Hj.Rosma

28 07 2008

Pengabdian Ibu Yang Tidak Berbatas

Oleh : Nita Indrawati/ Padangkini.com

Hj. Rosma, memiliki ribuan anak jahit
yang pernah belajar di rumahnya.

Memasuki usia 82 tahun pada 10 Agustus mendatang, Hj. Rosma tampak tak banyak berubah. Semangat dan motivasinya untuk membangun daerah melalui pendidikan ketrampilan masih tergolong tinggi. Ia merasa perjuangannya belum selesai. Masih banyak yang harus ia kerjakan.

Ketuaan tak jadi hambatan bagi Rosma. Ia tetap terampil mendesain motif dan masih telaten mengajarkan anak didiknya menyulam dan membordir. Mata tuanya masih betah berlama-lama mengamati jahitan hasil karya anak didiknya. Dari desa Bonjo Panampuang, Ampek Angkek Canduang, kabupaten Agam, masih terdengar deru mesin jahit yang didengungkan oleh anak-anak didiknya.

“Jumlah anak-anak yang belajar disini memang makin sedikit. Dibanding pada tahun 70-an, jauh bedanya. Kalau pada masa itu dalam setahun saja jumlah anak-anak yang belajar sampai ratusan bahkan ribuan, sekarang tak sampai 100 orang, ” ungkap Rosma kepada padangmedia.com, suatu hari ketika berkunjung ke rumahnya. Saat ini di rumah jahitnya sekitar 20 anak rutin belajar menjahit saban hari. Bulan Agustus mendatang diperkirakan akan bertambah 10 orang dari Pekan Baru dan 10 orang dari Padang.

Hj. Rosma sendiri juga heran, kenapa semangat juang anak muda sekarang semakin rendah. Tidak seperti dulu, ketika anak-anak didiknya, terdiri dari remaja putus sekolah datang dari berbagai pelosok, ingin belajar menjahit dan membordir. “Apakah remaja sekarang memang begitu ? Mereka tidak tertarik lagi belajar menjahit. Yang saya lihat, banyak dari mereka lebih suka menjadi pelayan toko dari pada belajar menjahit. Padahal dengan belajar menjahit mereka akan memiliki keahlian seumur hidup. Mungkin karena belajar ini butuh perjuangan. Sementara jadi pelayan toko, bisa instan, kerja sebulan, langsung dapat gaji. Padahal berapalah gaji sebagai pelayan toko yang cuma tamat SMA,” papar Rosma yang masih dipercaya menjadi Ketua Bundo Kanduang di Agam. Padahal ia sudah berkali-kali mengusulkan agar posisinya digantikan oleh yang lebih muda.

Berawal dari Kain Perca
Kepiawaian dan kesuksesan Rosma sebetulnya diawali dengan ketidak sengajaan. Saat usiaya baru 9 tahun. Keluarganya tinggal di Bangkinang. bertetangga dengan penjahit cina yang di panggilnya Taci. Rosma kagum pada anak Taci yang mahir menjahit., padahal mereka masih kanak-kanak. Rosma termotivasi untuk belajar. Dengan uang jajan yang dikumpulkannya sedikt demi sedikit, Rosma membeli kain dan meminta Taci mengajarkannya.

Sebelumnya, Rosma wanti-wanti agar Taci tidak memberitahukan ayahnya Abdullah. Ia takut orangtuanya malu bila anaknya belajar menjahit. Dikampungnya, ada pendapat kalau anak perempuan ketahuan belajar menjahit, itu artinya minta dikawinkan. Celakanya, Taci tidak menyimpan rahasia. Diam-diam diceritakannya pada orangtua Rosma. Suatu hari, tanpa diduga, sang ayah muncul saat Rosma asyik menjahit. Rosma takut. Ia langsung berlari pulang dan sembunyi di kamar.

“Saya takut dikawinkan, ketika ayah menemukan saya, cepat-cepat saya katakan bahwa saya belum mau menikah. Saya cuma mau belajar supaya pintar seperti anak Taci,” kenang Rosma tentang sekelumit masa kecilnya.

Serta merta Abdullah tertawa. Soalnya, tak pernah ia berpikir bakal mengawinkan anak gadisnya yang masih ingusan. Sebaliknya, ia amat senang, bangga dan memberi dukungan. Merasa dapat angin Rosma semakin giat.

Saat Rosma sekolah di Padang Panjang, situasi ekonomi mereka dilanda krisis. Ayahnya harus menyediakan biaya untuk kedua kakak laki-lakinya Amir dan Azwar yang sekolah di Bogor dan Bandung. Kiriman untuk Rosma terpaksa di batasi. Ia mesti mengelola keuangan dengan baik. Demi keperluan sendiri, Rosma memanfaatkan barang bekas. Ia memungut perca-perca sisa membuat seragam olah raga disekolah yang sudah dibuang ke tempat sampah. Ia jadikan pakaian dalam, sapu tangan dan lap sepatu yang bermotif sulam. Karyanya sering di jadikan contoh oleh kepala sekolah.

Tamat Normal School, Rosma langsung mengajar di SD IV Angkek Canduang. Baru empat tahun jadi guru, ia sudah dipercaya menjabat Kepala Sekolah. Meski disibukkan dengan urusan sekolah, Rosma tetap menjahit sampai menikah dengan Iskandar Zulkarnain, juga seorang guru.

Pada awal pernikahan, rumah tangga mereka mengalami masa sulit. Dengan 3 orang anak, gaji Rosma dan suaminya tak cukup memenuhi kebutuhan sebulan. Sehari menjelang lebaran, tahun 1960, kondisi mereka benar-benar payah. Jangankan kue, buat makanan saja tak cukup. Apalagi untuk menebus baju anak-anaknya di tukang jahit. Sementara sang anak yang tak tahu masalah, selalu merengek meminta baju baru.

Tiba-tiba saja terlintas dalam pikiran Rosma untuk menggadaikan taplak meja sulamannya ke Los Begalung di Bukittinggi tempat di mana orang biasa menjual pakaian. Diambilnya dua buah yang masih baru dari 7 lembar yang ia miliki. “Saya betul- betul panik. Tak ada pilihan lain. Pokoknya harus dapat uang. Syukurnya, taplak meja saya tak jadi tergadai, tapi laku di jaul. Bahkan beberapa lembar yang masih di rumah ikut di tawar juga, ” kisah Rosma dengan mata berbinar. Ternyata taplak meja dapat menebus baju anaknya, membeli kue, daging dan makanan untuk lebaran.

Tuntutan hidup membuat kesadaran Rosma untuk memanfaatkan kepandaian menjahit. Rosma kian bersemangat. Langganannya di Pasar Begalung semakin banyak. Sebagai guru, ia hanya bisa menjahit seusai sekolah. Lantaran banyak pesanan, ia bekerja sampai dini hari di terangi lampu minyak. Syukurnya, sang suami mau mengerti, malah ikut menemaninya begadang.

Jumlah pesanan jahitan Rosma meningkat terus. Ia kewalahan. Di ajaknya gadis-gadis putus sekolah di sekitar rumahnya membantu. Jahitannya sudah berkembang dengan menggunakan mesin. Tetapi keterampilan tangan masih ia pertahankan sebab sentuhan tangan memiliki nilai khusus. Gadis-gadis dan kaum ibu binaan Rosma menyebar hingga ke desa-desa lain seperti Gadut, Limbanang, Suliki, Tilatang Kamang, IV Koto Agam, Lundang, ke Batang Palupuh bahkan sekarang ada di Malysia. Mereka sudah berkembang sendiri dan memiliki anak jahit pula. Rosma telah berbuat untuk desanya, tanpa pamrih.

Kegigihan perjuangan dan pengabdian Rosma mengantarkannya ke Istana Negara menerima Upakarti tahun 1987. Undangan ini adalah kedua kalinya. Sebelumnya tahun 1981, Rosma juga pernah ke Istana Negara mewakili Sumatera Barat dalam pemilihan guru teladan. Ia mendapat predikat Guru Teladan II SLTP di tingkat Nasional. Sebagai hadiahnya, Rosma beroleh tiket ke Jepang. Pegalaman tersebut memberi arti khusus bagi perjalanan hidupnya.

Meski begitu, Rosma merasa kehidupannya berjalan biasa-biasa saja. Tak ada yang istimewa. Terhadap ketiga anaknya, Eddy R. Iskandar, Ismed dan M. Rizal, ia mengaku tak punya resep khusus. Ketiga anaknya sudah jadi orang dan tak pernah ia paksakan untuk terlibat dalam usahanya. Hanya Eddy R. Inskandar Dt. Mangiang yang berminat dan membantu usaha ibunya. Rosma membuat toko di rumahnya sendiri yang sekaligus di jadikan rumah bagi anak jahitnya.

Sudah ribuan anak jahit terlahir dari di rumah Rosma. Setiap tahun, muridnya selalu berganti. Ada yang datang khusus dari luar daerah seperti Medan, Jambi, Muaro Bungo ataupun Mentawai untuk dapat diajarkan membordir. Bagi Rosma, anak-anaknya tersebut sudah dianggap sebagai anaknya sendiri. Selain anak-anak yang belajar di rumahnya, Rosma juga menerapkan sistem bapak angkat. Ia cukup mengajarkan kepada beberapa orang yang kemudian ditunjuk sebagai koordinator guna membina ratusan orang di tempat lain. Biasanya, mereka mengambil bahan dari Rosma.

Tetapi sekitar tahun 90-an, peminat untuk belajar menjahit di tempatnya mulai berkurang. Sekarang yang lebih banyak adalah siswa dari sekolah yang melakukan praktek kerja. Sementara yang tercatat sebagai anak jahit biasa hanya 20 orang. Beberapa tahun lalu ia juga menerima anak dari Malaysia yang minta diajarkan menjahit. Tapi mereka sepertinya juga tidak betah. “Mungkin karena bukan dari keinginan sendiri. Orang tuanya yang bersemangat menitipkan anaknya belajar. Akhirnya tidak betah,” jelas Rosma.

Masih Mendisain Motif Sendiri
Penjualan hasil bordiran Rosma memang hanya melalui rumah. Meski begitu, pembelinya datang dari berbagai kalangan, mulai dari kalangan rendah sampai kalangan atas. Bahkan ibu-ibu dari kabupaten dan propinsi sering datang membawa tamu yang kebetulan berkunjung ke Sumatera Barat.

Kreasi Rosma sudah dikenal masyarakat luar. Rumahnya di desa Bonjo Panampuang yang telah di sulap menjadi toko itu ramai dikunjungi turis asing, domestik dan pejabat dari berbagai kalangan. Motif bordiran Rosma yang bercorak eksklusif banyak di cari orang.

Soal motif, Rosma mengerjakannya sendiri. Tidak terhitung lagi jumlah motif yang sudah ia rancang. Ide rancangan itu menurut Rosma muncul dar pengamatannay melalui pasar dan kegemaran pembelinya. Di setiap produksi, motif bordiran Rosma berbeda-beda. Ia termasuk orang yang rajin mengganti motif. Jika sebuah motif disukai orang, maka motif itu dibiarkannya lebih lama beredar. Biasanya, jika kainnya berbeda, motifnya diberi sedikit variasi. Kondisi ini menurut pengakuan Rosma memang cukup mempengaruhi pembelinya. Seorang pemakai akan lebih tertarik bila memiliki motif yang berbeda dengan orang lain.

Tentu saja Rosma mesti mengamati perkembangan selera serta kenginan pasar. Dari mana ia mengetahui selera pasarnya? Rosma banyak berpedoman dari jumlah penjaulan sebuah produk.dan motif. Jika penjualan banyak, ini berarti motifnya digemari. Di pihak lain, bila ia ingin memperkenalkan motif baru, selalu ia sodorkan pada pelanggannya. Jika mereka tertarik, Rosma memperkirakan motif itu akan laku. Instingnya dalam hal ini sangat tepat.

Dalam sebulan, biasanya Rosma sanggup menyelesaikan lima motif. Cuma belakangan karena faktor usia, sedikit berkurang. Apalagi mendisain motif itu tergantung dengan mood.

Karena kesibukan berusaha Rosma meminta pensiun muda pada tahun 1984. Ia tak ingin pekerjaannya sebagai guru terganggu karena kesibukan berusaha. Tetapi dengan membina anak jahit di rumahnya,ia tetap merasa sebagai guru. Dalam hal jahit-menjahit tak ada hambatan atau kata pensiun bagi Rosma meski sudah 82 tahun.

Kesuksesan demi kesuksesan telah ia gapai. Banyak keteladanan yang telah ia berikan. Alasan itu pula yang membawa namanya terpilih sebagai ibu teladan Sumatera Barat pada tahun 1992. Di tingkat nasional, ia terpilih sebagai Ibu teladan II.

Hj Rosma memang pantas jadi panutan. Kesetiaannya pada dunia jahit adalah sebentuk pengabdiannya yang tak ternilai. Dari desa Bonjo Panampuang kediamannya, hingga hari ini masih terdengar deru mesin jahit dari ayunan kaki anak-anak didiknya. ” Saya masih belum bisa berhenti, “ucapnya. (nita indrawati)

http://www.padangmedia.com/v2/?mod=tokoh&id=8


Actions

Information

2 responses

3 12 2008
roumink

Pak saya hanya mengingatkan, bukankah Nita Indrawati itu di padangmedia.com, soalnya di atas tulisan tertulis: Pengabdian Ibu Yang Tidak Berbatas. Oleh : Nita Indrawati/ Padangkini.com
Tapi, di bawahnya sudah betul ya, pak karena sumbernya udah:http://www.padangmedia.com/v2/?mod=tokoh&id=8

Terima kasih, saya hanya mengingatkan.
romi

17 05 2009
Helma Tuti

Yang sy ingat tentang ibk hj Rosma waktu sy ikut lomba curai paparan petatah petitih minang waktu itu buk Rosma sbg ketua bundo kanduang agam sya hanya mendapat predikat juara tiga se Sumbar n ibk rosma bilang ke sya Ema jangan sedih ya ini karena kami terlambat memberi tahu ema untuk lomba,ibuk yang salah , bagi saya sih juara tiga juga dah lebih dari cukup karena untuk tingkat Sumbar tapi itulah buk Rosma yang sepintas saya kenal penuh semangat dan saya juga di hadiahi buku beliau yang waktu itu baru aja selesai di cetak,sy banyak dapat ide waktu kuliah dg motif jahit ibk itu bordirannya bagus2 dan alami

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: