Rahmah el Yunusiyyah

2 09 2008

Oleh : Singgalang
Pahlawan Muslimah tanpa Penghargaan

KEBENCIAN Soekarno kepada Muhammad Natsir, tidak kurang sama kepada muslimah yang satu ini. Sejarah perjuangannya, yang menghantarkan para muridnya menjadi pahlawan atau petinggi negara di Malaysia dan Indonesia, luput dalam catatan sejarah keteladanan bangsa. Ia miskin kupasan dan ekspos pemberitaan media. Tapi bagaimana pun, nama seperti Rangkayo Rasuna Said yang kini diabadikan sebagai salah satu jalan di Jakarta, dan digelari pahlawan adalah anak didiknya sendiri. Tan Sri Datin Aisyah Gani yang menjabat sebagai Menteri Am Kebajikan Malaysia selama 12 tahun (1972-1984) di masa kepemimpinan Dato’ Mahatir Muhammad, adalah santri kesayangannya.

Siti Zubaidah yang berdomisili di Selangor, pernah menjadi ketua Dewan Muslimat PAS pertama dan dilanjutkan berikutnya oleh Datin Sakinah juga sama-sama dari Diniyyah Puteri. Santrinya yang lain adalah Salmah Husain, pernah menjabat sebagai direktur Bank Rakyat Malaysia. Tercatat, kedua orang pertama ini masih hidup dan sempat penulis kunjungi bersama Pimpinan Perguruan Fauziah Fauzan, SE, Akt, M.Si dan Kabid Pendidikan Pengajaran Hj. Meuthia Nilda, BA, di awal Desember 2007 lalu di negeri jiran Malaysia.

Read the rest of this entry »





Indra Jaya Piliang

10 08 2008

Pamit Sebagai Akademisi, Pulang Sebagai PolitisiOleh Indra Jaya Piliang
Assalamu’alaikum Wr Wb

Selamat Pagi dan Salam Sejahtera

Untuk memulai pidato ini, saya mengutip MOHAMMAD HATTA yang pada tanggal 11 Juni 1957 menegaskan:

“Revolusi kita menang dalam menegakkan negara baru, dalam menghidupkan kepribadian bangsa. Tetapi revolusi kita kalah dalam melaksanakan cita-cita sosial-nya…. Krisis ini dapat diatasi dengan memberikan kepada negara pimpinan yang dipercayai rakyat! Oleh karena krisis ini merupakan krisis demokrasi, maka perlulah hidup politik diperbaiki, partai-partai mengindahkan dasar-dasar moral dalam segala tindakannya. Korupsi harus diberantas sampai pada akar-akarnya, dengan tidak memandang bulu. Jika tiba di mata tidak dipicingkan, tiba di perut tidak dikempiskan. Demoralisasi yang mulai menjadi penyakit masyarakat diusahakan hilangnya berangsur-angsur dengan tindakan yang positif, yang memberikan harapan kepada perbaikan nasib.”

Keadaan yang kita hadapi sekarang kurang-lebih sama dengan yang dikatakan oleh Hatta, lebih dari 50 tahun yang lalu itu. Perbedaannya, demokrasi kini merupakan salah satu keajaiban yang dialami oleh rakyat Indonesia.

Sepuluh tahun lalu, kita tidak pernah membayangkan bahwa demokrasi akan hadir sederas sekarang. Sementara hidup masyarakat semakin susah, sekalipun kesempatan juga terbuka luas untuk mewujudkan mimpi apapun, selama ada ikhtiar dan kerja keras.

Read the rest of this entry »





Dr Sjahrir (1945-2008)

29 07 2008

Ekonom Pendiri PIB

Innalillahi wa’inna illaihi rojiuun! Satu lagi kita kehilangan tokoh nasional asal Minangkabau,

Ekonom Dr Sjahrir, yang akrab dipanggil Ciil, pendiri Partai Indonesia Baru (PIB) meninggal dunia di RS Mount Elizabeth, Singapura, Senin 28 Juli 2008 sekitar pukul 08.00 WIB. Aktivis Malari yang terakhir menjadi anggota Dewan Pertimbangan Presiden Bidang Ekonomi, itu dimakamkan di TPU Tanah Kusir, Jakarta Selatan, Selasa 29 Juli 2008.

Sjahrir meninggal akibat menderita penyakit kanker. Jenazah tiba Senin pukul 20.55 dan disemayamkan di rumah duka Jalan Sukabumi Nomor 15, Menteng, Jakarta Pusat. Sejumlah tokoh datang melayat. Di antaranya para rekannya di Dewan Pertimbangan Presiden, seperti Ali Alatas, Rachmawati Soekarnoputri, Adnan Buyung dan Emil Salim.

Sekitar pukul 22.00, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono didampingi Ny Ani Yudhoyono juga melayat di rumah duka. Juga beberapa menteri, di antaranya Menteri Keuangan/Plt Menko Perekonomian Sri Mulyani Indrawati, Gubernur BI Boediono, Mensesneg Hatta Rajasa, Menneg LH Rachmat Witoelar. Juga Dorodjatun Kuntjoro-Jakti dan Akbar Tandjung.

Ciil meninggalkan istri, Kartini, serta dua anak, Pandu dan Gita. Sjahrir adalah anak tunggal pasangan mantan Bupati Magelang, Ma’moen Al Rasyid (almarhum) dan Rusma Malik (almarhumah).

Read the rest of this entry »





Hj.Rosma

28 07 2008

Pengabdian Ibu Yang Tidak Berbatas

Oleh : Nita Indrawati/ Padangkini.com

Hj. Rosma, memiliki ribuan anak jahit
yang pernah belajar di rumahnya.

Memasuki usia 82 tahun pada 10 Agustus mendatang, Hj. Rosma tampak tak banyak berubah. Semangat dan motivasinya untuk membangun daerah melalui pendidikan ketrampilan masih tergolong tinggi. Ia merasa perjuangannya belum selesai. Masih banyak yang harus ia kerjakan.

Ketuaan tak jadi hambatan bagi Rosma. Ia tetap terampil mendesain motif dan masih telaten mengajarkan anak didiknya menyulam dan membordir. Mata tuanya masih betah berlama-lama mengamati jahitan hasil karya anak didiknya. Dari desa Bonjo Panampuang, Ampek Angkek Canduang, kabupaten Agam, masih terdengar deru mesin jahit yang didengungkan oleh anak-anak didiknya.

“Jumlah anak-anak yang belajar disini memang makin sedikit. Dibanding pada tahun 70-an, jauh bedanya. Kalau pada masa itu dalam setahun saja jumlah anak-anak yang belajar sampai ratusan bahkan ribuan, sekarang tak sampai 100 orang, ” ungkap Rosma kepada padangmedia.com, suatu hari ketika berkunjung ke rumahnya. Saat ini di rumah jahitnya sekitar 20 anak rutin belajar menjahit saban hari. Bulan Agustus mendatang diperkirakan akan bertambah 10 orang dari Pekan Baru dan 10 orang dari Padang.

Hj. Rosma sendiri juga heran, kenapa semangat juang anak muda sekarang semakin rendah. Tidak seperti dulu, ketika anak-anak didiknya, terdiri dari remaja putus sekolah datang dari berbagai pelosok, ingin belajar menjahit dan membordir. “Apakah remaja sekarang memang begitu ? Mereka tidak tertarik lagi belajar menjahit. Yang saya lihat, banyak dari mereka lebih suka menjadi pelayan toko dari pada belajar menjahit. Padahal dengan belajar menjahit mereka akan memiliki keahlian seumur hidup. Mungkin karena belajar ini butuh perjuangan. Sementara jadi pelayan toko, bisa instan, kerja sebulan, langsung dapat gaji. Padahal berapalah gaji sebagai pelayan toko yang cuma tamat SMA,” papar Rosma yang masih dipercaya menjadi Ketua Bundo Kanduang di Agam. Padahal ia sudah berkali-kali mengusulkan agar posisinya digantikan oleh yang lebih muda.

Read the rest of this entry »





Taufik Abdullah

30 06 2008

Sejarawan dan Peneliti

Mantan Ketua Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) ini seorang sejarawan dan peneliti yang teguh berpegang pada etika ilmiah. Pria kelahiran Bukittinggi, 3 Januari 1936, lulusan Jurusan Sejarah Fakultas Sastra & Kebudayaan UGM Yogyakarta (1961) dan doktor (S3) Universitas Cornell, Ithaca, AS (1970), ini senang menjadi peneliti, karena merasa tidak terpasung pada birokrasi.

Menurutnya seorang peneliti dituntut untuk berpegang teguh pada etika ilmiah. Karena itu, diperlukan kejujuran, sehingga tercapai integritas intelektual. Sikap wajar diperlukan, di samping rasional dan jernih dalam berpikir — sikap yang bukannya tidak mengundang risiko.

Prof Dr Taufik Abdullah menganggap sejarawan Indonesia masih terbelenggu pada asumsi-asumsi teoretis maupun primordial. Posisi sejarawan hendaknya netral, dan menjaga jarak dari sasaran penelitian, sehingga dapat memberi makna obyektif terhadap realitas.

Dipandang dari segi peranan kaum intelektual, masa Orde Baru, di mata Taufik, terbagi dalam tiga periode. Masa 1966-1974 merupakan periode kreatif-produktif bagi kaum intelektual. Dalam periode itu berbagai masalah strategi pembangunan dibicarakan. Masa 1974-1978 merupakan periode transisi. Di sini, dilihatnya, ada kecenderungan kaum teknokrasi makin dihargai. Yang dihargai, menurut dia, bukan gagasan mereka, tetapi pelaksanaannya. Periode 1978 hingga sekarang, peranan intelektual semakin diambil oleh penguasa. ”Akibatnya, kesegaran berpikir berkurang, dan eksesnya merangsang untuk bertindak radikal,” kata Taufik.

Read the rest of this entry »





Melanie Putria Dewita Sari

30 06 2008

Dara Minang, Putri Indonesia 2002

Setelah melalui proses pemilihan yang ketat, Melanie Putria Dewita Sari(20), mahasiswi, wakil dari Sumatera Barat, terpilih menjadi Putri Indonesia 2002. Pemilihan kali ini diikuti oleh 34 finalis yang mewakili 30 provinsi di Indonesia (DKI Jakarta diwakili empat finalis). Rissa Susmex, puteri asal Aceh yang pernah menjadi juara pidato berbahasa Spanyol di Venesia, terpilih sebagai runner up satu. Runner up dua adalah finalis asal DKI Jakarta, Sagita Sinta Pratiwi. Fransisca Sani Laurent (Papua) sebagai putri persahabatan, sementara favorit pemirsa adalah Komang Ayu Butiny (Bali).

Sebagai Putri Indonesia 2002, Imel menerima hadiah antara lain adalah rumah dinas, mobil dinas, dan uang sejumlah Rp25 juta. Juara lomba nyanyi Asia Bagus 1999, peraih medali emas paduan suara di Austria dan juga Miss London School ini akan bertugas sebagai duta Indonesia, di antaranya di bidang pariwisata, seni dan kebudayaan, serta kampanye antinarkoba selama setahun mendatang.

Setelah sepuluh hari berada dalam karantina panitia, pada malam final pemilihan Putri Indonesia 2002 di Teater Tanah Airku, TMII, Jumat (12/7/02), 34 finalis disaring lagi berturut-turut menjadi kelompok 10 besar, 5 besar, hingga 3 besar. Di setiap babak, dewan juri yang terdiri dari 11 orang dari berbagai kalangan meminta kontestan untuk beropini tentang suatu hal. Mulai masalah sosial, teknologi, pariwisata, hingga pengetahuan umum.

Ketua Dewan Juri, Kusumadewi, menilai Imel, panggilan akrab Melanie, terlihat sangat menonjol. “Saat menjawab berbagai pertanyaan yang disampaikan kepadanya, ia tampak yakin, percaya diri. Ia memberi jawaban yang sangat berbobot,” tutur Kusumadewi kepada Media. Selain itu, lanjutnya, Imel memiliki inner dan outer beauty. Selain cantik, Imel selalu menunjukkan sikap yang santun dan relijius.

Read the rest of this entry »





Sanuar

22 05 2008

Menghidupkan Kembali Tenun Pandai Sikek

Oleh: Syofiardi Bachyul Jb/Padangkini.com

Di zaman serba pabrikasi seperti sekarang, termasuk dalam pembuatan kain untuk pakaian, pasti banyak orang yang tidak percaya bahwa pembuatan kain dengan menggunakan keterampilan tangan dan alat sederhana dalam menenun masih ada dan tetap berkembang sampai saat ini.
Tetapi tidak begitu halnya di Pandai Sikek, sebuah nagari (setingkat desa) di Kabupaten Tanah Datar yang terletak di kaki Gunung Singgalang, di kiri jalan raya 10 km menjelang Bukittinggi dari Padang.
Di Pandai Sikek yang udaranya dingin itu, saat ini terdapat 27 pengusaha tenun (sering disebut songket atau tenunan yang bersulam benang emas atau perak) dengan 857 penenun yang umumnya perempuan muda. Rata-rata dalam satu bulan, seorang penenun bisa menghasilkan selembar kain (untuk sarung) atau selendang dengan motif paling sederhana.
Pandai Sikek merupakan satu dari tujuh nagari di Minangkabau yang masyarakatnya secara turun-temurun sejak ratusan tahun terkenal sebagai perajin tenun. Nagari lain adalah Pitalah dan Sungayang (Tanah Datar), Silungkang (Sawahlunto), Kotogadang (Agam), Koto Nan Ampek dan Kubang (Limapuluh Kota). Aktivitas perajin ini berkaitan dengan supplay untuk pakaian upacara adat, seperti melantik penghulu, pesta perkawinan, dan sebagainya.
Read the rest of this entry »





Rizal Ramli

20 05 2008

Dr. Rizal Ramli (lahir di Padang, Sumatra Barat, 10 Mei 1953) adalah Menteri Koordinator bidang Perekonomian dan Menteri Keuangan pada Kabinet Persatuan Nasional. Ia meraih gelar sarjana dari Institut Teknologi Bandung dan gelar doktor dari Universitas Boston pada tahun 1990.
Di masa pemerintahan presiden Soeharto, Ramli pernah ditahan karena memprotes pemilihan kembali Soeharto pada tahun 1978. Ramli, bersama beberapa orang ekonom lain seperti Laksamana Sukardi dan Arif Arryman, adalah pendiri ECONIT. Ia pernah pula menjadi kepala Badan Urusan Logistik (Bulog).

Sepanjang karirnya di akedemik, pemerintahan maupun bisnis, julukan Sang Penerobos (Mr. Breakthrough) telah melekat pada sosok Rizal Ramli, karena dia memiliki sejumlah kelebihan yang menonjol seperti kemampuan analisa dan problem solving yang tangguh, keberanian untuk mengambil keputusan yang optimal dalam kondisi yang serba sulit, serta ketangguhan untuk melaksanakan implementasi lapangan yang efektif.

Read the rest of this entry »





Professor Dr. Ir. Syafrida Manuwoto M.Sc,

8 05 2008

Menjelang memasuki usia pensiun yang tidak berapa lama lagi, ada baiknya kita memperkenalkan padusi Minang yang bergelut didunia ilmu pertanian khususnya dibidang Ilmu Hama Tumbuhan, Departemen Proteksi Tanaman, IPB ini. Beliau adalah Professor Dr. Ir. Syafrida Manuwoto M.Sc, dilahirkan di kota Medan pada tanggal 15 Mei tahun 1944. Ia adalah putri ke 2 dari 7 bersaudara pasangan alm Nukman pensiunan perwira POLRI berpangkat Komisaris Besar Polisi, yang berasal dari kota Padang dengan almh Syamsiah, yang berasal dari kota Padangpanjang.
Read the rest of this entry »





Wirda Hanim

6 05 2008

Menghidupkan Kembali Batik Tanah Liek

Oleh: Syofiardi Bachyul Jb/Padangkini.com

Suatu hari pada 1993, Wirda Hanim yang sudah lama tinggal di Kota Padang mengikuti pesta adat di kampung asalnya, Kenagarian Sumani, Kabupaten Tanah Datar.
Ia melihat beberapa pria dan wanita memakai selendang batik tanah liat yang dalam bahasa Minang disebut “batik tanah liek”. Meski selendang tersebut sudah usang dan robek di sana-sini karena lapuk, namun mereka masih memakainya sebagai bagian dari pakaian adat tradisional Minangkabau.
Wirda melihat, mereka memakainya dengan sangat hati-hati, seperti menjaganya agar tidak robek. Setelah mencari informasi, barulah ia ketahui bahwa mereka melakukan hal seperti itu karena batik tanah liek sudah langka, sebab tak lagi dibuat orang sejak sekitar 70 tahun lalu.
Batik tanah liek adalah batik khas Minangkabau yang motifnya dibuat dari pewarna berbahan tanah liat. Tak ada catatan sejarah sejak kapan kerajinan batik tanah liek muncul di Sumatera Barat. Diduga batik ini muncul dari pengaruh kebudayaan Cina dan hanya dibuat beberapa orang perajin seperti di Tanah Datar. Tapi kerajinan ini hilang tanpa jejak sejak zaman peperangan, mungkin zaman pendudukan Jepang.
Read the rest of this entry »