Rohana Kuddus

22 04 2008

Rohana Kuddus lahir di Koto Gadang, Bukit Tinggi pada tanggal 20 Desember 1884 dan meninggal dunia pada tanggal 17 Agustus 1972. Rohana Kuddus adalah anak pertama pasangan Moehammad Rasjad Maharadja Soetan dan Kiam. Rohana Kuddus adalah kakak tiri dari Sutan Syahrir.
Perjuangan Rohana Kuddus dalam memajukan kaum wanita sangatlah nyata, tidak seperti wanita lain yang hanya berani bicara dan menulis tentang persamaan hak wanita dan perluasan kesempatan bagi kaum wanita tetapi menyerah dan menjadi korban (kalau tidak bisa dibilang pelestari) tradisi dan adat yang ditentangnya itu. Rohana Kuddus harus pergi dari kampung halamannya ke Medan untuk meneruskan perjuangannya bagi kaum wanita karena banyaknya ketidaksetujuan orang sekampungnya akan tujuan perjuangannya.
Selama mengungsi ke Lubuk Pakam dan Medan, Rohana Kuddus aktif mengajar dan menjadi pemimpin redaksi surat kabar Perempuan Bergerak. Tiga tahun kemudian, Rohana Kuddus pindah ke Padang dan menjadi redaktur surat kabar Radio yang diterbitkan Cina Melayu di Padang dan surat kabar Cahaja Sumatera.
Semangat Rohana Kuddus untuk memajukan pendidikan sudah terlihat sejak usia yang sangat dini yaitu 8 tahun dimana ia sudah mulai mengajar teman-teman sebayanya membaca. Rohana Kuddus juga menjadi pelopor pendidikan dengan mendirikan sekolah keterampilan Kerajinan Amai Setia yang merupakan permulaan industri rumah tangga di Minangkabau.
Pada tahun 1912, Rohana Kuddus mendirikan Surat Kabar Soenting Melayu, setahun setelah Dja Endar Muda mendirikan surat kabar pertama di Padang. Soenting Melayu tidak hanya membahas mengenai masalah wanita tetapi juga masalah politik dan kriminal yang terjadi di ranah Minang. Usia dari Soenting Melayu ini hanya 9 tahun, sebuah usia yang cukup panjang buat surat kabar pada tahun itu yang rata-rata hanya bertahan 3 bulan.
Perjuangan Rohana Kuddus tidak hanya sebatas tulis menulis, selain mendirikan sekolah keterampilan, Rohana Kuddus juga ikut mendirikan dapur umum dan badan sosial untuk membantu gerilyawan dalam melawan Belanda. Rohana Kuddus juga menemukan cara penyelundupan senjata dari Koto Gadang ke Payakumbuh melalui Bukit Tinggi dan Ngarai Sianok.
Penghargaan yang pernah diterima
Pemerintah Provinsi Sumatera Barat menganugrahi Rohana Kuddus dengan Wartawati Pertama Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1974 (Dua tahun setelah beliau meninggal dunia).
Menteri Penerangan Harmoko pada Hari Pers Nasional ke 3 tanggal 9 Februari 1987 menganugrahi Rohana Kuddus dengan Perintis Pers Indonesia.

Wartawan Perempuan Pertama itu Diusulkan Jadi Pahlawan

oleh : Maryulismax
TAK banyak yang tahu siapa gerangan Rohana Kuddus. Menyebut namanya, di tingkat lokal (Sumbar-red), orang hanya tahu nama itu melekat sebagai nama jalan, nama gedung, nama usaha kripik balado di Kota Padang, dan sebagainya. Soal kiprahnya? Hanya segelintir yang tahu, itupun mungkin tidak persis detilnya.
Ternyata, wanita penyandang nama Rohana Kuddus ini, betul-betul amazing (luar biasa) untuk eranya -dan juga mungkin untuk era sekarang-, bila melihat kiprah hidupnya. Lahir di Kotogadang, Bukittinggi pada 20 Desember 1884, Rohana ternyata memang -meminjam istilah zaman sekarang- perempuan multidimensi. Kok?
Anak sulung pasangan Moehammad Rasjad Maharadja Soetan dan Kiam ini, ternyata bukan hanya tercatat sebagai wartawan perempuan pertama Indonesia saja dengan mendirikan surat kabar Soenting Melajoe. Menjadi Pemred (pemimpin redaksi) pula. Dia juga menjadi pelopor pendidikan dengan mendirikan sekolah keterampilan Kerajinan Amai Setia yang merupakan permulaan industri rumah (atau bahasa kerennya home industry) di Minangkabau dan penggerak politik politik perempuan pertama di ranah Minang.
Bayangkan. Betapa hebatnya kakak tiri St Sjahrir (perdana menteri pertama RI) ini. Di saat yang lain belum melek membaca alias buta aksara, dia sudah tampil sebagai “guru kecil” di usianya yang masih 8 tahun di tahun 1892. Kepadanya, rekan-rekan sebayanya belajar bermain sambil membaca.
Di usianya yang matang sebelum dan setelah menikah dengan Abdul Kuddus, melalui perjuangan hidup yang jatuh bangun, mengalami berbagai benturan sosial dengan pemuka agama, adat, dan masyarakat umum, Rohana dipuji dan dikagumi, tetapi sekaligus difitnah dan dicaci maki, sehingga terpaksa meninggalkan kampung halamannya. Dia tetap berjuang, malah mendirikan Rohana School, sekolah kepandaian perempuan di Bukittinggi. Dia pun aktif dalam Partai Pergerakan Bawah Tanah yang menentang kolonial Belanda.
Di saat “perangai” Belanda yang semakin membabi buta, Rohana turut membantu pergerakan politik dengan tulisannya yang membakar semangat juang para pemuda. Dia berpartisipasi mempelopori berdirinya dapur umum dan badan sosial untuk membantu para gerilyawan. Dia juga mencetuskan ide bernas dalam penyelundupan senjata dari Kotogadang ke Bukiktinggi melalui Ngaraik Sianok dengan cara menyembunyikannya dalam sayuran dan buah-buahan yang kemudian dibawa ke Payokumbuah dengan kereta api.
Berakhirkah perjuangan ibu dari Djasma Juni ini? Belum. Hingga ajalnya menjemput, dia masih terus berjuang. Termasuk ketika merantau ke Lubuak Pakam dan Kota Medan. Di sana dia mengajar dan memimpin surat kabar Perempuan Bergerak. Dan Pulkam (pulang kampung) 3 tahun kemudian dengan menjadi redaktur surat kabar Radio yang diterbitkan Cina Melayu di Padang dan surat kabar Cahaja Sumatra.
Begitulah. Perempuan yang wafat pada 17 Agustus 1972 itu mengabdikan dirinya kepada bangsa dan negara, serta menjadi kebanggaan bagi kaum hawa yang diperjuangkannya.
Tapi adakah kita tahu lika-liku hidupnya ini? Tidak!! Itu pasti. Padahal Pemrov Sumbar saja pada 17 Agustus 1974 telah menganugerahi dia penghargaan sebagai wartawati pertama. Dan pada Hari Pers Nasional ke-3, 9 Februari 1987, Menteri Penerangan, Harmoko -ketika itu- telah pula menganugerahinya sebagai Perintis Pers Indonesia. Itu sebenarnya belum cukup, mengingat begitu besar jasa-jasanya.
Karena itulah, Himpunan Wanita Karya (HWK) Sumbar bekerjasama dengan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Cabang Sumbar, sedang memperjuangkan Rohana Kuddus untuk menjadi pahlawan nasional. Dia pantas disejajarkan dengan RA Kartini, Dewi Sartika, maupun Maria Walanda Maramis yang memperjuangkan pendidikan perempuan.
Sebagai langkah lanjutan menuju pengakuan itu, HWK dan PWI akan menggelar seminar nasional tentang Rohana Kuddus pada 24 Mei mendatang di Aula Kantor Gubernur Sumbar. Persyaratan lain sebagai persyaratan administrasi meluluskan Rohana sebagai pahlawan juga sudah diretas. Di antaranya penerbitan buku biografinya, dokumennya, rekomendasi dari lembaga terkait, kajian sejarahnya, dan sebagainya. Dan Insya Allah, kita tinggal menunggu, satu lagi barisan pahlawan nasional berasal dari ranah Minang tercinta ini. (max)
Sumber : http://maryulismax.wordpress.com

Kartini atau Rohana
Ditulis oleh Asmanidar, Pemerhati sosial dan Perempuan

Besok, kita akan memperingati hari Kartini. Hari tersebut merupakan tanggal lahir perempuan pada 21 April 1879, yang selama ini dijadikan sebagai titik tolak untuk inspirasi dan kekuatan moral bagi kaum perempuan di Indonesia. Lahirnya Raden Ajeng Kartini yang dijadikan sebagai srikandi Indonesia yang begitu dipuja. Sungguh luarbiasa, seorang Kartini melalui kumpulan surat-menyuratnya “Habis Gelap Terbitlah Terang” menjadi inspirasi dan ilham bagi jutaan perempuan Indonesia untuk dapat sejajar dengan kaum pria. Namun dalam tulisan ini, saya ingin sedikit memberikan penyadaran bahwa kita harus mengakui sebuah pepatah, “Tungau di seberang lautan nampak, gajah di pelupuk mata tidak tampak”. Begitu mengagungkan Kartini, kita seakan lupa akan sebuah mutiara Ranah Minang sendiri. Dia Rohana Kudus, seorang srikandi Ranah Minang yang di kampungnya sendiri (Sumbar) malah juga tak begitu dikenal. Tidak banyak dari kita yang tahu siapa gerangan Rohana Kudus. Menyebut namanya, di tingkat lokal saja, kita mungkin cuma tahu, itu adalah nama jalan, nama gedung, nama usaha kripik balado di Kota Padang, dan sebagainya. Tapi soal kiprahnya? Hanya segelintir yang tahu, itupun mungkin tidak persis detilnya.
Perempuan yang lahir di Kotogadang, Bukittinggi 20 Desember 1884, adalah anak sulung dari pasangan Moehammad Rasjad Maharadja Soetan dan Kiam ini adalah wanita multi intelegensi. Bukan saja tercatat sebagai wartawan perempuan pertama Indonesia saja dengan mendirikan surat kabar Sunting Melayu, dia juga menjadi pelopor pendidikan dengan mendirikan sekolah keterampilan Kerajinan Amai Setia (KAS) yang merupakan permulaan industri rumah tangga (home industry) di Minangkabau dan penggerak politik perempuan pertama di ranah Minang.
Bagaimana dengan Kartini, ternyata orang yang selama ini dipuja-puja sebagai perintis emansipasi wanita di tanah air, ternyata kalah start dari Rohana. Jauh sebelum Kartini menuntut ilmu di sekolah perempuan Rembang, Rohana Kudus dan teman-temannya telah merintis ‘komunitas’ perempuan Koto Gadang untuk melek huruf! Tapi Kartini, malah rela dipingit, lalu menikah dengan Bupati Rembang, Raden Adipati Joyodiningrat, yang sudah pernah memiliki tiga istri.
Tapi bayangkan betapa hebatnya kakak tiri Sutan Syahrir (perdana menteri pertama RI) ini, di saat yang lain belum melek membaca, alias buta aksara, dia sudah tampil sebagai “guru kecil” di usianya yang masih 8 tahun di tahun 1892. Kepadanya, rekan-rekan sebayanya belajar bermain sambil membaca.
Di usianya yang matang, sebelum dan setelah menikah dengan Abdul Kuddus, melalui perjuangan hidup yang jatuh bangun, mengalami berbagai benturan sosial dengan pemuka agama, adat, dan masyarakat umum, Rohana dipuji dan dikagumi, tetapi sekaligus difitnah dan dicaci maki, sehingga terpaksa meninggalkan kampung halamannya. Dia tetap berjuang, malah mendirikan Rohana School, sekolah kepandaian perempuan di Bukittinggi.
Saat Belanda meningkatkan tekanan dan serangannya terhadap kaum pribumi, Rohana bahkan turut membantu pergerakan politik dengan tulisannya yang membakar semangat juang para pemuda. Rohana pun mempelopori berdirinya dapur umum dan badan sosial untuk membantu para gerilyawan. Dia juga mencetuskan ide bernas dalam penyelundupan senjata dari Kotogadang ke Bukiktinggi melalui Ngaraik Sianok dengan cara menyembunyikannya dalam sayuran dan buah-buahan yang kemudian dibawa ke Payokumbuah dengan kereta api.
Hingga ajalnya menjemput, dia masih terus berjuang. Termasuk ketika merantau ke Lubuak Pakam dan Kota Medan. Di sana dia mengajar dan memimpin surat kabar Perempuan Bergerak. Kembali ke Padang, ia menjadi redaktur surat kabar Radio yang diterbitkan Cina Melayu di Padang dan surat kabar Cahaya Sumatra. Perempuan yang wafat pada 17 Agustus 1972 itu mengabdikan dirinya kepada bangsa dan negara, serta menjadi kebanggaan bagi kaum hawa yang diperjuangkannya.
Penghargaan dari Pemprov Sumbar juga pernah didapatkannya, yaitu pada 17 Agustus 1974 sebagai wartawati pertama. Dan pada Hari Pers Nasional ke-3, 9 Februari 1987, Menteri Penerangan, Harmoko telah pula menganugerahinya sebagai Perintis Pers Indonesia. Bagaimana dengan Kartini, kumpulan surat-menyuratnya yang keasliannya sampai saat ini sulit ditunjukkan menjadi pahlawan perempuan sampai menjadi salah satu hari besar Indonesia. Sedangkan Rohana…. (***)
http://www.padangekspres.co.id/index.php?option=com_content&task=view&id=3604&Itemid=55


Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: