Sanuar

22 05 2008

Menghidupkan Kembali Tenun Pandai Sikek

Oleh: Syofiardi Bachyul Jb/Padangkini.com

Di zaman serba pabrikasi seperti sekarang, termasuk dalam pembuatan kain untuk pakaian, pasti banyak orang yang tidak percaya bahwa pembuatan kain dengan menggunakan keterampilan tangan dan alat sederhana dalam menenun masih ada dan tetap berkembang sampai saat ini.
Tetapi tidak begitu halnya di Pandai Sikek, sebuah nagari (setingkat desa) di Kabupaten Tanah Datar yang terletak di kaki Gunung Singgalang, di kiri jalan raya 10 km menjelang Bukittinggi dari Padang.
Di Pandai Sikek yang udaranya dingin itu, saat ini terdapat 27 pengusaha tenun (sering disebut songket atau tenunan yang bersulam benang emas atau perak) dengan 857 penenun yang umumnya perempuan muda. Rata-rata dalam satu bulan, seorang penenun bisa menghasilkan selembar kain (untuk sarung) atau selendang dengan motif paling sederhana.
Pandai Sikek merupakan satu dari tujuh nagari di Minangkabau yang masyarakatnya secara turun-temurun sejak ratusan tahun terkenal sebagai perajin tenun. Nagari lain adalah Pitalah dan Sungayang (Tanah Datar), Silungkang (Sawahlunto), Kotogadang (Agam), Koto Nan Ampek dan Kubang (Limapuluh Kota). Aktivitas perajin ini berkaitan dengan supplay untuk pakaian upacara adat, seperti melantik penghulu, pesta perkawinan, dan sebagainya.
Namun sekarang hanya tinggal Silungkang, Kubang, dan Pandai Sikek saja yang masih terdapat penenun. Dari ketiga itu, hanya Pandai Sikeklah yang lebih maju dalam melanjutkan tradisi menenun dengan tetap mewariskan kemahiran menenun kepada warganya, sehingga banyak penduduknya tetap menjadi penenun.
Selain itu, tenunan songketnya pun memiliki kehalusan dan keberagaman motif yang jauh lebih tinggi dan banyak, mendekati aslinya yang merupakan warisan budaya ratusan tahun silam. Jenis motif tenunan songket Pandai Sikek yang jumlah lebih 200 itu, rata-rata memiliki arti yang berkaitan dengan filosofi adat Minangkabau, seperti motif pinggir “itiak pulang patang” (itik pulang petang) yang mengiaskan orang Minang seiya-sekata atau bersatu.
Tetap bertahan dan majunya perajin tenunan songket dan juga perajin ukiran rumah gadang di Pandai Sikek tak bisa dilepaskan dari peran Ahmad Ramli Dt. Rangkayo Sati dan istrinya, Sanuar.

Terhenti Zaman Jepang
Aktivitas bertenun warga Pandai Sikek dan nagari-nagari tenunan lainnya di Sumatra Barat sempat terhenti selama pendudukan Jepang (1942-1945). Mereka terpaksa menyimpan alat tenun yang sudah dipakai turun-temurun selama berabad-abad karena sulitnya mencari benang.
“Biasanya kami menggunakan benang emas yang diimpor dari Macao, Cina dan benang sutra dari luar daerah, tapi sejak zaman penjajahan Jepang kami tidak mendapat kiriman lagi, konon pabrik benang emas di Macao sendiri hancur akibat Perang Dunia II,” kisah Sanuar.
Kondisi tidak adanya supplay bahan baku tenunan tetap dialami sampai tahun 1960-an. Agresi Belanda II, dan kekacauan politik dalam negeri, dari tragedi PRRI (Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia) yang berpusat di Bukittinggi yang berujung perang saudara hingga pertentangan dengan Partai Komunisme Indonesia (PKI), membuat suasana bertenun warga Pandai Sikek benar-benar terhenti.
“Sudah tradisi kami setiap anak gadis di Pandai Sikek wajib diajarkan bertenun, tetapi kondisi sejak Jepang masuk sampai tahun 1960-an menyebabkan transfer keterampilan itu terhenti,” kata Hajah Sanuar yang akrab dipanggil “Nenek” yang kini berusia 80 tahun.
Untunglah ada tiga penenun lama Pandai Sikek diam-diam sambil belajar di sekolah Dinniyah Putri, Padangpanjang, terus menenun dengan menggunakan benang murah buatan lokal. Bahkan sisa-sisa benang lama pun digunakannya. Merekalah kemudian yang menjadi guru terampil untuk generasi kemudian.
Suasana mati suri Pandai Sikek kemudian dihidupkan kembali oleh Ahmad Ramli Dt. Rangkayo Sati ketika menjadi wali nagari pada 1960-an. Ramli yang berlatar belakang pengukir dan pelukis serta pernah berguru kepada pelukis Wakidi, membuka workshop ukiran tradisional minang untuk rumah gadang sekaligus menghidupkan usaha tenunan songket dengan dibantu Sanuar.
Usaha kerajinan ukiran Ramli berkembang setelah pada 1970 mendapat proyek dari Gubernur Sumatra Barat waktu itu, Kaharuddin Datuk Rangkayo Basa, untuk pembuatan ukiran sejumlah perkantoran pemerintah yang beratap gonjong mirip rumah gadang. Ia mempekerjakan sekitar 100 pengukir.
Setelah proyek selesai, Ramli dan Sanuar fokus kepada usaha tenunan songket. Galeri dan workshopnya di rumah gadang yang penuh ukiran bernama “Rumah Tenun Pusako” menjadi penggerak munculnya puluhan pengusaha tenunan-songket di Pandai Sikek dan menyerap ratusan tenaga kerja. Pandai Sikek telah berubah menjadi kampung wisata belanja kerajinan dan setiap hari ramai dikunjungi wisatawan.
“Saya masih ingat awal tahun 1970 Menteri Dalam Negeri Amir Mahmud berkunjung ke rumah ini dan memberikan kami bantuan Rp200 ribu, jumlahnya sangat besar waktu itu,” kata Sanuar.

Megawati Lari-Lari di Tangga
Biasanya, pejabat tinggi negara, pejabat kedutaan, pejabat dari negara lain, pejabat BUMN, dan tokoh-tokoh Indonesia jika berkunjung ke Bukittinggi akan mampir ke Rumah Tenun Pusako. Keluarga Bung Hatta misalnya, sejak zaman Bung Hatta sampai sekarang masing sering berlanja ke rumah tenun Sanuar.
Sri Sultan Hamengkubowono jika ke Bukittinggi juga sering ke sana. Miranda Gultom sering memborong koleksinya. Bahkan Megawati Soekarno Putri, sejak masih gadis sudah akrab dengan tempat ini.
“Saya masih ingat tahun 1970-an Megawati Soekarno Putri setelah datang bersama rombongan karena tidak sempat membeli tenunan, mungkin tidak bawa uang, besoknya datang sendiri berlari-lari di tangga rumah seperti anak kecil sambil teriak Etek, Etek (panggilan untuk ibu-ibu di Minang), masih ada kain kemarin, rasanya ia pandai berbahasa Minang, lalu memborong kain tenunan, saya lihat di koran kemudian ia memakai kain itu ketika ikut berkunjung ke Jepang,” kenang Sanuar.
Ramli wafat pada 1985. Tetapi Sanuar terlihat masih kuat mengelola rumah tenunnya yang saat ini memiliki 50 perajin dengan produksi rata-rata 30 set tenunan. Meski ia telah lama tidak ikut menenun, ia sendiri masih mengurus pembelian benang emas buatan India dan benang sutra yang diantarkan pedagang lokal dan memeriksa hasil tenunan. Dengan dibantu putra sulungnya, Ardyan Anwar, 47 tahun, ia bahkan masih melayani pembeli dan pesanan dari luar daerah.
Sanuar masih memiliki obsesi untuk meniru motif tenunan songket lama Minangkabau yang berumur 200 bahkan sampai 300 tahun yang sekarang sekitar 20 helai dikoleksinya. Meski cahaya tenunan songket lama ini sudah memudar, tapi kehalusan dan kemewahan masih terlihat pada motifnya.
“Tenunan lama ini tidak saja warisan dari Pandai Sikek, bahkan ada yang diantarkan pemiliknya dari Silungkang dan Batusangkar yang konon ada yang dipakai raja Pagaruyung zaman dulu yang diminta untuk kami tiru, meski di daerah mereka dulunya juga ada penenun tapi tidak ada lagi yang mempu mengerjakan tenunan serumit ini,” kata ibu tiga anak itu.
Tapi tidak mudah meniru tenunan kuno yang halus dan rumit motifnya itu. Dua helai model kuno itu sudah dia tiru yang harganya satu set (kain dan selendang) mencapai Rp7 juta.
Rumah Tenun Pusako menjual enam macam produk tenunan songket, seperti sarung dan selendang, pakaian penghulu, bajo anak daro (pengantin), baju kurung, baju koko dan teluk belango, dan aneka souvenir kecil seperti hiasan dinding dari songket, dompet, tas, kotak perhiasan, sandal, serta bros.
Harga pakaian mulai dari Rp700 ribu sampai Rp7 juta. Motif yang dimiliki lebih 200 macam. Harga lebih ditentukan kerumitan pengerjaan motif. Namun untuk souvenir harga terendah mulai dari bros Rp5.000 sampai ratusan ribu rupiah.

Selempang Wisuda di Amerika
Meski beberapa pengusaha sulaman bordir Pandai Sikek ada yang berusaha di luar Pandai Sikek seperti di Padang dan Jakarta serta mengajarkan kepandaian bertenun kepada orang lain, tapi Sanuar masih tetap memegang erat tradisi nenek moyangnya, melarang mengajarkan kepandaian tenun kepada orang luar Pandai Sikek.
“Ini sudah tradisi di Pandai Sikek agar kemahiran menenun tetap diwariskan kepada anak-cucu kami sendiri dan kami dari awal berusaha tetap mempertahankan tradisi membuka usaha di Pandai Sikek dan pembelilah yang datang ke sini agar perekonomian Pandai Sikek bisa maju,” ujarnya.
Meski hanya menjual hasil tenunannya di Pandai Sikek, para pembeli tetap banyak yang mendatangi tempatnya. Bahkan sampai ke mancanegara. Misalnya seorang profesor anthropology dari Department of Sociology and Antrophology, College of The Holy Cross di Massachusetts, Amerika Serikat sejak lima tahun lalu sudah lima kali memesan 20 helai selendang untuk selempang mahasiswa studi Indonesia yang diwisuda.
Rumah Tenun Pusako dan Sanuar juga sering menjadi tempat dan narasumber penelitian oleh peneliti dalam negeri dan asing tentang songket. Rumah tenun ini sejak 2003 juga membuat home page (situs) untuk promosi http://www.tenun-pusako.com yang dikelola Ardyan Anwar.
“Sekarang saya tidak lagi khawatir tenunan songket Pandai Sikek akan tenggelam seperti zaman Jepang dulu, sebab dengan majunya usaha tenunan di sini, anak-anak muda menjadi bersemangat untuk bekerja sebagai perajin, dan penenun yang piawai untuk mengerjakan motif rumit tetap muncul di antara mereka, tidak seperti daerah lain yang lama-lama hilang.” katanya.**


Actions

Information

2 responses

6 07 2008
dewean

Aneh rasanya kalau ibu sanuar yang memajukan tenun songket pandai sikek, karena pada sebelum tahun 80 ibu sanuar masih menjadi petani dan belum lagi bisa bertenun. setelah suaminya meninggal setahu saya baru dia menikah lagi dengan Dt.Rangkayo Sati. Setelah kawin dengan DT.Rky.Sati dia mesih belum bisa bertenun. setelah Dt.Rky.Sati meninggal baru ibu sanuar mulai berurusan dengan songket pandai sikek. Jadi agak mengherankan kalau ibu sanuar yang mengembangkan tenun songket pandai sikek. Siapun anda yang menulis tentang sejarah perkembangan songket pandai sikek sebaiknya tanya dan selidiki terlebih dahulu. Menudustai publik itu sungguh tidak baik saudaraku…..

7 07 2008
Is Sikumbang

Sanak Rani, ambo dapek beritako dari padangkini.com, silahkan coment di padangkini.com, atau langsuang ka website anak dari Ibu Sanuar, Mamak Adyan di http://tenunpusako.wordpress.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: