Sawir St Mudo

15 01 2008

Mencari di mana keberadaan seniman tradisi Minang seperti Sawir Sutan Mudo (65) ternyata susah-susah gampang. Sederet informasi tentang keberadaan Sawir bagai menguap saat lokasi-lokasi yang ditunjukkan itu didatangi.
Hanya keberuntungan yang akhirnya mempertemukan kami. Setelah pencarian hingga tengah malam gagal ’menemukan’ jejak keberadaan Sawir, keesokan harinya—sesaat sebelum meninggalkan Bukittinggi menuju Padang Panjang untuk kembali ke Jakarta—seorang teman dari Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Padang Panjang datang memberi saran.
“Kita coba mampir dulu ke sebuah rumah makan di Pasar Bawah. Menurut kabar terakhir, belakangan ini dia sering tidur di sana,” kata Hanefi, Ketua Jurusan Seni Karawitan pada STSI Padang Panjang.
Dugaan Hanefi benar. Setelah menuruni deretan anak tangga yang cukup banyak (ada sekitar 100 anak tangga) dari Pasar Atas Bukittinggi, Jufri—juga dari STSI Padang Panjang—yang tiba lebih dulu di Pasar Bawah dengan mengendarai mobil, mengabarkan lewat telepon seluler bahwa Sawir memang ada di rumah makan itu.
“Mak Sawir tadi malam tidur di atas meja makan ini,” kata sang pemilik rumah makan ketika kami tiba di sana.
Sejak beberapa bulan terakhir, Mak Sawir—begitu ia biasa disapa—memang jarang pulang ke rumahnya di Kampung Tengah Sawah, Bukittinggi. Malam-malam sehabis bagurau (begitulah masyarakat Minang menyebut jenis pertunjukan Mak Sawir dengan lantunan dendang yang diiringi tiupan saluang) memenuhi panggilan orang yang menggelar hajatan, menjelang subuh ia mengetuk pintu rumah makan dan tidur di sana.
Meja makan yang pada siang hingga menjelang tengah malam biasanya dipakai untuk tempat hidangan dimanfaatkan Sawir sebagai tempat merebahkan diri melepas lelah. Pagi sebelum pelanggan pertama datang, biasanya Sawir sudah menghilang.
Beruntung, pagi itu ia masih ada. Ia sudah berpakaian, bersiap untuk pergi entah ke mana, meski terlihat wajahnya yang lelah tak bisa menyembunyikan kantuk.”Saya pesan kopi pahit saja,” kata Sawir saat ditawari sarapan. “Ada masalah rumah tangga,” ujarnya pendek ketika disinggung mengapa ia tak pulang kepada istrinya, Syakni Deliyarti (52), di Kampung Tengah Sawah, Bukittinggi.
Berguru pada kehidupan
Sawir Sutan Mudo atau biasa dipanggil Mak Sawir dilahirkan tahun 1942 di Nagari Koto Kaciak, Kecamatan Tanjung Raya, Kabupaten Agam, Sumatera Barat. Tak lama setelah kelahirannya, bungsu dari empat bersaudara ini ditinggal pergi ibunya, Siti Saleha. Pada usia enam tahun, ayahnya, M Isa, juga berpulang.
Hidup tanpa kedua orangtua sejak kecil membuat Sawir lebih cepat mandiri. Bahkan pada usia sembilan tahun ia sudah ikut saudaranya merantau ke Palembang dan Lubuk Linggau di Sumatera Selatan.
Di samping berjualan buah-buahan dan pakaian di kaki lima, selama di perantauan itu Sawir terus memperdalam kemampuan berdendang, yang sudah ia pelajari di kampung. Berkat kemampuannya berdendang dengan iringan saluang, juga lantaran kebisaan dia bermain randai, Sawir kerap diundang mengisi acara pesta perkawinan atau pertemuan orang Minang di perantauan.
Alhasil, bagi Sawir—yang cuma mengenyam pendidikan formal hingga kelas IV sekolah rakyat (SR)—masa-masa di perantauan itu bukan saja bagian dari ’aktivitas pendidikan’ informal untuk menempa kematangan diri dalam mengarungi hidup. Kehidupan di rantau juga ia jadikan medium tempat mengasah kemampuan memperdalam seni tradisi leluhur.
Tahun 1968 ia pulang kampung. “Balek ke nagari, kawin (Sawir dua kali menikah, tahun 1968 dan 1972) sekaligus mengembangkan seni budaya tradisi di kampung halaman,” ujarnya.
Kegiatan berdagang di rantau tak ia tinggalkan. Bedanya, kalau selama di rantau Sawir mangkal di satu tempat, sejak pulang ke kampung halaman di tepian Danau Maninjau ia harus bergerak dari satu pekan (pasar di kampung-kampung yang dilangsungkan sekali dalam seminggu) ke pekan lain.
Begitu pun setelah ia memutuskan pindah ke Bukittinggi pada 1970-an, berdagang di kaki lima lalu sesekali pergi ke pekan-pekan tetap merupakan pekerjaan pokoknya. Pakaian-pakaian bekas jadi dagangan utamanya.
Di luar kegiatan rutin tersebut, Sawir terus memperdalam kemampuan berdendang saluang secara otodidak. Pengalaman adalah sekolah terbaiknya, dan alam kehidupanlah tempat ia berguru. “Alam takambang jadi guru,” kata para cerdik cendekia Minang. Begitu pula jalan hidup Mak Sawir dalam berkesenian.
“Berdendang itu harus mengetahui peristiwa-peristiwa pada kehidupan sehari-hari. Itu semua bahan untuk berdendang, untuk menciptakan pantun yang segar tapi berisi. Berpantun itu kan penuh dengan ibarat, penuh nasihat. Karena itu pula berdendang saluang itu lebih sulit daripada memainkan musiknya,” tutur Sawir.
Sejak bermukim di Bukittinggi, nama Sawir Sutan Mudo mulai dikenal luas. Bukan saja permintaan tampil bagurau datang dari banyak orang yang menyelenggarakan hajatan, perusahaan rekaman pun mulai melirik lantunan suara Mak Sawir.
Sejak pertama kali rekaman dalam bentuk kaset dan piringan hitam pada 1972, menurut Sawir, sudah lebih dari 50 album berisi rekaman suaranya beredar di pasar. Bahkan ia pun diminta rekaman dalam bentuk VCD karaoke.
Nama Sawir Sutan Mudo kian menjulang. Tak hanya dikenal luas di tanah Minang, tetapi juga di kalangan para perantau Minang di berbagai kota di Tanah Air. Sesekali ia diundang hadir di kota tertentu untuk memuaskan rindu para perantau pada kampung halaman. Setiap Senin malam Sawir mengisi acara khusus dendang saluang di RRI Bukittinggi. Tahun 1999 bersama kelompok musik Talago Buni pimpinan Eddy Utama, Mak Sawir disertakan berpentas di tujuh kota di Jerman pada Festival Musim Panas.
Kayakah dia? Tidak! Seperti nasib kebanyakan seniman tradisi di Tanah Air, hidup Sawir jauh dari berkecukupan. Dari hasil rekaman suara, Sawir hanya mampu membangun rumah sederhana untuk anak-istri di Kampung Tengah Sawah, Bukittinggi.
Kalaupun ada lebih, pendapatan itu ia gunakan menambal modal usaha yang kerap “bocor” lantaran uang hasil dagang di kaki lima sering terpakai untuk kebutuhan hidup sehari-hari. Malah di saat rumah tangganya bermasalah, Sawir harus menumpang tidur dari satu tempat ke tempat lain.
Bagaimana mungkin bisa kaya kalau honor yang ia dapat hanya Rp 1 juta sekali rekaman kaset dan Rp 3 juta untuk VCD karaoke. Dengan sistem ’kontrak putus’, tak ada royalti yang ia dapat, sekalipun bila kasetnya laku keras. Adapun bila diundang bagurau paling-paling ia terima honor Rp 300.000 sekali pentas.
Akan tetapi, kenyataan ini tidaklah terlalu merisaukan Mak Sawir. Ia justru lebih resah melihat kenyataan akhir-akhir ini banyak lagu dendang saluang yang dirusak oleh lirik-lirik berbau pornografi.
Pantun-pantun dendang yang tertib, penuh kiasan dan nasihat tentang kehidupan, kini mulai digantikan lirik yang semata-mata lebih mengedepankan unsur hiburan. Kearifan tentang filosofi hidup di balik seni tradisi itu pun kian tergerus zaman…. (mhd/ken)Biodata
Nama: Sawir Sutan Mudo
Lahir: Nagari Koto Kaciak, Kecamatan Tanjung Raya, Kabupaten Agam, Sumatera Barat, tahun 1942

Pendidikan: Sampai kelas IV SR
Istri: Syakni Deliyarti (52)
Anak:
– Sumiati
– Syafrial
– Syarfil
– Kurniawati
– Rina Rahmadani dan Rini Ramadani (kembar)
– Fatimah Zahara
– Fajori Rachman

Kompas, Sabtu 5 Januari 2008

SAWIR SUTAN MUDO
Seni Tradisi Dendang Minang
Nama : Sawir Sutan Mudo
Tempat dan Tanggal Lahir: Nagari Koto Kaciak, Tanjung Raya, Kabupaten Agam, Sumatra Barat pada tahun 1942
Pekerjaan: Berdagang dan Berdendang
Pendidikan: Sekolah RakyatAnak: 8 orang
Karya dan Pergalaman Kesenian
Pada Juli 1999 tampil di tujuh kota di Jerman bersama Kelompok Musik Talago Buni
Mengisi Acara Bergurau di RRI Bukittinggi setiap hari Senin.
Pada 1968-1970 lagu Talago Biru dan Suntiang Patah Batikam direkam di piringan hitam dan diedarkan ke tengah masyarakat
Sejak tahun 1972 sampai dengan tahun 2000 sudah lebih 100 rekamannya di pita kaset yang beredar luas dan dikoleksi masyarakat Minang di kampung dan perantauan, juga dikoleksi sejumlah peneliti. Antara lain, Danau Mamukek (1985), Hujan Baribuik (1985), Danau Mamukek (1985), Banda Gantuang (1985), Sarasah Aia Badarun, Katangih Sudah Mimpi, Talempong Anam Koto, Ratok Kaki Limo
Pernah empat kali juara pertama festival saluang dengan dendang, dan juga pernah jadi dosen tamu di Akademi Seni Karawitan Indonesia (sekarang Sekolah Tinggi Seni Indonesia) Padangpanjang.

Prihatin dengan Isi Dendang
Sebagai seorang seniman tradisi di ranah ini, ia menyimpan keprihatinan mendalam akan kondisi kekinian kebudayaan, adat, dan tradisi Minang. Ia menilai, Minang dalam pengertian luas mengalami kemerosotan luar biasa. Kekhawatirannya itu terungkap lewat sampiran penuh peringatan; “Jaan sampai rusak kapa dek nangkhododoh, binaso kayu dek tukang, rusak adat dek pangulu, jalan dialiah dek urang lalu. (Jangan sampai rusak kapal disebabkan oleh nakhoda, hancur kayu karena tukang, rusak adat karena penghulu, jalan digeser orang lewat).
Sebagai seorang pendendang, dia pun resah dengan lagu-lagu dendang yang ada saat ini. Dendang saat ini telah dirusak oleh lirik-lirik yang berbau pornografi yang semata-mata hanya mengedepankan hiburan semata, namun terperangkap dalam selera rendahan. Lagu-lagu dengan judul Kutang Barendo, Rok Baremot dan sejenisnya adalah ekspresi dari makin merosotnya daya cipta seniman Minang saat ini.
Itulah keresahan dari Sawir Sutan Mudo—seorang pendendang, seniman tradisi sejati yang hingga saat ini tetap mencipta dan melantunkan dendang. Sawir—bungsu dari empat bersaudara ini lahir di Nagari Koto Kaciak, Tanjung Raya. Kabupaten Agam pada tahun 1942. Kedua orangtua Sawir adalah petani. Ibunya bernama Siti Saleah dan ayahnya Muhammad Isa. Sawir telah ditinggal kedua orangtuanya sejak ia masih kanak-kanak. Ibunya meninggal dunia tak lama setelah ia lahir. Sedangkan ayahnya berpulang ke rahmatullah saat Sawir berusia enam tahun.
Karena ditinggal kedua orangtua sejak masih kanak-kanak, Sawir harus belajar hidup mandiri. Ia tak sempat meniti jenjang pendidikan formal yang tinggi. Ia hanya bersekolah sampai kelas empat Sekolah Rakyat. Putus dari sekolah, Sawir pergi merantau mengikuti saudara-saudaranya. Padang, Palembang, Lubuk Linggau adalah kota-kota tempat Sawir merantau. Sejak umur 13 tahun Sawir sudah berdagang berbagai macam barang dagangan. Pada tahun 1968 barulah Sawir kembali ke kampung halaman. Pada tahun itu pula ia menikah untuk pertama kalinya. Dari pernikahannya yang pertama ini Sawir memunyai seorang putri bernama Sumiati. Pada tahun 1972 Sawir menikah lagi. Dengan istrinya yang kedua Sawir memunyai tujuh orang anak. Sekarang bersama keluarganya ini, Sawir menetap di Bukittinggi.
Bakat Sawir sebagai pendendang sudah terasah sejak masih kanak-kanak. Ia bergabung dengan grup randai yang ada di kampungnya sebagai penyanyi randai. Sejak itu pula Sawir belajar pada seorang seniman alam bernama Angku Katik; ”Baguru mangko pandai (berguru makanya pandai),” ungkap Sawir tentang proses belajar yang ia lalui.

Berguru pada Alam
Kemampuannya sebagai seniman makin terasah setelah di perantauan. Pada masa itu para perantau Minang di mana pun berada selalu membangun kelompok-kelompok kesenian sebagai wadah bagi anak-anak rantau untuk memupuk bakat seni yang dimiliki. Namun sekarang, kebiasaan ini sudah hampir hilang, orang Minang pun terdesak dan dipaksa menikmati kesenian populer yang membanjir saat ini. Seni tradisi Minang makin lama makin terpinggir, bahkan di pelosok-pelosok nagari pun, kesenian tradisi Minang hampir musnah sama sekali.
Dalam tradisi Minang ada seni yang disebut bagurau. Bagurau dilakukan dengan saluang jo dendang tidak hanya pada acara pernikahan, tetapi juga pada acara sunatan, “Alek Nagari” (acara menghimpun dana untuk pembangunan di kampung), Lebaran, batagak panghulu (pengukuhan gelar adat/kaum) serta pada acara bagurau lamak (dengan kalangan pendengar terbatas, 10-15 orang). Sawir kerap diundang dalam acara-acara demikian
Sejak di perantauan Sawir sudah dikenal sebagai pendendang. Dan ketika kembali ke kampung halaman, kemampunnya berdendang tetap diteruskan. Tak hanya menyanyikan lagu-lagu dendang, Sawir juga mencipta puluhan lagu dendang yang sampai sekarang masih sering dibawakan banyak pendendang. Suntiang Patah Batikam (tahun 1970), Talago Biru (1968), Danau Mamukek (1985), Hujan Baribuik (1985), Danau Mamukek (1985), Banda Gantuang (1985), Sarasah Aia Badarun, Katangih Sudah Mimpi, dan Talempong Anam Koto adalah di antara lagu-lagu dendang ciptaan Sawir. Malereang Tabiang salah satu versi lagunya juga merupakan ciptaannya.
Sekarang, Sawir tetap berdendang bila diundang. Baik ke acara baralek, batagak pangulu, dan tampil di acara-acara yang diundang orang rantau. Sawir juga sering diundang tampil ke berbagai pertunjukan kesenian, baik di Sumatra Barat, ke berbagai daerah di Sumatra, maupun ke Jakarta, Bandung, Yogyakarta dan Surabaya. Tak hanya itu, bersama grup Talago Buni, pada bulan Juli 1999 Sawir pernah tampil di tujuh kota di Jerman. Di samping diundang untuk bernyanyi dan berdendang, Sawir juga diminta sebagai pembicara pada beberapa seminar tentang kesenian dan budaya tradisi.
Waktu tampil di beberapa pertunjukan dan festival internasional itulah, Sawir merasa bahwa karya seni bisa menjadi alat untuk menjalin komunikasi antarbangsa meski tak mengerti bahasanya. Melalui karya seni kita bisa mengenal karakter dan nilai-nilai yang dimiliki oleh beragam bangsa. Dan ternyata, kekayaan seni tradisi yang dimiliki Minangkabau bisa mendapat tempat penting dalam khazanah seni dunia.
Untuk itulah, bagi seorang Sawir, kekayaan seni tradisi Minang harus dipelihara, digali terus menerus dan diwariskan pada generasi berikutnya. Seni tradisi Minang memiliki keluhuran nilai-nilai yang sangat kuat berpijak pada akar kebudayaan Minang yang senantiasa mengedepankan kebaikan, budi pekerti dan kandungan estetika yang amat tinggi. Seni tradisi merupakan media untuk pendidikan adat istiadat, budaya dan agama. Lewat seni tradisi, ketinggian mutu nilai-nilat keminangkabuan tetap terpelihara dan terwariskan.
Sawir tak menolak mentah-mentah kesenian Minang kontemporer yang mencoba berkompromi dengan arus budaya populer. Namun Sawir berharap, jangan terlalu jauh menyimpang. Etika dan prinsip-prinsip adat dan budaya Minang mestinya tetap dijaga. Kalau tidak orang Minang sendiri yang menjaganya, kesenian tradisi Minang akan musnah ditelan zaman yang makin lama makin dikendalikan uang.
Kesenian Minang dalam hal ini dendang, menurut Sawir punya bahasa tersendiri untuk menyampaikan pesan. Dendang tak hanya berisikan kepiluan dan problem batin yang dialami seseorang, masyarakat maupun etnik Minang, tapi dendang juga punya idiom dan bahasa tersendiri yang mengisahkan romantika asmara dan gejolak perasaan yang dialami anak muda. Bahasa dendang amat indah, halus dan penuh dengan irama. Jauh dari kata-kata vulgar, kasar dan nuansa pornografi yang menunjukkan kerendahan. Dendang juga punya ruang untuk mengekspresikan kegembiraan yang biasa disebut bagurau. Dalam bagurau, ekspresi keriangan, kelucuan dan kejenakaan disajikan, namun tetap dengan bahasa yang santun, indah dan berpijak pada estetika yang kuat.
Bagi Sawir, dendang tak ditentukan oleh kemerduan suara sang pendendang, tapi lebih ditentukan oleh pemahaman yang kuat seorang pendendang tentang adat, budaya, agama dan persoalan yang terjadi di tengah masyarakat yang kemudian disampaikan melalui lirik dan irama dendang dengan penuh perasaan dan imajinasi yang amat tinggi. Dendang juga merupakan tangisan seorang pendendang. Dalam konteks ini, seorang pendendang adalah seorang cerdik cendikia atau intelektual yang mencoba mengingatkan masyarakat dan lingkungannya.
Untuk itulah, bagi Sawir seni tradisi harus tetap digali, dikembangkan, dipelahara dan diwariskan pada generasi berikutnya. Adalah omong kosong, slogan baliak ka nagari, adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah terus digaungkan, tapi budaya dan seni tradisi diabaikan. Lembaga dan penanggung jawab kesenian harus membantu, mendorong dan memfasilitasi perkembangan kesenian tradisi. Dengan demikian, badan-badan pemerintah yang bertanggung jawab dalam bidang kesenian dan kebudayaan mesti diisi orang-orang yang memunyai kompetensi yang memadai di bidang ini. Hampir tak bisa diharapkapkan, seni dan budaya tradisi akan berjaya jika tetap dipimpin orang-orang yang salah tempat dan tak memiliki tanggung jawab.
Itulah seorang Sawir Sutan Mudo, seorang maestro dendang yang sampai sekarang tetap berdendang. Di samping berdendang, kesehariannya ia jalani dengan berdagang pakaian seken dari pekan ke pekan di sekitar danau Maninjau. Di setiap Senin malam ia juga mengisi acara dendang di RRI Bukittinggi. Namun berdagang kaki lima pada masa sekarang katanya tak lagi terlalu menguntungkan. Ekonomi masyarakat semakin sulit. Makanya, lewat lagu ciptaannya yang baru, Ratok Kaki Limo, keresahannya itu ia sampaikan.
Bagi Sawir, seni tradisi harus tetap dijaga dan diwarisi. Seni tradisi adalah penopang adat. Jika seni tradisi tetap terpelihara, akan terjaga pula adat dan budaya. Jika seni tradisi rusak, rusak pula adat. Jika adat rusak, hilang pusako dan hancurlah budaya.
Dendang dan Posisi Pedendang
Nada dasar yang dominan dalam saluang dengan dendang adalah ratok, nada-nada yang meratap. Bila pendendang bercerita soal nasib manusia, maka nasib manusia itu disimbolkan pada sesuatu dengan cerdas lewat pantun-pantun. Umumnya pendendang mewakili masyarakat marjinal.
Jadi, dalam kesenian saluang dengan dendang, yang sangat berperan sekali adalah pendendang. Dari hitungan jari sebelah tangan pendendang lelaki yang kini masih eksis, hanya ada seorang pendendang yang punya yang kuat dan terkenal di Sumatra Barat dan luar Sumatra Barat, bahkan di mancanegara, yakni Sawir Sutan Mudo.
Sawir Sutan Mudo mengaku tidak dengan serta merta menjadi terkenal. Penuh lika-liku dan perjuangan. Bermula dari anak randai (pemain teater tradisional Minangkabau) di Kotokaciak, Kabupaten Agam, pada usia 13 tahun. Saat itu, tugas yang diembannya adalah sebagai pendendang.
Tahun 1951, karena tuntutan hidup, ia merantau ke Palembang, Sumatra Selatan. Di rantau, di samping menggalas buah-buahan di kaki lima ia tetap mengembangkan kesenian tradisi. “Saya menyintai kesenian tradisi randai dan saluang jo dendang, karena pantun-pantun atau syair-syair dalam kesenian itu sangat menarik dan mengandung unsur pendidikan. Selain itu saya tertantang untuk membuat pantun-pantun yang bisa membuat penikmat kesenian tradisi itu puas dan terkesan,” kata Sawir.
Sebagai pendendang, Sawir belajar dari pengalaman, belajar dari alam: alam takambang jadi guru. Seorang pendendang, menurut dia, harus kaya bahan, kalau tidak tak akan diterima masyarakat. Dari pantun-pantun itu, ada yang berisi nasihat, perasaan hidup, dan asmara muda-mudi. Saking tersentuhnya perasaan para penikmat seni tradisi itu, sering orang menangis spontan karenanya. Itu salah satu kelebihan Sawir. Ia secara spontan mampu mengembangkan improvisasi dalam pantun. Pada sampiran dari pantun, ia selalu bisa mengolah dari lingkungan tempat ia bermain (orang, tempat),” kata Yusrizal KW, pengamat seni dan Ketua Yayasan Citra Budaya Indonesia, menilai.
Makanya jangan heran, saking cerdasnya pantun-pantun yang dibuat Sawir ini, baris-baris pantunnya sering diambil untuk inspirasi dan judul-judul lagu-lagu pop Minang dewasa ini. Bahkan ratusan pantun yang ia ciptakan kini sudah menjadi dendang-dendang tradisi, seperti antara lain “Suntiang Patah Batikam”, “Banda Guntuang”, “Hujan Baribuik”, “Danau Mamukek”, dan “Talempong Anam Koto”. (Abel Tasman, dan Tim DKSB)


Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: