Adnan Kapau Gani (Dr.)

20 02 2008

Dr. A.K. Gani Bintang Film
Oleh H. ROSIHAN ANWAR
PENDIDIKAN kedokteran di Salemba No. 6 Jakarta di zaman Hindia Belanda telah menghasilkan dokter yang kemudian ternyata punya aneka ragam bakat dan kemampuan.
Di seminar Ikatan Alumni Universitas Indonesia Fakultas Kedokteran 22 Mei 2007, saya kemukakan sebagai contoh dr. Adnan Kapau Gani (1905-1968). Ketika Gubernur Jenderal De Jonge (1931-36) telah mengasingkan Bung Karno ke Ende, Flores, dan Bung Hatta, Bung Sjahrir ke Boven Digul, ketika kaum nasionalis nonkoperator tidak berkutik dibuatnya, dan nasionalis koperator seperti M.H. Thamrin, Soetardjo, Soekardjo Wirjopranoto di Dewan Rakyat (Volksraad) masih mengangkat suara, dr. Gani memilih masuk Gerindo (Gerakan Rakyat Indonesia) yang sifatnya left-of-center bersama Mr. Amir Syarifuddin, Mr. Muhammad Yamin dan dari generasi lebih muda Adam Malik. Gani melihat bagaimana Belanda kolonial melecehkan tuntutan Indonesia berparlemen dan tidak memperlakukan secara sungguh-sungguh Petisi Soetardjo tahun 1936 di Volksraad untuk melaksanakan hak penentuan nasib sendiri dan dalam masa 10 tahun mengadakan konferensi antara Hindia dan Kerajaan Belanda.
Tersumbat di bidang politik, Gani mencari outlet atau jalan keluar untuk menyalurkan energi dan dinamikanya. Dia menjadi bintang film memegang peran utama dalam film yang disutradarai oleh wartawan Raden Arifin berjudul “Asmara Moerni” pada tahun 1941. Dia berpasangan dengan aktris Djoewariah. Akibat jadi bintang film itu, Gani dikritik dari segala penjuru. Masa iya seorang tokoh pergerakan nasional, dokter, dan intelektual mau terjun ke dunia sandiwara, dunia wayang Stambul? Itu tidak pantas, kata pengritiknya. Akan tetapi, Gani cuek saja. Baliho yang dipasang di bioskop Kramat, Batavia memperlihatkan close-up Gani dan Djoewariah. Gani dengan rambut keriting, disisir belah tengah, hidung mancung memang “cakep” alias handsome. Petualangan pertama menjadi bintang film ternyata adalah yang terakhir.
Namun di bidang lain, setelah proklamasi kemerdekaan, dr. A.K. Gani yang berpraktik di Palembang tampil sebagai gubernur militer Sumatra Selatan. Tentara membutuhkan senjata dan amunisi, tekstil, dan lain-lain. Gani lalu melakukan perdagangan barter dengan Singapura. Karet, kopi, dan produk lain diselundupkannya keluar. Ketika Kolonel Simbolon dari Palembang bersama perwira lain datang di Jakarta awal 1946, saya lihat mereka berpakaian seragam terbuat dari bahan wol inggris, berbeda dengan pakaian tentara di Yogya yang mengalami krisis tekstil. Dokter Gani dengan bangga berkata kepada koresponden luar negeri bahwa dia adalah The greatest smuggler of Southeast Asia, penyelundup terbesar dari Asia Tenggara.
Dokter Gani jadi anggota delegasi dalam perundingan dengan Belanda di Linggajati (1946) dan ketika Belanda melancarkan aksi militer pertama 21 Juli 1947, utusan Belanda yang datang memberitahukan ke rumah Perdana Menteri RI di Pegangsaan Timur 56 diterima oleh Menteri Perekonomian dr. A.K. Gani. Ia sungguh seorang colourful doctor. Praktik dokternya di Palembang ramai. Pasien-pasiennya suka minta injeksi spesial kepadanya agar lekas sembuh, dikenal sebagai “suntikan maut”.
Dokter Abdul Halim
Dokter lain yang juga colourful adalah dr. Abdul Halim (1911-1987). Dokter spesialis THT ini tahu-tahu –lantaran situasi– masuk gelanggang politik dan menjadi anggota Badan Pekerja KNIP (Komite Nasional Indonesia Pusat). Saya melihat dia beraksi melobi para anggota KNIP yang bersidang di Jakarta, di gedung sekolah PKSD I sekarang, Jalan Diponegoro tanggal 25 November 1945. Waktu itu mantan menteri dalam kabinet Soekarno yang digeser oleh kabinet Sjahrir tanggal 14 November 1945 menyerang pimpinan sidang karena mereka menolak kebijakan Presiden Soekarno yang setuju dengan usul Badan Pekerja KNIP untuk membentuk kabinet parlementer yang bertanggung jawab kepada KNIP. Berkat lobi yang dilakukan oleh dr. Halim bersama Soebadio Sastrosatomo dan Supeno, akhirnya kabinet Sjahrir mendapat kepercayaan KNIP.
Halim kemudian menjadi trouble shooter PM Sjahrir, artinya bila ada masalah, maka Halim harus mengatasinya. Dia diangkat sebagai Komisaris RI untuk Kota Jakarta dengan tugas antara lain mempertahankan nilai Oeang Repoeblik Indonesia (ORI) di Jakarta yang praktis telah dikuasai oleh NICA-Belanda. Dia pergi ke Singapura tanpa paspor dalam pesawat terbang dari Bukit Tinggi yang ternyata membawa candu untuk dijual karena RI membutuhkan devisa untuk membeli senjata, obat-obatan, dan membiayai perwakilan Indonesia di luar negeri.
Setelah Konferensi Meja Bundar (KMB) di Den Haag selesai, lalu terbentuk RIS atau Republik Indonesia Serikat, RI menjadi negara bagian (deelstaat) dengan Presiden Mr. Assaat dan Perdana Menteri dr. A. Halim berkedudukan di Yogyakarta. RIS bubar Agustus 1950, kabinet Natsir naik dan Halim menjabat sebagai Menteri Pertahanan selama kurang satu tahun. Kabinet Natsir digantikan oleh kabinet dr. Sukiman. Halim mengundurkan diri dari dunia politik, kembali ke jalur profesinya. Ia pernah menjadi Direktur Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo. Dia kembali ke hobinya sepak bola dan di hari tuanya bulu tangkis. Kendati sudah pakai kereta roda, dia masih getol pergi melihat bintang badminton Verawati Fajrin berlatih.
Dokter A. Halim pejuang kemerdekaan, idealis, produk pendidikan kedokteran Salemba No. 6 Jakarta yang kini nyaris tidak diingat orang lagi.***
Penulis, wartawan senior
http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/2007/062007/04/0902.htm


Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: