menarik ditulis?”, begitu kadang kalau kami saling bertemu atau via telepon. Saya sarankan, kalau ada isu, jadilah yang pertama untuk menanggapainya. Saldi kemudian mengaku, usai Subuh sudah mulai membuka internet dan membaca berita-berita yang sesuai dengan bidang keahliannya. Di situlah kemudian Saldi semakin terpacu dan termotivasi untuk produktif menulis. Selalu ada ide-ide segar yang menarik untuk ditulis.<br />
Ketika kasus gizi buruk dan busung lapar melanda Sumbar, saya kasih Saldi ide agar ia menulis hal itu dan kaitan dengan korupsi wakil rakyat. Oleh Saldi langsung menjadi ide tulisan yang menarik, Terbitlah opini “Korupsi di Negeri Busung Lapar” (Kompas, 28 Mei 2003, halaman 4).<br />
Hari terbitnya tulisan itu, Saldi cerita dengan saya, ia satu pesawat dari Jakarta dengan Gubernur Zainal Bakar, ketika itu. Saldi cerita bagaimana mimik Zainal Bakar saat ketemu di atas pesawat, pasca ia membaca tulisan Saldi di Kompas tersebut. Saldi hanya tertawa melihat kejadian tersebut.<br />
Terakhir, ketika Kompas mengangkat berita penghilangan ayat tembakau dalam UU Kesehatan, selain saya minta pendapat Saldi, saya juga menyarankan Saldi membuat opini. Karena pemikirannya sangat bagus. Dan enam hari setelah berita terbit, Saldi menulis opini berjudul “Kudeta Redaksional” (Kompas, 13 Oktober 2009, halaman 6). Ini sekadar gambaran, bahwa seorang Saldi juga rendah hati, tak segan-segan bertanya dan mau menerima saran/masukan.<br />
Saking produktifnya, Saldi setahu saya tak hanya menulis di Kompas, tetapi juga media nasional lainnya. Kadang opininya muncul bersamaan di dua media. Ini sebenarnya sesuatu yang luar biasa di mata pembaca. Tapi, Saldi selalu memprioritasnya untuk Kompas.<br />
Dari awal saya juga sudah beri gambaran. Ketika opini sudah berkali-kali dimuat di Kompas, suatu kali redaktur pasti meminta tulisan kepada Saldi. Saldi saya wanti-wanti, seandainya ada permintaan tulisan dari Jakarta (redaktur opini Kompas), maka jangan sesekali ditolak. Langsung iyakan, dan kalau perlu tinggalkan urusan kampus. Sebab, bila ditolak, untuk kali berikutnya kesempatan itu mungkin tak akan pernah ada lagi. Sepertinya, abis sudah kepercayaan redaktur, kalau permintaan itu ditolak. Karena untuk bisa jadi penulis pesanan, itu tidak gampang dan tak sembarang orang. Kalau sudah dipesan, nilai penghargaannya (honorarium) khusus.<br />
Saldi mungkin menerima pandangan itu. Ketika ada permintaan tulisan, Saldi mengabari saya via telepon. Tulisan yang diminta kadang harus siap dalam beberapa jam, menjelang tenggat (deadline). Betapa senang Saldi mendapat tawaran itu.<br />
Sejak itu, Saldi saya kira sudah mencatatkan dirinya sebagai pakar hukum negara di Indonesia yang produktif menulis. Sejalan dengan pemerintahan yang antikorupsi, nama Saldi Isra di pentas nasional, semakin berkibar. Karena tulisan bertebaran di mana-mana, Saldi pun bagai artis kalau sudah berada di Jakarta. Stasiun TV dan media cetak dan elektronik berlomba-lomba meminta Saldi untuk wawancara dan acara live di televisi dan radio. Sesuatu hal yang mungkin jauh dari bayangan Saldi sebelumnya.<br />
Setelah itu banyak tawaran yang datang ke Saldi, dan ianya selalu cerita ke saya. Misalnya bagaimana ia diminta menulis laporan sebuah perusahaan, diminta jadi komentator di televisi untuk liputan live, hingga Saldi diminta dan diajak menjadi “orang SBY”, mungkin semacan tim ahli di bidang hukum, di awal-awal SBY jadi presiden, tahun 2004. Untuk yang terakhir, saran saya seperti diterima Saldi. Saya minta ditolak saja, kalau ingin jadi intelektual yang diperhitungkan sepanjang massa. Lebih baik independen. Jika bergabung, akan ada cap orang SBY. Kalau ini sudah terjadi, dan ketika SBY tak berkuasa lagi, amat sulit orang menerima pandangan Saldi sebagai penulis yang independen. Pasti dinilai sebagai penulis yang punya kepentingan.<br />
Ketika nama Saldi mencuat sejak tahun 2002 di pangung nasional sebagai penulis dan tokoh yang antikorupsi, sejumlah lembaga sempat menghubungi saya baik dalam dan luar negeri, minta pendapat saya tentang Saldi, terkait dengan penghargaan yang akan mereka berikan. Mereka meminta saya mungkin karena saya wartawan dari media yang mereka percayai, di samping saya sering menjadikan Saldi narasumber. Mereka sepertinya mau mengkroscek. Karena saya tahu Saldi, maka rekomendasi yang saya berikan selalu positif dan apa adanya. Tak ada yang dilebih-lebihkan, karena seorang Saldi memang layak diperhitungkan.<br />
Tahun 2004 Saldi Isra meraih penghargaan bergengsi, Bung Hatta Anti-Corruption Award. Kemudian disusul Awards of Achievement for People Who Make a Difference, dari The Gleitsman Foundation, AS, di tahun 2004 juga. Sebagai teman, saya bangga. Sekampung lagi….<br />
Yang perlu dicatat dari Saldi, dalam tulisan-tulisannya atau gagasannya, ia kerapkali melontarkan hal-hal atau istilah yang menarik dan setelah itu dikutip dan dipakai banyak orang. Seperti istilah “tebang pilih”, lalu ide “baju terdakwa dipersidangan diberi merek/label koruptor”. Ide cerdas ini kemudian dilakukan KPK saat Antasari jadi Ketua KPK. Lalu istilah “Kudeta Redaksional”.<br />
Makanya, tak salah Kompas menjadikan Saldi Isra menjadi salah seorang Tokoh Muda Inspiratif, yang tujuan akhirnya lebih mengenalkan orang-orang muda yang layak diperhitungkan menjadi menteri tahun 2014 ke depan…Pemikiran Saldi di Kompas pun dibukukan dengan judul “Kekuasaan dan Perilaku Korupsi”, terbit tahun 2009.<br />
Siapa tahu, Saldi Isra kelak memang dipercaya jadi menteri…Kita lihat saja.<br />
Tanggal 11 Februari 2009 Saldi Isra, dikukuhkan sebagai guru besar. Mungkin termasuk profesor termuda di bidang hukum di Indonesia. Saya bangga, dan selamat. Jangan berhenti menulis, kawan….Jakarta, 22 Januari 2010</p>
<p>Sumber : <a href="http://wartawanhebat.blogspot.com/2010/01/saldi-isra-tokoh-muda-inspiratif.html">http://wartawanhebat.blogspot.com/2010/01/saldi-isra-tokoh-muda-inspiratif.html</a></p>
</div>
</div>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/urangminang.wordpress.com/313/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/urangminang.wordpress.com/313/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/urangminang.wordpress.com/313/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/urangminang.wordpress.com/313/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/urangminang.wordpress.com/313/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/urangminang.wordpress.com/313/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/urangminang.wordpress.com/313/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/urangminang.wordpress.com/313/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/urangminang.wordpress.com/313/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/urangminang.wordpress.com/313/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/urangminang.wordpress.com/313/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/urangminang.wordpress.com/313/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/urangminang.wordpress.com/313/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/urangminang.wordpress.com/313/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=urangminang.wordpress.com&amp;blog=2533188&amp;post=313&amp;subd=urangminang&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://urangminang.wordpress.com/2011/07/30/saldi-tokoh-muda-inspiratif-nasional-yang-penulis/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/2b3fb6c0851c864df7ef92665bc2b754?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">tan marajo</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://urangminang.files.wordpress.com/2011/07/saldi-isra.jpg?w=150" medium="image">
			<media:title type="html">saldi isra</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Yurnaldi, &#8220;Wartawan Hebat&#8221; di Redaksi Kompas</title>
		<link>http://urangminang.wordpress.com/2011/07/29/yurnaldi-wartawan-hebat-di-redaksi-kompas/</link>
		<comments>http://urangminang.wordpress.com/2011/07/29/yurnaldi-wartawan-hebat-di-redaksi-kompas/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 29 Jul 2011 02:20:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Is Sikumbang</dc:creator>
				<category><![CDATA[Apa dan Siapa]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[kompas]]></category>
		<category><![CDATA[minangkabau]]></category>
		<category><![CDATA[tokoh minang]]></category>
		<category><![CDATA[wartawan]]></category>
		<category><![CDATA[yurnaldi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://urangminang.wordpress.com/?p=309</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Muhammad Subhan (Catatan: profil ini telah dimuat di majalah &#8220;Rantau&#8221; oleh penulisnya) Bagi kalangan wartawan senior dan pemula di Sumatera Barat, kota Padang khususnya, bisa dibilang tak ada yang tidak mengenal sosok wartawan kalem ini. Siapa lagi kalau bukan Yurnaldi, wartawan Harian Kompas yang sejak beberapa tahun lalu ditarik ke kantor pusatnya di Jakarta [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=urangminang.wordpress.com&amp;blog=2533188&amp;post=309&amp;subd=urangminang&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h3><span class="Apple-style-span" style="font-size:13px;font-weight:normal;">Oleh: Muhammad Subhan</span></h3>
<div id="post-body-219203457457920141">
<div>
<div>
<div>(Catatan: profil ini telah dimuat di majalah &#8220;Rantau&#8221; oleh penulisnya)</div>
<div>
<h3><span class="Apple-style-span" style="font-size:13px;font-weight:normal;"><br />
<a href="http://urangminang.files.wordpress.com/2011/07/yurnaldi.jpg"><img class="alignleft" title="yurnaldi" src="http://urangminang.files.wordpress.com/2011/07/yurnaldi.jpg?w=150&#038;h=112" alt="" width="150" height="112" /></a>Bagi kalangan wartawan senior dan pemula di Sumatera Barat, kota Padang khususnya, bisa dibilang tak ada yang tidak mengenal sosok wartawan kalem ini. Siapa lagi kalau bukan Yurnaldi, wartawan Harian Kompas yang sejak beberapa tahun lalu ditarik ke kantor pusatnya di Jakarta untuk memperkuat jajaran redaksi harian terbesar di Indonesia itu. Baginya, dapat hijrah ke ibukota merupakan sebuah prestasi luar biasa.</span></h3>
</div>
<div>Alumni Universitas Negeri Padang (UNP) ini seringkali memotivasi wartawan maupun penulis pemula dalam setiap kesempatan bersamanya, baik melalui seminar kepenulisan maupun dalam diskusi-diskusi nonformal di kampus. Baginya, semua orang memiliki potensi menulis yang luar biasa, tinggal saja mau tidaknya mengasah potensi itu.</div>
<div>“Setiap kita pasti ingin meraih sesuatu prestasi. Prestasi, memang, tak selalu identik dengan meraih gelar juara. Dari tidak lihai, menjadi lihai menulis, itu sudah prestasi. Dari belum pernah dimuat di media nasional, lalu tiba-tiba bisa tembus media nasional, juga prestasi yang membanggakan bagi penulisnya,” ujar Yurnaldi dalam kesempatan berbincang-bincang dengan “Rantau” beberapa waktu lalu.</div>
<div><span id="more-309"></span>Atau, katanya lagi, dari yang semula takut dan tak berani menulis buku, tiba-tiba bersemangat menulis buku dan terbit, ini juga prestasi yang sangat luar biasa. Bagi wartawan, kata Presiden Direktur Kompas Gramedia Jakob Oetama yang dikutip Yurnaldi, buku adalah mahkota wartawan. “</div>
<div>Artinya, kehebatan tertinggi seorang wartawan tak hanya bisa sekadar menulis berita, menulis feature, atau menulis kolom dan artikel. Akan tetapi, juga mampu menulis buku,” ujarnya.</div>
<div>Sebelum bergabung dengan Kompas, Yurnaldi memang sudah menulis buku. Hebatnya, dua buku tentang jurnalistik itu ia tulis semasa ia masih mahasiswa, yang kemudian menjadi modal utamanya untuk melamar dan bergabung dengan harian terkemuka itu.</div>
<div>“Kompas memang target saya sejak jadi mahasiswa. Ibaratnya, saya ingin membuktikan kemampuan saya dalam hal menulis. Karena banyak dosen, hingga rektor waktu itu, menilai saya sangat layak di Kompas,” ujarnya sambil tertawa.</div>
<div>Apa yang dikatakan Yurnaldi tidak sekedar guyon. Memang para dosennya menilai begitu, karena artikel-artikel yang ia tulis waktu mahasiswa, layaknya pemikiran seorang doktor. “Hehe… Ya, terserah mereka menilai. Tapi, setidaknya, dalam beberapa kali lomba karya ilmiah di kampus dan tingkat regional, saya berdebat dengan profesor dan doktor,” ujarnya mengenang.</div>
<div>Di luar itu, banyak ide Yurnaldi yang kemudian diwujudkan. Waktu ia mahasiswa, ia pernah mengusulkan agar IKIP Padang memiliki Rektor IV, yang membidangi kerjasama dalam dan luar negeri. Akhirnya, ide ini dilaksanakan, tapi bukan dalam bentuk lembaga Pembantu Rektor IV–melainkan Lembaga Kerjasama, yang tugas, fungsi dan wewenangnya seperti yang saya usulkan.</div>
<div>“Juga pernah saya gagas IKIP menjadi Universitas, dan untuk mendidik calon guru cukup ada fakultas keguruan dan ilmu kependidikan (FKIP). Ini dalam bentuk karya tulis ilmiah, berdebat dengan pakar pendidikan yang jadi juri, dan akhirnya menang. Ide ini kemudian juga jalan,” katanya lagi.</div>
<div>Bahkan, karena dirinya kuliah di pendidikan kimia FPMIPA, dia juga pernah menulis sesuatu yang menghebohkan. Yurnaldi menulis tentang kiamat yang ditinjau dari ilmu kimia. Tulisan itupun diseminarkan di kampus serta di muat di media massa.</div>
<div>“Jadi, sebelum heboh kiamat 2012 sekarang, saya sempat meramal kiamat yang tahunnya 2040. Rasanya, mau saya bukukan juga pemikiaran itu,” ujarnya.</div>
<div>Memang, menurut Yurnaldi, sangat enak melontarkan gagasan melalui kegiatan menulis artikel atau opini, dibaca banyak orang, dikomentari, dan diam-diam ada yang melaksanakan.</div>
<div></div>
<div></div>
<div>Sejak Mahasiswa Gemar Menulis</div>
<div>Yurnaldi (atau sering dipanggil Nal atau Danal), sejak mahasiswa sudah gemar menulis artikel di puluhan media cetak daerah dan nasional. Biaya kuliah dan biaya hidup dibiayai dari honorarium penulis, yang pada masa itu honor setiap bulan yang ia terima melebihi gaji para dosennya.</div>
<div>Juga pernah jadi Ketua Senat Mahasiswa Fakultas Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam IKIP Padang (sekarang Universitas Negeri Padang). Beberapa kali juara menulis karya ilmiah dan belasan kali jadi pembicara seminar di tingkat daerah, regional, dan nasional.</div>
<div>Ia mahasiswa pertama di Sumatera Barat yang menulis dua buku ketika masih berstatus mahasiswa. Buku yang ditulis ketika itu adalah “Kiat Praktis Jurnalistik” dan “Jurnalistik Siap Pakai”. Buku tersebut hingga kini dicetak ulang dan jadi referensi mahasiswa komunikasi.</div>
<div>Sejak mahasiswa, tahun 1986, di samping penulis artikel, juga menulis karya jurnalistik. Menekuni dunia kewartawanan sejak 24 tahun lalu, di mana 15 tahun terakhir bergabung dengan Kompas. Dia juga salah seorang pendiri (dan pencipta logo) Forum Wartawan Peduli Aset Daerah Sumatera Barat, Padang Press Club (PPC), dan Forum Wartawan Peduli Pariwisata Sumatera. Bergabung dengan Kompas tahun 1995.</div>
<div>Sebagai wartawan profesional, Yurnaldi telah melatih ribuan calon wartawan, wartawan, staf/kepala kehumasan, serta siswa dan mahasiswa peminat bidang jurnalistik. Buku-buku jurnalistiknya laris dan menjadi referensi, antara lain “Kiat Praktis Jurnalistik” (Penerbit Angkasa Raya, 1992, 2007), “Jurnalistik Siap Pakai” (Penerbit Angkasa Raya, 1992, 2007), “Menjadi Wartawan Hebat” (Citra Budaya Indonesia, 2004, 2008). Foto Jurnalistik: “Menjadi Kaya dengan Foto” (2001, 2009).</div>
<div>Juga belasan buku-buku lain, baik yang ditulis sendiri maupun terhimpun dalam berbagai buku yang ditulis bersama wartawan Kompas dan wartawan media cetak lain. Beberapa kali karyanya memenangkan lomba karya jurnalistik dan juara satu mengarang tingkat nasional. Karya jurnalistiknya tentang PLN pernah mendapat penghargaan dari Menteri Pertambangan dan Energi. Tanggal 3 Maret 2009, karya jurnalistiknya tentang gizi/kesehatan yang dimuat di Kompas.com, memperoleh penghargaan terbaik dari PT Nestle Indonesia.</div>
<div>Selama di Kompas pernah bertugas dalam hitungan tahun di Bandarlampung (Lampung), Palembang (Sumatera Selatan), dan Padang (Sumatera Barat). Dan tugas sementara di sejumlah kota di Indonesia dan luar negeri, seperti Republik Namibia, Republik Afrika Selatan, Botswana, Inggris, Singapura, Malaysia, Thailand. Bersama Sastrawan Hamsad Rangkuti, diundang mengikuti Pertemuan Penulis Dunia dan London Book Fair, 2004.</div>
<div>Di luar profesi wartawan, Yurnaldi juga dikenal sebagai sastrawan/penyair Indonesia. Antologi tunggal yang telah terbit “Berita kepada Ibu” (Kreta Nusantara, 1992). Antologi puisi keduanya akan terbit. Puisinya pernah masuk nominasi terbaik lomba cipta puisi tingkat Sumbar tahun 1994, dan pemenang lomba cipta puisi sosial tingkat nasional di Banda Aceh tahun 1996.</div>
<div>Puisi-puisinya selain dimuat di berbagai media massa nasional, juga terhimpun dalam antologi bersama penyair Indonesia lain, yakni “Rantak 8: Antologi Puisi Penyair dari Sumatera Barat” (Kelompok Studi Sastra dan Jurnalistik Padang-Sumatera Barat, 1991), “Taraju ‘93: Kumpulan Puisi Indonesia Sumatera Barat” (Yayasan Taraju Ekspresi Budaya, 1993), “Antologi Puisi Rumpun” (Taman Budaya Provinsi Sumatera Barat dan Departemen Pendidikan Nasional, 1992), “Puisi 1999 Sumatera Barat” (Dewan Kesenian Sumatera Barat, 1999), “Parade Sajak-sajak Indonesia” (Haluan, 1994), “Puisi 50 Tahun Indonesia Merdeka” (Taman Budaya Solo, 1995), “Kumpulan Puisi Jalan Bersama” (Yayasan Panggung Melayu, 2008).</div>
<div>Sebagai penyair ia sering dipercaya menjadi juri lomba cipta puisi dan lomba baca puisi. Terakhir salah seorang juri “Tarung Penyair Panggung” di Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau, 27 Agustus 2008. Juga salah seorang juri pemberian nama Bandara Internasional Minangkabau (BIM) di Sumatera Barat. Sering juga diundang membaca puisi di berbagai kota. Terakhir baca puisi di Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta, dalam acara “Baca Puisi Jalan Bersama” yang digelar Yayasan Panggung Melayu, 30 November 2008 dan dalam “Panggung Revitalisasi Budaya Melayu”, di Tanjungpinang, Kepulauan Riau, Desember 2008.</div>
<div>Namanya juga tercantum dalam “Leksikon Susastra Indonesia” (penyusun Korrie Layun Rampan, Penerbit Balai Pusataka, 2000). Pernah juga menjadi redaktur tamu dan memberikan catatan apresiatif puisi di harian Haluan, Padang, selama satu tahun.</div>
<div>Selain dikenal sebagai penyair, Yurnaldi juga dikenal sebagai seniman: sebagai pelukis, kaligrafer, fotografer dengan berpameran beberapa kali dan meraih sejumlah prestasi. Beberapa kali juara dan jadi juri lomba foto. Juga juara dan juri lomba karikatur tingkat nasional.</div>
</div>
<div>Mantan Pengurus Harian Dewan Kesenian Sumatera Barat (periode 2005-2007), Koordinator Penggiat Sastra Padang, Pemimpin Produksi Teater Noktah Padang, yang telah mementaskan lebih 20 kali naskah teater dengan sutradara Suhendri dan Lilik. []</div>
<div>Sumber :<a href="http://wartawanhebat.blogspot.com/2010/02/yurnaldi-wartawan-hebat-di-redaksi.html">http://wartawanhebat.blogspot.com/2010/02/yurnaldi-wartawan-hebat-di-redaksi.html</a><a href="http://urangminang.files.wordpress.com/2011/07/yurnaldi.jpg"><br />
</a></div>
</div>
</div>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/urangminang.wordpress.com/309/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/urangminang.wordpress.com/309/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/urangminang.wordpress.com/309/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/urangminang.wordpress.com/309/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/urangminang.wordpress.com/309/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/urangminang.wordpress.com/309/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/urangminang.wordpress.com/309/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/urangminang.wordpress.com/309/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/urangminang.wordpress.com/309/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/urangminang.wordpress.com/309/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/urangminang.wordpress.com/309/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/urangminang.wordpress.com/309/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/urangminang.wordpress.com/309/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/urangminang.wordpress.com/309/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=urangminang.wordpress.com&amp;blog=2533188&amp;post=309&amp;subd=urangminang&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://urangminang.wordpress.com/2011/07/29/yurnaldi-wartawan-hebat-di-redaksi-kompas/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/2b3fb6c0851c864df7ef92665bc2b754?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">tan marajo</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://urangminang.files.wordpress.com/2011/07/yurnaldi.jpg?w=150" medium="image">
			<media:title type="html">yurnaldi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Prof. Dr. Azyumardi Azra</title>
		<link>http://urangminang.wordpress.com/2011/05/26/prof-dr-azyumardi-azra/</link>
		<comments>http://urangminang.wordpress.com/2011/05/26/prof-dr-azyumardi-azra/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 26 May 2011 07:40:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Is Sikumbang</dc:creator>
				<category><![CDATA[Apa dan Siapa]]></category>
		<category><![CDATA[Tokoh Nasional]]></category>
		<category><![CDATA[azra]]></category>
		<category><![CDATA[azyumardi]]></category>
		<category><![CDATA[bukittinggi]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[minangkabau]]></category>
		<category><![CDATA[muhammadiyah]]></category>
		<category><![CDATA[NahdlatulUlama]]></category>
		<category><![CDATA[Order of British Empire]]></category>
		<category><![CDATA[padang]]></category>
		<category><![CDATA[Religion and Spirituality]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://urangminang.wordpress.com/?p=305</guid>
		<description><![CDATA[Sir Azra dan Islam Indonesia Oleh : Prof M Bambang Pranowo Guru Besar Sosiologi Agama, UIN Jakarta/Direktur Lembaga Kajian Islam dan Perdamaian Indonesia patut berbangga. Betapa tidak! Salah seorang putra terbaiknya, Prof. Dr. Azyumardi Azra, mendapat gelar Commander of the Order of British Empire (CBE) dari Kerajaan Inggris Raya. Pemberian gelar tersebut menjadikan putra kelahiran [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=urangminang.wordpress.com&amp;blog=2533188&amp;post=305&amp;subd=urangminang&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Sir Azra dan Islam Indonesia</strong><strong></strong></p>
<p><strong>Oleh : Prof M Bambang Pranowo</strong></p>
<p><strong>Guru Besar Sosiologi Agama, UIN Jakarta/Direktur Lembaga Kajian Islam dan Perdamaian</strong></p>
<p><a href="http://urangminang.files.wordpress.com/2011/05/azyumardi_azra_100719165100.jpg"><img class="alignleft" title="azyumardi_azra_100719165100" src="http://urangminang.files.wordpress.com/2011/05/azyumardi_azra_100719165100.jpg?w=300&#038;h=216" alt="" width="300" height="216" /></a>Indonesia patut berbangga. Betapa tidak! Salah seorang putra terbaiknya, Prof. Dr. Azyumardi Azra, mendapat gelar Commander of the Order of British Empire (CBE) dari Kerajaan Inggris Raya. Pemberian gelar tersebut menjadikan</p>
<p>putra kelahiran Sumatera Barat ini adalah orang pertama di luar negara-negara Persemakmuran (Commonwealth) yang berhak memakai gelar Sir dan mendapat hak-hak istimewa dari Kerajaan Inggris.</p>
<p>Di antara hak-hak istimewanya, Sir Azyumardi Azra, CBE berhak dimakamkan di Inggris (kalau mau) dan juga bisa bolak-balik ke Inggris tanpa visa. Gelar yang dianugerahkan Ratu Inggris kepada Bung Edi—panggilan akrab guru besar UIN Jakarta—ini lebih tinggi ketimbang gelar yang diberikan kepada David Beckham (Officer of the Order of British Empire atau OBE), pemain sepak bola Inggris yang dikagumi Azra.</p>
<p>Gelar ini, jelas sangat menggembirakan—bukan hanya bagi Azra, tapi juga bagi bangsa Indonesia. Sebab pemberian gelar ini atas pertimbangan peran Azra dalam mendorong terbentuknya Islam yang moderat dan menghargai pluralisme.</p>
<p><strong>Islam Indonesia</strong></p>
<p>Menurut Azra, para pemimpin Muslim Inggris selama ini hanya mengenal kehidupan beragama yang mengacu ke Arab Saudi atau Asia Selatan. Mereka tidak pernah menyangka ada kehidupan dan pemikiran Islam yang sedemikian moderat serta inklusif seperti di Indonesia. Para pemimpin Islam Inggris kagum melihat Indonesia bisa memiliki dasar negara Pancasila yang menempatkan Ketuhanan Yang Maha Esa pada tempat pertama.</p>
<p><span id="more-305"></span>”Kita memiliki penduduk Muslim terbesar di dunia, tetapi kita tidak membentuk negara berdasarkan agama. Namun, agama dan ketuhanan mendapatkan tempat utama,” ungkap Azra ketika menjelaskan mengapa Ratu Inggris memilih dirinya untuk mendapatkan gelar Sir. Kenapa Islam di Indonesia moderat dan inklusif? Pertanyaan ini membutuhkan jawaban yang panjang. Dalam kata pengantar saya di buku Memahami Islam Jawa (Pranowo, 2009), Azra menulis bahwa perkembangan Islam Indonesia dan masyarakat Muslim Nusantara memang tidak pernah terlepas dari dinamika Islam di tempat-tempat lain, termasuk Timur Tengah. Namun pada saat yang sama, perubahan-perubahan internal pada masyarakat Muslim Jawa juga mempengaruhi dinamika masyarakat-masyarakat muslim nusantara.</p>
<p>Dengan melihat komposisi penduduk Indonesia, di mana mayoritasnya berada di Jawa, maka perkembangan Islam di Jawa sangat mempengaruhi kondisi Islam di Nusantara. Pulau Jawa, tidak hanya terkenal sebagai tempat di mana masyarakatnya lebih mementingkan harmoni ketimbang militansi, tapi juga tempat di mana organisasi Islam terbesar di Indonesia, Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama (NU) dilahirkan. Muhammadiyah maupun NU yang didirikan orang Jawa mampu melakukan dakwah Islamnya dengan pendekatan kultural (Jawa) sehingga bisa meredam reaksi-reaksi dan</p>
<p>gejolak-gejolak yang mungkin timbul akibat masuknya ajaran Islam dalam kebudayaan Jawa yang tradisional dan dipengaruhi Hinduisme. Bahkan dalam banyak hal, Muhammadiyah dan NU, mampu menghadirkan Islam yang harmoni dengan kebudayaan Jawa. Kondisi inilah yang menjadikan Islam di Jawa, tulis Azra, sangat unik.</p>
<p>Dalam pandangan Ricklefs, Islamisasi masyarakat Jawa adalah transisi-transisi budaya yang terus  berlanjut. Setelah ribuan tahun menerima Hindu, orang Jawa mulai menerima Islam. Hinduisme yang telah mempengaruhi budaya Jawa ini ketika bertemu dengan Islam, oleh masyarakat Jawa ditransformasi sedemikian rupa, sehingga Hinduisme dalam beberapa hal bisa berkompromi dengan Islamisme. Kompromi antara Islamisme dan Hinduisme ini berjalan amat kompleks, penuh degan kejutan dan dinamika, dan sampai sekarang—menurut Azra—masih terus berlanjut.</p>
<p>Dari perspektif itulah, sejak Islam datang ke Jawa pada abad ke-12, terlihat tensi dan konflik antara Islam dengan kepercayaan dan budaya lokal. Tapi dalam perjalanan Islamisasi selanjutnya, selama sekitar empat setengah abad, orang-orang Jawa akhirnya bisa melihat diri mereka secara alamiah memiliki identitas pokok yang didefinisikan Islam.</p>
<p>Dalam perjalanan Islamisasi selanjutnya, sejak abad ke-19 terjadi perkembangan yang sangat krusial di Jawa. Yaitu menguatnya kekuasaan kolonial Belanda yang berbarengan dengan meningkatnya gelombang kebangkitan Islam. Dampaknya, masyarakat Islam terbelah: di satu sisi ada kelompok masyarakat yang merasa perlu atau terpaksa bekerjasama dengan Belanda; di sisi yang lain, ada yang justru menerima Islam secara skriptualistik. Pada saat itulah, tulis Ricklefs, muncul dua kelompok masyarakat Jawa. Yaitu “abangan” yang merupakan kelompok muslim nominal dan “putihan” yang merupakan kelompok muslim taat. Kelompok “putihan” ini oleh Geertz disebut kelompok santri. Bahkan</p>
<p>Geertz menambahkan satu kelompok lagi, yaitu “priyayi”. Yang terakhir ini adalah kelompok abangan dengan tradisi aristokrat yang cenderung kepada Hinduisme.</p>
<p>Pembelahan ini, tulis Azra, terus menguat, khususnya ketika menghadapi kolonialisme Belanda. Menjelang kemerdekaan Indonesia, terjadi perdebatan seru antara kelompok santri dan abangan. Kelompok santri menghendaki syariat Islam tercatat dalam pembukaan UUD 1945, sedangkan kelompok abangan sebaliknya—meski kedua kelompok ini sama-sama menghendaki Indonesia sebagai negara yang nasionalis religius.</p>
<p>Pada tanggal 18 Agustus 1945, terjadi peristiwa penting dalam sidang konstituante: Yaitu pencoretan tujuh kata (Ketuhanan ”dengan kewajiban menjalan syariat Islam bagi pemeluknya”) dari Mukaddimah UUD 1945 dengan imbalan tambahan kata ”Yang Maha Esa”. Dengan pencoretan tujuh kata ini, sila pertama Pancasila pun berubah dari ”Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluknya” menjadi ”Ketuhanan Yang Maha Esa.” Alamsjah Prawiranegara menyatakan, pencoretan tujuh kata ini merupakan hadiah umat Islam taat (santri) kepada negara Republik Indonesia. Dalam perkembangan selanjutnya, masih ada kelompok santri yang berusaha untuk mengembalikan tujuh kata tersebut dalam Pancasila, tapi selalu gagal di sidang parlemen.</p>
<p>Meski tujuh kata yang menjadi ”simbol santrinisasi” dalam Pancasila itu telah terhapus, namun proses santrinisasi di Indonesia, khususnya di Jawa, tetap berlanjut, baik di masyarakat abangan maupun priyayi. Dalam lintasan waktu yang panjang, tulis Sir Azra, orang-orang Jawa telah mengadopsi banyak hal—dari sumber-sumber Timur Tengah, Eropa, bahkan Amerika. Dengan mengadopsi sumber-sumber tersebut, orang Jawa merasa diperkaya, tapi juga sering terperangkap dalam kesulitan dan konflik yang muncul akibat perubahan budaya dan agama.</p>
<p>Hasilnya seperti dilukiskan Ricklefs, banyak orang Jawa dewasa ini dengan penuh kesalehan melaksanakan kewajiban-kewajiban Islam, tapi pada saat yang sama menyukai wayang dengan cerita-cerita Hindu. Mereka juga membaca literatur modern, mengendarai mobil Jepang, memakai telepon genggam, mengkritik Israel yang menduduki Palestina, mengkhawatirkan kebangkitan Islam militan, dan memendam kecurigaan kepada Amerika dan Barat; namun diam-diam berharap anaknya dapat belajar di Amerika dan Barat.</p>
<p>Membuka Mata Dunia</p>
<p>Meski apa yang dideskripsikan Sir Azra di atas adalah perkembangan Islam Jawa di Indonesia, namun menimbang mayoritas penduduk Indonesia dan pemeluk Islam ada di Jawa, maka apa yang dideskripsikannya cukup mewakili ”sejarah terbentuknya moderasi dan inklusivitas” Islam di Indonesia yang dikagumi Ratu Inggris tersebut. Sir Azra, menurut Dubes Inggris untuk Indonesia Martin Hartfull yang menyerahkan gelar ”Sir dan CBE” di Jakarta, 28 September lalu, berhasil membuka mata dunia bahwa rujukan Islam itu tidak hanya ada di Timur Tengah dan Asia Selatan, tapi juga Indonesia yang merupakan negeri Muslim terbesar di dunia. Dan Islam di Indonesia, telah memberi contoh toleransi antar agama yang baik bagi Inggris dan negara-negara Eropa lainnya.</p>
<p>Islam di Indonesia dapat menjadi acuan baru dalam citra keislaman di Inggris khususnya, dan di Barat umumnya. Selamat untuk Sir Azyumardi Azra atas pemberian gelar CBE dari kerajaan terbesar dan tertua di dunia itu. Semoga pemberian gelar Sir ini akan makin membuka mata dunia bahwa Islam adalah agama ramah dan rahmah.</p>
<p>Sumber : <strong> </strong><strong>«</strong><strong> HMINEWS.COM</strong></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/urangminang.wordpress.com/305/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/urangminang.wordpress.com/305/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/urangminang.wordpress.com/305/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/urangminang.wordpress.com/305/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/urangminang.wordpress.com/305/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/urangminang.wordpress.com/305/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/urangminang.wordpress.com/305/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/urangminang.wordpress.com/305/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/urangminang.wordpress.com/305/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/urangminang.wordpress.com/305/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/urangminang.wordpress.com/305/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/urangminang.wordpress.com/305/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/urangminang.wordpress.com/305/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/urangminang.wordpress.com/305/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=urangminang.wordpress.com&amp;blog=2533188&amp;post=305&amp;subd=urangminang&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://urangminang.wordpress.com/2011/05/26/prof-dr-azyumardi-azra/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/2b3fb6c0851c864df7ef92665bc2b754?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">tan marajo</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://urangminang.files.wordpress.com/2011/05/azyumardi_azra_100719165100.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">azyumardi_azra_100719165100</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Syekh Thahir Djalaluddin Al-Azhari Al-Falaki</title>
		<link>http://urangminang.wordpress.com/2011/04/29/syekh-thahir-djalaluddin-al-azhari-al-falaki/</link>
		<comments>http://urangminang.wordpress.com/2011/04/29/syekh-thahir-djalaluddin-al-azhari-al-falaki/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 29 Apr 2011 03:31:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Is Sikumbang</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ulama]]></category>
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[urang minang]]></category>
		<category><![CDATA[malaysia]]></category>
		<category><![CDATA[minangkabau]]></category>
		<category><![CDATA[surau]]></category>
		<category><![CDATA[tokoh minang]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://urangminang.wordpress.com/?p=297</guid>
		<description><![CDATA[Ulama Besar Semenanjung Malaysia Keturunan Minangkabau Ditulis ulang : MuhammadIlham (c) Tim Peneliti FIBA &#8220;Kehadiran Thahir Djalaluddin, menurut Roff, telah menarik perhatian para ulama kaum tua di Semenanjung. Mayoritas para ulama tua ini merasa tersaingi dan terkesan kehadiran ahli falak ini menggerogoti otoritas dan domain keilmuan mereka&#8221; (William Roff) Syekh Thahir Djalaluddin Al-Azhari Al-Falaki (selanjutnya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=urangminang.wordpress.com&amp;blog=2533188&amp;post=297&amp;subd=urangminang&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h3>Ulama Besar <a class="zem_slink" title="Peninsular Malaysia" href="http://maps.google.com/maps?ll=4.0,102.5&amp;spn=3.0,3.0&amp;q=4.0,102.5%20%28Peninsular%20Malaysia%29&amp;t=h" rel="geolocation">Semenanjung Malaysia</a> Keturunan <a class="zem_slink" title="Minangkabau" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Minangkabau" rel="wikipedia">Minangkabau</a></h3>
<div id="post-body-8644991588498079833">Ditulis ulang : <a class="zem_slink" title="Muhammad" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Muhammad" rel="wikipedia">Muhammad</a>Ilham (c) Tim Peneliti FIBA</p>
<div><em>&#8220;Kehadiran Thahir Djalaluddin, menurut Roff, telah menarik perhatian para ulama kaum tua di Semenanjung. Mayoritas para ulama tua ini merasa tersaingi dan terkesan kehadiran ahli falak ini menggerogoti otoritas dan domain keilmuan mereka&#8221; (William Roff)</em></div>
<div><em><br />
</em></div>
<div><em></em><a href="http://urangminang.files.wordpress.com/2011/04/images.jpeg"><img class="alignleft" style="border:0 none;" src="http://urangminang.files.wordpress.com/2011/04/images.jpeg?w=146&#038;h=256" alt="" width="146" height="256" border="0" /></a></div>
<div>Syekh Thahir Djalaluddin Al-Azhari Al-Falaki<a name="_ftnref1"></a> (selanjutnya disebut Thahir Djalaluddin) pada waktu kecil memiliki nama Muhammad Thahir. Beliau lahir di nagari Ampek Angkek Canduang, Bukittinggi pada tanggal 7 Desember 1869.<a name="_ftnref2"></a> Beliau kembali ke Rahmatullah pada tanggal 26 Oktober 1956 di Kuala Kangsar <a class="zem_slink" title="Perak" href="http://maps.google.com/maps?ll=4.75,101.0&amp;spn=1.0,1.0&amp;q=4.75,101.0%20%28Perak%29&amp;t=h" rel="geolocation">Perak</a>, Malaysia. Secara genetik, Thahir Djalaluddin merupakan keturunan ”darah biru ulama”. Ayahnya bernama Muhammad, yang biasa dipanggil dengan Syekh Cangkiang. Gelar Syekh ini menunjukkan bahwa ayah Thahir Djalaluddin merupakan seorang ulama. Sementara itu, kakeknya bernama Ahmad Djalaluddin dengan gelar Tuanku Sami’, seorang kadi pada masa Paderi. Thahir Djalaluddin merupakan saudara sepupu dari Syekh Ahmad Khatib al-Minangkabawi.<a name="_ftnref3"></a> Sementara itu, ibu Thahir Djalaluddin, Limbak Urai, merupakan kakak dari Gandam Urai, ibu dari Syekh Ahmad Khatib. Thahir Djalaluddin memiliki empat orang saudara yaitu Aishah, Maryam, Muhammad Amin dan Halimah. Ketika beliau berumur 2 tahun, ayah Thahir Djalaluddin meninggal dunia dan enam tahun kemudian sang ibu-pun menyusul ke rahmatullah. Sejak itu, beliau diasuh oleh adik ibunya, Limbak Urai.<a name="_ftnref4"></a>Thahir Djalaluddin mempunyai enam orang istri yang dinikahinya dalam waktu yang berbeda. Istri pertama beliau bernama Aishah binti Haji Mustafa yang dinikahinya ketika beliau pertama sekali tinggal di Kuala Kangsar. Dengan aishah ini, Thahir Djalaluddin dikaruniai enam orang anak yang bernama Rahmah, Muhammad Al-Johary, Ahmad, azizah, Hamid dan Hamdan. Sedangkan lima orang lagi istri beliau merupakan keturunan Minangkabau yang dinikahinya ketika Thahir Djalaluddin berkunjung ke Minangkabau. Dengan istri-nya yang lima orang keturunan Minangkabau tersebut, Thahir Djalaluddin tidak dikaruniai anak. Sampai akhir hayatnya, Thahir Djalaluddin tetap menjaga perkawinannya dengan istrinya yang pertama Aishah binti Haji Mustafa. Pada tahun 1880, Thahir Djalaluddin berangkat ke Mekkah untuk menuntut ilmu Islam menyusul kakak sepupunya yang terlebih dahulu ke Mekkah. Syekh Ahmad Khatib berangkat ke Mekkah tahun 1871. Di Mekkah ini, beliau belajar selama 13 tahun (dari tahun 1880-1893), termasuk belajar pada kakak sepupunya Syekh Ahmad Khatib. Karena Thahir Djalaluddin belum merasa puas selama belajar di Mekkah, Thahir Djalaluddin berangkat ke Mesir dan melanjutkan studinya di <a class="zem_slink" title="Al-Azhar University" href="http://maps.google.com/maps?ll=30.0458333333,31.2625&amp;spn=0.01,0.01&amp;q=30.0458333333,31.2625%20%28Al-Azhar%20University%29&amp;t=h" rel="geolocation">Al-Azhar</a> selama 3 tahun (1895-1898). Kemudian beliau kembali lagi ke Mekkah dan bergabung sambil belajar dengan sepupunya yang pada waktu itu telah diangkat menjadi Guru dan <a class="zem_slink" title="Imam" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Imam" rel="wikipedia">Imam</a> Mazhab Syafei di <a class="zem_slink" title="Masjid al-Haram" href="http://maps.google.com/maps?ll=21.422,39.826&amp;spn=0.01,0.01&amp;q=21.422,39.826%20%28Masjid%20al-Haram%29&amp;t=h" rel="geolocation">Masjidil Haram</a>. Limbak Urai merupakan istri dari Abdul Lathif Khatib Nagari yang merupakan tokoh di kampung halaman Thahir Djalaluddin ketika itu.Pada tahun 1898, beliau kemudian meninggal Mekkah dan menetap di Malaya.<a name="_ftnref5"></a>Intensitas kegiatan Thahir Djalaluddin kemudian selanjutnya terfokus di daerah Perak, Johor dan Singapura. Kalau tidak mendapat tantangan dari beberapa ulama tua-tradisionalis di Perak, beliau berkemungkinan besar diangkat menjadi Mufti Kerajaan Perak.</div>
<div>
<p><span id="more-297"></span>Ketika Thahir Djalaluddin berada di Mesir, beliau sempat menjadi anggota <em>Majelis A’la Al-Azhar</em>. Pada waktu ini, pamor <a class="zem_slink" title="Muhammad Abduh" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Muhammad_Abduh" rel="wikipedia">Muhammad Abduh</a> sedang naik dalam blantika pemikiran pembaharuan dunia Islam. Thahir Djalaluddin banyak menerima pemikiran-pemikiran pembaharuan Muhammad Abduh yang bagi Thahir Djalaluddin sangat mencerahkan dan mengesankan. Dalam sejarah ulama-ulama Minangkabau, Thahir Djalaluddin merupakan ulama satu-satunya yang berkesempatan bersentuhan atau berinteraksi dengan dinamika pemikiran pembaharuan Islam di Mesir yang ”dikomandani” oleh Muhammad Abduh pada akhir abad ke-19 M. Ayah Hamka, Haji <a class="zem_slink" title="Abdul Karim Amrullah" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Abdul_Karim_Amrullah" rel="wikipedia">Abdul Karim Amrullah</a> (HAKA) dan Haji Abdullah Ahmad pernah diundang pada tahun 1926 ke Kongres Internasional di Mesir untuk membahas <em>khilafah</em> dan sekaligus menerima penghargaan akademik Doktor <em>Honoris Causa</em> pada Kongres ini atas kontribusi mereka dalam pengetahuan keIslaman yang diakui oleh ulama Timur Tengah. Akan tetapi, mereka berdua ini tidak pernah belajar di Mesir se-intens Thahir Djalaluddin. Bahkan guru Thahir Djalaluddin, Syekh Ahmad Khatib, juga tidak pernah belajar di Mesir.</p>
<p>Setelah delapan tahun berada di Malaya, pada tahun 1906 Thahir Djalaluddin menerbitkan majalah <em>Al-Imam</em> di Singapura. Latar belakang lahirnya majalah ini adalah keinginan Thahir Djalaluddin untuk mentransfer dan mensosialisasikan reformasi pemikirannya ke seluruh penjuru Melayu-Nusantara. Dalam majalah ini dimuat beragam artikel yang tidak hanya terfokus pada artikel-artikel ke-Islam-an saja, tapi juga memuat masalah perkembangan ilmu pengetahuan populer dan peristiwa-peristiwa yang terjadi di berbagai belahan dunia yang pada prinsipnya memiliki keterkaitan dengan dunia Islam, serta juga memberikan inspirasi bagi kemajuan berfikir ummat Islam agar tidak ketinggalan dalam berkompetisi dengan dunia barat. Dalam masalah ini, terutama yang bersangkutan dengan agama, <em>Al-Imam</em> seringkali merujuk majalah <em><a class="zem_slink" title="Al-Manar" href="http://www.almanar.com.lb/" rel="homepage">Al-Manar</a></em> (majalah yang didirikan dan dipimpin oleh Muhammad Abduh) dan pendapat-pendapat dari Muhammad Abduh sendiri. Majalah ini terbit dua kali dalam sebulan yang mendapat apresiasi serta respon positif dan antusias di dunia Melayu-Indonesia. Disamping berbagai isu populer dan bersifat pencerahan, artikel yang menyerang tareqat juga sering dimuat dalam <em>Al-Imam</em>. Bahkan, secara terang-terangan Thahir Djalaluddin menyerang gerakan dan praktek tareqat. Suatu hal yang umum bagi ulama-ulama (khususnya yang berasal dari Minangkabau) murid dari Syekh Ahmad Khatib al-Minangkabawi dan ”dipetakan” sebagai ulama pembaharu dalam dinamika dan dialektika sejarah pembaharuan Islam Indonesia.</p>
<p>Dari hasil penelusuran dan penyelidikan yang pernah dilakukan oleh beberapa orang, baik yangdietrbitkan dalam bentuk buku atau karya ilmiah yang tidak dipublikasikan, terlihat bahwa tulisan ataupun penelitian tentang Thahir Djalaluddin belum banyak dilakukan. Diantara yang pernah menulis tentang Thahir Djalaluddin adalah Hamka dalam bukunya <em>Ayahku</em>, sebagai tambahan (sumplemen) pada penerbitan ketiga yang dicetak pada tahun 1963. Bahan-bahan tulisannya tersebut diperoleh Hamka langsung dari Thahir Djalaluddin ketika Hamka bertemu dengan beliau pada tahun 1955 dan tahun 1956. Ketika membahas majalah <em>Al-Imam</em>, Hamka mendeskripsikan peranan Thahir Djalaluddin yang sangat signifikan.<a name="_ftnref7"></a> Thahir Djalaluddin juga diceritakan oleh Hamka bahwa ketika menjadi pengarang dan editor majalah <em>Al-Imam</em> tersebut, beliau melakukan perjalanan bolak-balik dari Semenanjung Malaya ke Mekkah dan Mesir. Ketika beliau meninggalkan Semenanjung Malaya, beliau menyerahkan kewenangan editornya pada sahabatnya, Abbas bin Muhammad Thaha, seorang keturunan Minangkabau yang lahir dan besar di Singapura. Hamka juga menuliskan bagaimana Thahir Djalaluddin, disamping berdakwah bersama para murid dan sahabat-sahabatnya, beliau juga menghempuskan semangat anti-kolonialisme.</p>
<p>Sementara itu, William Roff pernah menyinggung peranan Thahir Djalaluddin dalam reformasi dunia Islam Melayu-Indonesia dalam bukunya yang bertitelkan <em>The Origins of Malay Nationalism</em> pada tahun 1967 yang diterbitkan oleh Oxford University Press. Karyanya tersebut kemudian diterbitkan pada tahun 1974 di Kuala Lumpur dan edisi cetak-kedua diterbitkan oleh Oxford University Press pada tahun 1994. <em>Indonesianist</em> Harry J. Benda bertindak sebagai penulis Pengantar pada buku edisi cetak kedua ini. Dalam buku ini, Roff mengemukakan bagaimana peranan Thahir Djalaluddin sebagai reformis Islam di Semenanjung dengan langkah-langkah gerakan menjadi editor utama dan mendirikan majalah <em>Al-Imam </em>bersama para sahabatnya. Kehadiran Thahir Djalaluddin, menurut Roff, telah menarik perhatian para ulama kaum tua di Semenanjung. Mayoritas para ulama tua ini merasa tersaingi dan terkesan kehadiran ahli falak ini menggerogoti otoritas dan domain keilmuan mereka. Roff juga menjelaskan bagaimana usaha-usaha ulama dari kaum tua yang berupaya untuk menghambat pencalonan Thahir Djalaluddin menjadi Mufti Perak.<a name="_ftnref8"></a></p>
<p>Selanjutnya, Hamka juga pernah menulis tentang Thahir Djalaluddin dalam sebuah makalahnya yang dipresentasikan dalam Seminar Islam di Minangkabau. Tulisan yang dimuat dalam buku <em>Islam dan Adat Minangkabau</em> dan diterbitkan oleh Pustaka Panjimas pada tahun 1985, menekankan pembahasannya pada peranan dua tokoh penting yaitu Syekh Ahmad Khatib al-Minangkabawi dan Thahir Djalaluddin beserta murid-muridnya dan implikasinya terhadap kemajuan Islam. Hamka memberika porsi tiga halaman pada perjalanan intelektual Thahir Djalaluddin dari kampung halamannya ke Mekkah, Mesir dan Semenanjung Malaya. Dalam makalah ini juga diceritakan bahwa Thahir Djalaluddin pernah kawin dengan salah seorang dara Minang ketika beliau pulang ke Minangkabau pada waktu pertama kali tahun 1923. Kedatangan Thahir Djalaluddin pada waktu itu cukup memberikan dampak yang signifikan terhadap semangat reformasi. Beliau berkeliling ke berbagai tempat di Minangkabau dan menghembuskan semangat perjuangan, bernuansa politis, menentang penjajah, akan tetapi tidak memakai pendekatan dan pemikiran ”komunis” yang pada masa itu lagi <em>trend </em>di Minangkabau, melainkan dari pendekatan Tauhid Islam. Keluarganya menjodohkan beliau dengan dara Minang asal Padang Panjang dengan harapan agar beliau betah tinggal di Minangkabau. Tetapi, tahun 1928, beliau kembali ke Singapura. Tahun 1928, beliau kembali lagi ke Minangkabau dan kemudian ditangkap oleh Belanda serta ditahan selama 6 bulan di penjara Bukittinggi dan Muara Padang. Ketika beliau pulang untuk yang kedua kalinya tersebut, Thahir Djalaluddin bersama-sama dengan HAKA dan Abdullah Ahmad, bersatu dalam menumpas paham komunis yang dikembangkan oleh salah seorang murid HAKA, Haji Datuk Batuah di Thawalib Padang Panjang.</p>
<p>Deliar Noer dalam disertasi Doktornya di Cornell University, Ithaca New York dengan judul <em>The Modernist Muslim Movement in Indonesia 1900-1942</em> yang diterbitkan untuk kali pertamanya oleh Oxford University Press tahun 1973 juga menyinggung sedikit tentang Thahir Djalaluddin. Deliar Noer memfokuskan kontribusi Thahir Djalaluddin dalam memberikan pencerahan dan kedewasaan berpolitik masyarakat Minangkabau melalui majalah <em>Al-Imam</em>, dimana Thahir Djalaluddin merupakan salah satu ”tokoh kunci” majalah yang diterbitkan di Singapura ini. Disamping Deliar Noer, tulisan mengenai Thahir Djalaluddin juga pernah disinggung oleh Akhria Nazwar dalam bukunya <em>Syekh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi : Ilmuan Islam di Permulaan Abad Ini. </em>Sedangkan fokus mengenai majalah <em>Al-Imam</em> juga ditulis oleh Mahmud Yusuf dalam tesisi S2-nya yang berjudul <em>Majalah Al-Imam Singapura : Suatu Studi Mengenai Pembaharuan Pemikiran Dalam Islam</em> pada Program Pasca Sarjana IAIN Syarif Hidayatullah pada tahun 1994. Kemudian Bachtiar Djamily, putra Syekh Muhammad Djamil Djaho, juga menulis buku tentang <em>Riwayat dan Perjuangan Syekh Thaher Djalaluddin Al-Falaki Al-Azhari</em>. Buku tersebut dicetak pertama sekali di Malaysia oleh penerbit Ashmah Publisher Kuala Lumpur tahun 1994 dan kemudian dicetak di Indonesia oleh Percetakan Kreasi Jaya Utama.</p>
<p>(c) Tim Peneliti FIBA IAIN Padang</p>
<p>sumber : http://ulama-minang.blogspot.com/2010/11/oleh-muhammad-ilham-c-tim-peneliti-fiba.html</p>
</div>
</div>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/urangminang.wordpress.com/297/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/urangminang.wordpress.com/297/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/urangminang.wordpress.com/297/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/urangminang.wordpress.com/297/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/urangminang.wordpress.com/297/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/urangminang.wordpress.com/297/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/urangminang.wordpress.com/297/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/urangminang.wordpress.com/297/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/urangminang.wordpress.com/297/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/urangminang.wordpress.com/297/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/urangminang.wordpress.com/297/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/urangminang.wordpress.com/297/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/urangminang.wordpress.com/297/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/urangminang.wordpress.com/297/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=urangminang.wordpress.com&amp;blog=2533188&amp;post=297&amp;subd=urangminang&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://urangminang.wordpress.com/2011/04/29/syekh-thahir-djalaluddin-al-azhari-al-falaki/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/2b3fb6c0851c864df7ef92665bc2b754?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">tan marajo</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://urangminang.files.wordpress.com/2011/04/images.jpeg?w=146" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Syekh Ahmad Khatib al Minangkabawy &#8211; Pelopor Gerakan Pembaharu di Minangkabau</title>
		<link>http://urangminang.wordpress.com/2011/04/19/syekh-ahmad-khatib-al-minangkabawy-pelopor-gerakan-pembaharu-di-minangkabau/</link>
		<comments>http://urangminang.wordpress.com/2011/04/19/syekh-ahmad-khatib-al-minangkabawy-pelopor-gerakan-pembaharu-di-minangkabau/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 19 Apr 2011 06:11:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Is Sikumbang</dc:creator>
				<category><![CDATA[minangkabau]]></category>
		<category><![CDATA[Ulama]]></category>
		<category><![CDATA[urang minang]]></category>
		<category><![CDATA[ahmad khatib]]></category>
		<category><![CDATA[bukittinggi]]></category>
		<category><![CDATA[minangkabawy]]></category>
		<category><![CDATA[padang]]></category>
		<category><![CDATA[surau]]></category>
		<category><![CDATA[tokoh minang]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://urangminang.wordpress.com/?p=291</guid>
		<description><![CDATA[Oleh : Buya Mas&#8217;oed Abidin Syeikh Ahmad Khatib al-Minankabawi – Imam dan khatib Masjid al-Haram Mekah -, Pelopor Gerakan Pembaruan di Minangkabau dan Tanah jawi (Nusantara) Salah seorang pelopor gerakan pembaruan di Minangkabau yang menyebarkan pikiran-pikirannya dari Mekah pada awal abad ke-20 adalah Syekh Ahmad Khatib EL Minangkabawy (1855).[1] Syekh Ahmad Khatib adalah turunan dari [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=urangminang.wordpress.com&amp;blog=2533188&amp;post=291&amp;subd=urangminang&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h3>Oleh : Buya Mas&#8217;oed Abidin</h3>
<div></div>
<p><a href="http://urangminang.files.wordpress.com/2011/04/ulama.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-292" title="ulama" src="http://urangminang.files.wordpress.com/2011/04/ulama.jpg?w=510" alt=""   /></a>Syeikh Ahmad Khatib al-Minankabawi – Imam dan khatib Masjid al-Haram Mekah -, Pelopor Gerakan Pembaruan di Minangkabau dan Tanah jawi (Nusantara)<br />
Salah seorang pelopor gerakan pembaruan di Minangkabau yang menyebarkan pikiran-pikirannya dari Mekah pada awal abad ke-20 adalah Syekh Ahmad Khatib EL Minangkabawy (1855).[1]</p>
<blockquote><p>Syekh Ahmad Khatib adalah turunan dari seorang hakim gerakan Padri yang sangat anti penjajahan Belanda. Ia dilahirkan di Bukittinggi (lahir Isnin, 6 Zulhijjah 1276 H/26 Jun 1860 M, wafat 9 Jamadilawal 1334 H/13 Mac 1916 M) dalam catatan lainnya beliau dilahirkan pada tahun 1855 oleh ibu bernama Limbak Urai, yang adalah saudara dari Muhammad Shaleh Datuk Bagindo, Laras, Kepala Nagari Ampek Angkek yang berasal dari Koto Tuo Balaigurah, Kecamatan Ampek Angkek Candung. Ayahnya adalah Abdullatief Khatib Nagari, saudara dari Datuk Rangkayo Mangkuto, Laras, Kepala Nagari Kotogadang, Kecamatan IV Koto, di seberang ngarai Bukittinggi.</p></blockquote>
<p>Baik dari pihak ibu ataupun pihak ayahnya, Ahmad Khatib adalah anak terpandang, dari kalangan keluarga yang mempunyai latar belakang agama dan adat yang kuat, anak dan kemenakan dari dua orang tuanku Laras dari Ampek dan Ampek Angkek. Ditenggarai, bahwa ayah dan ibu Ahmad Khatib dipertemukan dalam pernikahan berbeda nagari ini, karena sama-sama memiliki kedudukan yang tinggi dalam adat, dari keluarga tuanku laras, dan latar belakang pejuang Paderi, dari keluarga Pakih Saghir dan Tuanku nan Tuo.</p>
<p><span id="more-291"></span>Sejak kecilnya Ahmad Khatib mendapat pendidikan pada sekolah rendah yang didirikan Belanda di kota kelahirannya. Ia meninggalkan kampung halamannya pergi ke Mekah pada tahun 1871 dibawa oleh ayahnya. Setelah berada di Mekah barulah beliau mendapat pendidikan agama yang mendalam daripada ulama Mekah terutama Sayid Bakri Syatha, Sayid Ahmad bin Zaini Dahlan, Syeikh Muhammad bin Sulaiman Hasbullah al-Makki dan lain-lain. Sampai dia menamatkan pendidikan, dan menikah pada 1879 dengan seorang putri Mekah Siti Khadijah, anak dari Syekh Shaleh al-Kurdi, maka Syekh Ahmad Khatib mulai mengajar dikediamannya di Mekah tidak pernah kembali ke daerah asalnya.</p>
<blockquote><p>Syekh Ahmad Khatib, mencapai derajat kedudukan yang tertinggi dalam mengajarkan agama sebagai imam dari Mazhab Syafei di Masjidil Haram, di Mekah. Syeikh Ahmad Khatib al-Minankabawi – Imam dan khatib Masjid al-Haram Mekah. Sebagai imam dari Mazhab Syafe’i, ia tidak melarang murid-muridnya untuk mempelajari tulisan Muhammad Abduh, seorang pembaru dalam pemikiran Islam di Mesir.</p></blockquote>
<p>Dalam penelitian yang dilakukan, didapati Syeikh Ahmad Khatib al-Minankabawy adalah seorang ulama yang paling banyak melakukan polemik dalam pelbagai bidang. Sebagai catatan ringkas di antaranya ialah polemik dengan golongan pemegang adat Minangkabau, terutama tentang hukum pusaka.</p>
<p>Syeikh Ahmad Khatib al-Minangkabawy menyanggah beberapa pendapat Barat tentang kedudukan bumi, bulan dan matahari, serta peredaran planet-planet lainnya yang beliau anggap bertentangan dengan pemikiran sains ulama-ulama Islam yang arif dalam bidang itu.</p>
<p>Sehubungan ini, Syeikh Ahmad Khatib al-Minangkabawy sangat menentang ajaran Kristian terutama tentang `triniti’. Dalam permasalahan mendirikan masjid untuk solat Jumaat, Syeikh Ahmad Khatib al-Minankabawy berkontroversi dengan Sayid Utsman (Mufti Betawi) dan beberapa ulama yang berasal dari Palembang dan ulama-ulama Betawi lainnya.</p>
<blockquote><p>Syekh Ahmad Khatib sangat terkenal dalam menolak dua macam kebiasaan di Minangkabau, yakni peraturan-peraturan adat tentang warisan dan tarekat Naqsyahbandiyah yang dipraktekkan pada masa itu. Kedua masalah itu terus menerus dibahasnya, diluruskan dan yang tidak sejalan dengan syari’at Islam ditentangnya.</p></blockquote>
<p>Pemahaman dan pendalaman dari Syekh Ahmad Khatib el Minangkabawy ini, kemudian dilanjutkan oleh gerakan pembaruan di Minangkabau, melalui tabligh, diskusi, dan muzakarah ulama dan zu’ama, penerbitan brosur dan surat-kabar pergerakan, pendirian sekolah-sekolah seperti madrasah-madrasah Sumatera Thawalib, dan Diniyah Puteri, sampai ke nagari-nagari di Minangkabau, sehingga menjadi pelopor pergerakan merebut kemerdekaan Republik Indonesia.</p>
<p>Dalam beberapa karya Ahmad Khatib menunjukkan bahwa barang siapa masih mematuhi lembaga-lembaga “kafir”, adalah kafir dan akan masuk neraka. Kemudian, semua harta benda yang diperoleh menurut hukum waris kepada kemenakan, menurut pendapat Ahmad Khatib harus dianggap sebagai harta rampasan.</p>
<p>Di antara guru agama banyak juga yang tidak dapat menyetujui pendirian Ahmad Khatib, yang dianggap tidak kenal damai. Walaupun pikiran-pikiran itu mendapat tantangan dari kaum adat, maupun muridnya yang tidak menyetujui pemikiran demikian, namun perbedaan pendapat ini telah melahirkan hasrat untuk lebih berkembang, menghidupkan kembali kesadaran untuk pengenalan kembali diri sendiri, yaitu kesadaran untuk meninggalkan keterbelakangan.</p>
<p>Pemikiran-pemikiran yang disampaikan Ahmad Khatib memicu pembaruan pemikiran Islam di Minangkabau. Di pihak lain perlawanan yang berarti terhadap pemikiran Ahmad Khatib datang dari kalangan Islam tradisi yang adakalanya disebut kaum tua. Kecamannya mengenai tarekat, telah dijawab oleh Syekh Muhamamad Saat bin Tanta’ dari Mungkar dan Syekh Khatib Ali di Padang jang menerbitkan beberapa tulisan tentang itu. Kecamannya dalam harta warisan, menumbuhkan kesadaran banyak orang Minangkabau memahami, bahwa tidak dapat disesuaikan hukum waris matrilineal dengan hukum agama.</p>
<p>Polemik yang paling hebat dan kesan yang berkesinambungan ialah pandangannya tentang Thariqat Naqsyabandiyah. Syeikh Ahmad Khatib al-Minankabawy telah disanggah oleh ramai ulama Minangkabau sendiri terutama oleh seorang ulama besar, sahabatnya. Beliau ialah Syeikh Muhammad Sa’ad Mungka yang berasal dari Mungkar Tua, Minangkabau.</p>
<p>Sehubungan dengan sanggahannya terhadap thariqat Syeikh Ahmad Khatib Minangkabau menyanggah pula teori `Martabat Tujuh’ yang berasal daripada Syeikh Muhammad bin Fadhlullah al-Burhanfuri.</p>
<p>Syeikh Ahmad Khatib Minangkabau adalah seorang yang berpendirian keras dan radikal, sungguhpun beliau menguasai banyak bidang ilmu, namun beliau masih tetap berpegang (taklid) pada Mazhab Syafie dalam fikah dan penganut Ahli Sunnah wal Jamaah mengikut Mazhab Imam Abu Hasan al-Asy’ari dan Imam Abu Mansur al-Maturidi dalam akidah.</p>
<blockquote><p>Sebagai contoh, dalam pertikaian dua orang muridnya yang berbeda pendapat. Yang seorang berpihak kepada `Kaum Tua’, beliau ialah Syeikh Hasan Ma’sum (1301 H/1884 M-1355 H/1974 M) yang berasal dari Deli, Sumatera Utara. Dan seorang lagi berpihak kepada `Kaum Muda’, beliau ialah Haji Abdul Karim Amrullah (ayah kepada Prof. Dr. Hamka</p></blockquote>
<p>).</p>
<p>Syeikh Ahmad Khatib Minangkabau berpihak kepada Syeikh Hasan Ma’sum (Kaum Tua). Bahkan dalam satu kenyataannya Syeikh Ahmad Khatib Minangkabau menolak sumber asal pegangan Haji Abdul Karim Amrullah (Kaum Muda) yang menurut beliau telah terpengaruh dengan pemikiran Ibnu Taimiyah (661 H/1263 M – 728 H/1328 M), yang ditolak oleh golongan yang berpegang dengan mazhab.</p>
<p>Menyanggah Aliran Thariqat</p>
<p>Sungguhpun Syeikh Ahmad Khathib Minangkabau sangat terkenal menyanggah thariqat, namun dalam penelitian saya didapati bahawa yang beliau sanggah ialah beberapa perkara yang terdapat dalam Thariqat Naqsyabandiyah al-Khalidiyah. Belum ditemui sanggahannya terhadap thariqat yang lain seumpama Thariqat Syathariyah, Thariqat Qadiriyah, Thariqat Ahmadiyah dan lainnya.</p>
<p>Mengenai Thariqat Naqsyabandiyah al-Khalidiyah, catatan sejarah yang diperoleh ternyata Syeikh Ahmad Khathib Minangkabau yang mendahului pertikaian. Mengenainya dimulai sepucuk surat yang menanyakan kepadanya, Syeikh Ahmad Khathib Minangkabau pun menulis:</p>
<p>“Maka adalah pada tahun 1324 daripada hijrah Nabi kita alaihis shalatu was salam datang kepada yang faqir Ahmad Khathib bin Abdul Lathif, Imam Syafie di Mekah, satu masalah dari negeri Jawi menyatakan beberapa ehwal yang terpakai pada Thariqat Naqsyabandiyah pada masa kita ini. Adakah baginya asal pada syariat Nabi kita ? Atau tiada ? Kerana telah bersalah-salahan orang kita Jawi padanya. Maka hamba lihat, menjawab soal ini ialah terlampau masyaqqah atas hamba, kerana pekerjaan itu telah menjadi pakaian pada negeri hamba hingga menyangka mereka itu akan bahawasanya segala itu thariqat Nabi kita. Dan orang yang mungkir akan dia ialah memungkiri akan agama Islam. Padahal sangka itu adalah tersalah, tiada muthabaqah dengan waqi’…”</p>
<p>Syeikh Ahmad Khathib Minangkabau menuangkan sanggahan terhadap thariqat. Beliau menulis dalam kitab yang berjudul Izhharu Zaghlil Kazibin fi Tasyabbuhihim bish Shadiqin yang selesai ditulis pada malam Ahad, 4 Rabiulakhir 1324 H/1906 M.</p>
<p>Kitab tersebut telah mengundang kemarahan seluruh penganut Thariqat Naqsyabandiyah al-Khalidiyah dan penganut-penganut tasawuf daripada pelbagai thariqat yang lainnya. Akibatnya, Syeikh Muhammad Sa’ad Mungka menanggapi karangan tersebut dengan mengarang sebuah kitab berjudul Irghamu Unufi Muta’annitin fi Inkarihim Rabithatil Washilin yang beliau selesaikan pada akhir bulan Muharam tahun 1325 H/1907 M.</p>
<p>Kemunculan kitab Syeikh Ahmad Khathib Minangkabau berjudul Izhharu Zaghlil Kazibin itu hanya beberapa bulan saja mendahului kitab Mir-atul A-’ajib karya Syeikh Ahmad al-Fathani menjawab pertanyaan Sultan Kelantan, iaitu sama-sama dikarang dalam tahun 1324 H/1906 M.</p>
<p>Syeikh Muhammad Sa’ad bin Tanta’ Mungka itu tidak membantah karya gurunya Syeikh Ahmad al-Fathani, tetapi secara serius karya Syeikh Ahmad Khathib Minangkabau dipandang sangat perlu ditanggapi dan beliau membantah dengan hujah-hujah berdasarkan al-Quran, hadis dan pandangan para ulama shufiyah.</p>
<p>Dengan terbitnya kitab Irghamu Unufi Muti’annitin oleh Syeikh Muhammad Sa’ad Mungka itu, Syeikh Ahmad Khathib Minangkabau menyerang lagi dengan kitabnya yang berjudul Al-Ayatul Baiyinat lil Munshifin fi Izalati Khurafati Ba’dhil Muta’ashshibin.</p>
<p>Kitab ini disanggah pula oleh Syeikh Muhammad Sa’ad Mungka dengan karyanya berjudul Tanbihul `Awam `ala Taqrirati Ba’dhil Anam. Sesudah karya ini tidak terdapat sanggahan Syeikh Ahmad Khathib Minangkabau.</p>
<blockquote><p>Dari peristiwa ini, kita mendapat pelajaran besar bahwa para ulama &#8216;tanah jawi&#8217; di kawasan Nusantara dan tanah Semenanjung Malaysia, juga ulama Minangkabau, telah terbiasa dengan polemik pemikiran, namun polemik selalu di dalam kawasan intelektual yang melahirkan buku buku dan tulisan yang berharga, tidak semata bertengkar atau bersitegang urat leher.</p></blockquote>
<p>Karya Besar Ahmad Khatib al Minangkabawy</p>
<p>Karya Syeikh Ahmad Khatib Minangkabau yang telah ditemui hanya 17 judul. Ada yang ditulis dengan bahasa Arab dan ada juga dengan bahasa Melayu. Kerana kekurangan ruangan, yang dapat disenaraikan dalam artikel ini hanya lapan judul iaitu:</p>
<p>1. Al-Jauharun Naqiyah fil A’mali Jaibiyah (bahasa Arab), diselesaikan pada hari Isnin, 28 Zulhijjah 1303 H. Kandungannya membicarakan ilmu miqat. Dicetak oleh Mathba’ah al- Maimuniyah, Mesir, Rejab 1309 H.</p>
<p>2. Hasyiyatun Nafahat `ala Syarhil Waraqat (bahasa Arab), diselesaikan pada hari Khamis, 20 Ramadan 1306 H. Kandungannya mengenai ilmu ushul fiqh. Dicetak oleh Mathba’ah Darul Kutub al-’Arabiyah al-Kubra, Mesir, 1332 H.</p>
<p>3. Raudhatul Hussab fi A’mali `Ilmil Hisab (bahasa Arab), diselesaikan peringkat pertama hari pada Ahad, 19 Zulkaedah 1307 H di Mekah. Kandungannya mengupas dengan mendalam perkara matematik. Dicetak oleh Mathba’ah al-Maimuniyah, Mesir, Zulkaedah 1310 H.</p>
<p>4. Ad-Da’il Masmu’ fir Raddi `ala man Yuritsul Ikhwah wa Auladil Akhawat ma’a Wujudil Ushl wal Furu’ (bahasa Melayu). Diselesaikan pada 14 Muharam 1309 H. di Mekah. Kandungannya mengenai pembahagian pusaka menurut agama Islam dan membantah pusaka menurut ajaran adat Minangkabau. Dicetak oleh Mathba’ah al-Maimuniyah, Mesir, Zulkaedah 1311 H. Bahagian tepi dicetak karya beliau berjudul Al-Manhajul Masyru’ Tarjamah Kitab Ad-Da’il Masmu’ (bahasa Melayu).</p>
<p>5. `Alamul Hussab fi `Ilmil Hisab (bahasa Melayu), diselesaikan pada 6 Jamadilakhir 1310 H. di Mekah. Kandungannya mengupas dengan mendalam perkara matematik. Dicetak oleh Mathba’ah al-’Amirah al-Miriyah, Mekah, akhir Zulkaedah 1313 H. Bahagian tepi dicetak karya beliau berjudul An-Nukhbatun Nahiyah Tarjamah Khulashatil Jawahirin Naqiyah fil A’malil Jabiyah (bahasa Melayu), selesai mengarang pada malam Sabtu, 6 Jamadilakhir 1313 H.</p>
<p>6. Al-Manhajul Masyru’ Tarjamah Kitab Ad-Da’il Masmu’ (bahasa Melayu), diselesaikan pada hari Khamis, 26 Jamadilawal 1311 H. di Mekah. Kandungannya mengenai pembahagian pusaka menurut agama Islam dan membantah pusaka menurut ajaran adat Minangkabau. Dicetak oleh Mathba’ah al-Maimuniyah, Mesir, Zulkaedah 1311 H. Bahagian tepi dicetak karya beliau berjudul Ad-Da’il Masmu’ fir Raddi `ala man Yuritsul Ikhwah wa Auladil Akhawat ma’a Wujudil Ushul wal Furu’.</p>
<p>7. Dhau-us Siraj (bahasa Melayu), diselesaikan pada malam 27 Rabiulakhir 1312 H. di Mekah. Kandungannya membicarakan Isra dan Mikraj. Dicetak oleh Mathba’ah al-Miriyah al-Kainah, Mekah, 1325 H.</p>
<p>8. Shulhul Jama’atain bi Jawazi Ta’addudil Jum’atain (bahasa Arab), diselesaikan pada malam Selasa, 15 Rejab 1312 H. di Mekah. Kandungannya membicarakan Jumaat, merupakan sanggahan sebuah karya Habib `Utsman Betawi. Cetakan pertama oleh Mathba’ah al-Miriyah al-Kainah, Mekah, 1312 H.</p>
<p>Hanya delapan judul yang dapat dimuat dalam artikel ini, judul-judul yang lain dapat dirujuk dalam buku Katalog Besar Persuratan Melayu.</p>
<blockquote><p>Syekh Ahmad Khatib al Minangkabawy menyebarkan pikiran-pikirannya dari Mekah melalui tulisan-tulisannya di majalah atau buku-buku agama Islam, dan melalui murid-murid yang belajar kepadanya. Dengan cara itu, beliau memelihara hubungan dengan daerah asalnya Minangkabau, melalui murid-muridnya yang menunaikan ibadah haji ke Mekah, dan yang belajar padanya. Mereka inilah kemudian menjadi guru di daerah asalnya masing-masing.</p></blockquote>
<p>PERANAN ulama yang berasal dari dunia Melayu di Masjid al-Haram Mekah sudah berjalan begitu lama dan bersambung daripada satu generasi ke generasi berikutnya. Sebagai contoh ulama dunia Melayu yang pernah menjadi imam dan khatib dalam Mazhab Syafie di Masjid al-Haram Mekah yang dapat diketahui ada tiga orang, iaitu Syeikh Daud bin Abdullah al-Fathani.</p>
<p>Lebih kurang seratus tahun kemudian ialah Syeikh Ahmad Khatib al-Minankabawy (lahir Isnin, 6 Zulhijjah 1276 H/26 Jun 1860 M, wafat 9 Jamadilawal 1334 H/13 Mac 1916 M) dan Syeikh Abdul Hamid Muhammad Ali Kudus (lahir 1277 H/1860 M, riwayat lain dinyatakan lahir 1280 H/1863 M, wafat 1334 H/1915 M). Ketiga-tiga ulama yang tersebut sangat terkenal dalam pelbagai bidang yang mereka tekuni.</p>
<blockquote><p>Ulama zuama bekas murid Ahmad Khatib, mulai mengetengahkan pemikiran, manakala Islam bermaksud tetap memuaskan pengikutnya, maka harus terjadi suatu pembaruan. Setiap periode dalam sejarah peradaban manusia, melahirkan pembaruan pemikiran agama yang bertujuan memperbaiki pola penghidupan umatnya. Cita-cita itu ditemukan kembali dalam agama. Cara berpikir seorang beragama Islam bertolak dari anggapan keyakinan, bahwa Islam itu tidak mungkin memusuhi kebudayaan. Dengan kemajuan cara berpikir orang berusaha menemukan kembali cita-citanya dalam Islam.</p></blockquote>
<p>Timbul pertanyaan, apakah di dalam Islam ada unsur yang menyangkut kepada cita-cita persamaan, kebangsaan, hasrat untuk maju dan rasionalisme. Keunggulan dari Syekh Ahmad Khatib dalam memberikan pelajaran kepada muridnya, selalu menghindari sikap taqlid.</p>
<p>Salah seorang dari muridnya, yakni H.Abdullah Ahmad, yang kemudian menjadi salah seorang di antara para ulama dan zuama, pemimpin kaum pembaru di Minangkabau, pendiri Sumatera Thawalib, yang berawal dari pengajian di Masjid Zuama, Jembatan Besi, Padangpanjang, dan kemudian mendirikan pula Persatuan Guru Agama Islam (PGAI), di Jati, Padang, telah mengembangkan ajaran gurunya melalui pendidikan dan pencerahan tradisi ilmu dan mendorong pula para muridnya untuk mempergunakan akal yang sesungguhnya adalah kurnia Allah. Jika kepercayaan hanya tumbuh semata-mata karena penerimaan atas wibawa guru semata, maka kepercayaan itu tidak ada harganya, dan itulah yang membuka pintu taqlid. Peperangan melawan penjajahan asing tidak semata-mata dengan menggunakan senjata, bedil dan kelewang, tetapi pencerdasan anak kemenakan dengan memberikan senjata tradisi ilmu.</p>
<blockquote><p>Murid-muridnya kemudian menjadi penggerak pembaruan pemikiran Islam di Minangkabau, seperti Syekh Muhammad Djamil Djambek (1860 – 1947)[2], Haji Abdul Karim Amarullah (1879-1945) [3], dan Haji Abdullah Ahmad (1878 – 1933)[4].</p></blockquote>
<p>Seorang pembaru lainnya adalah Syekh Taher Djalaluddin (1869-1956), pada masa mudanya dipanggil Muhammad Taher bin Syekh Muhamad, lahir di Ampek Angkek, Bukittinggi, tahun 1869, anak dari Syekh Cangking, cucu dari Faqih Saghir yang bergelar Syekh Djalaluddin Ahmad Tuanku Sami’, pelopor kembali ke ajaran syariat bersama Tuanku Nan Tuo.</p>
<p>Syekh Taher Djalaluddin adalah saudara sepupu dari Ahmad Khatib Al Minangkabawy, karena ibunya adik beradik. Syekh Taher Djalaluddin, berangkat ke Mekah 1880, dan menuntut ilmu selama 15 tahun, kemudian meneruskan ke Al Azhar, di Mesir (1895-1898), dan kembali ke Mekah mengajar sampai tahun 1900. Beliau sangat ahli di bidang ilmu falak, dan tempat berguru Syekh Muhammad Djamil Djambek.</p>
<p>Mulai tahun 1900 itu, Syekh Taher Djalaluddin menetap di Malaya, pernah diangkat menjadi Mufti Kerajaan Perak. Eratnya hubungan Syekh Taher Djalaluddin dengan perguruan tinggi Al-Azhar di Kairo, dia tambahkan al-Azhari di belakang namanya.</p>
<p>Syekh Taher Djalaluddin merupakan seorang tertua sebagai pelopor dari ajaran Ahmad Khatib di Minangkabau dan tanah Melayu. Bahkan ia juga dianggap sebagai guru oleh kalangan pembaru di Minangkabau.<br />
Pengaruh Syekh Taher Djalaluddin tersebar pada murid-muridnya melalui majalah Al-Imam dan melalui sekolah yang didirikannya di Singapura bersama Raja Ali Haji bin Ahmad pada tahun 1908. Sekolah ini bernama Al-Iqbal al-Islamiyah, yang menjadi model Sekolah Adabiyah yang didirikan oleh Haji Abdullah Ahmad di Padang pada tahun 1908. Majalah Bulanan Al-Imam memuat artikel tentang pengetahuan popular, komentar kejadian penting di dunia, terutama dunia Islam, dan masalah-masalah agama, bahkan mendorong umat Islam betapa pentingnya memiliki sebuah Negara yang merdeka dan tidak dijajah. Majalah ini mendorong agar umat Islam mencapai kemajuan dan berkompetisi dengan dunia barat. Al-Iman sering mengutip pendapat dari Mohammad Abduh yang dikemukakan majalah Al-Mannar di Mesir. Majalah ini memakai bahasa Melayu dengan tulisan Arab Melayu atau tulisan Jawi, dan disebarkan di Indonesia meliputi tanah Jawa (Betawi, Jakarta, Cianjur, Semarang, dan Surabaya), Kalimantan (di Pontianak dan Sambas), Sulawesi (di Makassar). Di Padang, Haji Abdullah Ahmad mencontoh bentuk dan moto Al-Iman pada majalah yang diterbitkannya di Padang bernama Al-Munir. Banyak masalah yang dibicarakan pada Al-Iman mendapat tempat pada Al-Munir.</p>
<p>Syekh Taher baru dapat pulang ke Minangkabau pada tahun 1923 dan tahun 1927, namun ketika itu dia ditangkap dan ditahan oleh Pemerintah Belanda selama enam bulan, dituduh memfitnah dan menentang penjajahan melalui artikel-artikelnya di dalam majalah Al Iman itu. Setelah bebas Syekh Taher meninggalkan kampung halamannya dan tidak pernah kembali lagi ke daerah asalnya. Syekh Taher Djalaluddin meninggal dunia pada tahun 1956 di Kuala Kangsar, Perak, Malaya.</p>
<blockquote><p>Gerakan pembaruaan di awal abad ini dapat disebut sebagai gerakan pembaruan para ulama zuama, yang sesungguhnya telah diwarisi sambung bersambung dalam rantai sejarah yang berkelanjutan semenjak dari dua gerakan Paderi sebelumnya. Dapat pula dinyatakan bahwa gerakan pembaruan ulama zuama di awal abad 20 di Minangkabau menjadi mata rantai dari gerakan Paderi periode ketiga.</p>
<p>Gerakan Paderi periode pertama, di awal abad kedelapan belas, dimulai pulangnya tiga serangkai ulama Minang (1802), terdiri dari Haji Miskin di Pandai Sikek, Luhak Agam, Haji Abdur Rahman, di Piobang, Luhak Limopuluah, dan Haji Muhammad Arief, di Sumanik, Luhak nan Tuo, Tanah Datar, yang juga dikenal bergelar Tuanku Lintau, berawal dengan penyadaran semangat beragama Islam di dalam kehidupan beradat di Minangkabau.</p>
<p>Gerakan Paderi perode kedua dilanjutkan oleh Tuanku nan Tuo, Tuanku nan Renceh, Tuanku Kubu Sanang, Tuanku Koto Ambalau, Tuanku di Lubuk Aur, Tuanku di Ladang Laweh dan Tuanku Imam Bonjol yang berujung dengan perlawaanan terhadap penjajahan Belanda (1821-1837), dan lahirnya piagam Marapalam yang menyepakati adaik basandi syarak, syarak basandi Kitabullah di ranah Minangkabau.</p></blockquote>
<p>Gerakan Kembali ke Syariat yang dilaksanakan di bawah bimbingan Tuanku Nan Tuo, yang kemudian berlanjut kepada Gerakan Padri di bawah pimpinan Tuanku Nan Renceh, yang kemudian sambung bersambung di bawah pimpinan Tuanku Imam Bonjol, sesungguhnya tidak menentang hukum waris berdasarkan garis ibu. Malahan, gerakan pembaharuan yang dilaksanakan oleh mereka, sejak Tuanku nan Tuo, Tuanku nan Renceh, dan Tuanku Imam Bonjol, lebih menguatkan harta pusaka, yang dimaksud adalah pusaka tinggi itu, dimanfaatkan untuk kesejahteraan kaum, dan oleh karena itu, harta pusaka dimaksud diturunkan kepada kemenakan, dan ditempatkan pada pengawasan garis perempuan.</p>
<p>Namun mengenai harta pencaharian, kedua gerakan itu sependapat harus diwariskan kepada anak. Tuanku Imam Bonjol, sadar bahwa setelah utusan anak kemenakannya mempelajari hukum Islam ke tanah Mekah, menyatakan pembagian tugas yang nyata antara adat dan syarak atau agama. Bahwa masalah adat dikembalikan kepada Basa dan Penghulu, sedangkan masalah agama diserahkan kepada Tuanku atau malin. Inilah doktrin ajaran adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah.</p>
<p>Gerakan pembaruan ulama zuama di awal abad ke 20 di ranah Minangkabau ini, berawal dengan kepulangan para penuntut ilmu dari Makkah el Mukarramah, yang umumnya adalah murid dari Syekh Ahmad Khatib Al Minangkabawiy, telah ikut memberikan sumbangan bagi pencerahan pemahaman dan pengamalan syari’at Islam, dan mendorong bagi munculnya perdebatan-perdebatan umum yang diikuti para ulama, kaum terpelajar, dan ahli-ahli adat, dan ikut pula membukakan kesempatan bagi lahirnya berbagai jenis perkumpulan yang bertujuan memperdalam ilmu agama dan adat istiadat, serta mendorong tumbuhnya pendidikan Islam, madrasah-madrasah samapai ke nagari-nagari, dan berdiri pula berjenis organisasi pergerakan, seperti Tarbiyah Islamiyah, Adabiyyah, Muhammadiyah, dan meluas sampai ke semenanjung Malaya, dibawa oleh Syekh Taher Jalaluddin yang lebih banyak melaksanakan dakwahnya di tanah semenjanjung Malaysia itu.</p>
<p>Tak kurang penting timbulnya pergolakan-pergolakan kecil di beberapa tempat, biasanya membayangkan dinamika masyarakat adat dan agama di dalam membangun masyarakat di Minangkabau yang sedang mengalami perubahan, menumbuhkan keinginan baru untuk melakukan proses pemeriksaan kembali terhadap nilai-nilai kultur yang dipunyai.</p>
<p>Ketika arah pembangunan dan perobahan sosial sedang terjadi, menuju suasana merebut kemerdekaan dan menjelang proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia, setelah berakhirnya penindasan panjang 350 tahun dijajah Belanda, dan beralihnya kekuasaan kepada Dai Nippon, maka merebut kemerdekaan menjadi wajib.</p>
<p>Fatwa para ulama dan zuama ikut membentuk dinamika sejarah dan pemikiran Islam di ranah Minangkabau bergerak cepat, sejak empat puluh tahun sebelumnya juga telah digerakkan oleh para ulama zuama dengan basis ilmu pengetahuan agama dan adat istiadat, serta bahasan-bahasan perkembangan politik di Mesir dan Turki masa itu, ikut mendorong kepada pencarian model yang sesuai dengan yang haq, dan menuntut sikap beragama yang rasional, serta menumbuh kembangkan semangat kemerdekaan dalam berbangsa dan bernegara.</p>
<p>Pembaruan Islam di Minangkabau bukan semata terbatas pada kegiatan serta pemikiran saja, tetapi menemukan kembali ajaran atau prinsip dasar Islam yang berlaku abadi yang dapat mengatasi ruang dan waktu. Sementara itu usaha-usaha pembaruan yang praktis, baik dalam bentuk sekolah dan madrasah-madrasah atau pun kerajinan desa, mulai bermunculan.</p>
<p>Kaum pembaru pemikiran Islam berusaha mengembalikan ajaran dasar agama Islam dengan menghilangkan segala macam tambahan yang datang kemudian dalam din, agama, dan dengan melepaskan penganut Islam dari jumud, kebekuan dalam masalah dunia.</p>
<p>Mereka berusaha memecahkan tembok tambahan dan jumud itu, agar dapat menemu kembali isi dan inti ajaran Islam yang sesungguhnya, yang menurut keyakinannya menjadi cahaya yang dapat menyinari alam ini. Kaum pembaru berkeyakinan bahwa bab al-ijtihad, masih tetap terbuka; mereka menolak taqlid. Ijtihad membawa kaum pembaru untuk lebih memperhatikan pendapat. Keinginan untuk keluar dari situasi yang dianggap tidak sesuai dengan gagasan-gagasan yang ideal menghadapkan Minangkabau pada pilihan-pilihan yang kadang-kadang saling bertentangan.</p>
<p>Model barat mungkin baik, tetapi dapat berarti ancaman pada dasar-dasar agama dan adat. Perubahan yang sesuai dengan ajaran Islam yang ortodoks, memang merupakan pemecahan. Tetapi bagaimana pula dengan lembaga adat yang telah mendarah daging dalam kehidupan masyarakat Minangkabau? Dan, apa pula contoh yang bisa diikuti? Tetapi parameter adat sangat terbatas dan bias menutup jalan ke dunia maju dan mungkin pula menghadapkan diri pada masalah dosa dan tidak berdosa, soal batil dan haq.</p>
<p>Catatan Kaki</p>
<p>[1] Deliar Noer, Gerakan Moderen Islam di Indonesia 1900-1942,Jakarta, LP3ES, 1980, hal.38</p>
<p>[2] Syekh Djamil Djambek dilahirkan di Bukittinggi pada tahun 1860 , anak dari Muhammad Saleh Datuk Maleka, Kepala Nagari Kurai. Ibunya berasal dari Betawi. Syekh Djamil Djambek meninggal tahun 1947 di Bukittinggi.</p>
<p>[3] Haji Rasul lahir di Sungai Batang, Maninjau, tahun 1879, anak seorang ulama Syekh Muhammad Amarullah gelar Tuanku Kisai. Pada 1894, pergi ke Mekah, belajar selama 7 tahun. Sekembali dari Mekah, diberi gelar Tuanku Syekh Nan Mudo. Kemudian kembali bermukim di Mekah sampai tahun 1906, memberi pelajaran di Mekah, di antara murid-muridnya termasuk Ibrahim Musa dari Parabek, yang menjadi seorang pendukung terpenting dari pembaruan pemikiran Islam di Minangkabau. Haji Rasul meninggal di jakarta 2 Juni 1945</p>
<p>[4] Haji Abdullah Ahmad lahir di Padang Panjang pada tahun 1878, anak dari Haji Ahmad, seorang ulama dan pedagang. Ibunya berasal dari Bengkulu, masih trah dari pengikut pejuang Sentot Ali Basyah.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/urangminang.wordpress.com/291/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/urangminang.wordpress.com/291/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/urangminang.wordpress.com/291/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/urangminang.wordpress.com/291/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/urangminang.wordpress.com/291/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/urangminang.wordpress.com/291/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/urangminang.wordpress.com/291/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/urangminang.wordpress.com/291/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/urangminang.wordpress.com/291/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/urangminang.wordpress.com/291/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/urangminang.wordpress.com/291/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/urangminang.wordpress.com/291/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/urangminang.wordpress.com/291/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/urangminang.wordpress.com/291/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=urangminang.wordpress.com&amp;blog=2533188&amp;post=291&amp;subd=urangminang&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://urangminang.wordpress.com/2011/04/19/syekh-ahmad-khatib-al-minangkabawy-pelopor-gerakan-pembaharu-di-minangkabau/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/2b3fb6c0851c864df7ef92665bc2b754?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">tan marajo</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://urangminang.files.wordpress.com/2011/04/ulama.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">ulama</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Dua Bundo Kanduang Kala Menentang Sang Putra Fajar</title>
		<link>http://urangminang.wordpress.com/2011/04/18/dua-bundo-kanduang-kala-menentang-sang-putra-fajar/</link>
		<comments>http://urangminang.wordpress.com/2011/04/18/dua-bundo-kanduang-kala-menentang-sang-putra-fajar/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 18 Apr 2011 06:11:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Is Sikumbang</dc:creator>
				<category><![CDATA[Apa dan Siapa]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Leeteuk]]></category>
		<category><![CDATA[minangkabau]]></category>
		<category><![CDATA[padang panjang]]></category>
		<category><![CDATA[Rohana Kudus]]></category>
		<category><![CDATA[Shinee]]></category>
		<category><![CDATA[Sumatra]]></category>
		<category><![CDATA[Taeyeon]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://urangminang.wordpress.com/?p=286</guid>
		<description><![CDATA[Oleh : Muhammad Ilham Dua orang wanita Minangkabau pada masa rezim Sukarno yang berani menentang &#8220;kemapanan&#8221; putra sang-Fajar ini. Pertama Rohana Kudus dan yang kedua Rahmah el-Yunusiyah. Rohana Kudus, saudari dari Sutan Syahrir menentang keinginan beberapa &#8220;petualang politik&#8221; di MPRS agar mentahbiskan Sukarno menjadi Presiden se-Umur Hidup. Sebagai jurnalis, Rohana Kudus mentransformasikan pemikirannya ini dalam [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=urangminang.wordpress.com&amp;blog=2533188&amp;post=286&amp;subd=urangminang&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh : Muhammad Ilham</p>
<div>
Dua orang wanita Minangkabau pada masa rezim <a class="zem_slink" title="Sukarno" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Sukarno" rel="wikipedia">Sukarno</a> yang berani menentang &#8220;kemapanan&#8221; putra sang-Fajar ini. Pertama <a class="zem_slink" title="Rohana Kudus" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Rohana_Kudus" rel="wikipedia">Rohana Kudus</a> dan yang kedua Rahmah el-Yunusiyah.</p>
<p><a href="http://urangminang.files.wordpress.com/2011/04/roehanaaaa.jpg"><img class="alignleft" style="border:0 none;" src="http://urangminang.files.wordpress.com/2011/04/roehanaaaa.jpg?w=249&#038;h=100" alt="" width="249" height="100" border="0" /></a>Rohana Kudus, saudari dari <a class="zem_slink" title="Sutan Sjahrir" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Sutan_Sjahrir" rel="wikipedia">Sutan Syahrir</a> menentang keinginan beberapa &#8220;petualang politik&#8221; di MPRS agar mentahbiskan Sukarno menjadi Presiden se-Umur Hidup. Sebagai jurnalis, Rohana Kudus mentransformasikan pemikirannya ini dalam &#8220;kata-kata&#8221;. Sementara, Rahmah e-Yunusiyah, memanfaatkan &#8220;hak eksklusifnya&#8221; sebagai anggota MPRS menentang Sukarno. Sejarah kemudian mencatat bahwa Rahmah dan Rohana Kudus dikenal sebagai perempuan-perempuan yang membuat repot Soekarno. Sikap keras kepala dan penentangannya pada Presiden RI yang pertama itu, yang membuat Rahmah berseberangan dengan Soekarno. Rahmah menganggap Soekarno telah melenceng dari demokrasi terpimpinnya dan kedekatannya dengan kaum komunis. Konsekuensinya, Rahmah dikucilkan. Sekali pun Rahmah adalah anggota MPRS dari <a class="zem_slink" title="Sumatra" href="http://www.lonelyplanet.com/indonesia/sumatra" rel="lonelyplanet">Sumatra</a> Bagian Tengah, ia memilih bergerilya di hutan ketimbang harus ikut dengan kemauan pemerintah pusat. Rahmah mengalami masa-masa sulit di dalam hutan Sumatra, provinsi Jambi pada tahun 1950-an itu. Namun ia teguh pada pendirian, menentang komunis di bumi <a class="zem_slink" title="Minangkabau" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Minangkabau" rel="wikipedia">Minang</a>.</p>
<p><span id="more-286"></span>Tidak banyak generasi masa kini yang kenal siapa Rahmah el Yunusiyah. Namun, jika membayangkan seberapa jauh gema kekuatannya, bisa dibayangkan ia bukan perempuan sembarangan. Perempuan yang lahir di <a class="zem_slink" title="Padang Panjang" href="http://maps.google.com/maps?ll=-0.45,100.416666667&amp;spn=0.1,0.1&amp;q=-0.45,100.416666667%20%28Padang%20Panjang%29&amp;t=h" rel="geolocation">Padang Panjang</a>, 20 Desember 1900 dari pasangan ulama Minangkabau Muhammad Yunus bin Imanuddin dan Rafiah ini adalah perintis sekolah pesantren putri Diniyyah Putri di Padang Panjang, <a class="zem_slink" title="West Sumatra" href="http://maps.google.com/maps?ll=-1.0,100.5&amp;spn=1.0,1.0&amp;q=-1.0,100.5%20%28West%20Sumatra%29&amp;t=h" rel="geolocation">Sumatra Barat</a> pada 1920. Inilah pesantren putri yang menjadi cikal bakal pendidikan <a class="zem_slink" title="Islam" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Islam" rel="wikipedia">Islam</a> modern di awal abad 19. Dengan konsep pendidikan berasrama, Rahmah mendidik murid-murid perempuannya pendidikan umum dan agama. Tidak kurang 20 ribu alumni telah dihasilkan <a class="zem_slink" title="Pesantren" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Pesantren" rel="wikipedia">pondok pesantren</a> ini. Muridnya pun merentang dari berbagai kalangan dan bangsa. Rasuna Said, salah seorang pahlawan nasional dan penggerak kaum perempuan, adalah salah satunya. Tokoh-tokoh besar lain yang pernah mengenyam pendidikan di pondok pesantren ini adalah Datin Aisyah Gani, bekas menteri di masa pemerintahan perdana menteri <a class="zem_slink" title="Malaysia" href="http://www.lonelyplanet.com/malaysia" rel="lonelyplanet">Malaysia</a>, Mahathir Mohammad. Nama besar pesantren ini membuat banyak murid dari negara tetangga ikut menimba ilmu di sini. Selain Malaysia, murid-murid lainnya juga berasal dari Brunei dan Singapura.</p>
<p><a href="http://urangminang.files.wordpress.com/2011/04/art_10894.jpg"><img class="alignright" style="border:0 none;" src="http://urangminang.files.wordpress.com/2011/04/art_10894.jpg?w=118&#038;h=160" alt="" width="118" height="160" border="0" /></a>Rahmah dengan konsep sekolah khusus wanita, tidak saja mengajari cara belajar, membaca, atau menulis, juga pelajaran bahasa Belanda, gimnastik, menenun, menyulam, menjahit serta kebidanan. Pelajaran retorika atau berpidato di atas mimbar juga diajarkan, sehingga Diniyyah Puteri digelari tempat ayam betina diajar berkokok. Tapi Rahmah tidak patah semangat. Baginya, langkah untuk memajukan perempuan, meski itu berbasis agama sekalipun, pasti menghadapi tentangan dan celaan. Rahmah sendiri tidak pernah mengenyam pendidikan tinggi. Ia hanya disekolahkan hingga kelas tiga di sekolah formal. Ia kemudian menimba ilmu umum dan agama secara otodidak dan berguru pada kakaknya, seorang ulama terkenal, Zainuddin Labay. Dalam bukunya Islam dan Adat Minangkabau, Buya Hamka sempat menyinggung kiprah Rahmah di dunia pendidikan dan pembaharu Islam di Minangkabau. Hamka menyebut Rahmah ikut memajukan kaum perempuan dan mementahkan anggapan bahwa Islam tidak menyokong pemberdayaan perempuan. Kiprah Rahmah juga diakui hingga ke Timur Tengah sana. Dalam sejarah Universitas Al Azhar, baru Rahmah seoranglah ulama perempuan yang diberi gelar Syeikhah. Dalam sejumlah esainya, Azyumardi Azra mengatakan perkembangan Islam modern dan pergerakan Muslimah di Tanah Air tidak bisa dilepaskan dari nama Rahmah sebagai perintis.</p>
<p>Sejak kecil Rahmah memang dikenal keras hati dan berpikiran maju. Jika ada yang tidak disukainya, dengan berani ia mengatakan tidak. Ketika merintis sekolah ini di awal usia 20-an, Rahmah tidak segan-segan berjualan kue untuk menambah biaya pendirian sekolah. Seraya membangun sekolah, ia terus bergerak menentang kolonial Belanda di Sumatra Barat. Tidak heran jika petinggi Belanda di Padang Panjang dan Bukittinggi sangat membenci Rahmah. Ia bahkan pernah dijadikan tahanan rumah oleh komandan tentara Belanda karena aktif menggerakkan para pemuda Sumatra Barat. Ketika konfrontasi dengan Malaysia, murid-murid Rahmah yang bersuamikan para pejabat Malaysia ikut berperan mendinginkan panasnya api konfrontasi. Ketika Gubernur pertama Sumatra Barat, Harun Zein, berkunjung ke Malaysia dalam rangkaian diplomasi perdananya, nama Rahmah disebut-sebut dalam berbagai pertemuan. Karena terpesona oleh pola pendidikan yang diterapkan Rahmah pula, Rektor Al Azhar Syekh Abdurrahman Taj, yang berkunjung ke Diniyyah Putri pada 1961, kemudian terinspirasi untuk membangun Fakultas Khusus Perempuan di Mesir. Sikap keras Rahmah itu bertahan hingga masa tuanya. Ia tidak pernah mau berkompromi dengan pemerintah pusat, jika itu dinilainya menzalimi masyarakat daerah. Sebagaimana ulama-ulama teguh pendirian lainnya di masa perjuangan, Rahmah memilih berseberangan dengan pemerintah.</p></div>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/urangminang.wordpress.com/286/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/urangminang.wordpress.com/286/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/urangminang.wordpress.com/286/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/urangminang.wordpress.com/286/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/urangminang.wordpress.com/286/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/urangminang.wordpress.com/286/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/urangminang.wordpress.com/286/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/urangminang.wordpress.com/286/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/urangminang.wordpress.com/286/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/urangminang.wordpress.com/286/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/urangminang.wordpress.com/286/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/urangminang.wordpress.com/286/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/urangminang.wordpress.com/286/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/urangminang.wordpress.com/286/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=urangminang.wordpress.com&amp;blog=2533188&amp;post=286&amp;subd=urangminang&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://urangminang.wordpress.com/2011/04/18/dua-bundo-kanduang-kala-menentang-sang-putra-fajar/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/2b3fb6c0851c864df7ef92665bc2b754?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">tan marajo</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://urangminang.files.wordpress.com/2011/04/roehanaaaa.jpg?w=249" medium="image" />

		<media:content url="http://urangminang.files.wordpress.com/2011/04/art_10894.jpg?w=118" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Rosihan Anwar</title>
		<link>http://urangminang.wordpress.com/2011/04/15/rosihan-anwar-2/</link>
		<comments>http://urangminang.wordpress.com/2011/04/15/rosihan-anwar-2/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 15 Apr 2011 03:01:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Is Sikumbang</dc:creator>
				<category><![CDATA[Budayawan]]></category>
		<category><![CDATA[Asia]]></category>
		<category><![CDATA[budayawan]]></category>
		<category><![CDATA[bukittinggi]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Jakarta]]></category>
		<category><![CDATA[minangkabau]]></category>
		<category><![CDATA[padang]]></category>
		<category><![CDATA[Rosihan Anwar]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://urangminang.wordpress.com/?p=284</guid>
		<description><![CDATA[Putera Seorang Demang di Padang itu Telah Pergi Putera Seorang Demang di Padang anak keempat dari sepuluh bersaudara putra Anwar Maharaja Sutan telah berpulang Kamis (14/4) pagi sekitar pukul 09.00 WIB, Ia masuk ruang gawat darurat (ICU) Rumah Sakit (MMC) Jakarta, sejak Senin (7/3).  Ia dirawat karena gangguan serangan jantung. Innalillahi Wainailaihi Radjiun. Dunia pers [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=urangminang.wordpress.com&amp;blog=2533188&amp;post=284&amp;subd=urangminang&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div>Putera Seorang Demang di Padang itu Telah Pergi</div>
<p><img src="http://padang-today.com/up/tokoh/14042011101919rosihan-anwar.jpg" alt="" width="200" align="left" /></p>
<p>Putera Seorang Demang di Padang anak keempat dari sepuluh bersaudara putra Anwar Maharaja Sutan telah berpulang Kamis (14/4) pagi sekitar pukul 09.00 WIB, Ia masuk ruang gawat darurat (ICU) Rumah Sakit (MMC) Jakarta, sejak Senin (7/3).  Ia dirawat karena gangguan serangan jantung.</p>
<p>Innalillahi Wainailaihi Radjiun. Dunia pers Indonesia kembali kehilangan sosok tokoh dan guru yang terkenal kritis. Penulis dan wartawan senior H Rosihan Anwar (89) dikabarkan meninggal dunia sekitar pukul 08.15 WIB di Rumah Sakit Metropolitan Medical Center (MMC) Kuningan Jakarta Selatan.  Almarhum sebelumnya sempat dirawat lebih dari sebulan.</p>
<p>Anak seorang demang di Padang, Sumatera Barat ini menyelesaikan sekolah rakyat (HIS) dan SMP (MULO) di Padang. Ia pun melanjutkan pendidikannya ke AMS di Yogyakarta. Dari sana Rosihan mengikuti berbagai workshop di dalam dan di luar negeri, termasuk di Yale University dan School of Journalism di Columbia University, New York, Amerika Serikat.</p>
<p>Rosihan telah hidup dalam &#8216;multi-zaman&#8217;. Di masa perjuangan, dirinya pernah disekap oleh penjajah Belanda di Bukitduri, Jakarta Selatan. Kemudian di masa Presiden Soekarno koran miliknya, Pedoman pada 1961 ditutup oleh rezim saat itu. Namun di masa peralihan pemerintah Orde Baru, Rosihan mendapat anugerah sebagai wartawan sejak sebelum Revolusi Indonesia dengan mendapatkan anugerah Bintang Mahaputra III, bersama tokoh pers Jakob Oetama.</p>
<p>Sayangnya rezim Orde Baru ini pun menutup Pedoman pada tahun 1974-kurang dari setahun setelah Presiden Soeharto mengalungkan bintang itu di leher para penerimanya.<br />
Rosihan memulai karier jurnalistiknya sebagai reporter Asia Raya di masa pendudukan Jepang tahun 1943 hingga menjadi pemimpin redaksi Siasat (1947-1957) dan Pedoman (1948-1961). Selama enam tahun, sejak 1968, ia menjabat Ketua Umum Persatuan Wartawan Indonesia (PWI). Bersama Usmar Ismail, pada 1950 ia mendirikan Perusahaan Film Nasional (Perfini). Dalam film pertamanya, Darah dan Doa, ia sekaligus menjadi figuran. Dilanjutkan sebagai produser film Terimalah Laguku. Sejak akhir 1981, aktivitasnya di film adalah mempromosikan film Indonesia di luar negeri dan tetap menjadi kritikus film sampai sekarang.</p>
<p><span id="more-284"></span>Pada tahun 2007, Rosihan Anwar dan Herawati Diah, yang ikut mendirikan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) di Surakarta pada 1946 mendapat penghargaan &#8216;Life Time Achievement&#8217; atau &#8216;Prestasi Sepanjang Hayat&#8217; dari PWI Pusat. Rosihan menikah dengan Siti Zuraida Binti Moh. Sanawi pada tahun 1947 dan dikaruniai tiga anak.</p>
<p>1. Pendidikan<br />
• HIS, Padang (1935)<br />
• MULO, Padang (1939)<br />
• AMS-A II, Yogyakarta (1942)<br />
• Drama Workshop, Universitas Yale, AS (1950)<br />
• School of Journalism, Columbia University New York, AS (1954)</p>
<p>2. Karier<br />
• Reporter Asia Raya, (1943-1945)<br />
• Redaktur harian Merdeka, (1945-1946)<br />
• Pendiri/Pemred majalah Siasat (1947-1957)<br />
• Pendiri/Pemred harian Pedoman, (1948-1961)<br />
• Pendiri Perfini (1950)<br />
• Kolumnis Business News, (1963 &#8212; sekarang)<br />
• Kolumnis Kompas, KAMI, AB (1966-1968)<br />
• Koresponden harian The Age, Melbourne, harian Hindustan Times New Delhi, Kantor Berita World Forum Features, London, mingguan Asian, Hong Kong (1967-1971)<br />
• Pemred harian Pedoman, (1968-1974)<br />
• Koresponden The Straits, Singapura dan New Straits Times, Kuala Lumpur (1976-1985)<br />
• Wartawan Freelance (1974 &#8212; sekarang)<br />
• Kolumnis Asiaweek, Hong Kong (1976 &#8212; sekarang)<br />
• Ketua Umum PWI Pusat (1970-1973)<br />
• Ketua Pembina PWI Pusat (1973-1978)<br />
• Ketua Dewan Kehormatan PWI Pusat (1983 &#8212; sekarang)</p>
<p>3. Kegiatan Lain<br />
• Wakil Ketua Dewan Film Nasional (1978 &#8212; sekarang)<br />
• Anggota Dewan Pimpinan Harian YTKI (1976 &#8212; sekarang)<br />
• Committee Member AMIC, Singapore (1973 &#8212; sekarang)<br />
• Dosen tidak tetap Fakultas Sastra Universitas Indonesia (1983 &#8212; sekarang)</p>
<p>4. Karya<br />
• Ke Barat dari Rumah, 1952<br />
• India dari Dekat, 1954<br />
• Dapat Panggilan Nabi Ibrahim, 1959<br />
• Islam dan Anda, 1962<br />
• Raja Kecil (novel), 1967<br />
• Ihwal Jurnalistik, 1974<br />
• Kisah-kisah zaman Revolusi, 1975<br />
• Profil Wartawan Indonesia, 1977<br />
• Kisah-kisah Jakarta setelah Proklamasi, 1977<br />
• Jakarta menjelang Clash ke-I, 1978<br />
• Menulis Dalam Air, autobiografi, SH, 1983<br />
• Musim Berganti, Grafitipers, 1985</p>
<p>5. Penghargaan<br />
• Bintang Mahaputra III (1974)<br />
• Anugerah Kesetiaan Berkarya sebagai Wartawan (2005)</p>
<p>Sumber dari berbagai sumber, salah satunya wikipedia.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/urangminang.wordpress.com/284/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/urangminang.wordpress.com/284/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/urangminang.wordpress.com/284/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/urangminang.wordpress.com/284/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/urangminang.wordpress.com/284/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/urangminang.wordpress.com/284/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/urangminang.wordpress.com/284/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/urangminang.wordpress.com/284/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/urangminang.wordpress.com/284/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/urangminang.wordpress.com/284/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/urangminang.wordpress.com/284/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/urangminang.wordpress.com/284/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/urangminang.wordpress.com/284/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/urangminang.wordpress.com/284/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=urangminang.wordpress.com&amp;blog=2533188&amp;post=284&amp;subd=urangminang&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://urangminang.wordpress.com/2011/04/15/rosihan-anwar-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/2b3fb6c0851c864df7ef92665bc2b754?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">tan marajo</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://padang-today.com/up/tokoh/14042011101919rosihan-anwar.jpg" medium="image" />
	</item>
	</channel>
</rss>
