Kamaluddin Tambiluak

2 02 2008

Sekilas Tokoh Peristiwa Situjuah 15 Januari 1949
Kontroversi Si Sayap Kanan
 
Ia bertubuh pendek dan gempal. Orang Minang menyebut ukuran tubuh seperti itu dengan istilah ’Sabuku”. Kulitnya agak hitam, tapi larinya kencang bagaikan kilat. Karena itu dia dijuluki ”Tambiluak” atau sejenis serangga berwarna hitam kekuningan yang bisa terbang kencang dan hidup pada pohon kelapa atau aren. Sebelum menjadi serdadu pada Bagian Perlengkapan dan Pengangkutan (P&P) Batalyon Singa Harau pimpinan Mayor Makinuddin HS, Kamaludin Tambiluak bekerja sebagai tukang gunting di pangkas rambut Sutan Kerajaan Barbier, yang terletak di Jalan Gajah Mada Payakumbuh.
Layaknya tukang gunting, Kamaluddin Tambiluak memiliki banyak pelanggan. Salah satu pelanggannya adalah Dokter Anas. Menurut cerita HC Israr (penulis sejarah/mantan Anggota DPRD Sumbar), Dokter Anas adalah bekas Kepala Rumah Sakit Payakumbuh. Dia asli pribumi Indonesia, tapi gaya dan pola pikirnya, sangat kebelanda-belandaan. Dialah intelektual yang pernah mempelopori berdirinya negara ”Minangkabau”. Ketika ide negara ”Minangkabau” ini diusungnya, Dokter Anas mendapat dukungan penuh dari Pemerintah Belanda. Bahkan, dia dipersiapkan untuk menjadi calon Kepala Negara. Tapi ide negara ”Minangkabau” itu kemudian ”mati dalam kandungan” menyusul dengan tercapainya persetujuaan antara Indonesia-Belanda di Konferensi Meja Bundar (KMB) tahun 1949. Selepas persetujuan itu, Dokter Anas langsung memboyong istrinya Jus Anas dan dua anaknya, untuk bertolak ke negeri Kincir Angin Belanda. Di sanalah, sang Dokter yang sempat menjadi Manajer Club Horizon, sebuah kesebelasan dari Payakumbuh ini menikmati masa hidupnya hingga tutup usia.

Kesebelasan Horizon sendiri tercatat sebagai klub tangguh dari Payakumbuh yang tergabung dalam Bond Eleftal (Bond Kesebalasan). Kamaluddin Tambiluak merupakan ”Sayap Kanan” paling kesohor dari Horizon. Kamaluddin Tambiluak sendiri, menurut Haji Kahiruddin (anak Wedana Militer Payakumbuh Selatan Makinudddin HS), asli berasal dari Kota ”Serambi Mekkah” Padangpanjang. Bahkan Haji Khairuddin yakin, kalau Kamaluddin memiliki rumah di belakang Bioskop Karya Padangpanjang.  Sepanjang hidupnya, Kamaluddin Tambiluak tercatat pernah menikah satu kali saja, dengan perempuan bernama Nur Cahaya. Dalam pernikahan dengan Nur Cahaya yang asli Payakumbuh, dia dikaruniai seorang anak. Kelak, anak (lagi-lagi belum diketahui namanya) beserta istri Kamaluddin Tambiluak ikut dihabisi nyawanya. 

Pengkhianat atau Pahlawan? Alih-alih soal rumah tangga Kamaluddin Tambiluak dengan Nur Cahaya. Sekarang, saatnya menulusuri keberadaan mantan Intel tentara Sumatera Tengah itu dalam peristiwa Situjuah. Betulkah dia seorang pengkianat, sebagaimana cerita yang beredar dari mulut ke mulut, bahkan sampai dari sekolah ke sekolah?  Atau jangan-jangan Tambiluak cuma seorang pahlawan bangsa yang menjadi korban hukum revolusi?  Dua pertanyaan itu memang seperti mata uang berlainan. Selalu terjadi silang pendapat hebat dan mungkin tidak pernah berkesudahan untuk dijawab. Satu sisi, banyak pejuang dan saksi sejarah dalam Peristiwa Situjuah yang menyebut Tambiluak benarlah seorang pengkhianat bangsa. Bahkan, sebelum insiden berdarah terjadi di Situjuah Batua tepatnya tanggal 13 Januari 1949, seorang anggota Badan Penerangan bernama Syamsul Bahar yang menerima tugas darurat dari komandannya, dilaporkan bertemu dengan Kamaluddin Tambiluak.

Dalam pertemuan itu Kamaluddin mengajak Syamsul Bahar, agar datang dalam rapat penting tanggal 15 Januari 1949. Karena sudah pernah mengenal Tambiluak semasa ikut Kongres BKPRI di Yogyakarta, pada tanggal 14 Januari 1949, Syamsul Bahar ikut berangkat ke Situjuah dan sampai malam hari sekitar pukul 19.00 WIB. Bersama rombongan, dia langsung masuk ke surau milik Mayor Makinuddin HS. Rupanya, dalam surau itu sudah penuh dengan pejuang yang melepas lelah.  Karena kondisi tersebut, Syamsul Bahar pindah ke sebuah bangunan yang merupakan surau usang. Dia bermaksud istirahat sejenak, menjelang ikut rapat. Tak tahunya di halaman surau yang gelap, ada seorang lelaki bermenung diri.  Awalnya, Syamsul Bahar dan kawan-kawanya, tidak menghiraukan lelaki tersebut. Tapi ketika Syamsul Bahar hendak menjemput barangnya yang masih ketinggalan di Surau Makinuddin, dia mencoba mendekati lelaki yang bermenung diri. Ternyata orangnya adalah Kamaluddin Tambiluak. Merasa kaget dengan prilaku Kamaluddin, Syamsul Bahar lalu menanyakan gerangan apa yang membuat Kamaluddin bermenung diri. Tapi, Kamaluddi hanya menjawab dingin:”Ah, tidak ada apa-apa!”. (bersambung)
 
 Perubahan sikap Kamaluddin yang sangat drastis ketika berada di Lurah Kincia, ternyata tidak hanya dirasakan oleh Syamsul Bahar menjelang rapat di Situjuah. Ketika rapat selesai, Tambiluak juga berpirilaku aneh dan ganji. Waktu itu para pejuang baru saja salam-salaman dan bermaksud hendak istirahat di Surau Makinuddin. 
Ketika para pejuang mulai beristirahat, ada seseorang lelaki yang sangat antusias bercerita tentang kemenengan Belanda dan kekalahan Indonesia. Dia bahkan tertawa terbahak-bahak menceritakan itu. Syamsul Bahar yang sedang ”tidur-tidur ayam” kaget bukan kepalang mendengar cerita tersebut. Entah serius, entah berkelakar, yang jelas seumur-umur menjadi pejuang, baru kali itu Syamsul Bahar mendengar ada pemimpin dan tentara yang dengan gembira memuji musuh bernama Belanda.

Maka, timbullah tanda tanya besar di hati Syamsul Bahar. ”Siapa orang yang bercerita itu? Adakah sebuah keseriusan yang ia ucapkan?” Lalu, Syamsul yang tidur beralaskan tikar usang dan berselimut kain sarung sendiri, mengintip orang tersebut. Di balik remangnya lampu cogok (tradisionil), Syamsul bahar melihat dengan jelas wajah orang itu. Ternyata dia adalah Kamaluddin Tambiluak. Waw, mengagetkan sekali!

Setelah Peristiwa Situjuah terjadi, Tambiluak makin berprilaku aneh. Tanda-tanda keanehan Tambiluak itu terlihat ketika ia mencari-mencari Mayor A Thalib yang sedang terluka parah pada bagian paha karena ditembak oleh Belanda (lebih lengkap tentang ini nanti bisa anda baca dalam buku penulis berjudul ”Tambiluak – Secuil Tentang Peristiwa Situjuah” yang akan dilaunching Februari mendatang).

”Menantang Maut” di Padang Mangateh
Sekarang, tinggalkan dulu cerita tentang perubahan sikap dan keanehan Tambiluak, mari melayangkan pikiran pada sebuah peristiwa sejarah tanggal 23 Januari 1949, yang menjadikan Letnan Satu Kamaluddin Tambiluak sebagai aktor penting sekaligus pemeran ”antagonis”.  Ketika itu terjadi pertemuan di daerah bernama Aia Randah, antara Dahlah Ibrahim, dengan Syofyan Ibrahim, dan sejumlah pula sejumlah pejuang bangsa.

Dalam pertemuan, Dahlan Ibrahim mendengarkan laporan tentang peristiwa Situjuah. Dari semua laporan, diperoleh benang merah, bahwa Letnan Satu Kamaluddin Tambiluak memang telah menjadi pengkhianat. Karenanya, dia harus diadili! Ketika rapat sedang dilangsungkan, Kamaluddin berada di Gaduik. Karenanya, untuk mengorek keterangan Tambiluak, peserta rapat sepakat, kalau dia harus dijeput. Sebagai dalih, dikatakan bahwa rapat akan dilanjutkan ke daerah Padang Mangateh, dan Tambiluak diminta kehadirannya. Rupanya, ide peserta rapat ini termakan pula oleh Tambiluak. Bak seekor buruan, dia tidak tahu kalau sudah masuk dalam perangkap. Kemudian ikut berangkat ke Padang Mangateh sekitar pukul 18.30 malam.

Akhirnya, sesampai di Padang Mangateh, sebagian rombongan yang pura-pura datang untuk rapat, langsung masuk ke dalam sebuah rumah. Sedangkan sebagian lain, berjaga-jaga di luar rumah yang konon kabarnya, merupakan bekas tempat tinggal seorang dokter hewan. Dari dalam rumah, Tambiluak akhirnya mulai diinterogasi. Ditanya ini dan itu. Namun dia justru ”dianggap” menjawab dengan bertele-tele. Tak lama kemudian, Tambiluak dipanggil ke luar rumah oleh seseorang. Belum sampai di luar rumah atau baru tiba di pintu. Seorang bernama Tobing, tiba-tiba tak bisa mehanan emosi. Diserangnya Tambiluak dengan golok. Ditebasnya bagian kepala itu hingga tinggal rambut di golok.
Ajaib sekali. Serangan untuk Tambiluak ternyata tidak tepat sasaran. Mungkin rambutnya terlalu tebal, mungkin juga karena dia pakai topi warna hitam. Tapi beberapa pelor yang ditembakkan, juga melenceng. Sehingga Tambiluak bisa melarikan diri dalam kegelapan malam. Dia melompat tebing, melewati sungai kecil. Orang-orang yang ada di Padang Mangateh, berupaya untuk mengejar. Tapi sia-sia. Tambiluak menghilang tanpa jejak. Mereka yang mencari, terpaksa kembali dengan tangan kosong. Tak lama Tambiluak akhirnya benar-benar menghilang tanpa jejak. Kemudian, beredar informasi, dia tewas dibunuh pasukan Panah Beracun yang merupakan bekas anak buahnya sendiri, di kawasan Padang Tarok.
Tambiluak Juga Pahlawan?
Kini, Kamaluddin Tambiluak memang telah tiada. Stigma pengkhianat, melekat pada tubuhnya. Tapi, di balik kematian Tambiluak, sekarang justru muncul berbagai kontraversi. Bahkan, ada yang berani menyebut Tambiluak juga pahlawan. Adalah Haji Khairuddin Makinuddin, putra mantan Wedana Militer Payakumbuh Selatan, yang menilai Tambiluak tidak bisa disebut sebagai pengkhianat di balik peristiwa Situjuah. 

Sebab menurut Haji Khairuddin, beberapa hari menjelang tanggal 15 Januari 1949, pesawat capung alias helikopter milik Belanda, telah berputar-putar di sekitar Lurah Kincia. Kemungkinan besar, awak pesawat tersebut sedang mengawasi kegiatan yang dilakukan warga dan pejuang. (bersambung)
Selain alasan tersebut, Haji Khairuddin menganalisa, bisa jadi Tambiluak dicap sebagai pengkhianat, karena faktor kecumburuan sosial. Alasannya, secara ekonomi Tambiluak memang lebih mapan dari beberapa pejuang. Sebab sebelum Agresi Belanda Kedua, sosok yang pernah menjadi Wakil Kepala Intelijen Sumatera Tengah ini, pernah dipercaya untuk menukar getah dan candu dengan senjata ke Singapura.
Kamaluddin Tambiluak berangkat menaiki kapal lewat ke Sungai Siak. Namun kemudian, getah dan candu yang dibawah Tambiluak tidak jadi bertukar dengan senjata. Karena dia dicegat oleh kapal patroli Belanda yang ada di Sungai Siak. Bisa candu dan getah yang dibawa Tambiluak, tidak dia setorkan seluruhnya atau dijual. Sehingga dia memiliki sisa barang berharga itu sebagai tambahan hidup. Karenanya, tentu saja akan ada pejuang yang mengalami kecemburuan sosial.

Sebelumnya, sejarahwan UNP Mestika Zed juga pernah menyatakan, bahwa Tambiluak bukanlah pengkhianat. Ditegaskan Mestika Zed, tidak ada data kuat yang menunjukkan, bahwa Tambiluak adalah pengkhianat dalam Peristiwa Situjuh Batua 15 Januari 1949. Karena itu hanya sebatas isu yang kemudian sengaja dibesar-besarkan. Untuk mendukung pendapatnya, Mestika dalam tulisan itu memunculkan argumen dengan teori dan logika. Dia menjelaskan, bahwa ketika pagi-pagi Peristiwa Situjuah terjadi, Tambiluak lari mencari Dahlan Jambek (Pimpinan Militer Sumbar paling disegani saat itu, Red).

Akhirnya, terlepas dari berbagai versi di atas, agaknya memang perlu diambil sebuah benang merah, bahwa revolusi memang kerap memakan anak sendiri. Walau begitu bukan berarti pula, revolusi harus disalahkan. Peristiwa Situjuah adalah peristiwa besar untuk tegaknya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Apapun romantika dan kisah di belakangnya, janganlah membuat Peristiwa Situjuah jadi bernilai kecil. (Fajar rillah vesky)

Padang Ekspress


Actions

Information

One response

8 05 2015
Aswir Astaman

Pak Is Sikumbang, apa ada hubungan dengan Taufik Sutan Sikumbang? Sutan Sikumbang meminjamkan saya buku berjudul “Tambiluak”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: