Zainuddin

2 02 2008
Sekilas Tokoh Peristiwa Situjuah 15 Januari 1949 

Kapten Zainuddin, Penembak Jitu Berdisiplin

 
Dia adalah tipe pejuang berkemauan keras, pantang menyerah, dan sangat menjunjung tinggi disipilin. Baginya, setiap tentara harus bisa berbuat apa saja. Kalau tidak, jangan menjadi abdi negara! Prinsip itulah yang membuat sosok dengan panggilan populer Kapten Zainuddin ”Tembak” ini, jadi disegani pasukannya di Batalyon Singa Harau. Baginya tidak ada kata menyerah sebelum dicoba. Sekali layar terkembang, pantang surut biduk kembali. Sekali senapang dikokang, pantang untuk terbuang, kecuali bersarang di tubuh penjajah. Meski demikian, sebagai manusia ciptaan Tuhan, Zainuddin juga memiliki sedikit sifat yang susah untuk dikendalikan, apalagi kalau bukan pemarah dan tempramen. Buktinya, gelar ”Kapten Tembak” yang dijuluki kepada Zainuddin, tercipta karena dia memang gampang main tembak. Dia tidak senang kalau ada anak buahnya yang tidak berdisplin, apalagi melanggar jati diri prajurit sejati.

Kapten Zainuddin sendiri menurut beberapa keterangan lahir di kawasan Lubuak Bagaluang, Kota Padang, sekitar tahun 1924 dari perempuan yang biasa dipanggil Mak Inen. Sedangkan ayahnya bernama Bachtiar, seorang pejabat pada Kantor Gemente Pemerintah Belanda di Padang. Lalu beberapa tahun terakhir, juga diperoleh informasi kalau Zainnuddin Tembak memiliki seorang putra yang sempat menjadi petinggi TNI, dia adalah almarhum Mayjend Ismed Yuzairi. Sebagai anak seorang Amtenar, Kapten Zainuddin bersekolah di HIS. Setelah itu dia melanjutkan ke MULO. Bagaimana aktivitas Zainuddin selanjutnya, tidak banyak referensi maupun sakasi sejarah tentan hal tersebut. Pada tahun 1943 para pemimpin di Sumbar mendirikan Tentara Rakyat yang dinamai Gyu Gun. Tentara Rakyat ini sama dengan Pembela Tanah Air (PETA) di Pulau Jawa. Pemuda Zainuddin dengan penuh semangat masuk Gyu Gun. Di sana dia menyelesaikan pendidikan dengan memperoleh gelar ”Minerai Sikang” alias Calon Perwira.

Waktu Kemerdekaan

Ketika Republik Indonesia sudah merdeka, Zainuddin bergabung dalam Tentara Keamanan Rakyat (TKR). Dia memperoleh tugas sebagai Wakil Komandan Perlengkapan dan Pengangkutan dengan Pangkat Kapten. Komandannya ketika itu adalah Mayor Sofyan Ibrahim. Kemudian, pada bulan Januari 1946, menurut HC Israr, Divisi III TKR di bawah komando Kolonel Dahlan Jambek, untuk pertama kalinya memanggil dan memberikan kesempatan kepada para pemuda untuk dididik menjadi Calon Opsir.  Sekolah Pendidikan Opsir angkatan pertama ini dipimpin oleh Letkol Ismail Lengah. Pendidikannya berlangsung selama sembilan bulan dan sangat keras. Selesai pendidikan, hanya 84 orang yang dinyatakan lulus sampai selesai. Kemudian, pada bulan Juli 1946 Letkol Ismail Lengah diangkat menjadi Kepala Seksi Persenjataan Markas Umum Komandemen Sumatera. Sebagai pengganti Pimpinan Sekolah Pendidikan Opsir, diangkatlah Mayor Munir Latif. Kemudian untuk wakilnya sekaligus merangkap Kepala Pelatih, ditunjuk Kapten Zainuddin Tembak.

Saat Agresi II Belanda

Ketika Agresi II Belanda ”meledak” di Indonesia, Markas Batalyon III/Singa Harau terpaksa dipindahkan dari Talawi. Kapten Zainuddin yang tergabung dalam Batalyon tersebut, langsung melakukan konsolidasi dengan pasukan, tentu saja bersama Letnan Kolonen Ahmad Husein. Ketika konsolidasi dilangsungkan, Nagari Talawi sudah dipenuhi pula oleh keluarga tentara dan para pengungsi. Sehingga berbagai kesulitan logistik dan kebutuhan pokok sehari-hari mulai terasa. Akibat sulitnya mendapat perbekalan, banyak anggota pasukan yang tidak memegang senjata, disuruh untuk pulang ke kampung masing-masing beserta keluarga mereka. Kebetulan, kebanyakan anggota Bataliyon Singa Harau berasal dari Kabupaten 50 Kota.

Saat disuruh pulang tersebut, beredar pula isu bahwa mereka harus meninggalkan senjata, lalu siap-siap untuk cuti. Mungkin karena merebaknya isu tersebut, Letnan Satu Bainal Datuk Paduko Malano, mengajak kawan-kawannya untuk segera berangkat ke Payakumbuh awal Januari 1949. Dengan keyakinan, mereka tidak akan susah dalam mendapatkan perbekalan di daerah tersebut ataupun di Kabupaten Limapuluh Kota . Kedatangan pasukan Singa Harau yang terdiri dari Letnan Satu Bainal Datuk Paduko Malano CS, disusul pula oleh Opsir Muda Azwar yang merupakan Komandan Kompi Markas, yang tiba di Pakan Raba’a Gaduik pada tanggal  8 Januari 1949. Lalu besok harinya, tiba pula Komandan Bataliyon singa Harau Kapten Zainuddin Tembak. Mereka bermaksud hendak menjemput kembali pasukan pasukan Singa Harau yang pergi tanpa sepengetahuan komandan/Zainuddin mengecam keras tindakan tersebut dan menganggap sebagai sebuat pelanggaran disiplin militer. Karenanya, Zainuddin melaporkan kepada Komandan Sub Territorial Sumatera yang berkedudukan di Koto Tinggi.

Bertemu Dengan Munir Latief

Tidak lama setelah peristiwa di atas, Kapten Zainuddin Tembak bertemu dengan Mayor Munir Latief di nagari Andaleh (sekarang masuk dalam Kecamatan Luak, dulu tercatat sebagai wilayah Kewedanaan Militer Payakumbuh Selatan). Dalam pertemuan tersebut, kedua perwira ini menerima undangan rapat penting di Lurah Kincia Situjuah Batua, pada tanggal 15 Februari 1949. Karenanya, sehari sebelum rapat, Zainuddin Tembak dan Munir Latief sama-sama berangkat. Namun sebelum sampai di Situjuah Batua, mereka bermaksud akan menemui opsir muda Azwar yang sedang berada di Limbukan. Tapi kebetulan Azwar sedang pergi ke Koto Nan Ampek menemui Kapten Nurmatis, dan baru akan kembali esok harinya. Karena batal menemui Azwar Tontong, Kapten Zainuddin dan Mayor Munir Latif meneruskan perjalanan ke Situjuah Batua. Sore harinya, mereka berdua sampai di lokasi rapat. Malam hari langsung ikut berdiskusi. Tapi belum sampai Matahari esok terbit, penjajah Belanda telah duluan memberondongkan senjata. Apalah daya, Zainuddin tembak ikut menjadi syuhada. (bersambung)

 


Actions

Information

2 responses

6 02 2011
T Bustamam

Sanak Is Yth.

Saya tidak banyak tahu tentang “Batalyon TNI Singa Harau”, tapi menurut hemat saya pasukan tsb memang banyak anggota2nya berasal dari 50 Kota / Payakumbuh dan bermarkas di Payakumbuh. Sedangkan, menurut tulisan Sanak di atas pasukan Singau Harau, baru pulang kampung beberapa hari sesudah Agresi II, yakni pada awal Januari 1949.

Pada pawai Hari Buruh tanggal 1 Mei 1948 di Payakumbuh, “Batalyon TNI Singa Harau” ikut berpawai, foto-foto dari peristiwa tsb. silakan klik : http://www.minangforum.com/Thread-Foto-Foto-Tempo-Doeloe-BATALYON-TNI-“SINGA-HARAU”-1948.

Beberapa hari sesudah pawai Foto-foto tsb dikirimkan oleh salah seorang anggota pasukan tsb ke temannya di London, UK. Apakah pada periode antara Mei 1948 dan Desember 1948 markas pasukan tsb dipindahkan ke Talawi ?.

7 02 2011
Is Sikumbang

Mamak Bustamam, tulisanko ambo dulu dari padang ekspres, jadi bukan tulisan ambo, di cubo batanyo beko mak.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: