Agus Salim

29 12 2007

Ketika lahir, orang tuanya memberi nama Masyhudul Haq. Namun, kemudian masyarakat luas lebih mengenalnya sebagai Haji Agus Salim. Ia adalah pahlawan nasional pemegang tiga tanda jasa anumerta: Bintang Mahaputera Tingkat I (1960), Satyalencana Peringatan Perjuangan Kemerdekaan (1961), dan Pahlawan Kemerdekaan Nasional (1961). Panggilan ‘Gus’ itu Datang dari Pelayan
Ketika lahir, orang tuanya memberi nama Masyhudul Haq. Namun, kemudian masyarakat luas lebih mengenalnya sebagai Haji Agus Salim. Ia adalah pahlawan nasional pemegang tiga tanda jasa anumerta: Bintang Mahaputera Tingkat I (1960), Satyalencana Peringatan Perjuangan Kemerdekaan (1961), dan Pahlawan Kemerdekaan Nasional (1961).
Masyhudul Haq alias Agus Salim lahir pada 8 Oktober 1884 di Kota Gedang (Koto Gadang), Sumatera Barat. Ia merupakan putra kelima dari 15 bersaudara anak Sutan Muhammad Salim. Ayahnya ini selama 50 tahun menjabat sebagai Jaksa Kepala di Padang.
Dengan begitu, Masyhudul Haq berasal dari keluarga terpelajar, sebuah status sosial yang memudahkannya menempuh pendidikan di sekolah Belanda. Saat itu, yang bisa bisa menempuh pendidikan di sekolah Belanda adalah anak-anak keturunan Eropa, sedangkan dari pribumi hanyalah anak-anak keturunan bangsawan dan pegawai tinggi.
Jenjang pendidikan pertama yang dilalui Masyhudul Haq adalah ELS (Europesche Lagere School) di desanya. Ia tamat dari sekolah ini pada 1898. Setelah itu ia melanjutkan pendidikannya ke HBS (Hoegere Burger School) di Jakarta. Di sinilah kemudian muncul panggilan Agus Salim menggantikan nama Masyhudul Haq.
Ceritanya, ketika Masyhudul Haq tiba di Jakarta ia mondok di rumah keluarga Belanda, keluarga orang tua Prof TH Kock. Di rumah ini ia diasuh oleh seorang perempuan pelayan yang berasal dari Jawa.
Menurut kebiasaan di Jawa, seorang pelayan memanggil anak lelaki tuannya denga sebutan ‘Gus’, yang berarti putera yang bagus. Lama kelamaan, ‘Gus’ ini menjadi panggilan Masyhudul Haq dengan tambahan huruf a di depannya. Maka jadilah nama ‘Agus’. Nama ini kemudian digabungkan dengan nama ayahnya menjadi ‘Agus Salim’. Sejak itu nama Masyhudul Haq ia tinggalkan, dan masyarakat kemudian lebih mengenalnya sebagai Agus Salim, sampai kini.
Lantaran kecerdasannya, Agus Salim dapat menyelesaikan pelajarannya di HBS (setingkat SMP-SMU) hanya lima tahun — dari yang seharusnya enam tahun. Setelah tamat HBS pada 1903, ia bermaksud meneruskan sekolahnya ke Eropa, namun gagal karena pemerintah kolonial Belanda sangat mempersulit jalan bagi anak-anak bumiputera yang ingin belajar ke sana. Kegagalan serupa juga dialaminya ketika guru-gurunya berusaha agar ia dapat meneruskan pelajarannya pada School tot Opleiding van Inlansche (STOVIA) dengan memperoleh beasiswa.
Kegagalan itulah yang tampaknya menyuburkan benih-benih kebencian Agus Salim terhadap pemerintah kolonial Belanda dan sekaligus menjadikannya otodidak. Ia hanya tamat sekolah setingkat SMA. Belum jelas apakah pengalaman hidupnya ini yang menyebabkan Agus Salim tidak menyekolahkan kedelapan anaknya di sekolah-sekolah formal tapi mendidiknya sendiri.
Setelah mencoba bekerja di berbagai tempat, pada 1906 Agus Salim mendapat tawaran bekerja sebagai dragoman (ahli penerjemah) di konsulat Belanda di Jeddah. Pada mulanya ia enggan menerima tawaran itu. Namun, atas saran ibunya, tawaran itu akhirnya ia terima, apalagi ia melihat peluang yang sangat terbuka untuk menimba pengetahuan Islam di negara itu sambil bekerja.
Selama berada di Jeddah, Agus Salim sempat belajar agama dan bahasa Arab kepada para ulama yang mukim di Mekah, termasuk kepada saudara sepupunya, Sheikh Ahmad Khatib yang telah bermukim di Tanah Haram itu. Lima tahun ia berada di Arab Saudi. Pada 1911 ia pulang ke Indonesia, dengan membawa pengetahuan diplomasi yang tinggi serta menguasai tidak kurang tujuh bahasa asing — Arab, Belanda, Inggris, Jerman, Prancis, Turki, dan Jepang.
Setelah pulang dari Jeddah itulah, boleh dikata, perjuangan Agus Salim menentang penjajahan Belanda dimulai. Berbagai pekerjaan dan jabatan juga ia jalani — baik di organisasi politik maupun di pemerintahan. Antara lain, ia pernah memimpin surat kabar Neraca dan Ketua PSII (Partai Serikat Islam Indonesia).
Pada masa penjajahan Jepang ia menjadi anggota Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI). Setelah kemerdekaan, Agus Salim bergabung dalam Partai Masyumi (1945). Selanjutnya ia menjadi Menteri Muda Luar Negeri (Kabinet Syahrir II dan III/1946-1947) dan Menteri Luar Negeri (Kabinet Amir Syarifuddin dan Kabinet Hatta/1947-1949).
Yang menarik dari Haji Agus Salim adalah perhatian yang besar pada keluarganya — isteri dan anak-anaknya, sesibuk apapun dia. Ini terlihat misalnya bagaimana ia mendidik sendiri seluruh anak-anaknya. Bahkan isterinya pun ia wajibkan mengikuti pelajaran yang ia berikan di rumah.Agus Salim menikah pada 1912, dengan gadis sedesanya, Zaitun Nahar. Dari perkawinan ini mereka dikaruniai delapan anak. Mereka adalah Theodora Atia, Yusuf Taufik, Violet Hanisah, Maria Zenibiyang, Ahmad Syauket (meninggal dunia pada masa revolusi), Islam Basari, Siti Asiah, dan Mansur Abdurrahman Sidik.
Saat penganten baru, Agus Salim berpesan kepada isterinya agar banyak membaca dan berzikir. Sebab, katanya, setelah mereka mempunyai anak kemudian hari kemungkinan tidak akan disekolahkan formal. Anak-anak kelak akan dididik sendiri.
Apa yang telah diucapkannya kepada isterinya itu ternyata kemudian benar-benar ia laksanakan. Seluruh anaknya tidak ia sekolahkan. Mereka dididiknya sendiri. Tujuannya, menurut Agus Salim, adalah agar anak-anaknya tidak terpengaruh oleh pikiran dan kebudayaan kaum penjajah. Selain itu, ia ingin membentuk sikap dan kepribadian anak-anaknya sesuai dengan keinginannya.
Pelajaran yang ia berikan kepada anak-anaknya antara lain tulis-baca, bahasa, budi pekerti, dan pelajaran agama. Ia juga mendidik mereka agar bersifat kritis dan korektif. Sebab itu Agus Salim tak permah marah bila anak-anaknya membantah pendapatnya. Ia pun mengajak mereka berdiskusi, berargumentasi, agar pikiran mereka tidak membeku dan tidak bersikap nrimo saja.
Mohamad Roem, dalam buku Bunga Rampai dari Sejarah, menulis:Waktu kami pertama kali datang di Gang Tanah Tinggi (rumah Agus Salim — Red), kami baru melihat Syauket (anak kelima Agus Salim) yang keluar untuk digaruk gegernya oleh ayahnya. Kemudian datang adiknya yang membawa Syauket masuk lagi. Waktu kami meneruskan perkenalan di Gang Lontar Satu tahun 1927, kita sudah maju dua tahun. Kami sudah heran, Syauket yang umurnya baru empat tahun sudah bicara (bahasa) Belanda yang baik. Dapat menerangkan bahwa badannya gatal dan minta digaruk-garuk oleh ayahnya. Dalam pada itu kami mengetahui Haji Agus Salim bercakap-cakap bahasa Belanda dengan anak-anaknya sejak mereka dilahirkan.
Perhatian Agus Salim kepada anak-anak dan isterinya juga ia berikan ketika berada jauh dari rumahnya. Ketika berada di luar negeri misalnya, ia selalu menulis surat kepada mereka. Sebagai contoh, ketika sibuk berdiplomasi agar kemerdekaan RI diakui oleh Mesir pada 1947, ia masih sempat menulis surat kepada isteri dan anak bungsunya. Surat tersebut ia titipkan kepada AR Baswedan, salah seorang anggota delegasi RI yang pulang lebih dulu. Berikut ini kutipan surat kepada isterinya:
Maace sayang! Surat pendek ini hendak saya tumpangkan kepada Abdurrachman Baswedan, yang besok pagi terbang pulang ke Indonesia…Sangat sibuk kami bekerja di sini, terutama oleh banyaknya kunjung-mengunjung dan menghadiri perjamuan. Kalau hari sudah malam, badan lesu ataupun pikiran bimbang, karena awak bekerja di negeri orang, kabar dari rumah hampir tidak ada. Awak hidup senang, serba cukup, di rumah entah bagaimana hidup anak dan isteri. Rindu hati tak dapat dikatakan… (17 Juni 1947).
Lalu kepada anak bungsunya, Mansur Abdurrahman Sidik, yang pada 1947 berusia delapan tahun, Agus Salim juga menulis surat kerinduannya:Ananda Mansur Sidik! Papa sayang betul dan rindu sama Mansur Sidik, kangen mau pulang. Mansur Sidik musti mendoa biar lekas kita bisa berkumpul pula. Peluk cium papa — A Salim. (17 Juni 1947).
Menurut Mohamad Roem (yang terkenal namanya lewat perjanjian Roem-Rojen), kehidupan Agus Salim sangat sederhana, termasuk tempat tinggalnya. Agus Salim, katanya, kira-kira enam bulan sekali mengubah letak meja kursi, lemari sampai tempat tidur rumahnya. Kadang-kadang kamar makan ditukarnya dengan kamar tidur. Haji A Salim berpendapat bahwa dengan berbuat demikian ia merasa mengubah lingkungan, yang manusia sewaktu-waktu perlukan tanpa pindah tempat atau rumah atau pergi istirahat di lain kota atau negeri.
Kebiasaan itu Haji A Salim tinggalkan sesudah ia tidak kuat lagi untuk melaksanakannya. Sebab meskipun anak-anak membantunya, ia sendiri ikut serta sepenuhnya.
Agus Salim telah lama meninggalkan kita, namun perbuatan yang sesuai dengan perkatannya akan selalu menjadi teladan generasi-generasi setelahnya. Ia wafat 20 hari setelah ulang tahunnya yang ke-70 dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta Selatan pada 1954. ikhwanul kiram,
Sumber :Republika (Sabtu 27 Oktober 1921)

Actions

Information

One response

28 03 2012
Baitur Rahmad Isman

semoga kami bisa meneladaninya, amiin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: