Rizal Ramli

20 05 2008

Dr. Rizal Ramli (lahir di Padang, Sumatra Barat, 10 Mei 1953) adalah Menteri Koordinator bidang Perekonomian dan Menteri Keuangan pada Kabinet Persatuan Nasional. Ia meraih gelar sarjana dari Institut Teknologi Bandung dan gelar doktor dari Universitas Boston pada tahun 1990.
Di masa pemerintahan presiden Soeharto, Ramli pernah ditahan karena memprotes pemilihan kembali Soeharto pada tahun 1978. Ramli, bersama beberapa orang ekonom lain seperti Laksamana Sukardi dan Arif Arryman, adalah pendiri ECONIT. Ia pernah pula menjadi kepala Badan Urusan Logistik (Bulog).

Sepanjang karirnya di akedemik, pemerintahan maupun bisnis, julukan Sang Penerobos (Mr. Breakthrough) telah melekat pada sosok Rizal Ramli, karena dia memiliki sejumlah kelebihan yang menonjol seperti kemampuan analisa dan problem solving yang tangguh, keberanian untuk mengambil keputusan yang optimal dalam kondisi yang serba sulit, serta ketangguhan untuk melaksanakan implementasi lapangan yang efektif.

Kemampuan untuk melakukan terobosan didukung oleh daya persuasi, networking yang luas di berbagai kalangan dan langkah-langkah yang streetsmart (taktikal tapi efektif). Dia berani mengambil keputusan yang bersifat terobosan, tidak konvensional tapi juga rasional dan implementatif.

Dalam waktu yang sangat pendek, hanya 15 bulan, Rizal Ramli berhasil melakukan sejumlah terobosan yang efektif untuk mendorong reformasi institusional, restrukturisasi sektoral maupun korporat, serta percepatan pemulihan ekonomi.

Rizal Ramli lahir 10 Desember 1953. Karir di pemerintahan dimulai saat Presiden Abdurrahman Wahid mengangkat pendiri sekaligus chairman “ECONIT Advisory Group” ini menjadi Kepala Badan Urusan Logistik (Bulog) pada April 2000. Setelah itu, berturut-turut berbagai jabatan dipercayakan ke atas pundak mantan aktivis mahasiswa yang pernah dipenjara di Bandung tahun 1978/79 karena menentang rezim otoriter Orde Baru ini. Antara lain, Menteri Koordinator Perekonomian (Agustus 2000-Juni 2001) dan Menteri Keuangan (Juni-Juli 2001).

Sebagai Menko Perekonomian, Rizal Ramli juga merangkap beberapa jabatan penting dan strategis dalam pemulihan perekonomian yang hancur dilanda krisis moneter. Di antaranya Ketua Komite Kebijakan Sektor Keuangan (KKSK) dan Ketua Tim Keppres 133 untuk renegosiasi listrik swasta. Terakhir dia tercatat menjadi wakil pemerintah pada PT Semen Gresik Tbk sebagai Presiden Komisaris (September 2006 – sekarang).

Dengan masa jabatan yang relatif pendek, sekitar 15 bulan, Rizal Ramli melakukan sejumlah langkah terobosan dengan cepat dan efektif untuk mereformasi Badan Urusan Logistik (Bulog) dalam waktu enam bulan, meningkatkan pertumbuhan ekonomi menjadi 4,8 %, di atas target semula yang hanya 2-3 %. Defisit anggaran juga ditekan menjadi hanya -3,2 % dari GDP, lebih rendah dari target semula yaitu -4,8 %.

Dalam waktu yang sangat pendek tersebut, Rizal Ramli dengan dibantu Tim Ekonomi lainnya, melakukan renegosiasi Letter of Intent (LoI) dengan IMF, mendapatkan pinjaman dari CGI sebesar US$ 4,8 miliar dan hibah sebesar US$ 530 juta, dan mengurangi rasio NPL dan meningkatkan Net Interest Margin perbankan. Terobosan spektakuler juga dilakukan untuk memisahkan cross-ownership dan cross-management antara PT Telkom dan PT Indosat sehingga negara menerima tambahan pendapatan sebesar Rp 4,2 triliun, tanpa menjual selembar pun saham PT Telkom atau PT Indosat.

Langkah-langkah terobosan juga dilakukan dalam renegosiasi listrik swasta yang sarat KKN sehingga tarif listrik dapat diturunkan dari US$ 7-9 cent menjadi hanya sekitar US$ 4 cent dan beban utang PLN dikurangi puluhan miliar dolar. Di samping itu, sebagai Ketua KKSK, Rizal Ramli melakukan restrukturisasi utang dalam maupun luar negeri ratusan perusahaan yang dikelola BPPN.

REFORMASI BADAN URUSAN LOGISTIK (BULOG)

Publik tiba-tiba dikejutkan ketika pada 3 April 2000 Presiden Abdurrahman Wahid mengangkat Rizal Ramli menjadi Kepala Badan Urusan Logistik (Bulog). Maklum saja, jabatan ini dikenal sebagai kursi panas yang diperebutkan banyak kalangan. Selain itu, sebagai ‘lumbung duit’ selama puluhan tahun Bulog selalu dipimpin oleh lingkaran dalam kekuasaan.

Di tangannya, Bulog berubah total. Sebagai Kepala Bulog, Rizal Ramli melakukan reformasi dan pembenahan organisasi serta keuangan Bulog agar lebih transparan dan accountable. Dia memberikan tekanan pada pelaksanaan fungsi Bulog sebagai stabilitator harga beras dan peningkatan pendapatan petani. Selama menjadi Kepala Bulog, terjadi penghematan dan peningkatan efisiensi biaya operasi Bulog yang sangat signifikan sehingga Bulog menghasilkan surplus yang cukup besar. Sukses besarnya ini bahkan sempat diangkat sebagai cover story majalah Business Week.

Sejumlah kebijakan terobosan dilakukan Rizal Ramli. Di antaranya pada April – Mei 2000, guna meningkatkan pendapatan petani, Bulog hanya membeli gabah, bukan beras, petani. Sebagai peneliti dan researcher, dia tahu persis banyak praktek curang dalam pembelian beras petani oleh Bulog. Para importir mencampur sedikit beras yang dibeli dari petani dan dengan beras impor. Beras oplosan inilah yang dijual ke Bulog. Tentu saja, praktek seperti ini bisa berlangsung selama puluhan tahun atas sepengetahuan dan restu sejumlah pejabat Bulog. Dengan hanya membeli gabah, praktek oplosan tersebut dapat dihindari, dan sekaligus penggilingan di desa-desa mendapat pekerjaan pada musim paceklik.

Bukan itu saja, Rizal Ramli juga meminta kepada Dirjen Bea dan Cukai agar memasukkan impor beras ke dalam jalur merah. Dengan demikian manipulasi volume dan harga beras bisa dimonitor dan dikurangi.

Terobosan penting lain yang dilakukannya adalah saat merestrukturisasi Bulog secara besar-besaran. Pada periode April-Agustus 2000, Rizal Ramli mereorganisasi lima jabatan eselon I (Deputi) dan 54 jabatan eselon II (Karo dan Kadolog) tanpa menimbulkan gejolak yang berarti. Pejabat dari daerah “basah” dimutasikan ke daerah “kering”, demikian pula sebaliknya.

Mutasi strategis seperti itu, dengan cepat mengubah corporate culture dari Bulog. Dari 26 Kadolog yang ada di seluruh Indonesia, 24 di antaranya dipensiunkan atau dimutasikan dalam rangka restrukturisasi tersebut. Langkah ini dimaksudkan agar Bulog menjadi organisasi yang transparan, accountable, dan lebih profesional. Regenerasi tersebut sekaligus menjadi tanda dimulainya proses restrukturisasi dalam rangka menyiapkan Bulog dari LPND ke arah Perum.

Masih pada periode yang sama, dia memerintahkan perubahan system accounting khusus Bulog menjadi Generally Accepted Accounting Practices, sehingga sama dengan praktek accounting di lembaga negara lainnya. Rizal Ramli juga menyederhanakan dan mengkonsolidasikan rekening-rekening milik Bulog di berbagai bank, yang semula berjumlah 117 rekening menjadi hanya 9 rekening. Dengan demikian kondisi keuangan Bulog dimonitor setiap hari secara lebih terkonsolidasi.

Rizal Ramli juga menghapuskan sistem dana off-budget dan mengubahnya menjadi on-budget, sehingga lebih accountable, transparan dan bisa diaudit. Dengan sistem off-budget, permintaan dana tidak memerlukan proposal, tidak perlu review, tidak transparan dan tidak bisa diaudit, sehingga menjadi sumber utama penyelewengan keuangan di lembaga seperti Bulog. Dengan menghapuskan sistem dana off-budget, Rizal Ramli memulai penerapan disiplin anggaran dan pengelolaan keuangan yang transparan.

MENTERI KOORDINATOR PEREKONOMIAN: PROAKTIF DAN DECISIVE

Sebagai Menko Perekonomian, Rizal Ramli berpendapat kondisi perekenomian Indonesia yang hancur akibat krisis harus segera dibangkitkan. Itulah sebabnya pada 4 september 2000, dia mencanangkan 10 Program Percepatan Pemulihan Ekonomi.

Program tersebut menunjukkan keberpihakannya pada pertumbuhan ekonomi dan penciptaan lapangan kerja (pro-growth, pro-job). Program yang kemudian dimasukkan dalam letter of intent (LoI) ini terbukti berhasil dan diakui dunia internasional sebagai program pemulihan ekonomi yang kredibel. Bahkan pada September 2000, Standard & Poor’s menaikkan rating rupiah dari C ke B- dengan outlook stable.

Rizal Ramli tidak hanya mampu berkiprah dalam perbaikan perekonomian di dalam negeri. Dia juga terbukti memiliki keterampilan diplomasi yang andal di forum internasional. Saat memimpin delegasi RI pada CGI Meeting di Tokyo 17-18 Oktober 2000, misalnya. Dia berhasil meyakinkan negara kreditor untuk memberi pinjaman sebesar US$5,3 miliar.

Jumlah itu terdiri atas US$4,8 miliar pinjaman lunak dan grant & technical assistance senilai US$530 juta. Nilai hibah (grant) tersebut merupakan nilai tertinggi selama hubungan Indonesia dengan CGI. Padahal, saat itu beban Rizal Ramli sangat berat. Pasalnya, Indonesia tengah mendapat sorotan tajam dunia internasional terhadap kasus Atambua. Di dalam negeri, juga berhembus keraguan, karena Delegasi RI ke CGI Meeting tidak menyertakan Widjojo Nitisastro yang dimitoskan memiliki jaringan dan pengaruh sangat besar di kalangan negara kreditor. Ternyata negara kreditor mengambil keputusan berdasarkan kondisi riil ekonomi dan politik Indonesia, serta hasil negosiasi dengan pejabat resmi pemerintah, bukan berdasarkan nasehat dari pensiunan pejabat.

Sebagai bentuk dari mulai pulihnya kepercayaan investor internasional, Unocal Corporation menyatakan komitmennya untuk melakukan investasi sebesar US$ 1,5 miliar di Indonesia untuk jangka waktu investasi 5 tahun. Investasi tersebut fokus pada bidang minyak bumi, gas bumi, dan sumber daya geotermal.
Keberhasilan Rizal Ramli sebagai Menko Perekonomian ditandai dengan kinerja ekonomi yang berhasil dicapai Indonesia sampai akhir 2000. Ekonomi tumbuh 4,8%, di atas perkiraan semula yang hanya 2-3%. Budget deficit hanya -3,2% dari GDP, lebih rendah dibandingkan perkiraan semula -4,8% dari GDP). Turn around ekonomi Indonesia mulai terjadi pada tahun 2000.

Total ekspor Indonesia pada 2000 mencapai US$62 miliar, atau naik 27% dari ekspor Indonesia pada tahun 1999. Jumlah penduduk yang bekerja naik 1 juta tenaga kerja. Perbaikan signifikan di sektor riil antara lain diperlihatkan dengan peningkatan kapasitas terpasang di sektor industri, yang meningkat dari sekitar 50-60% pada akhir 1999 menjadi 70-80% pada akhir 2000. Demikian juga sektor konstruksi yang stagnan selama 2 tahun terakhir, mulai bangkit dengan pertumbuhan sebesar 8,3%. Penjualan eceran juga naik 17%.

Rizal Ramli yang pernah menjadi penasehat ekonomi Fraksi ABRI lebih dari lima tahun itu juga berhasil memperbaiki kinerja perbankan nasional. Indikasinya, struktur permodalan bank menguat, rasio non-performing loans (NPL) turun, dan membaiknya net interest margin.

Pada Mei 2001, sebagai Menko Perekonomian, laki-laki yang juga mantan dosen ekonomi Program Magister Manajemen Fakultas Pasca Sarjana UI ini mendorong penghapusan cross-ownership dan cross-management antara PT Telkom dan PT Indosat. Langkah ini dimaksudkan untuk meningkatkan kompetisi dan mendorong kedua operator telekomunikasi nasional tersebut menjadi full service operators. Banyak kalangan, baik domestik maupun internasional, menilai kebijakan yang ditempuh Rizal Ramli tersebut sebagai langkah yang tepat dan kredibel. Lewat terobosannya tersebut, negara berhasil memperoleh tambahan penerimaan Rp4,2 trilliun tanpa menjual selembar pun saham Telkom atau Indosat.

KETUA KOMITE KEBIJAKAN SEKTOR KEUANGAN (KKSK): TEROBOSAN DAN KEBERPIHAKAN

Selaku Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Rizal Ramli juga menjadi Ketua Komite Kebijakan Sektor Keuangan (KKSK). Di bawah kepemimpinannya, KKSK telah berhasil memutuskan sekitar 140 keputusan penting, baik yang menyangkut restrukturisasi utang maupun percepatan penjualan asset yang dikelola BPPN.

Pada Oktober 2000, misalnya, KKSK mulai merestrukturisasi utang dari 14.000 UKM yang memiliki nilai pinjaman < Rp. 5 miliar. Rizal Ramli memutuskan, UKM bisa memperoleh potongan pokok dan bunga atas pinjamannya hingga 50% jika mereka mau melunasi pinjamannya sekaligus. Tentu saja kebijakan ini disambut sangat antusias kalangan UKM. Mereka ramai-ramai melunasi utangnya dan sektor riil yang selama ini lumpuh kembali bergulir.

Bagi perbankan nasional, terobosan Rizal Ramli itu juga sangat bermanfaat. Mereka tidak perlu lagi menyediakan cadangan atas kredit bermasalahnya sampai 100%. Neraca mereka pun menjadi bersih.

Masih untuk pengusaha kecil, pada November 2000 dia menuntaskan penjualan kredit-kredit di bawah Rp 5 miliar kepada pihak ketiga dengan total nilai Rp. 871 miliar yang terdiri dari 92.252 debitur.

Buat perusahaan besar, pada Oktober 2000, KKSK di bawah komandonya juga menyelesaikan rekapitalisasi perbankan, termasuk rekapitalisasi Bank Bali. November 2000, KKSK mempercepat penjualan asset yang dikelola PT Holdiko Perkasa, yang melibatkan 6 asset utama (Oleochemical, Indomilk, Indolakto, Indomiwon, Mosquito Coil, dan 25 perkebunan kelapa sawit) dengan total nilai mencapai Rp. 5,97 triliun.

Di bawah komandonya, Desember 2000 KKSK berhasil merestrukturisasi bisnis dan utang PT IPTN. Langkah pertama dilakukan dengan mengubah paradigma industri pesawat yang selama ini high cost menjadi kompetitif. Setelah itu, Rizal Ramli mengganti nama Iindustri Pesawat Terbang Nusantara (IPTN) menjadi PT Dirgantara Indonesia (PTDI). Hasilnya luar biasa. Pada 2001 penjualan PTDI menjadi Rp 1,4 triliun, naik tajam dibandingkan Rp 508 miliar pada 1999. Perusahaan ini juga mencatat laba Rp 11 miliar. Padahal, pada 1999, menderita rugi Rp 75 miliar.

Sampai akhir 2000, KKSK berhasil menyetor dana dari penjualan asset sebesar Rp 20,71 triliun. Padahal, target yang ditetapkan DPR dan pemerintah waktu itu hanya Rp 18,9 triliun. Sedangkan restrukturisasi utang di bawah payung Prakarsa Jakarta berhasil mencapai US$9,8 miliar atau di atas target sebesar US$8 miliar. Satu hal yang perlu dicatat, setoran ke APBN yang jauh melampaui target itu ditempuh Rizal Ramli dengan sejumlah terobosan kebijakan. Tidak ada praktik obral BUMN dengan harga sangat murah sebagaimana ditempuh para penerusnya kemudian.

Masih ketika memimpin KKSK, pada Januari – Februari 2001 dia menyetujui “Corporate Restructuring Guidelines” yang baru. Banyak kalangan menilai Panduan restrukturisasi ini sebagai kebijakan yang kredibel dan dinilai mampu mempercepat proses restrukturisasi utang yang dikelola BPPN. Buktinya, pada April 2001, KKSK berhasil merestrukturisasi sektor Real Estate Indonesia yang memiliki kredit macet di BPPN. KKSK merestrukturisasi kredit pengembang dengan memperpanjang tenor pinjaman dan memberikan discount pembayaran bunga. Akibat restrukturisasi tersebut, sektor real estate bisa bangkit kembali dan menjadi motor penggerak pertumbuhan ekonomi tahun 2003-2004.

KETUA TIM KEPPRES 133: NEGOSIATOR YANG TANGGUH

Selaku Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Rizal Ramli juga dipercaya Presiden Abdurrahman Wahid menjadi Ketua Tim Keppres 133. Tim ini bertugas menyelesaikan restrukturisasi PLN dan renegosiasi kontrak-kontrak pembelian listrik swasta (IPP) bersama-sama dengan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral dan menteri terkait.

Pada posisi ini, Bapak dari tiga anak ini berhasil menyelesaikan 16 dari total 27 kasus renegosiasi kontrak pembelian listrik swasta (independent power producers/IPP). Kontrak penjualan listrik swasta yang dibuat pada masa Orde Baru itu penuh dengan KKN dan mark-up. Akibatnya, berbagai kontrak itu membebani PLN sebesar US$ 60 miliar. Renegosiasi ditekankan pada penurunan tarif penjualan mereka ke PLN, dari sekitar US$ 7-9 cent per kWh menjadi hanya US$ 4 cent. Melalui jalan panjang dan sejumlah terobosan yang ditempuh, Rizal Ramli berhasil menekan penjualan listrik swasta ke PLN, sehingga akhirnya beban PLN turun menjadi US$ 35 miliar.

Sebagai Ketua Tim Keppres 133, sepanjang Januari-Mei 2001 mantan aktivis yang pernah mendekam di penjara Sukamiskin Bandung pada 1978/79 itu, juga melakukan financial engineering terhadap neraca keuangan PLN dengan melakukan revaluasi aset PLN dan menetapkan kebijakan deffered tax payment agar cashflow PLN tidak terganggu. Terobosan ini membuat aset PLN meningkat dari Rp 52 triliun menjadi Rp 202 triliun. Modalnya melonjak dari minus Rp 9 triliun jadi Rp 119,4 triliun.

Dengan revaluasi ini, struktur aset dan modal PLN menjadi sangat kuat. Dengan demikian PLN kembali memiliki akses untuk mendapatkan modal kerja dari perbankan maupun dari pasar obligasi. Tetapi PLN diwajibkan untuk mengurangi transmission loss yang pada waktu itu mencapai 16 %, jauh di atas rata-rata ASEAN yang hanya 3 %. Rizal Ramli berharap bahwa manfaat dari pengurangan transimission loss tersebut dapat digunakan untuk mensubsidi kelompok konsumen paling bawah.

MENTERI KEUANGAN
Berbeda dengan perjalanan karir sebagian besar orang pada umumnya, jenjang karir Rizal Ramli justru terkesan “anti klimak”. Semua itu bermula ketika pada 13 Juni 2001, Presiden Abdurrahman Wahid menugaskannya ‘turun pangkat’ dari Menteri Koordinator Perekonomian menjadi Menteri Keuangan. Sebagai Menkeu, Rizal Ramli harus mewakili pemerintah saat revisi APBN 2001 dilakukan.

Di tengah ketidakpastian situasi ekonomi dan politik nasional, regional, dan internasional, revisi APBN harus dilakukan dengan cepat. Revisi APBN yang biasanya bisa memakan waktu berbulan-bulan, pada masanya hanya berlangsung empat hari. Pembahasan berlangsung sejak Jumat malam hingga Minggu dini hari. Tepatnya, 13 -16 Juni 2001.

Kendati hanya menjabat dalam tempo sangat singkat (Juni-Juli 2001), sebagai Menkeu, Rizal Ramli juga berhasil meningkatkan kinerja dari Direktorat-direktorat Jenderal di lingkungan Departemen Keuangan. Peningkatan kinerja tersebut terutama dari segi penerimaan, seperti pada Ditjen Bea dan Cukai, Ditjen Pajak, Ditjen Pembinaan BUMN, dan BPPN.

Dalam masanya juga berhasil diselesaikan pembahasan Undang-undang Perhitungan Anggaran Negara 1999/2000, dan dimulainya pembahasan RUU Badan Peradilan Pajak.
PRESIDEN KOMISARIS PT. SEMEN GRESIK: TURN AROUND MENJADI BUMN UNGGUL
Tangan dingin Rizal Ramli dalam membereskan problem ekonomi membuat pemerintah menunjuknya sebagai Presiden Komisaris Komisaris PT Semen Gresik, Tbk. Tugas ini diemban sejak September 2006 hingga kini. Seperti di tempat-tempat tugas lain sebelumnya, Rizal Ramli juga melakukan sejumlah langkah strategis dan kebijakan terobosan untuk meningkatkan efisiensi, mendorong program pengurangan biaya dan meningkatkan keuntungan Semen Gresik.

Tujuan tersebut dicapai dengan melakukan konsolidasi dan integrasi ketiga perusahaan yaitu PT Semen Gresik, PT Semen Padang, dan PT Semen Tonasa sehingga menjadi “one company with three brands”. Dengan demikian, kompetisi internal antar PT dikurangi sehingga tercipta sinergi positif.

Bersama-sama Komisaris dan manajemen, dia mempersiapkan kerangka restrukturisasi organisasi dan finansial untuk jangka menengah. Hasilnya luar biasa. Laba bersihnya naik 29,3 % menjadi Rp 1,295 triliun, dan EBITDA margin mencapai 26,1 % pada tahun 2006. Bahkan untuk pertama kalinya Semen Gresik Tbk masuk kelompok 7 BUMN yang paling menguntungkan. Semen Gresik memperoleh kenaikan laba bersih yang sangat tinggi, padahal penjualan semen secara nasional hanya naik 1,7 %. Baik PT Indocement maupun Holcim mengalami penurunan laba bersih.

Nilai valuasi Semen Gresik melonjak dari US$105 per ton equivalent menjadi US$165 per ton equivalent per Agustus 2007. Dengan demikian valuasi Semen Gresik, jauh lebih tinggi dari para pesaingnya. Sementara harga sahamnya yang pada September 2006 ‘hanya’ Rp 27.500/lembar, naik menjadi Rp38.500 pada 27 Desember 2006. angkanya naik lagi menjadi Rp54.500/lembar pada 11 Juli 2007 atau meningkat 98% sejak September 2006. Pada 1 Oktober 2007, Moody’s Investor Services memberikan peringkat Ba2 dengan prospek stabil kepada PT. Semen Gresik, dua tingkat lebih tinggi dibandingkan peringkat sovereign Republik Indonesia.
*** 09-11-07
http://rizalramli.net/index.php?act=details&channel=contents&cid=3&scid=0


Actions

Information

2 responses

8 04 2009
Erwin

Maju terus pak Rizal, bangsa dan rakyat ini membutuhkan pemimpin yang memiliki visi, misi & kemampuan yang handal serta amanah, untuk menjadikan bangsa ini lebih baik di masa yad. saya berharap besar anda bisa menjadi Mahatir Muhammad Indonesia yang bisa meningkatkan taraf hidup rakyat indonesia serta meningkatkan harkat dan martabat bangsa ini. Bangsa ini sangat kaya dng sumber daya alam akan tetapi karena ketidak mampuan para pemimpinnya dimasa yang lalu dalam mengelola kekayaan negara, maka negara ini seperti sudah tergadaikan dan kekayaan tersebut tidak bisa dinikmati oleh seluruh rakyat indonesia. Mudah2an Allah senantiasa memberikan rahmat & perlindungan kepada anda untuk memimpin perubahan Indonesia menjadi lebih baik.

5 07 2009
davidrt

kita support bapak utk tahun 2014

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: