Munir Latief

2 02 2008

Cincin Cinta Anak Saudagar 

Ayahnya seorang saudagar tenun yang terkenal. Pamannya, Wali Kota Padang pertama sejak Indonesia merdeka. Tapi dia tidak pongah, juga tidak suka hura-hura. Paling benci dengan manusia pendendam, selalu hidup sederhana. Ketika menjadi Tentara berpangkat Mayor, fasilitasnya yang cukup justru dimanfaatkan untuk perjuangan bangsa, bukan untuk keluarga! Itulah dia Letnan Kolonel (Anumerta) Munir Latief. Tentara pejuang berdarah Koto Anau Solok dan Silungkang Tanahdatar, yang tewas sebagai Syuhada dalam peristiwa berdarah di Situjuah Batua, Kabupaten Limapuluh Kota, 15 Januari 1949 silam.
Terlahir sekitar tahun 1925 sebagai anak ke 7 dari 14 saudara satu ibu, dan 30 saudara satu ayah di Padang ”Kota Padang Tercinta Kujaga dan Kubela”. Ibunya bernama Hj Siti Dalisah. Kakeknya adalah Tuanku Lareh Silungkang, Dja’ar Sutan Pamuncak. Ayah Munir Latief yang bernama Haji Abdul Latief, pernah menjadi Komisaris sebuah perusahan terkenal milik Belanda, yakni Pabrik Tenun Padang Asli yang memproduksi kain sarung Cap Kopi. Kawan akrab ayahnya sesama Komisaris di perusahan tersebut adalah Haji Turki. Walau agak dekat dengan Belanda, tapi Abdul Latief sangatlah dikagumi rakyat. Apalagi wataknya amatlah dermawan dan suka mewakafkan tanah, termasuk tanah di Simpang Haru dan Pasa Mudiak Padang yang diwakafkan untuk pembangunan masjid. Kelak, sikap derwaman ini juga menurun kepada anaknya Munir Latief.
Pendidikan dan Karier
Kembali pada Letkol (Anumerta) Munir Latief. Dia pernah mengecap pendidikan pada Sekolah Adat dan MULO Padang. Setelah itu melanjutkan ke HBS Jakarta, tapi pendidikannya tidak selesai karena Jepang sudah masuk dan ”menguasai” Indonesia. Lantaran itu, Munir Latief kembali ke Padang sambil memasuki pendidikan calon perwira Gyu Gun angkatan pertama. Menurut pelaku sejarah, saat itu Munir Latief satu angkatan dengan Dahlan Jambek, Ahmad Husen, Ismail Lengah, Dahlan Ibrahim, A Thalib, Sofyan Ibrahim, Syarif Usman, K Datuk Malilik Alam, Nurmatias, dan lainnya. Dalam pendidikan tersebut dia memperoleh pangkat Gyu Syool atau Letnan II.
Setelah Jepang Hengkang, Gyun Gun dibubarkan. Tapi banyak opsirnya tetap aktif dan menyusun kekuatan di Barisan Keamanan Rakyat (BKR) yang tersebar di Sumatera Tengah. BKR ini kemudian berubah menjadi Tentara Keamanan Rakyat (TKR). Pada tanggal 1 Januari 1946 diresmikan TKR Sumatera Barat dan Riau menjadi Divisi III dengan komando Kolonel Dahlan Djambek. Suatu langkah penting yang diambil pada waktu itu adalah mendirikan Sekolah Pendidikan Opsir di Bukittinggi.
Kolonel Ismail Lengah diangkat sebagai Direktur Pendidikan Opsir tersebut. Tetapi kemudian ia dipindahkan ke Komando Sumatera. Kedudukannya sebagai Direktur Pendidikan opsir, digantikan oleh Mayor Munir Latif. Di bawah Pimpinan Munit dilaksanakan pendidikan Angkatan kedua yang diikuti 60 orang Calon Kadet, di antaranya termasuk Jamaris Yunus, Azwar, Anwar Bey, Burhanuddin, Tazwar Akbid, Lukman Madewa dan lainnya. Seusai Pendidikan Opsir angkatan ke-2 ditutup dengan resmi pada tanggal 18 Juni 1947. Mayor Munir Latif akhirnya dipindahkan dan diangkat menjadi Komandan Bataliyon III/Resimen II di Sungai Penuh. Setelah itu, sebagai seorang Tentara ia kembali dimutasi lagi ke Bukittinggi untuk memimpin Pendidikan Divisi IX. Sementara kedudukannya sebagai komandan Bataliyon di Sungai Penuh, digantikan oleh Mayor Sjoeib.
Ode Sebuah Cincin
Meski sudah berpangkat Mayor dan mempunyai cukup fasilitas. Namun Munir Latief tetap sederhana dan menganggap belum waktunya untuk menjalani bahtera rumah tangga. Padahal, keluarganya sudah mendesak, agar Munir Latief segera bekeluarga. Tapi desakan itu selalu ditolak dengan alasan  tugas belum mengizinkan dan perjuangan belum selesai.  Saat Kota Bukittinggi diduduki Belanda, seluruh pejabar militer dan pemerintahan mulai menyingkir ke luar kota. Paman Munir Latief, Mr Abu Bakar juga menyingkir ke Batusangkar. Sejujurnya, Abu Bakar sudah lama betul meminta Munir Latif menikah dengan anaknya Amalaswinta. Namun ide maminang anak mamak itu selalu ditolak Munir Latief. Tapi entah bagaimana kisahnya, ketika permulaan Agresi Belanda ke-2 meledak. Munir Latief justru tidak bisa menolak ide Abu Bakar yang kembali meminta dirinya menikah dengan Amalaswinta. Tiga hari setelah pernikahan yang berlangsung sederhana, dihadiri kerabat dan dan kawan dekat, Munir Latief berangkat ke Kabupaten Limapuluh Kota untuk menemui Gubernur Militer dan Panglima Territorial di Koto Tinggi.
Syahdan menurut cerita, dalam perjalanan tersebut, Munir Latief yang belum sempat berbulan madu, mampir di sebuah warung. Saat itu, dia tahu kalau cincin permata hadiah cinta dari mertuanya saat pernikahan, justru hilang. Akibatnya, Munir Latief kaget bukan kepalang. Dia yakin, cincin itu hilang tidak jauh dari warung tempat ia duduk. Karenanya, meminta seseorang untuk mencari hingga cincin cinta itu ditemukan kembali. Tapi aneh sekali, setelah cincin didapat, Munir Latief justru enggan untuk memakainya kembali. Seperti pernah ditulis wartawan senior Kamardi Rais Datuk Panjang Simulie, Kamardi Rais justru menyuruh seorang pembantunya untuk mengantarkan kembali cincin itu kepada mertuanya yang berada di Sumaniak, Tanahdatar. Menerima cincin dari pembantu Munier Latirf, mertuanya jadi terkejut sekali. Timbul pertanyaan dalam hati, ”Apa arti dibalik semua ini”?  Adakah ini sebuah firasat aneh?
Di Nagari Andaleh, Munir Latief bertemu dengan Komandan Batalyon Singa Harau Kamaruddin Datuk Machudum, serta Kapten Zainuddin Tembak yang merupakan bekas wakilnya semasa sekolah Pendidikan Opsir ada di Bukittinggi. Pada pertemuan itu, kedua pejuang ini menerima undangan rapat penting yang diadakan di Situjuah Batua, 15 Januari 1949. Karenanya, Munir Latief dan Zainudin Tembak, berangkat dari Andaleh dan sampai di surau milik Mayor Makinudin HS, tanggal 14 Januari 1949. Selesai rapat, Syofyan Ibrahim sempat mengajak Munir Latief untuk tidur di tempat lain. Tapi, dia mengaku terlalu lelah dan ingin tidur di surau saja. Cuma apa hendak dikata, subuh harinya takdir berkata lain. Ia gugur ditembak peluru penjajah, bersama sederet para syuhada.

Padang Ekpsress


Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: