Syamsul Bahri

14 02 2008

Sekilas Tokoh Peristiwa Situjuah 15 Januari 1949 

Orang Muda yang Menyabung Nyawa
Berpuluh tahun lalu, Proklamator RI Bung Karno pernah mengatakan, ”Berikan kepadaku sepuluh pemuda, maka akan kugoncangkan Indonesia”. Pernyataan founding fauther ini jelas memiliki makna, betapa besar peranan anak muda dalam sebuah bangsa. Bahkan, tidak sedikit revolusi di dunia, justru diprakasai oleh orang-orang berusia muda.
Dalam tragedi berdarah mempertahankan merah putih dari gencarnya Agresi Belanda II di Lurah Kincia Situjuah Batua, 15 Januari 1949 lalu, juga ada seorang pejuang berusia muda belia yang gugur di terjang peluru penjajah. Namanya adalah Syamsul Bahri. Pangkat terakhirnya Letnan Dua. Dia lahir di Nagari Ampang Gadang, Kecamatan Guguk, Kabupaten Limapuluh Kota, sekitar tahun 1928. Tahun di mana semangat pemuda Indonesia sedang bergelora sebagai satu bangsa, tanah, pun bahasa!

Masa kecil Syamsul Bahri, sedikit susah dilacak sejarah. Tapi ayahnya diketahui bernama Zainal Abidin Datuk Rajo Ali, seorang pemuka rakyat berjiwa sosial, disegani, dan sering berbuat untuk pembangunan nagari. Semasa tambang emas di Manggani masih jaya, Zainil Abidin Datuk Rajo Ali pernah bekerja sebagai annamer dan leverransir, sekitar tahun 1911 sampai 1930. Sedangkan ibu Syamsul Bahri bernama Zubaidah, perempuan sholehah yang sederhana. Dalam keluarga, Syamsul Bahri diketahui merupakan anak ketiga dari enam bersaudara seayah. Saudaranya yang lain adalah Letnan Damanhhuri ZA, serta Anwar ZA yang merupakan bekas Sekda Limapuluh Kota dan Sekwilda Pasaman. Pendidikan Syamsul Bahri kecil, dimulai dari Sekolah Desa di Padang Japang dan Sekolah Gubernemen di Dangung-dangung. Sayang, kapan tahunnya belum bisa diketahui dengan pasti.

Pernah ke ”Neraka Dalam Rimba”
Semasa Jepang berkuasa di Ranah Minang, Syamsul Bahri Bahri pernah dikirim untuk bekerja paksa ke daerah Logas yang disebut wartawan senior Marthias Duski Pandoe dalam tulisannya di Padang Ekspres, sebagai ”Neraka Dalam Rimba”. Selaku orang yang dipercaya menjadi kepala rombongan ke Logas, Syamsul Bahri ketika itu benar-benar merasakan betapa kejamnya militer Jepang. Betapa pahitnya hidup sebagai bangsa terjajah. Di Logas,  ia melihat korban-korban berjatuhan akibat kelaparan dan kerja paksa. Banyak yang mati karena kerja sangat berat, sedangkan makanan tidak ada. Bahkan, ada di antara pekerja yang tubuhnya tinggal kulit pembungkus tulang, tapi tetap dipaksa mengangkat sekarung semen, memikul balok, dan benda berat lain. Atas kondisi tersebut, hati kecil Syamsul Bahri berontak. Dia tidak mau pasrah begitu saja kepada pemerintah Jepang serta Mandor yang sering menghardik-hardik. Dengan kecerdasan dan sikap, akhirnya dia bisa keluar dari pedihnya penyiksaan ”Neraka Dalam Rimba” bersama rombongan yang ia pimpin.

Masuk Batalyon Singa Harau
Ketika Indonesia mulai menghirup udara kemerdekaan sekitar tahun 1946, Syamsul Bahri masuk menjadi Tentara Keamanan Rakyat (TKR) di Payakumbuh. Dia bekerja sebagai staf Keuangan bagian perlengkapan dan Pengangkutan (P&P) Batalyon Singa Harau bersama Junahar, dengan pangkat Sersan Mayor. Semasa itu, Bagian P&P yang terletak di bekas gedung gudang garam kampung Cina Payakumbuh, langsung dipimpin oleh Komandan Batalyon Singa Harau, Mayor Makinudin HS. Menurut cerita Makinudin HS pada anaknya Haji Khairuddin, sekitar bulan Juli 1944, Serma Syamsul Bahri dan Serma Junahar ikut pindah tugas ke bagian Perlengkapan dan Pengangkutan Divisi III Bukitttingi.

Bagian yang memiliki kantor di lantai dua Toko Tokra Jalan Kampung Cina ini juga dipimpin masih Makinudin HS. Sedangkan Bagian Perlengkapan dikepalai oleh Kapten Amiruddin Kr, sementara untuk Bagian Pengangkutan dikepalai oleh Letnan Satu  Kamaluddin ”Tambiluak”, tokoh kontroversi dalam peristiwa Situjuah. Ketika Bukittinggi dibumihanguskan, pada Desember 1948, Syamsul Bahri ikut menyingkir ke Payakumbuh, kemudian terus ke VII Koto Talago. Lalu, pada tanggal 12 Januari 1949, ia ikut berangkat bersama rombongan Dahlan Ibrahim dari Koto Kociak menuju Situjuah Batua. Terakhir, pada tanggal 15 Januari 1949, dia menghadap Sang Khalik. Anak muda itu pergi untuk selamanya. Walau belum berbuat banyak, setidaknya, Syamsul Bahri telah menjadi icon betapa anak muda, juga memiliki peranan saat Republik ini digempur Agresi II Belanda. Hidup anak muda! (Fajar Rillah Vesky
 

Padang Ekspress


Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: