Mohammad Natsir

29 12 2007

Mohammad Natsir merupakan seorang pejuang yang konsisten dalam memegang prinsip perjuangan, beliau putra kelahiran Alahan Panjang, Kabupaten Solok, Sumatra Barat 17, Juli 1908, dengan gelar Datuk Sinaro Panjang. Kiprah Natsir sebagai tokoh intelektual, politikus, pemimpin negara, maupun tokoh dunia islam yang terkemuka di abad ini tak pernah selesai menjadi buah pembicaraan. Padahal dari segi asal-usul dan fisiknya, Natsir hanyalah orang biasa dengan temperamen yang lemah lembut bicara penuh sopan santun dan kadang-kadang gemar bercanda dengan siapa saja yang menjadi teman bicaranya. Sewaktu berusia delapan tahun Mohammad Natsir belajar di HIS (Hollandsch Inlandsche School) Adabiyah, padang dan tinggal bersama makciknya. Kemudian Natsir dipindahkan orang tuanya ke HIS pemerintah di Solok dan tinggal di rumah Haji Musa, seorang saudagar. Disini ia menerima cukup banyak ilmu. Pada malam hari ia belajar Al-Qur’an sedang paginya belajar di HIS. Pada tahun 1923 ia meneruskan sekolah MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs/ setingkat SMP sekarang di Padang di situ ia menjadi anggota JIB (Johg Islamieten Bond) Padang dan bersentuhan langsung dengan gerakan perjuangan pada 1927 ia melanjutkan ke AMS setingkat SMA sekarang di Bandung. Selama di AMS ia sangat tertarik pada ilmu agama waktu luangnnya di gunakan untuk belajar agama di Persatuan Islam (PERSIS) dengan bimbingan pendiri dan pemimpinnya Ustadz a. Hasan. Lulus AMS pada 1930 prestasi yang diperolehnya memungkinkannya ia mendapat beasiswa untuk melanjutkan ke perguruan tinggi, sejak di MULO ia sudah mulai mengenal perjuangan. Buktinya selain pernah mengetuai JIB Bandung 1928-1932 Natsir pernah pula aktif di Partai Islam Indonesia PII. Kegiatan politiknya terus berkembang setelah lebih jauh berkenalan dengan tokoh-tokoh gerakan politik seperti H. Agus Salim.Hal itu pula yang membuat Natsir muda menolak setiap tawaran beasiswa dari Pemerintah Belanda untuk meneruskan Pendidikan Fakultas Hukum Jakarta, Fakultas Ekonomi Rotterdam Belanda atau menjadi pegawai Pemerintah. Di dunia pendidikan Natsir sempat mendirikan Pendidikan Islam di Bandung sebuah bentuk Pendidikan Islam (Pendis ) moderen yang bernafas agama. Di Pendis ini Natsir menjadi direktur selama sepuluh tahun sejak 1932. Selain itu Natsir pernah pula menjadi anggota Dewan Kabupaten Bandung 1940-1942. Ia pun pernah aktif sebagai anggota KNIP (Komite Nasional Indonesia Pusat) 1945-1946 dan menjabat sebagai Menteri Penerangan tiga priode pada era kabinet Syahrir dan Hatta 1946-1949. Kemudian menjadi ketua DPP Masyumi 1949-1958. Pada saat Indonesia menjadi negara serikat atau RIS sebagai produk Konfrensi Meja Bundar ( KMB). Natsir menolak tawaran Bung Hatta menjadi Perdana Menteri Negara bagian RI di Yogya. Dalam Pemilu 1956 ia terpilih menjadi anggota DPR. Dari 1956 hingga 1958 ia menjadi anggota konstituante RI. Pada 1950 -1951 tokoh kita ini mendapat amanah menjadi Perdana Menteri. Hubungannya dengan Presiden Soekarno sempat merenggang selama penyelesaian Irian Barat. Puncaknya terjadi setelah pristiwa Cikini November 1957.Dalam perjalanan selanjutnya, Natsir dan Bung Karno makin sering bersilang pendapat. Sementara Bung Karno semakin perkasa di puncak kekuasaan dan akrab dengan Partai Komunis Indonesia (PKI), Natsir menjaga jarak dengan Soekarno dan kian menyisih sambil tetap memimpin fraksi Masyumi di parlemen 1950-1958. Di samping menjadi anggota konstituante 1956-1958 Pada 17 Agustus 1959,Bung Karno secara sepihak membubarkan Masyumi dan memaklumatkan pengampunan pada Natsir dan kawan-kawan. Natsir terkecoh tiba di Jakarta Natsir dan Sjafrudin serta kawan-kawan lainnya di tangkap atas tuduhan terlibat pemberontakan rakyat RI atau disingkat PRRI Permesta. Natsir di asingkan dengan menjalani karantina politik di Batu Malang Jatim 1950-1962 dan menjadi tahanan politik di rumah tahanan militer atau RTM Keagungan Jakarta 1962-1966 hingga akhirnya pada Juli 1966 Natsir di bebaskan tanpa melaui proses pengadilan. Sementara di luar keadaan telah berubah kemudian politik telah berganti. Orde lama dari Soekarno tumbang Orde Baru lahir dan Soeharto muncul memimpin. Pada tahun 1957 misalnya Natsir memimpin sidang Muktamar Alam Islamy di Damaskus. Pada Tahun 1967, Natsir bersama Ulama dan Zuama mendirikan Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII) di Jakarta, dan dipercaya menjadi Ketua DDII sejak 1967 sampai masa tuanya.Dan sejak tahun itu pula, Natsir menjabat Wakil Presiden Muktamar Alam Islami yang bermarkas di Karachi, Pakistan dan Anggota Liga Muslim Dunia bermarkas di Makkah, Saudi Arabia. Lalu sejak 1972, ia menjabat sebagai anggota Majlis A’la al-Alamy lil Masajid, Makkah, Saudi Arabia. Tidak mengherankan bila banyak penghargaan yang diperoleh sepanjang hayatnya. Satu diantaranya adalah “Faisal Award ” dari King Faisal, Saudi Arabia, Suatu Penghargaan atas pengabdian Natsir pada Islam. Selain itu beliau juga telah mewariskan ide dan pemikiran yang mahal dan langka. Semuanya telah tertuang dalam beberapa artikel yang jumlahnya tak terhitung. Untuk buku saja tak kurang dari 20 judul. Mohammad Natsir wafat di Jakarta, Tahun 1993. Sumber foto majalah SABILI*
Pada Januari 1985, Mohammad Natsir jatuh sakit. ”Cuma terserang flu. Menurut dokter, Bapak memang perlu istirahat,” tutur istrinya, tentang sang suami yang rambutnya sudah memutih. Sudah lama bekas Ketua Umum Partai Masyumi itu tidak lagi berceramah — biasanya di Masjid Alfurqon, Kramat, Jakarta. Tetapi, Natsir masih membaca, dan malah tetap menulis untuk dua majalah yang dipimpinnya, Media Da’wah dan Suara Masjid.
Bekas Perdana Menteri RI 1950-1951 ini sudah berusia 76 tahun. ”Perbanyaklah ibadah,” katanya tentang ”resep” panjang umurnya. ”Yang jelas, orang setua saya ini yang paling tepat mendekatkan diri kepada Allah Subhannahu Wa Ta’ala,” tambah Natsir, yang pernah tiga kali menjadi menteri penerangan. Yaitu dalam Kabinet Syahrir I dan II, dan Kabinet Hatta.
Ayah empat anak, hasil pernikahannya dengan Ummi Nur Nahar, dan kakek 15 cucu ini dilahirkan di Alahan Panjang, Sumatera Barat. Setamat HIS (SMP), ia merantau ke Bandung, dan masuk AMS ”klasik Barat” yang mengutamakan pelajaran bahasa Inggris, Belanda, dan Latin. Rektor (direktur) AMS bernama Dr. van Bessem, ternyata, sangat progresif. Sebagai segelintir orang Indonesia yang terdidik, kata Van Bessem kepadanya, ”Kamu harus memerdekakan bangsamu!” Malah, konon, sang rektor memberi kesempatan kapada para murid Indonesia berapat di dalam kelas — ditamengi Van Bessem dengan berpura-pura mengerjakan sesuatu di depan kelas.
Putra pegawai kecil ini sendiri, waktu itu, aktif di organisasi pemuda Jong Islamieten Bond. Jepang datang, Natsir, yang sudah merampungkan AMS, lalu bekerja di kantor Gubernur di Bandung. Gubernurnya, Jenderal Anea, anehnya, juga bersimpati pada perjuangan kemerdekaan Indonesia. Gubernur Jepang berusia 70 tahun itu suatu hari selepas jam kerja (pukul 16.00) mencegat Natsir ketika ia hendak pulang. ”Gunakanlah waktu luang sebaik-baiknya,” kata Natsir mengulangi ucapan Anea, yang lalu menambahkan, ”Ini isyarat agar kita menyusun kekuatan.” Yang mengharukan tokoh ulama Islam ini ialah, anjuran seperti itu justru dikemukakan ketika kekuasaan penjajah sedang tangguh-tangguhnya.
Natsir, yang mendirikan dan mengetuai Yayasan Pendidikan Islam di Bandung, 1932, mulai menulis di majalah Pembela Islam dan Pedoman Masyarakat. Ia memakai nama samaran A. Moechlis. Pada 1936, lahirlah buku Cultuur Islam, yang ditulisnya bersama Porf. C.P. Wolf Kemal Schoemaker dalam bahasa Indonesia. Lalu Mohammad als Proveet, 1931, Gauden Regels Regels uit den Quran, 1932, dan De Islamietische Vrouw en haar Recht, 1933. Pada 1954, muncul Some Observations concerning the Role of Islam in National and International Affair, yang merupakan bagian dari program Asia Tenggara Universitas Cornell, Ithaca, AS. Tahun- tahun berikutnya terbit Capita Selecta, Islam dan Kristen di Indonesia, dan The New Morality.
Bekas murid ulama Hassan yang terkenal di Bandung ini mengecam pendapat sementara ilmuwan bahwa ilmu fiqih sudah tidak relevan. ”Kepandaian mereka belum cukup untuk menghayati Islam secara benar.” Untuk mengembalikan Islam ke masa jayanya, seperti di zaman Khalifah Umar, ufuk dakwah harus diperluas, sambil kembali kepada Quran dan Hadis. Natsir gembira dengan semakin banyaknya pemuda Indonesia menggemari buku Islam. ”Lihatlah, para pembeli buku Islam umumnya kaum muda,” kata penerima hadiah Malik Faisal, Arab Saudi, bidang pengembangan Islam, 1980, itu.
Menjadi menteri penerangan sekarang dinilai Natsir lebih gampang dibandingkan dengan 35 tahun yang silam. ”Menteri penerangan dulu harus keliling, kini cukup duduk-duduk ditemani komputer,” ujar Ketua Dewan Da’wah Islamiah Indonesia itu. Antara 1961 dan 1966 ia pernah ditahan. Konon, bukan karena Natsir pernah menjadi Deputi Perdana Menteri PRRI, tetapi karena ia konsisten anti-SoekarnoNama :MOHAMMAD NATSIR
Lahir :Alahan Panjang, Sumatera Barat, 17 Juli 1908
Agama :Islam
Pendidikan :
– HIS, Padang (1923)
– Madrasah Diniyah, Solok (1923)
– MULO, Padang (1927) – AMS, Bandung (1930)
– Studi Islam di Persatuan Islam Bandung (1932)
– Kursus guru diploma LO (1932)

Karir :
– Ketua Jong Islamieten Bond, Bandung (1928-1932)
– Direktur Pendidikan Islam, Bandung (1932-1942)
– Anggota Dewan Kabupaten Bandung (1940-1942)
– Kepala Biro Pendidikan Kota Madya (Bandung Shiyakusho) (1942- 1945)
– Anggota Badan Pekerja KNIP (1945-1946)
– Menteri Penerangan (1950-1951)
– Ketua Umum Partai Masyumi (1949-1958)
– Anggota Parlemen (1950-1958)
– Anggota Konstituante (1956-1958)
– Deputi Perdana Menteri PRRI (1958-1960)
– Dikarantina di Batu, Ja-Tim (1960-1962)
– Ditahan di RTM/Keagungan Jakarta (1962-1966)
– Vice President World Muslim Congress (1967-sekarang)
– Ketua Yayasan Dewan Dakwah Islamiyah, Jakarta (1967)
– Anggota World Muslim League (Rabithah Alam Islamy) (1969)
– Anggota Majelis Ala Al-Alamy lil Masajid (Dewan Masjid Sedunia) (1976-sekarang)

Karya :
– antara lain: Cultuur Islam, bersama CP Wolf Kemal Schoemaker, Pendidikan Islam, 1936
– Persatuan Agama dengan Negara, Padang, 1968
– Islam dan Kristen di Indonesia, Pelajar, 1969
– Capita Selecta, Bulan Bintang, 1973
– The New Morality, Disusun bersama SU Bajasut, 1969
– Islam dan Akal Merdeka, Hudaya, 1970

Sumber http://www.pdat.co.id/ dan http://www.manajemenqolbu.com/


Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: