Baihaki Hakim

12 01 2008

Pertamina Sekadar Mandor dari Kontraktor
Ketika Baihaki Hakim diminta menjadi direktur utama (dirut) di Pertamina pada bulan Februari 2000, Presiden KH Abdurrachman Wahid berpesan agar Pertamina mampu bersaing dengan perusahaan-perusahaan minyak asing. Saat itu, Pertamina bukan saja tidak punya kegiatan produksi di luar negeri, bahkan di dalam negeri pun hanya menjadi “mandor” dari kontraktor bagi hasil (KPS).Waktu itu Baihaki baru menyelesaikan tugasnya sebagai Presiden Direktur PT Caltex Indonesia yang disandangnya sejak tahun 1994, dan Presiden butuh orang berpengalaman perminyakan dan mampu mengangkat perusahaan Pertamina ke kancah internasional. Baihaki diusulkan mengingat pengalamannya selama 31 tahun di perusahaan migas Caltex.Alumnus Institut Teknologi Bandung (ITB) itu sebenarnya tengah bersiap untuk pensiun dari urusan migas. Bahkan, lelaki berpenampilan sederhana yang lahir di Sijunjung, Sumatera Barat ,tanggal 3 Desember 1942 ini sudah mempersiapkan rumah di Cirebon untuk menikmati hari tuanya.
Ia mengurungkan niatnya. Ia yang dulu dikenal menghindari bertemu semua mitra Pertamina di kediaman pribadinya, akhirnya bersedia menjadi Dirut Pertamina.Baihaki bertekad membuat Pertamina mendunia dan tuan rumah di negerinya sendiri. Ia ingin Pertamina tak lagi hanya menjadi perusahaan “mandor” yang terima setoran dari perusahaan asing, yang mengeduk “emas hitam” dari perut bumi negeri ini. Bagaimana misi Anda untuk go international?Pertamina sudah punya program yang sudah pakem untuk go international. Greget Pertamina untuk tahun 2003 adalah mematangkan operasi di Vietnam, Irak, dan Myanmar. Tiga area ini cukup berharga untuk ditindaklanjuti. Pertamina mendapat lahan di Blok III Western Desert (Irak), wilayah yang berbatasan dengan Arab Saudi dan Yordania. Kendati suasana di Irak memanas akibat ancaman serangan Amerika Serikat (AS), delegasi Pertamina sudah ada di sana untuk membuka kantor dan memulai melaksanakan komitmennya. Proyek Irak untuk jangka panjang, kita tidak mau kehilangan kesempatan karena lahan-lahan yang diberikan sangat prospektif. Pokoknya, pelan-pelan, Pertamina akan go internasional.Lantas operasi di dalam negeri? Porsi domestik juga luar biasa. Dalam blue print Pertamina ada tiga pilar utama yang memberikan peningkatan yang cukup signifikan, antara lain Proyek Donggi di Sulteng yang prosesnya dalam tahap akselarasi, proyek gas di Sumatera Selatan (Sumsel), dan proyek petrokimia di Jawa Timur (Jatim). Kita sebenarnya bisa mengoptimalkan aset-aset baru yang kita temukan. Maka sering saya mengatakan, Pertamina akan menjadi dominan player, meskipun tidak lagi menjadi regulator, sebab Pertamina memiliki resource base yang cukup banyak dan daya yang cukup besar.Pertamina akan ditempatkan di mana?Secara kualitatif, kalau bicara mengenai miyak mentah, maka Pertamina akan menjadi produser nomor dua di Indonesia, setelah perusahaan Caltex. Jika berbicara mengenai produksi gas, Pertamina berada di nomor empat, setelah Total, ExxonMobil, dan Unocal. Akan tetapi, pada tahun 2005, saat tiga proyek besar sudah berjalan maka peta migas nasional akan berubah. Hal ini terjadi karena perusahaan asing yang ada di Indonesia mulai menurun produksinya. Sebaliknya, Pertamina justru bertambah. Jadi, setidak-tidaknya Pertamina akan berada dalam ranking tiga besar perusahaan minyak, yang beroperasi di Indonesia.SETELAH Baihaiki menapakkan kakinya di Pertamina, ada perbedaan yang cukup signifikan dari perusahaan minyak milik negara ini. Perusahaan ini, tidak hanya akan menjadi mandor bagi kontraktor, dan menerima bagi hasil dari perusahaan-perusahaan asing. Pertamina lebih selektif menyerahkan sumber-sumber migas untuk dikelola oleh pihak asing. Kebijakan ini diambil karena Pertamina sudah mulai percaya diri untuk melakukan kegiatan hulu, yang sebelumnya selalu dihindari karena dianggap membutuhkan investasi yang sangat mahal dan memiliki risiko yang paling tinggi. Bila perlu, menolak tawaran dari perusahaan asing, jika Pertamina memang betul-betul mampu mengelola sendiri sumur atau ladang gas yang ditemukan.Pertamina mampu?Tadi pagi (Kamis, 9/1), saya bicara dengan salah satu wakil perusahaan AS yang termasuk the seven sister (tujuh perusahaan minyak raksasa di AS) yang menawarkan kerja sama. Namun, saya mengatakan tunggu dulu. Pertamina agak pelit sekarang, karena kita sudah menemukan aset dan merasa mampu mengelola sendiri. Saya memberitahu mereka agar menunggu terlebih dahulu sampai kita menyelesaikan kajian dalam proyek-proyek yang akan dikerjakan Pertamina. Bila memang kita membutuhkan partner strategis, tentu kami akan mengharapkan dari Anda. Kerja sama itu bisa dalam hal pendanaan, pemasaran, atau teknologi. Untuk kebutuhan lainnya, Pertamina sudah punya.Jadi saya kira, di sini kita bisa melihat, Pertamina tidak gampang lagi untuk memberikan peluang ke perusahaan asing. Sekarang kita tahu, kalau melakukan joint venture berarti kita berbagi keberuntungan dengan mereka. Padahal, there’s no free lunch. Kalau dulu, semua diberikan ke pihak ketiga. Sementara kita hanya cukup jadi mandor besar. Sekarang sudah berbeda keadaannya, makanya kita untuk strategi aliansi musti selektif sekali. Lebih penting lagi strategi yang akan kita pakai itu sudah dipahami oleh semua teman-teman di Pertamina, sehingga kelak Pertamina tidak dirugikan dalam kontrak maupun kerja sama. SELAIN memberikan keuntungan kepada negara, Baihaki juga memikirkan, bagaimana Pertamina dapat menyumbangkan investasi yang lebih besar dalam pembangunan di Indonesia. Oleh sebab itu tidak heran jika tiga proyek besar di Sulteng, Jatim, dan Sumsel, dijadikan tiga pilar utama Pertamina ke depan. Secara khusus ia memberi perhatian langsung kepada tiga proyek ini, agar betul-betul bisa direalisasikan sesuai dengan rencana. Dia bahkan mengaku ngotot untuk menangani tiga proyek ini dengan membentuk tim yang perkembangannya ia pantau langsung.Apa arti tiga proyek besar bagi masyarakat?Bila berbicara Proyek Donggi saja, akan membuka lapangan pekerjaan bagi 1.000 orang, kemudian efek bergandanya bagi lingkungan juga akan luar biasa. Efek domino itu tak hanya di sektor migas, tetapi di sektor hulu manifaktur seperti petrokimia hingga ke hilirnya. Artinya, dari satu titik itu bisa lahir efek ekonomi lima sampai tujuh kali besarannya. Tidak mustahil akan muncul kota-kota baru yang terpadu di sekitar wilayah migas tersebut, seperti Bontang dan Lhok Seumawe, misalnya. Belum lagi, dari tiga proyek besar ini, akan terjadi juga pertumbuhan di sektor hilir, yang bukan porsi Pertamina. Jadi, bisa dibayangkan berapa besar nilai tambah yang bisa diraup dari kegiatan hulu migas tersebut.Berdasarkan pengalaman saya, masalah sumber daya manusia harus sedini mungkin diantisipasi, agar orang di daerah tersebut bisa mendapatkan nilai tambahnya. Rakyat di sekitarnya tidak boleh menjadi sekedar penonton, kalau tidak berpengalaman harus dilatih sejak awal. Langkah ini penting dilakukan karena betapa besarnya potensi pasar Pertamina yang selama ini tidak disadari, karena mungkin kita “tertidur”. Sekarang Pertamina adalah raksasa yang sudah bangun, sudah pede, karena sudah menemukan jati dirinya.BAIHAKI memang telah mengubah wajah Pertamina selama tiga tahun ini. Di tangan lelaki yang mengaku “besar” secara otodidak tumbuhlah citra Pertamina di masyarakat, yang lebih transparan. Pertamina tak lagi menjadi “negara dalam negara”. Kesan sebagai BUMN yang sering dipakai sebagai “sapi perahan” dan sarat KKN berangsur-angsur dihilangkan. Langkah kecil yang ditempuh Baihaki untuk memperbaiki citra Pertamina antara lain, melarang jajaran pejabatnya untuk menerima bingkisan Lebaran, Natal, dan Tahun Baru. Langkah ini bukan baru, tapi juga bukan hal yang mudah.Tujuannya, kata Baihaki, untuk menumbuhkan nilai-nilai kejujuran kepada karyawan. Awalnya cuma parcel, akhirnya berlanjut terus. Selain itu, atasan akan menjadi contoh dari bawahannya. Konsekuensi kebijakan itu, tak jarang dirinya dihujat oleh para pedagang parcel yang menganggapnya telah mematikan rejeki mereka.Bagaimana menghilangkan citra KKN?Saya tahu masih ada yang nakal, dan memberikan kesan untuk melakukan KKN. Namun, saya sudah meminta kepada rekanan Pertamina, cukup memberikan harga tender yang terbaik dan melaksanakan tepat waktu. Tidak perlu lagi mengajukan tender ke Pertamina dengan memperkirakan “harga delta” untuk diberikan kepada oknum Pertamina. Pernah saya panggil wakil perusahaan dari Jepang dan Eropa, dan saya beritahu bahwa saya mendengar staf saya memberikan kesan macam-macam. Saya katakan kepada mereka, “no way untuk hal seperti itu”. Lalu setelah mereka mengetahui sikap saya, rekanan itu kemudian berjanji memberikan harga yang terbaik kepada Pertamina.Pada waktu bekerja di Caltex, semua mekanismenya sudah terbentuk dengan baik dan tertutup untuk praktik KKN. Namun, kalau di Pertamina, memang hal semacam ini menjadi pekerjaan rumah. Untuk menghilangkan tender bermasalah, saya bekerja sama dengan direktur, saya panggil semua yang terlibat, dan ternyata teman-teman mendukung karena ada komitmen yang tulus.Tindakan Anda terhadap karyawan nakal?Pekerjaan paling sulit! Memang memerlukan waktu untuk perubahan, saya sadar sejak awal untuk tidak pernah melakukan gebrakan. Bahkan, tahun pertama di Pertamina, saya yakinkan bahwa saya akan merangkul seluruh karyawan terlebih dahulu. Padahal, waktu itu orang-orang curiga, saya akan main babat. Namun hal itu coba saya hindari. Saya menyesuaikan diri dan tidak pernah terkontaminasi dengan hal-hal yang negatif.Apalagi perubahan di PertaminaSaya juga melakukan langkah berani, dengan mendorong profesional muda yang ada di Pertamina. Kini, tidak perlu menunggu 10 tahun, tetapi sekarang orang yang berumur di bawah 40 tahun bisa duduk di kursi manajer. Dulunya jabatan itu dapat diduduki setelah seseorang berusia 50 tahun. Dalam hal ini, memang ada kegamangan pada karyawan yang sudah tua dan telah lama berkarier di Pertamina. Namun untuk menghindarkan benturan, saya melakukannya dengan apa yang saya sebut Indonesian way sebagai usaha ekstra. Contohnya ada satu grup, seharusnya kolonel yang memimpin, tetapi hanya ada beberapa letkol, tetapi letkol ini tidak mampu, maka saya carikan tempat lain, sehingga mayor yang ditunjuk bisa bekerja dengan tenang dan yang senior tidak merasa didepak.Apa yang sudah Anda capai?Kalau saya lihat, apa yang sudah dicapai selama tiga tahun di Pertamina, adalah mengubah budaya. Bagaimana kawan-kawan kami dengan semangat we can do it. Saya memang membawa pengalaman yang bagus, apalagi pemerintah mendorong agar pertamina fokus pada bisnis. Saya berharap, pengalaman saya dalam mengelola proyek berskala besar di Caltex dulu, di mana bisa cepat, efisien, dan tepat waktu, dapat ditularkan ke Pertamina. Dengan tim baru Pertamina, saya yakin ini bisa terwujud, sehingga mimpi Pertamina untuk menjadi world class company bisa diwujudkan. Tentu ini masalah waktu, blue print sudah disiapkan, Pertamina pasti akan menuju ke sana. Saya optimis, warga Pertamina sudah sepakat untuk melakukan perubahan. Terbukti saat misi dan visi Pertamina disosialisasikan kepada karyawan, 99 persen memahami tujuan Pertamina di masa depan, mereka setuju dan mendukung perubahan.JIKA kelak Pertamina berhasil ke kancah internasional dan sekaligus mengubah citranya, sebenarnya itu adalah hasil usaha bersama dari seluruh karyawan Pertamina, yang berjumlah 20.000 orang. Namun perlu diingat, yang menggerakkan karyawan adalah cara kerja Baihaki yang memberikan contoh bagaimana tugas yang dibebankan bisa dikerjakan sebaik mungkin dengan penuh tanggung jawab. Dalam arti, tanggung jawab pada waktu, dana, maupun kualitas yang semuanya dilakukan demi kepentingan nasional tanpa meninggalkan fungsi sebagai seorang profesional. Hal itu ditunjukkan Baihaki, ketika akan menerima jabatan Dirut Pertamina. Waktu itu rekan-rekannya memintanya untuk menolak jabatan tersebut, karena kondisi Pertamina yang sulit diperbaiki. Namun, Baihaki tetap “masuk” dengan tekad menghadapi tantangan yang lebih berat ketimbang memimpin Caltex Indonesia. Apa motivasi Anda memimpin Pertamina?Motivasi yang terkuat datang dari pesan almarhum Bapak saya sebelum meninggal pada tahun 1989. Saya masih ingat betul kata-katanya, yang mempertanyakan kapan saya punya waktu untuk membantu negara. Di mata Bapak saya, selama bekerja di Caltex dianggapnya tidak membantu negara. Saya dianggap membantu kepentingan asing untuk memperkaya mereka dengan bekerja di perusahaan asing.Kini saya tidak punya beban bekerja di Pertamina. Paling tidak amanah almarhum sudah saya penuhi untuk membantu negara. Jadi, kini beban pekerjaan itu jauh lebih ringan dan tak lagi musti membawa pulang persoalan kantor ke rumah. Pokoknya semua waktu saya berikan kepada Pertamina, dan fokus kepada agenda Pertamina ke depan.Anda letih menghadapi masalah Pertamina?Memang kalau dilihat, saya seolah-olah capek. Tetapi tidak juga karena mendapat dukungan 200 orang manajer dalam satu tim baru yang sudah satu bahasa. Jadi, sebenarnya saya hanya lebih banyak memikirkan beberapa rencana besar.Apa yang membuat Anda tetap terlihat segar?Saya selalu menyempatkan berolahraga selama 45 menit setiap hari, setelah shalat subuh atau usai pulang kerja. Selain itu melakukan ibadah, karena menjadi pegangan hidup. Bagi orang yang bekerja keras, harus selalu sempatkan olah raga dan ibadah.Apa rencana setelah pensiun?Saya akan menyibukkan diri dalam kegiatan pendidikan sebagai ketua dewan pembina pada Center of Corporate Leadership dan menjadi dewan pembina pada organisasi lingkungan hidup The Natural Concervation. Selain itu, menyumbangkan pikirannya ke The Conference Board, di mana dirinya menjadi salah seorang anggota senior yang kerap memberikan masukan tentang kepemimpinan dalam perusahaan.Setelah pensiun saya juga akan memperdalam ilmu agama, kemudian akan belajar untuk melakukan dakwah agama. Dulu ketika SMA di Medan, sebenarnya saya juga menjadi guru ngaji, dan kini sering diminta berceramah agama di lingkungan Pertamina.KEHIDUPAN Baihaki memang sangat sederhana, sebagai dirut BUMN terkaya, ia memilih tinggal di sebuah apartemen di Jakarta. Alasannya, dia hanya tinggal berdua dengan istri, jadi tidak perlu menempati rumah dinas yang tentunya jauh lebih luas dan memerlukan penjagaan satpam segala.Anak pertamanya Tommy Baihaki menetap di Amerika Serikat setelah menikah dengan wanita berkebangsaan AS dan sudah dikaruniai dua orang anak. Anak keduanya Fiona Baihaki tinggal di Jakarta, juga sudah berkeluarga, dan memiliki seorang anak. “Cucu saya yang di Jakarta inilah yang menjadi pelipur lara,” ujar Baihaki.*** e-ti, sumber Kompas Minggu, 12 Januari 2003, Pewawancara: Ida Setyorini Buyung Wijaya Kusuma

Nama:Ir. Baihaki Hakim

Lahir:Sijunjung, Sumatera Barat 3 Desember 1942

Jabatan:Direktur Utama Pertamina 2000

Presiden Direktur PT Caltex Indonesia 1994-2000

Pendidikan:SMA di MedanInstitut Teknologi Bandung (ITB)

Anak:

Tommy Baihaki

Fiona Baihaki


Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: