Gus Tf Sakai

15 01 2008

Gus tf Sakai mungkin adalah sastrawan Indonesia yang “rewel” dan “sulit” apabila ditanya biografinya. Selalu, ia akan balik bertanya, “Sebagai penulis puisi atau prosa?” Ia memang menulis dengan dua nama: Gus tf untuk puisi dan Gus tf Sakai untuk prosa (padahal keduanya tampak seperti tidak berbeda). Tentang dua nama ini, dalam sebuah wawancara di The Jakarta Post ia berkata pendek, “Untuk sugesti, biar keduanya serius pada masing-masingnya.” Lalu, ia akan memberikan biodata terpisah untuk setiap nama, juga sangat pendek.
Gus tf Sakai dilahirkan di Payakumbuh, Sumatra Barat, tanggal 13 Agustus 1965 dengan nama asli Gustrafizal. Ayahnya bernama Bustamam dan ibunya Ranjuna. Ayahnya yang petani meninggal ketika sastrawan ini masih kanak-kanak dan bersama sembilan saudaranya ia kemudian dibesarkan oleh ibunya yang hidup sebagai pedagang kecil dengan berjualan makanan tradisional.
SD, SMP, dan SMA ia tamatkan di Payakumbuh, kemudian melanjutkan ke Fakultas Peternakan Universitas Andalas, Padang, dan lulus 1994. Proses kreatifnya berkembang sejak kanak-kanak, seiring dengan kegemaran berolahraga (di antaranya sepak bola dan bela diri), yang dimulai dari menggambar, lalu menulis puisi dan esai di buku harian. Publikasi pertamanya berupa cerita pendek yang memenangi Hadiah I sebuah sayembara ketika ia duduk di bangku kelas 6 SD tahun 1979. Sejak kemenangan itu dan ia tahu bahwa menulis dapat mendatangkan uang (yang amat membantu bagi kebutuhan sekolahnya), ia tidak lagi dapat berhenti menulis dan sering mengikuti sayembara menulis puisi, cerpen, novelet, novel, dan esai. Seingatnya, sampai tahun 2003, ada sekitar 50 sayembara menulis yang ia menangkan, tetapi yang terdokumentasi dan dapat dicatat hanya 36. Namun, angka 36 itu pun mungkin sudah merupakan rekor yang mencengangkan.
Setelah memublikasikan karya dengan berbagai nama samaran sampai tamat SMA tahun 1985, ia pindah ke Padang dan mengambil putusan yang bagi banyak orang mungkin tidak terbayangkan: hidup dari menulis. Sejak itu pulalah, ia menggunakan dua nama: Gus tf dan Gus tf Sakai. Namun, kini terbukti keputusannya tidak keliru. Walaupun tidak dapat dikatakan berkecukupan, ia tampak sangat menikmati profesinya. Ia pun tumbuh sebagai sastrawan Indonesia yang menonjol di generasinya.
Agak aneh bahwa hampir tidak ditemukan perbincangan atau kajian terhadap karya Gus tf Sakai sehingga khazanah sastra Indonesia tidak begitu tahu bagaimana (keunggulan) karyanya. Namun, dalam berkas yang dikirimkan Panitia Indonesia, Pusat Bahasa, kepada Panitia The SEA Write Award 2004 di Bangkok, pada kolom isian Tentang diri sendiri (Awardees to write about himsef), Gus tf Sakai menulis: “… Sampai kini berusia 38 tahun ini, kadang saya merasa masih seperti 25 tahun lalu ketika pertama mulai menulis: kecil, gugup, berasal dari keluarga miskin, yang karena keterbatasan finansial dalam ketakterbatasan impian kanak-kanak jadi tumbuh dalam dunia yang paradoks dan banyak ketakmungkinan. Masih seperti itulah saya kini, barangkali. Tegangan antara keterbatasan dan ketakterbatasan telah menjelmakan saya jadi seorang pengarang kecil yang gagap, terus terobsesi untuk keluar – melintasi apa pun. Suku, agama, ras, bahkan antara yang nyata dan tak nyata.” Dari pernyataan itu mungkin dapat kita telusuri bagaimana kecenderungan karya-karya Gus tf Sakai. Hasil karyanya adalah sebagai berikut.A. Novel

Segi Empat Patah Sisi (novel remaja, Gramedia, 1990).
Segitiga Lepas Kaki (novel remaja, Gramedia, 1991)
Ben (novel remaja, Gramedia, 1992)
Tambo (Sebuah Pertemuan) (Grasindo, 2000). Novel itu sedang diterjemahan dalam bahasa Inggris dan akan diterbitkan oleh Metafor Publishing.
Tiga Cinta, Ibu (Gramedia, 2002)
Ular Keempat (Kompas, 2005)

B. Kumpulan cerpen
Istana Ketirisan ( Balai Pustaka, 1996). Kumpulan cerpen itu berisikan 7 cerpen.
Kemilau Cahaya dan Perempuan Buta (Gramedia, 1999). Kumpulan cerpen itu berisi 14 cerpen yang dikelompokkan dalam 4 bagian, yaitu bagian pertama bertajuk “Gadisku” terdiri atas 4 cerpen, bagian kedua bertajuk “Rumah Masa Lalu” terdiri atas 3 cerpen, bagian ketiga bertajuk “Sendiri” terdiri atas 3 cerpen, dan bagian keempat bertajuk “Apatah Bisu” terdiri atas 4 cerpen. Kumpulan cerpen itu, setelah memperoleh Hadiah Sastra Lontar tahun 2001, diterbitkan oleh The Lontar Foundation dalam bahasa Inggris dengan judul The Barber and Other Short Stories (2002).
Laba-Laba (Gramedia, 2003). Kumpulan cerpen itu berisi 14 cerpen.

C. Kumpulan puisi
Sangkar Daging (Grasindo, 1997). Kumpulan puisi itu berisi 60 puisi terpilih yang ditulis Gus tf sepanjang tahun 1980-1995 yang dikelompokkan dalam 2 bagian, yaitu bagian pertama bertajuk “Langkah Batu” terdiri atas 33 puisi dan bagian kedua yang bertajuk “Luka Metamorfosa” terdiri atas 27 puisi.
Daging Akar (Kompas, 2005). Kumpulan puisi itu terdiri atas 2 bagian, yaitu bagian pertama bertajuk “Daging” yang memuat 19 puisi dan bagian kedua bertajuk “Akar” yang juga memuat 19 puisi.
Beberapa puisinya itu telah diterjemahkan ke dalam bahasa Arab, Inggris, dan Jerman.
Atas kreatifitasnya itu, Gus tf Sakai banyak memenangkan hadiah dan mendapatkan berbagai penghargaan, baik dari dalam maupun luar negeri.

Hadiah yang dimenangkan
Hadiah Pertama Sayembara Mengarang Cerpen dari Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Kotamadya Payakumbuh untuk cerpen “Usaha Kesehatan di Sekolahku” (1979)
Hadiah Kedua Sayembara Mengarang Cerpen Remaja dari majalah Anita untuk cerpen “Kisah Pinokio dan Cinderella” (1985)
Hadiah Pertama Sayembara Mengarang Novelet dari majalah Kartini untuk novelet “Ngidam” (1986)
Hadiah Ketiga Sayembara Mengarang Cerpen dari majalah Kartini untuk cerpen “Nenek” (1986)
Hadiah Harapan Sayembara Mengarang Cerpen dari majalah Tiara untuk cerpen “Tiga Pucuk Surat Buat Muhammad” (1987)
Hadiah Ketiga Sayembara Mengarang Cerpen dari majalah Estafet untuk cerpen “Gun” (1988)
Hadiah Kedua Sayembara Mengarang novel dari majalah Kartini untuk novel “Buram Berlatar Suram” (1988)
Hadiah Kedua Sayembara Mengarang Novelet Remaja dari majalah Anita untuk novelet “Dutch Doll” (1989)
Hadiah Pertama Sayembara Penulisan Puisi dari Direktorat Kesenian Ditjen Kebudayaan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia untuk puisi “Didaktisisme Catur Lima Episode” (1989)
Hadiah Harapan Pertama Sayembara Penulisan Puisi dari Direktorat Kesenian Ditjen Kebudayaan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia untuk puisi “Menunggu” (1989)
Hadiah Sepuluh Terbaik Sayembara Penulisan Puisi dari Sanggar Minum Kopi Bali untuk puisi “Tentang Tuan Rumah dan Tamu yang Dibunuhnya” (1990)
Hadiah Sepuluh Terbaik Sayembara Penulisan Puisi dari Iqranidya Club Cilacap untuk puisi “Bola Salju” (1990)
Hadiah nomine Sayembara Mengarang Cerpen dari harian Suara Merdeka untuk cerpen “Urban” (1991)
Hadiah Pertama Sayembara Mengarang Novelet dari majalah Gadis untuk novelet “Ben” (1991)
Hadiah Harapan Pertama Sayembara Mengarang Cerpen dari harian Bali Post untuk cerpen “Sebuah Lembah Setelah Lebah Pindah” (1991)
Hadiah Ketiga Sayembara Mengarang Novelet dari majalah Kartini untuk novelet “Lembah Berkabut” (1991)
Hadiah Sepuluh Terbaik Sayembara Penulisan Puisi dari Sanggar Minum Kopi Bali untuk puisi “Aforisme Anggur” (1992)
Hadiah Sepuluh Terbaik Sayembara Penulisan Puisi dari Sanggar Minum Kopi Bali untuk puisi “Perkawinan Mawar” (1992)
Hadiah Ketiga Sayembara Penulisan Budaya dari Panitia Pekan Budaya Minangkabau untuk esai “Asketik, Holistik, Pradigma Modernity” (1993)
Hadiah Sepuluh Terbaik Sayembara Penulisan Puisi dari Sanggar Minum Kopi Bali untuk puisi “Tak Pernah Kubutuh Sebuah Telepon” (1993)
Hdiah Sepuluh Terbaik Sayembara Penulisan Puisi dari Buletin Sastra Budaya Kreatif Batu untuk puisi “Daun yang Baik” (1994)
Hadiah Sepuluh Terbaik Sayembara Penulisan Puisi dari Yayasan Taraju Sumatra Barat untuk puisi “Seseorang dalam Lorong Bernama Zaman” (1994)
Hadiah Harapan Sayembara Mengarang Cerpen Remaja dari majalah Matra untuk cerpen “Tak Ada Topeng dalam Diary” (1996)
Hadiah Kedua Sayembara Penulisan Esai dari Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia untuk esai “Bentuk Budaya dalam Masyarakat Multietnik” (1996)
Hadiah Harapan Sayembara Mengarang Cerber dari majalah Femina untuk novel Jilid Laki-laki untuk Ibu (1998)
Hadiah nomine Cerpen Terbaik di Koran-koran Indonesia 1998 dari Dewan Kesenian Jakarta untuk cerpen “Lukisan Tua, Kota Lama, Lirih Tangis Setiap Senja” (1999)
Hadiah nomine Cerpen Terbaik di Koran-koran Indonesia 1998 dari Dewan Kesenian Jakarta untuk cerpen “Sungguh Hidup Begitu Indah” (1999)
Hadiah cerpen pilihan dari harian Kompas untuk cerpen “Ulat dalam Sepatu” (1999)
Hadiah Sembilan Terbaik Sayembara Penulisan Puisi Perdamaian dari Panitia Lomba Cipta Puisi Perdamaian Art and Peace untuk puisi “Peristiwa Menanam” (1999)
Hadiah Kedua Sayembara Mengarang Cerpen dari Pusat Kajian Humaniora Universitas Negeri Padang dan Program Bahasa Indonesia Universitas Deakin, Melbourne, Australia untuk cerpen “Kupu-Kupu” (1999)
Hadiah cerpen pilihan dari harian Kompas untuk cerpen “Laba-Laba” (2000)
Hadiah Sepuluh Unggulan Sayembara Mengarang Cerpen dari Pusat Kajian Humaniora Universitas Negeri Padang dan Program Bahasa Indonesia Universitas Deakin, Melbourne, Australia untuk cerpen “Karena Kita tak Bersuku” (2000)
Hadiah cerpen pilihan dari harian Kompas untuk cerpen “Upit” (2001)
Hadiah Harapan Sayembara Mengarang Novel Remaja dari Penerbit Mizan untuk novel Garis Lurus, Putus (2002)
Hadiah cerpen pilihan dari harian Kompas untuk cerpen “Gambar Bertulisan Kereta Lebaran” (2002)
Hadiah Harapan Pertama Sayembara Mengarang Novel dari Dewan Kesenian Jakarta untuk novel Ular Keempat (2003)
Hadiah cerpen pilihan Kompas untuk cerpen yang berjudul “Belatung” (2005)
Penghargaan yang diterima
Penghargaan Sastra Lontar dari Yayasan Lontar untuk kumpulan cerpen Kemilau Cahaya dan Perempuan Buta (2001)
Anugerah Sastra dari Fakultas Sastra Universitas Andalas (2002)
Penghargaan Penulisan Karya Sastra dari Pusat Bahasa untuk kumpulan cerpen Kemilau Cahaya dan Perempuan Buta (2002)
Sih Award dari Jurnal Puisi untuk puisi “Susi 2000 M” (2002)
SEA Write Award dari Kerajaan Thailand untuk kumpulan cerpen Kemilau Cahaya dan Perempuan Buta (2004)
Anugerah Seni dari Komunitas Penggiat Sastra Padang dan Dewan Kesenian Sumatra Barat (2004).

Tahun 1996 Gus tf Sakai kembali ke Payakumbuh. Bersama istrinya, Zurniati, ia memutuskan untuk hidup dan menetap di kampungnya bersama tiga anaknya: Abyad Barokah Bodi (L), Khanza Jamalina Bodi (P), dan Kuntum Faiha Bodi (P). Walaupun menetap di kota kecil yang dikepung oleh tiga gunung, kemajuan teknologi membuat ia dapat melintas (fisik dan nonfisik) ke mana-mana. Dari kampungnya itulah Gus tf Sakai kini terus menulis puisi, cerpen, novel, dan esai yang kemudian diterbitkan oleh penerbit dan media massa terbitan Jakarta sambil memilih-milih puisi untuk Puisi, sebuah jurnal triwulanan yang memuat segala hal yang berkaitan dengan puisi; jurnal tempat Gus tf diajak bergabung oleh Sapardi Djoko Damono sejak 2002.

Alamat: Jalan Sudirman No. 33 Balai Baru, Payakumbuh, Sumatra Barat, Indonesia 26212 Telepon: (0752) 94924
Pos-el: gustfsakai@plasa.com dan gustfsakai@yahoo.com

Dari Kupu-kupu yang Bermimpi Jadi Swang Tse dan Tambo Gus tf Sakai
OLEH FADLILLAH
ADA kehendak untuk melupakan masa lalu pada setiap orang atau bangsa ketika sejarah masa lalu begitu pahit dan tidak disukai. Kemudian kejadian itu akan berlanjut untuk menghadirkan cerita-cerita yang menghibur hati yang terluka, kekecewaan dan kepedihan, hal ini adalah feno mena tragedi patologi sosial. Hadirnya cerita untuk menghibur kekecewaan dan kepedihan adalah dikarenakan ada lara yang hendak dilipur. Dari cerita, ada lara yang dilipur itu, merupakan kehendak untuk lari ke dunia imaji saat didapati realitas begitu buruk dan menyedihkan, persoalan seperti ini adalah realitas yang manusiawi. Jika hal itu terjadi pada diri individu barangkali ia hanya merupakan suatu kasus psikologis, tetapi apabila hal itu terjadi dalam realitas kebudayaan, maka hal ini sudah jadi persoalan tragedi kemanusiaan.
Tragik kemanusiaan ini menjadi problematik dalam novel Tambo (Sebuah Pertemuan) karya Gus tf Sakai, kehadirannya adalah akibat dari sebab yang pada hari ini sudah tersembunyi. Adalah kenyataan yang sulit untuk dijelaskan tentang Rido yang bermimpi jadi Datuk Perpatih Nan Sabatang (Sutan Balun), pada kenyataan itu juga (sama) Datuk Perpatih Nan Sabatang (yang ada dalam mimpi Rido itu) bermimpi menjadi Rido. Sebagaimana Swang Tse mengatakan ia bermimpi tentang kupu-kupu dan kemudian selanjutnya ia mengatakan bahwa realitas dirinya adalah mimpi dari kupu-kupu itu, tepatnya; kupu-kupu yang bermimpi jadi Swang Tse, kemudian Swang Tse berpikir dan meyakini bahwa dirinya yang sesungguhnya atau realitas sebenarnya dari dirinya adalah kupu-kupu. Swang Tse berkeyakinan kehidupannya sekarang hanyalah mimpi dari seekor kupu-kupu, karena dirinya sendiri adalah kupu-kupu itu, dan sekarang ia hanya menjalani sebuah mimpi.
Cerita tentang Swang Tse ini ditulis oleh Aart van Zoest dalam bukunya Fiksi dan Nonfiksi dalam Kajian Semiotik, terjemahan Manoekmi Sardjoe, (1990:31). Tidak jauh berbeda persoalan ini juga diungkapkan oleh Hasif Amini dalam tulisannya di jurnal Kalam (4/1995:89,90) dengan judul Seni Baca di Perpustakaan Imajiner Jorge Luis Borges dan (Antara Lain) Sastra Fantasi. Dia mengatakan: “Dalam cerita ’Reruntuhan Melingkar’, seorang rahib pagan tua mendatangi suatu reruntuhan kuil di tengah hutan, demi ’memimpikan’ sesosok anak lelaki yang kelak akan dimasukkannya ke dalam realitas; namun di saat terakhir ketika si anak sudah jadi, mendapatkan wujud fisiknya, rahib itu mulai menyadari bahwa ia juga makhluk ilusi yang diimpikan oleh orang lain….” Borges melalui diskusi atas buku-buku kuno, di mana tak terjadi perpindahan ruang, melainkan perpindahan kognitif yang berlangsung dalam waktu. Borges secara khusus dan berulang, membahas persoalan waktu ini: “memperhadapkan waktu linear yang direkayasa dunia modern, dengan waktu sirkuler (melingkar) yang bersifat mitologis”. Hal ini juga barangkali relevan dengan film Vanilla Sky yang disutradarai Cameron Crowe, film yang dirujuk dari film Spanyol berjudul Abre Los Ojos (1997). Fenomena Vanilla Sky adalah fenomena kupu-kupu Swang Tse, yakni tidak berbatasnya imajinasi dan realitas akibat penderitaan yang amat sangat, sebagaimana dimainkan oleh Tom Cruise dan Penelope Cruz.
Sutan Balun (Datuk Perpatih Nan Sabatang) dalam TSP itu mengatakan bagaimana ia bermimpi jadi Rido, Barangkali ini berhubungan dengan pola narasi kupu-kupu yang bermimpi jadi Swang Tse. Kemudian pada bab 14, Alangkah Banyak Diriku, diceritakan tentang Rido yang tetap tidak tahu beda realitas dengan mimpi. Sebelumnya ada pernyataan yang lebih berat dari persoalan itu adalah Rido (Sakai, 2002:18) mengatakan; “Bagiku mimpi, seperti mimpi, dan kenyataan, nyaris tak ada bedanya.” Artinya, Rido tidak lagi dapat membedakan dalam hidupnya antara mimpi dengan realitas hidup, antara imajinasi dan realitas hidup. Selanjutnya dalam kalimat yang sama dikatakan bahwa hal itu adalah fenomena kehidupannya; “… Sering aku tak tahu apakah tengah berada dalam mimpi, ataukah tengah dalam kenyataan.” Rido meyakini dirinya adalah Sutan Balun atau Datuk Perpatih Nan Sabatang, dia meyakini dirinya banyak, sebagaimana dikemukakan dalam bab 14 Alangkah Banyak Diriku, (Sakai, 2000:100). Jika disamakan dengan Swang Tse, maka Swang Tse yakin dirinya adalah kupu-kupu, dan realitasnya sebagai Swang Tse dalam alam mimpi kupu-kupu. Jika kupu-kupu berhenti bermimpi, maka ia (Swang Tse) yakin akan kembali ke alamnya yang bahagia itu, yakni alam kupu-kupu. Rido juga menunggu lewat si Tukang Kaba hal itu bertahun-tahun dan terus menunggu.
Narasi seperti ini sulit dipahami, tetapi bila ia diletakkan sebagai fenomena metafora atau hakikat kehidupan, maka ia merupakan narasi yang menyembunyikan sesuatu. Dengan demikian akan muncul sesuatu itu, yakni pertanyaan yang sederhana, mengapa hal itu terjadi, dan mengapa begitu? Fenomena Rido tersebut tidak mungkin terjadi begitu saja, ada satu sebab (atau beberapa sebab, banyak sebab) yang mengakibat Rido menjadi suatu fenomena. Adapun perlunya dicari sebab, karena fenomena Rido hanya dianggap sebagai akibat. Tidak mungkin penyebabnya adalah suatu realitas yang menyenangkan dan bahagia, karena jika realitas penyebabnya sesuatu yang baik, menyenangkan, bahagia, maka tentu akan mengakibatkan terjadinya kebaikan dan bahagia, dapat dipahami, serta persoalan menjadi selesai, tidak lagi suatu hal yang problemtis. Fenomena Rido sebagai narasi bukanlah suatu bentuk kebahagiaan, tetapi suatu narasi problematis yang tragis, cerita sedih. Dengan demikian, pada akhirnya fenomena Rido tentu disebabkan oleh suatu penderitaan, sistem yang buruk, kesedihan yang tidak terleraikan, yang menekannya. Ada dua dasar pemikiran untuk mengatakan bahwa fenomena Rido tersebut disebabkan oleh adanya narasi tragik yang terjadi.
Pertama, ketika pertanyaan itu dirujuk kepada pemikiran tulisan Pariaman (Brouwer,1984:228), maka apa yang terjadi pada Rido adalah gejala split of personality, dan memang novel ini pada mulanya berjudul Sakit, tetapi menurut Sakai adanya negosiasi dengan redaksi harian Republika (ketika novel ini akan dimuat bersambung di harian itu, sebelum diterbitkan, ungkapan pengarang kepada penulis) dan penerbit Grasindo, maka novel ini akhirnya berjudul Tambo (Sebuah Pertemuan). Fenomena split of personality ini timbul, menurut Pariaman (Brouwer,1984:202) merupakan reaksi terhadap sistem ganda kehidupan yang terlalu berat untuk dihadapi. Pendapat ini barangkali sejalan dengan cerita tentang Sybil karya Schreiber (2001:489-490), yang juga mengungkapkan bahwa keterpecahan kepribadian karena sistem ganda yang terlalu berat untuk dihadapi. Tetapi fenomena yang dihadirkan di sini di samping akibat sistem ganda yang lebih berat adalah dimungkinkan oleh penindasan kekuasaan dan kehancuran jati diri.
Kedua, dapat dirujuk sebab mengapa Swang Tse meyakini bahwa dunia nyata dirinya adalah kupu-kupu, dan dirinya hanyalah mimpi dari kupu-kupu, dikarenakan ia mengalami penderitaan dan kesedihan yang tidak terleraikan, yakni istri dan anaknya meninggal, ia tidak bisa menerima atau tidak kuat menerima realitas kesedihan itu, di samping selama ini hidupnya memang menderita dan puncaknya adalah kematian istrinya, sehingga ia pada satu kali bermimpi, dalam mimpinya itu ia menjadi kupu-kupu dan berkumpul dengan anak- anak dan istrinya, terbang sebagai kupu-kupu dalam taman bunga yang indah dan bahagia. Ketika ia terbangun, ia yakin bahwa realitas yang sesungguhnya dari dirinya adalah kupu-kupu, dirinya sebagai Swang Tse hanyalah mimpi buruk dari kupu-kupu. Sebuah narasi tragik dari tragedi kehidupan. Fenomena kupu-kupu Swang Tse disebabkan oleh tragik penderitaan, yang pada hakikatnya memungkinkan juga terjadi pada tragik kesedihan dari diri Rido.
Tragik yang terjadi pada Rido sebagai sebab, pertama oleh sistem ganda sosial budaya dan kedua oleh kesedihan dan penderitaan dan ketiga oleh penindasan kekuasaan dan kehancuran jati diri. Pada sebab pertama menurut Pariaman (Brouwer,1984:208) jarang menjadi penyebab utama, ia hanya menjadi landasan sebagai pencetusan. Namun pengaruh yang kuat memang ada pada sistem sosial yang membesarkan seseorang, sistem nilai yang dianut. Rido dibesarkan oleh sistem rumah gadang yang otoritasnya dikuasai oleh nenek tertua dan mamak laki-laki (saudara laki-laki dari ibu) tertua, ia dibesarkan oleh keluarga ibu, sistem membuat ia berjarak dengan ayahnya. Sistem budaya ini memungkinkan untuk tumbuhnya kompleks mother (kompleks ibu) sebagaimana dikatakan Pariaman (Brouwer,1984:215), dan ini terjadi pada Datuk Perpatih Nan Sabatang (Sakai, 2000:69-70). Anak laki-laki dalam sistem sosial Minangkabau setelah akil balig (umur tujuh tahun) harus berpisah dengan ibunya dan tidur di surau, sedangkan masa remajanya dihabiskan di gelanggang, kemudian masa dewasanya di perantauan, ketika berkeluarga ia hanya dapat pulang ke rumah istri pada malam hari (tetapi Rido belum beristri, juga Datuk Perpatih Nan Sabatang), terakhir di masa tua kembali ke surau. Sistem sosial ini yang membuat laki-laki tidak pernah punya kamar pribadi, dalam pengertian lain laki-laki Minangkabau merupakan laki-laki rantau (tidak menetap selalu bepergian). Di samping itu sistem sosial budaya yang dihidupi tersebut bersifat ganda. Pertama, pada satu sisi secara adat tradisi ia dihidupi oleh sistem matrilineal dan di sisi agama ia dihadapkan dengan sistem patrilineal. Kedua, laras Bodi Chaniago dengan laras Koto Piliang mempunyai sistem yang berlawanan, yakni sistem Bodi Chaniago bersistem demokrat dengan Koto Piliang bersistem otokrat. Ketiga, keluarga ayah dengan keluarga ibu, keluarga ibu dengan keluarga istri, yang masing-masing dengan sistem yang berbeda.
Namun pada akhirnya persoalan penyebab bukanlah sesuatu yang pasti, ia akan menunjukkan banyak sebab, dan banyak kemungkinan, dan lebih banyak hal baru yang dapat ditemukan dan dipahami. Sebagai novel ia memang akan membukakan pemikiran ke arah itu, mendorong orang untuk bertualang dalam dunia kemungkinan dan dunia mungkin. Ada fenomena cerita dari dua tokoh yang saling bermimpi lebih merupakan persoalan yang lebih memungkinkan banyak alternatif yang akan ditemukan. Paling tidak ada fenomena tokoh yang ganda, dalam pengertian lain juga suatu fenomena berkepribadian ganda, suatu fenomena tokoh yang tidak terintegrasi dalam satu kepribadian, terbelah berserpihan menjadi banyak kepribadian, banyak cerita. Hakikat yang dihadirkannya adalah persoalan identitas jati diri yang hancur, tepatnya persoalan eksistensi yang berserakan.
Persoalan hakikat jati diri ini, atau eksistensi, persoalan apakah Rido yang bermimpi jadi Sutan Balun (Datuk Perpatih Nan Sabatang), atau apakah Sutan Balun (Datuk Perpatih Nan Sabatang) yang bermimpi jadi Rido. Akan tetapi ketika hal ini dibawakan kepada filosofi Buddha, maka ia merupakan kupu-kupu yang bermimpi menjadi Swang Tse, karena pada sisi lain Adityawarman dalam rujukan sejarah merupakan penganut Buddha Bhairawa, dan Minangkabau sebelum Islam adalah bangsa yang beragama Hindu Buddha. Filosofi Swang Tse juga akan berhubungan dengan hakikat reinkarnasi yang sudah hilang di Minangkabau. Persoalan itu tidak berhenti sampai di sini, hal itu hanya rujukan untuk realitas narasi hari ini, karena novel TSP adalah karya sastra dengan kekinian Indonesia, hadir dalam konsep selera estetika multikultural Indonesia. Dalam bahasa pemikiran hari ini, maka TSP berbicara tentang hakikat keterpecahan identitas kepribadian dan ketidakjelasan eksistensi diri manusia Indonesia hari ini dalam konteks banyak bangsa yang tertindas oleh penguasa Indonesia.
Keterpecahan kepribadian atau eksistensi Indonesia hari ini, dan pencarian pada masa lalu, pada narasi mitos, sejarah, dan tradisi, adalah kesia-siaan. Memang realitas itu sudah dilakukan pada masa rezim Soekarno dan rezim Orde Baru, memparadigmakan kebudayaan masa lalu sebagai narasi kebudayaan luhur. Pada satu sisi menjadi membelakangi masa depan dan menghadap ke masa lalu. Kemudian hiduplah kembali neofeodalisme yang tidak lebih kentalnya daripada feodalisme di zaman Kerajaan Singosari, Kediri, Majapahit, Mataram, Sriwijaya, Pagaruyung. Neofeodalisme itu mendapat sambutan yang cocok dengan kebudayaan kapitalisme modern. Pada akhirnya rakyat tetap tertindas, miskin, dan menderita, dan sesudah itu karena dalam ketertindasan, penderitaan, dan kesedihan orang akan lari ke dunia cerita, narasi pelarian (apakah narasi kupu-kupu atau narasi Datuk Perpatih Nan Sabatang), maka lahirlah banyak cerita yang dapat melipur lara. ***
SUMBER KOMPAS, Minggu, 04 Mei 2003
Fadlillah Mahasiswa pascasarjana Kajian Budaya Universitas Udayana,Denpasar, staf pengajar

Rabu 13 Juni 2007
Melintas dari Sudut Kota Kecil
OLEH IVAN ADILLA, staf pengajar Fak Sastra Unand
Guf tf (Payakumbuh, 13 Agustus 1965) adalah penyair, cerpenis dan novelis. Sastrawan dengan nama asli Gustafrizal Busra ini menjalani pendidikan dasar hingga menengah di kota kelahirannya, Payakumbuh. Ia kemudian melanjutkan studi di Fakultas Peternakan Universitas Andalas, dan tamat pada 1994. Ia memutuskan untuk menjalani profesi sebagai pengarang dan menetap di Payakumbuh. Dia sering diundang untuk membacakan sajak-sajaknya di Padang, Jakarta serta beberapa kota lain.
Pengarang ini menggunakan dua nama yang berbeda untuk dua genre karyanya; untuk karya prosa ia menggunakan Gus tf Sakai, sedangkan untuk karya puisi ia mencantumkan nama Gus tf, sementara nama aslinya hanya dipakai untuk dokumen-dokumen resmi.
Sebagai pengarang, Gus telah meraih banyak penghargaan atas karya-karyanya. Sejak 1985-1999, 2 novel, 7 novelet dan 14 cerita pendeknya memenangkan hadiah dan penghargaan dalam sejumlah sayembara penulisan yang diselenggarakan oleh berbagai media, seperti Femina, Gadis, Matra, Hai, juga Pusat Kajian Humaniora-UNP serta beberapa lembaga lainnya. Pada 1996 ia meraih penghargaan dari Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Jakarta, dan Hadiah Sastra Lontar diperolehnya tahun 2001. Pada tahun 2004, dalam usia 39 tahun, Gus meraih SEA Write Award, hadiah sastra untuk pengarang di negara-negara ASEAN. Tahun 2005 Gus dijadwalkan untuk mengikuti International Writing Program di The University of Iowa, Amerika Serikat, tetapi kemudian dibatalkan dengan alasan yang kurang jelas. Informasi yang sampai padanya adalah, “Washington belum bisa menerima Anda tahun ini, mungkin pada kesempatan yang lain”.
Gus mulai menulis saat duduk di sekolah dasar pada usia 13 tahun. Karyanya yang telah dipublikasikan berupa sajak, cerpen, novelet dan novel. Sajak-sajak awalnya banyak dimuat di majalah Hai (Jakarta), Ruang Kebudayaan koran Singgalang dan Haluan (Padang), sedangkan prosanya berupa cerita pendek dan novelet diterbitkan pada majalah Gadis, Femina, Matra, dan Hai. Cerpen dan sajaknya kemudian dipublikasikan melalui berbagai surat kabar seperti Republika, Kompas, Media Indonesia, The Jakarta Post, Berita Buana, Suara Karya, Pelita, Mutiara, juga majalah Horison, Kalam, Jurnal Puisi dan Ulumul Quran. Beberapa karya Gus telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggeris, Arab, dan Portugis.
Beberapa prosanya telah dibukukan. Novel remaja yang merupakan karya awalnya adalah Segi Empat patah Sisi (Jakarta: Gramedia, 1991), Segitiga Lepas Kaki (Jakarta: Gramedia, 1991), Ben (Jakarta: Gramedia, 1992). Novelnya yang telah dibukukan Tambo (Sebuah Pertemuan) (Jakarta:Grasindo,2000). Antologi cerpennya yang pertama adalah Istana Ketirisan (Jakarta: Balai Pustaka, 1996), sedangkan antologi cerpennya Kemilau Cahaya dan Perempuan Buta (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 1999) meraih hadiah Sastra Lontar 2001 dan kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Inggeris, The Barber and Other Short Stories (Jakarta: The Lontar Foundation). Beberapa cerpennya juga dimuat dalam antologi bersama, di antaranya dalam beberapa nomor cerpen pilihan Kompas. Beberapa noveletnya diterbitkan dalam antologi, Tiga Cinta, Ibu ( Jakarta: Gramedia).
Kekuatan Gus tf Sakai sebagai penulis prosa terlihat sejak dari beberapa novel remaja dan noveletnya dipublikasikan. Karya awal itu memperlihatkan kesungguhan dan nuansa yang berbeda dari kecenderungan umumnya cerita remaja yang melankolis dan cair. Melalui teknik bercerita yang mengalir ia menyusupkan perenungan menuju ke pendalaman makna kisah. Karyanya yang kemudian menarik perhatian pengamat karena kemampuan bahasa, tema yang dipilih serta teknik penceritaannya. Cerpen-cerpennya merupakan perpaduan antara bahasa puitik dengan teknik penceritaan yang terjaga. Bahasanya efektif, padat serta dipenuhi monolog batin. Ceritanya bergerak melintasi wilayah geografis, gender, sosial dan budaya dengan deskripsi yang detil terhadap aspek visual dan batin tokoh-tokohnya. Cerita dibangun dalam alur yang mengalir dan menggugah rasa ingin tahun pembaca.
Sebagian sajaknya dibukukan dalam Sangkar Daging (Jakarta: Grasindo,1997), sedangkan yang lainnya tersebar dalam berbagari antologi bersama yang diterbitkan oleh berbagai lembaga dan organisasi kesenian. Gus merupakan penyair termuda yang karyanya dimuat dalam buku Ketika Kata, Ketika Warna (Jakarta: Yayasan Ananda), sebuah buku yang menghimpun 50 karya penyair Indonesia sejak dari Hamzah Fansuri. Kekuatan sajak Gus tf adalah pada kandungan paradoks dan metaforanya yang efektif dan fungsional. Melalui sajak-sajaknya ia mendeksripsikan paradoks yang dipikirkannya, sehingga sajaknya ibarat medan dialog tentang masalah yang diungkapkannya. Secara persuasif ia mendesak pembaca untuk masuk dan mengalami peristiwa yang ia sajikan dalam sajaknya. Teknik seperti itu mengajak pembaca untuk menyadari dan memberikan kesadaran, bukan pemahaman.
Karya terbarunya, Laba-laba (Jakarta:Gramedia), Daging Akar (Jakarta: Penerbit Buku Kompas) dan Ular Keempat (Jakarta: Penerbit Buku Kompas).


Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: