LUKMAN HARUN

17 04 2008

Pulang umrah dari Tanah Suci, Mei 1984, Lukman Harun membawa cerita murung. Dari informasi masyarakat Indonesia (mahasiswa, sopir, pembantu rumah tangga) di Arab Saudi, bekas Sekjen Partai Muslimin Indonesia itu berkesimpulan, 80% tenaga kerja wanita Indonesia di sana diperlakukan tidak semena-mena. Lukman lalu mengimbau agar pengiriman TKW ke luar negeri dihentikan.

Inilah yang diramaikan oleh pers Indonesia. Menteri Tenaga Kerja Sudomo, yang langsung menanggapi, menuding Lukman membuat pernyataan tidak bertanggung jawab — sambil mempertanyakan apakah pernyataan itu memiliki motif politik tertentu. Juru bicara Pimpinan Pusat Muhammadiyah itu membantah. ”Hanya untuk menarik perhatian, dengan maksud kemanusiaan,” kata Lukman, yang pada 1971 berhenti sebagai anggota DPRGR/MPRS karena di- recall.

Anak Desa Limbanang, Suliki, Sumatera Barat, ini memang liat. ”Tiap hari saya jalan kaki 12 km,” katanya mengenang masa sekolahnya. Sorenya ia masih belajar di madrasah, malam mengaji Quran — sambil tetap membantu ayahnya bertani. Nilai untuk pelajaran kegemarannya — sejarah, tata niaga, dan ilmu bumi — paling bagus. Mengaku senang berorganisasi sejak muda, Lukman acap diajak oleh seorang abangnya ke sejumlah pertemuan Muhammadiyah. Maka, ketika ia merantau ke Jakarta, 1951, SMA Muhammadiyah pula yang dimasukinya.Sarjana ekonomi lulusan Universitas Nasional ini sudah menjadi dosen di alma mater-nya, ketika G-30-S/PKI pecah, 1965. Lukman langsung mendirikan Kesatuan Aksi Pengganyangan G-30-S/PKI, yang kemudian bernama Front Pancasila. Menurut dia, pengganyangan Orde Lama sudah dimulai pada 2 Oktober 1965. ”Perjuangan Angkatan ཾ tak bisa dipisahkan dari aksi dan kegiatan yang dilakukan pemuda, pelajar, mahasiswa, dan masyarakat sejak 2 Oktober itu,” ujar Lukman, bekas pimpinan Parmusi yang dijatuhkan lewat ”kup” oleh John Naro dan kawan-kawan.

Sejak di-recall dari keanggotaan DPRGR/MPRS, ia tidak lagi aktif masuk kantor di Direktorat Agraria Departemen Dalam Negeri. ”Alasan psikologis,” katanya — padahal belum dipecat. Sambil aktif di organisasi, bekas pemimpin umum/redaksi majalah Pedoman Masyarakat ini juga membuka usaha konsultan ”bersifat pribadi” di rumahnya. Konon, modalnya ”hanya kepercayaan”.

Sekjen Asian Conference on Religion and Peace (ACRP) itu sudah mengunjungi 50 negeri. Ia pernah bertemu dengan Yasser Arafat (PLO), dan bersafari di Kenya. Ia juga aktif dalam berbagai panitia yang menghimpunkan dan mengirimkan bantuan kepada perjuangan Islam di Afghanistan, Libanon, dan Palestina.

Tidak merokok, ayah empat anak ini melakukan jogging tiga kali seminggu
LUKMAN HARUN

Lahir :
Limapuluh Kota, Sumatera Barat, 6 Mei 1934

Agama :
Islam

Pendidikan :
-SR, Limbanang & Sukili (1947)
-SMP, Payakumbuh (1951)
-SMA Muhammadiyah, Jakarta (1954)
-Fakultas Sosial Ekonomi dan Politik Universitas Nasional, Jakarta (1962)

Karir :
-Pegawai di Kantor Pusat Perbendaharaan Negara Departemen Keuangan (1952-1954)
-Pengatur Tata Usaha di Pusat Jawatan Pertanian Rakyat Departemen Pertanian (1954-1959)
-Penata Agraria di Direktorat Jenderal Agraria Departemen Dalam Negeri (1959)
-Anggota DPR GR/MPR GR
-Redaktur majalah Mercu Suar (1965-1967)
-Pemimpin Umum/Pemred Majalah Penyuluh Landreform (1967-1969)
-Ketua Hubungan Luar Negeri/Juru Bicara Muhammadiyah (sekarang)
-Konsultan Pribadi

Kegiatan Lain :
-Ketua Komite Solidaritas Islam (sejak 1967)
-Anggota Pimpinan Pusat Muhammadiyah (sejak 1973)
-Penasihat Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI) Jakarta
-Ketua Komite Setiakawan Rakyat Indonesia — Afghanistan (sejak 1979)
-Wakil Sekjen ACRP (sejak 1981) Alamat rumah: Jalan Sukabumi 11, Jakarta Pusat Telp: 347696

Alamat Kantor :
PP Muhammadiyah, Jalan Menteng Raya 62, Jakarta Pusat Telp: 331363

Wawancara Lukman Harun:
“Saya Tidak Menghantam Amien Rais”
________________________________________
Amien Rais akan digusur dari Muhammadiyah? Itulah pertanyaan ramai setelah Ketua Pengurus Pusat Muhammadiyah itu melepaskan jabatannya sebagai Ketua Dewan Pakar Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia (ICMI) belum lama ini. Amien mengakui, berbagai kritiknya ke alamat pemerintah dalam hal tambang emas Busang dan penyebab kerusuhan sosial, sebagai faktor yang dianggapnya “bergesekan” dengan pemerintah. Tapi benarkah Amien Rais juga akan digoyang-goyang dari Muhammadiyah?
Adalah Lukman Harun, senior Muhammadiyah itu, yang menyiratkan bahwa Amien Rais membawa Muhammadiyah sebagai kendaraan politik. Di Media Indonesia Minggu (edisi 2 Maret 1997), Amien mengatakan,”Lukman Harun memberikan pernyataan seolah-olah saya menjadikan Muhammadiyah sebagai kendaraan politik.”
Muhammadiyah yang telah berusia 46 tahun dan memiliki 25 juta anggota itu, kata Lukman, koordinator Bidang Sosial Ekonomi PP Muhammadiyah, membutuhkan kritik-kritik yang lebih sejuk. Bekas juru bicara Muhammadiyah ini menyebutkan bahwa Muhammadiyah itu punya cara sendiri dalam melakukan kritik. Kata Ketua Komite Solidaritas Islam ini,”Seharusnya dirapatkan dulu, dipilah-pilah dulu, kalau perlu ketemu dengan menteri atau presiden,” katanya.
Karena menurut lelaki 63 tahun yang sudah aktif di Muhammadiyah sejak tahun 1973 ini, kondisi sekarang sangat menguntungkan umat Muhammadiyah. Presiden Soeharto itu orang Muhammadiyah, Panglima ABRI Feisal Tandjung juga dari Muhammadiyah, katanya.
Berikut wawancara telepon Edy Budiyarso dari TEMPO Interaktif dengan Lukman Harun, Rabu 5 Maret lalu:
________________________________________
Hubungan Anda dengan Amien Rais terlihat kurang mesra. Ada apa sebenarnya antara Anda dengan Amien Rais?
Biasa-biasa saja. Tidak ada masalah karena saya dan Amien Rais sama-sama orang Muhammadiyah. Saya hanya beda pendapat dengannya. Dan beda pendapat itu ‘kan boleh-boleh saja.
Bagaimana dengan isu yang mengatakan akan ada pendongkelan Amien Rais dari kedudukannya sebagai Ketua PP Muhammadiyah?
Saya tidak tahu itu. Saya sendiri tahu dari wartawan.
Selama kepemimpinan Amien Rais, menurut peniliaan apakah ada yang istimewa dalam organisasi apakah Muhammadiyah?
Ya, Muhammadiyah berjalan seperti biasa dari pusat sampai ke cabang. Muhammadiyah itu gerakan dakwah. Kalau gerakan dakwah itu ‘kan untuk Islam, seperti memanggil orang yang baik. Menyampaikan pesan-pesan yang baik yang sejuk, agar semua orang happy.
Bukankah yang dilakukan Amien Rais semata dalam rangka menegakan amar ma’ruf nahi munkar?
Amar ma’ruf nahi munkar itu tidak bisa dibaca begitu saja. Ada kelanjutannya yaitu harus ada hikmah dan bijaksana. Jangan sepotong-potong ada kelanjutannya lagi. Caranya harus penuh hikmah dan bijaksana. Cara itu yang penting bagi Muhammadiyah.
Bukankah Amien Rais memang sudah dikenal kritis termasuk sebelum memimpin Muhammadiyah?
Kritis boleh kritis, tetapi dalam Muhammadiyah itu ada tata kramanya. ‘Kan dia kadang-kadang kurang memperhatikan tata krama. Dirapatkan dulu, dipilah-pilah dulu, kalau perlu ketemu dengan presiden dan menteri-menteri. Sebab Muhammadiyah ‘kan bukan partai politik, Muhammadiyah bukan gerakan politik.
Sikap kritis Amien Rais bukankah mendapat dukungan dari kalangan Muhammadiyah sendiri?
Anda tahu dari mana. Di dalam Muhammadiyah tentunya ada yang setuju dan ada yang tidak setuju dengan sikap dia. Pada tahun 1993, Amien Rais mengusulkan suksesi kepemimpinan nasional, tetapi ditolak pada Tanwir (kongres) Muhammadiyah di Surabaya. Di Banjarmasin bulan Desember 1996 lalu, Amien Rais juga mengusulkan untuk membicarakan kriteria wakil presiden. Tanwir tidak menerima, Tanwir dan warga Muhammadiyah malah mengusulkan supaya tidak membicarakan masalah politik. Karena akan menyusahkan, lebih baik kembali saja kepada gerakan dakwah.
Kalau dikatakan Muhammadiyah tidak boleh berpolitik. Bukankah Anda juga berada di lembaga politik Golkar?
Ya, dan saya berbicara atas nama Golkar. Bukan atas nama Muhammadiyah. Kalau bicara atas nama Muhammadiyah ‘kan lain caranya, tidak pake politik. Apalagi menurut saya sekarang ini, di mana-mana situasinya sangat menguntungkan umat Islam dan menguntungkan Muhammadiyah. Bukankah Pak Harto Muhammadiyah, Pangab Feisal Tandjung Muhammadiyah, kenapa tidak disampaikan baik-baik saja sama mereka kalau ada masalah.
Baik seperti apa?
Temuinya saja langsung. Bicarakan soalnya ini ada masalah jalan keluarnya bagaimana, begitu saja. Itu cara berpolitik Muhammadiyah. Kalau cara politik partai lain lagi, cara politik LSM lain lagi. Kalau Muhammadiyah penuh hikmah dan kebijaksanaan amar ma’ruf nahi mungkarnya.
Kalau cara yang baik juga tidak ditanggapi?
Berarti caranya yang tidak sampai pada sasaran. Kalau kita tidak pandai-pandai, bagaimana pun juga tidak akan sampai juga. Tetapi kalau langsung ke orangnya ‘kan akan kesampaian juga.
Jadi Anda beranggapan cara yang ditempuh Amien Rais mirip dengan cara partai politik?
Saya tidak mengatakan demikian. Saya satu-satunya orang yang selama sepuluh tahun menjadi juru bicara Muhammadiyah di bawah AR. Fakhruddin. Jadi saya tahu bagaimana cara yang baik. Dan alhamdulilah selamat itu.
Anda juga dikritik Amien Rais karena terlalu aktif di Golkar ketimbang di Muhammadiyah?
Saya tidak aktif di Golkar. Pada waktu rapat Muhammadiyah, pemberitahuannya baru datang tiga hari. Padahal saya punya program besar yang telah direncanakan sebulan.
Pernyataan Anda kepada Amien Rais juga sudah keras ketika ada kasus Permadi (Amien dipersalahkan tak menanggapi Permadi padahal hadir dalam diskusi di mana Permadi disalahkan telah menghina Nabi Muhammad, Red.) yang lantas belakangan Anda juga terlihat menghantam Amien Rais?
Saya tidak menghantam Amien Rais. Saya cuma ditanya oleh orang bagaimana cara Muhammadiyah, ya saya ceritain. Bukan menghantam.

Lukman Harun Telah Tiada
Reporter: N Priharwanto

detikcom, Jakarta-Keluarga besar Muhammadiyah kehilangan salah
seorang pemimpin panutannya. Lukman Harun, pengurus PP Muhammadiyah
sejak 1973, telah meninggal dunia Kamis siang (08/04/1999) dalam
usia 65 tahun. Lukman meninggal karena sakit.

Lukman Harun yang aktif dalam organisasi keislaman internasional
itu, meninggal dunia di Rumah Sakit Islam Yarsi, Cempaka Putih,
Jakarta Pusat, sekitar pukul 13.00 WIB. Menurut rencana, Lukman
yang juga anggota DPR RI dari F-KP ini, akan dimakamkan usai shalat
Jum’at (09/04/1999) di TPU Karet. Sebelumnya, jenazah akan
disembahyangkan di Masjid Sunda Kelapa, Jakarta Pusat. Saat ini
jenazah disemayamkan di kediaman duka, Jl Sukabumi 11, Jakarta
Pusat.

Lukman, mantan aktivis HMI yang masih aktif KAHMI ini, lahir di
Limapuluh Kota, Sumatra Barat, 6 Mei 1934. Sejak muda dia dikenal
sebagai aktivis, utamanya di Muhammadiyah dan HMI. Di Muhammadiyah,
Lukman cukup berpengaruh meski dia sempat terlibat perselisihan
dengan Amien Rais.

Selain itu, Lukman Harun, lewat organisasi Komite Solidaritas
Islam, sempat berkali-kali mengunjungi Bosnia untuk menggalang aksi
solidaritas ketika negeri itu dilanda peperangan.


Actions

Information

2 responses

19 02 2010
Nasrullah Idris

Saya adalah famili dari Bapak Lukman Harun. Mohon sampaikan alamat facebook saya kepada keluarganya : http://www.facebook.com/nasrullah.idris

31 08 2010
ISLAMIC CENTRE « 'nBASIS

[…] tahun 80-an “Duta Besar Muhammadiyah” Lukman Harun membawa segepok dana untuk pembangunan Islamic Centre organisasi itu. Meski dengan serba keheranan […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: