Indra Jaya Piliang

10 08 2008

Pamit Sebagai Akademisi, Pulang Sebagai PolitisiOleh Indra Jaya Piliang
Assalamu’alaikum Wr Wb

Selamat Pagi dan Salam Sejahtera

Untuk memulai pidato ini, saya mengutip MOHAMMAD HATTA yang pada tanggal 11 Juni 1957 menegaskan:

“Revolusi kita menang dalam menegakkan negara baru, dalam menghidupkan kepribadian bangsa. Tetapi revolusi kita kalah dalam melaksanakan cita-cita sosial-nya…. Krisis ini dapat diatasi dengan memberikan kepada negara pimpinan yang dipercayai rakyat! Oleh karena krisis ini merupakan krisis demokrasi, maka perlulah hidup politik diperbaiki, partai-partai mengindahkan dasar-dasar moral dalam segala tindakannya. Korupsi harus diberantas sampai pada akar-akarnya, dengan tidak memandang bulu. Jika tiba di mata tidak dipicingkan, tiba di perut tidak dikempiskan. Demoralisasi yang mulai menjadi penyakit masyarakat diusahakan hilangnya berangsur-angsur dengan tindakan yang positif, yang memberikan harapan kepada perbaikan nasib.”

Keadaan yang kita hadapi sekarang kurang-lebih sama dengan yang dikatakan oleh Hatta, lebih dari 50 tahun yang lalu itu. Perbedaannya, demokrasi kini merupakan salah satu keajaiban yang dialami oleh rakyat Indonesia.

Sepuluh tahun lalu, kita tidak pernah membayangkan bahwa demokrasi akan hadir sederas sekarang. Sementara hidup masyarakat semakin susah, sekalipun kesempatan juga terbuka luas untuk mewujudkan mimpi apapun, selama ada ikhtiar dan kerja keras.

Dalam kesempatan yang berbahagia ini, izinkanlah saya menyampaikan pokok-pokok pikiran kenapa saya berubah haluan, dari seorang pengamat politik menjadi pelaku politik atau politisi.

Sekaligus, izinkanlah saya pamit sebagai analis politik dan perubahan sosial, termasuk juga dalam mengamati persoalan-persoalan otonomi daerah, resolusi konflik, juga perkembangan masyarakat sipil. Ini adalah pidato pertama dan terakhir saya sebagai pengamat politik yang sedang melakukan transformasi di bidang politik.

Demokrasi yang berbasiskan partai politik hampir berusia sepuluh tahun. Banyak pihak yang secara sinis menyebut sebagai keadaan yang jauh lebih buruk daripada zaman sebelumnya.

Kehidupan tanpa partai politik yang bergemuruh barangkali memberikan kenyamanan struktural kelompok penguasa formal, juga kesenangan kultural penguasa tradisional. Partai politik dianggap sebagai benalu bagi kehidupan, serta bahkan penghambat bagi pencapaian keadilan dan kesejahteraan sosial. Pola pikir semacam itu adalah sisa dari zaman lalu yang ikut terseret ke zaman sekarang, sehingga selalu terdapat para penentang demokrasi, bahkan di kalangan kelompok intelektual sekalipun.

Masyarakat belum sepenuhnya percaya kepada demokrasi. Orang-orang cerdas berpendidikan tinggi tinggal menunjukkan data-data statistik tentang perilaku buruk orang-orang yang ada dalam partai politik, tetapi tidak membedakan bahwa perilaku buruk itu dipupuk oleh ketidakpahaman tentang demokrasi secara mendalam.

Sebagai suku bangsa yang terlalu lama mengalami kolonialisme, ditambah dengan praktek kekuasaan yang rakus dan korup, masyarakat Indonesia seakan terus memelihara pemikiran tentang keberadaan raja yang baik. Padahal, kenyataannya tidaklah semudah dan sesederhana itu.

Karena itulah saya menggeluti bidang pekerjaan yang tidak terbayangkan sebelumnya, yakni mengamati peristiwa, perilaku, aktor, sistem sampai gejala-gejala politik yang ada di tengah-tengah masyarakat, bangsa, dan negara.

Dunia politik praktis bukanlah sesuatu yang asing bagi saya. Sekalipun tidak langsung terlibat sebagai politikus, fase-fase kehidupan saya sudah melewati dunia politik, baik teoritis, empiris, maupun praktis.

Fase pertama kehidupan politik yang saya tempuh adalah menjadi fungsionaris Partai Amanat Nasional (PAN) selama hampir dua tahun, yakni sejak tahun 1998 sampai tanggal 21 Januari 2001. Setelah itu, saya konsentrasi sebagai penulis, analis, narasumber atau pembicara dalam banyak seminar.

Saya juga aktif dalam beragam aktivitas kelompok masyarakat sipil dan apa yang dikenal sebagai kelompok pro-demokrasi. Saya memiliki banyak sekali kawan, termasuk dari beragam partai politik, kelompok nasionalis, kelompok separatis, sampai aktivis garis keras dan pragmatis.

Saya sudah berjalan ke hampir semua titik penting di republik ini, juga berbicara, menulis, dan menganalisa. Saya juga berada pada pusat-pusat peristiwa perubahan politik penting. Bisa dikatakan keseharian saya adalah politik.

Peristiwa-peristiwa politik besar dan kecil ditanyakan dengan rajin oleh para jurnalis. Tentu, ada kelelahan dan kebosanan, terutama akibat apa yang kita tulis atau katakan tidak sesuai dengan realitas yang diinginkan. Namun saya tetap setia menggeluti profesi ini.

Untuk menghindari kesalahpahaman orang atas gelar kesarjanaan saya, maka mulai tahun 2006 saya memutuskan untuk kuliah Magister atau Pasca Sarjana Bidang Studi Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Indonesia yang saya tamatkan dalam dua tahun.

Sebelumnya, saya menamatkan kuliah di jurusan Ilmu Sejarah Fakultas Sastra UI pada 1997. Ada ribuan buku yang sudah saya baca, tetapi tidak semuanya terekam dengan baik dalam pikiran. Kegiatan perkuliahan juga tidak menghentikan rutinitas kehidupan sebagai aktivis, analis politik dan perubahan sosial.

Saya tetap menyempatkan diri menulis, terutama pada media massa yang rajin menelepon saya untuk menganalisis peristiwa, regulasi, hasil survei, ataupun tokoh-tokoh politik tertentu. Saya juga berbicara pada media televisi dan radio. Tidak kurang dari 60 lebih mailing-list yang saya ikuti di internet.

Tetapi, dari hari-ke-hari, beragam jajak pendapat dan hasil pemilihan langsung kepala daerah menunjukkan antipati masyarakat terhadap partai politik dan politisi. Bagi saya, keadaan ini mencemaskan, bahkan menakutkan. Demokrasi yang diraih hari ini adalah buah perjuangan banyak pihak, terutama mahasiswa, dengan mengorbankan nyawa sekalipun.

Sebagai aktivis mahasiswa 1990-an, termasuk terlibat dan berada di Gedung MPR-DPR pada malam tanggal 19-20 Mei 1998, saya merasakan bagaimana sulitnya mengungkapkan pendapat pada masa lalu itu. (Saya ingat bagaimana kami harus lari dari Samarinda ke Balikpapan pada Desember 1996, setelah hasil Pertemuan SMPT se-Indonesia di Universitas Mulawarman meminta agar Soeharto tidak dipilih lagi).

Minimnya kepercayaan publik terhadap partai politik dan politisi memberikan sinyal bahaya bahwa suatu hari masyarakat kembali merindukan masa-masa kelam otoritarianisme.

Mengapa?

Memasuki tahun 2008, saya menyatakan tidak lagi ingin bicara di atas mimbar dengan duduk, melainkan berdiri dan memberikan orasi. Saya lebih memilih gaya orasi, ketimbang diskusi santai, untuk memberikan tekanan kepada kalimat-kalimat yang saya rangkai dan ucapkan, disertai dengan bahasa tubuh.

Saya juga mengubah tampilan blog saya di friendster. Yang lebih penting lagi, saya membuka penyebutan nama dalam tulisan-tulisan di media massa, tidak lagi menyebut INDRA J PILIANG, melainkan INDRA JAYA PILIANG. Indra Jaya adalah kepanjangan dari Indonesia Raya Jaya.

Perubahan cara menulis nama ini mempunyai arti besar, tidak hanya sekadar menghindari kesalahan penulisan. Tetapi lagi-lagi itu saja tidak cukup. Masyarakat terus memberikan pernyataan betapa buruknya wajah partai politik dan politisi kita lewat beragam survei, serta minimnya keikutsertaan dalam pilkada.

Saya berpikir, apakah akan meneruskan apa yang sudah saya kerjakan selama hampir sewindu terakhir ini sebagai analis politik? Saya sudah sangat akrab dengan siaran malam di radio dan televisi, ataupun pagi-pagi buta. Berangkat sebelum azan subuh, atau sampai di bandara menjelang tengah malam, juga bagian dari pekerjaan ini.

Pekerjaan ini sudah menjadi rutinitas. Ataukah saya harus menyelesaikan studi doktoral, bukan di dalam negeri, melainkan di luar negeri, yakni ke India, mengikuti jejak puluhan orang teman-teman terdekat saya?

Barangkali tersedia juga peluang untuk mendirikan perusahaan yang bergerak di bidang konsultansi dan komunikasi politik, lalu mendapatkan kemelimpahan finansial, sebagaimana dilakukan oleh kawan-kawan saya yang lain? Sebagai analis saya sudah terlalu nyaman, bahkan mapan, tetapi gejolak hati saya tidak bisa reda hanya dengan pekerjaan ini.

Rupa-rupanya, pilihan yang lebih menantang segera datang. Ketika saya pulang kampung sebelum ujian tesis, saya bertemu dengan kedua orang-tua saya, memintakan doa restu agar nilai saya bagus dalam ujian tesis. Persis ketika berada di teras rumah di tengah-tengah sawah itu beragam telepon datang.

Tawaran itu jelas, menjadi calon anggota legislatif. Sebelumnya, saya juga sudah ditawarin oleh satu partai besar. Saya langsung bertanya kepada ayah saya, saudara, teman-teman, serta para tokoh yang saya hormati dengan menelepon dari tengah sawah, dalam aura dan energi yang terhisap dari kampung saya. Pilihan menjadi politisi adalah pilihan yang sulit. Pro dan kontra terjadi, tetapi sebagian besar memberikan dukungan.

Karena desakan itu tidak berhenti setelah saya dinyatakan lulus ujian, saya langsung memutuskan: inilah saatnya. To be or not to be. Partai politik menurut saya benar-benar sedang membutuhkan pikiran-pikiran saya, sekecil atau setidak-berarti apapun, terutama bagi kepentingan masyarakat. Hanya dengan menjadi pengamat tidak akan bisa mengubah keadaan, sekalipun penuh dengan idealisme yang meluap.

Pengamat hanya berada pada posisi pressure groups, tetapi bukan pengambil kebijakan. Sejak konstitusi diubah, partai politik telah menempati posisi sentral, sehingga harus benar-benar diisi oleh politikus yang berkarakter.

Secara tidak langsung, dorongan menjadi politisi juga berjalan seiring dengan perubahan sikap masyarakat sipil atas dunia politik. Suasananya tidak lagi saling berhadap-hadapan, diametral, tetapi membangun kerjasama yang sinergis.

Karena wacana kepemimpinan muda sedang berlangsung secara hangat, pilihan politik seseorang menjadi penting. Apalagi pada tanggal 21 April 2008, harian terbesar dan disegani, Kompas, memuat nama saya pada urutan keenam sebagai calon Presiden Republik Indonesia versi Lembaga Swadaya Masyarakat.

Itu adalah sebuah kehormatan, sekaligus ‘pengusiran’ bahwa saya sebaiknya tidak lagi berkiprah di dunia LSM, melainkan melompat ke dunia politik murni. Langkah pensiun sebagai aktivis LSM dan pengamat sedang saya siapkan.

Dengan mengucapkan Bismillah, saya melangkahkah kaki ke dunia politik praktis. Saya sudah mengurangi dengan keras memberikan analisa-analisa politik, sekalipun terkadang melanggarnya karena khawatir dianggap aneh oleh para jurnalis yang bertanya.

Kerja-kerja politik pun dilakukan, yakni dengan mengecek kebenaran tentang pencarian politisi baru di dalam tubuh parrai politik itu. Karena memiliki banyak kenalan di jajaran petinggi partai, saya mengetahui bahwa partai tidak main-main alias serius.

Di tengah semakin banyak undangan untuk menulis, berbicara, dan menjadi konsultan paroh waktu, mengingat kalender pemilu sudah berjalan, saya menyusun kembali Daftar Riwayat Hidup. Dalam riwayat itu terlihat sekali bahwa saya memang hidup dalam dunia politik.

Daftar itu lebih dari 50 halaman, sekalipun tidak berhasil dicatat seluruhnya. Selama ini, saya tidak begitu peduli dengan daftar itu. Saya toh menggunakan motto: MENGALIR BERSAMA OMBAK. Kehidupan yang saya jalani tidak saya rencanakan dengan matang. Yang perlu hanyalah insting saya yang selalu mewaspadai akibat-akibat buruk atas diri saya, keluarga dan orang lain, kalau saya memasuki suatu kehidupan yang bertentangan dengan kepentingan masyarakat luas.

Tetapi, bukan berarti saya mudah larut, sebagaimana air, karena moto hidup saya bukan MENGALIR BERSAMA AIR. Ombak adalah buah dari badai, angin, topan, atau tsunami, sehingga saya harus betul-betul mampu bertahan, sekuat apapun ombak itu.

Belakangan, moto itu saya ganti menjadi MENGALIR MENITI OMBAK. Sebagai anak yang dilahirkan di Kampung Balacan, Kota Pariaman, saya adalah anak pesisir. Sekalipun begitu, karena ayah saya berasal dari Air Angat, Kecamatan X Koto Kabupaten Tanah Datar, saya juga melewati sekolah dasar sampai SMP di sana, tepatnya SD 1 dan SDN 2 Air Angat dan SMP Koto Lawas.

Air Angat terletak di kaki Gunung Merapi. Hantu si Bunian, mitos Harimau jejadian dan letusan gunung adalah bagian yang akrab dalam keseharian. Karena itu, saya adalah anak yang hidup di pesisir dan pegunungan, sehingga udara hangat yang membakar dan dingin yang menusuk tulang selalu datang bergantian. Saya terbiasa dengan perubahan iklim, tetapi saya merasa tidak mudah diubah oleh iklim itu.

Bermodalkan itu, saya merasa inilah saat yang tepat untuk menjadi politikus. Saya tidak berubah dan tidak berharap untuk berubah. Yang saya lakukan hanyalah perpindahan tempat, dari analis, pengamat atau peneliti, menjadi praktisi, pelaku atau politisi.

Perbedaannya adalah ketika saya menjadi analis atau peneliti, saya bekerja untuk masyarakat, termasuk ilmu pengetahuan, secara individual. Paling banter saya bekerja dalam tim kecil, seperti Pokja Papua atau Tim Depdagri untuk Revisi UU No. 32/2004 tentang Pemerintahan Daerah. Sekarang, saya tetap bekerja untuk masyarakat atau lebih tepat rakyat, terutama di daerah pemilihan saya, tetapi lewat jalur kolektif, yakni partai politik.

Karena dilahirkan di Pariaman, dibesarkan di Kepulauan Mentawai, Tanah Datar, Padang Pariaman, Pariaman, dan Sawahlunto Sijunjung, saya merasa akan sangat durhaka apabila tidak memperhatikan kepentingan masyarakat di sana. Saya bukan Malin Kundang yang harus dikutuk menjadi batu.

Saya jelas tidak punya bakat menjadi seorang saudagar, sekalipun ketika pertama kali ke Jakarta saya berjualan Sate Padang -sampai kini- bersama dengan saudara-saudara saya.

Selama 19 tahun saya tidak pernah meninggalkan Sumatera Barat. Bahkan, saya tidak pernah ke Jakarta ataupun ke Pekanbaru. Saya diwajibkan sekolah oleh kakak-kakak saya yang mengirimkan uang lewat wesel pos.

Ketika di Jakarta, saya juga tidak boleh mengerjakan pekerjaan-pekerjaan kakak-kakak saya, seperti menjadi kernet bis kota atau jualan sate. Saya hanya membantu, tetapi tidak melakukan pekerjaan-pekerjaan pokok. Tugas saya jelas, kuliah, kuliah, dan kuliah.

Atas dasar itu juga saya memilih untuk dicalonkan di Daerah Pemilihan Sumatera Barat II yang meliputi Kota Pariaman, Kota Payakumbuh, Kota Bukittinggi, Kabupaten Padang Pariaman, Kabupaten 50 Kota, Kabupaten Agam, Kabupaten Pasaman dan Kabupaten Pasaman Barat.

Ada tiga gunung yang menjadi wilayah geografis-politik saya, yakni Merapi, Singgalang dan Tandikat, serta ada Danau Maninjau yang indah. Juga ada Pantai Gondoriyah dan Pantai Arta yang menawarkan kesejukan hati.

Barangkali, saya juga akan dicalonkan di Sumbar I yang meliputi Kota Padang, Kota Padang Panjang, Kota Solok, Kota Sawahlunto, Kabupaten Kepulauan Mentawai, Kabupaten Solok, Kabupaten Solok Selatan, Kabupaten Dharmasraya, Kabupaten Pesisir Selatan, Kabupaten Sijunjung dan Kabupaten Tanah Datar.

Toh saya pernah hidup di Kabupaten Tanah Datar, daerah asal ayah saya, serta tempat saya menamatkan Sekolah Dasar sampai SMP kelas I semester I di Koto Lawas. Ada Danau Singkarak, Danau Di Atas, Danau Di Bawah, Gunung Talang, serta perkebunan teh di Kayu Aro di daerah ini. Saya juga pernah belajar mengukir di Pandai Sikat.

Tapi, kalau disuruh memilih, maka saya lebih memilih kampung ibu, bukan kampung ayah, karena saya merasa lebih mampu untuk membina hubungan dengan banyak kalangan, baik dalam lingkungan keluarga besar saya sendiri, teman-teman sekolah, sampai para ninik-mamak, cerdik-pandai, alim-ulama, bundo kanduang dan seluruh pemangku agama Islam dan adat di Ranah Minang.

Menjadi Politisi

Lalu, datanglah hari ini. Saya menyatakan sebagai politikus Partai Golkar. Sebagai langkah awal, saya memilih daerah pemilihan Sumatera Barat 2, ketimbang Sumbar I itu.

Bisa saja Partai Golkar menempatkan saya di DKI Jakarta, Banten atau Jawa Barat, terutama karena saya pernah tinggal di Banten dan berdomisili di DKI Jakarta, selama 17 Tahun, atau karena saya beristrikan Faridhah Thulhotimah yang memiliki kampung di daerah dingin Kabupaten Bogor. Tetapi, saya merasa harus memulai di tempat yang tepat, yakni kampung halaman sendiri.

Dulu, saya diberangkatkan ke rantau sebagai akademisi, kini saya pulang ke ranah sebagai politisi. Rantau dan ranah harus terus disambung dengan menggunakan hati.

Inilah perbedaan yang saya buat dengan Agus Salim yang kini berubah menjadi nama stadion sepak bola, Muhammad Hatta yang berubah menjadi universitas dan perpustakaan, Tan Malaka yang hinggap dalam grafiti anak-anak muda Minang, atau HAMKA dan Natsir yang ada dalam buku-buku pelajaran agama dan etika. Kalau mereka menjadi politisi di rantau, saya tidak mengulangi itu lagi dengan cara menjadi politisi di ranah.

Saya bukanlah anak muda pelajang bukit yang harus berurusan dengan zaman saisuak. Tidak perlu saya ikut menangisi kenapa di pentas nasional tidak banyak lagi politisi Minang yang berkarakter dan menonjol.

Pentas nasional hanyalah pentas, sementara kebutuhan yang paling real ada di desa-desa, dusun-dusun, nagari, parak, atau di tengah sawah, yakni manusia yang tersebar di banyak titik hidup. Manusia yang hidup dalam penderitaan zaman ini. Biarlah saya mencoba menganyam filosofi manusia Minang:

Panakiak pisau sirauik,

Ambiak galah batang lintabuang,

Salodang ambiak ka nyiru

Satitiak Jadikan Lauik (Setitik Jadikan Laut)

Sakapa jadikan gunuang (Sekepal jadikan gunung)

Alam terkembang jadikan guru.

Kini, saya sedang mempersiapkan kembali ke kampung halaman, tidak hanya datang dan pergi, sebagaimana selama ini, kadang hanya semalam. Tagline dalam website saya selama ini (www.indrapiliang.com) dan nada tunggu pada handphone saya berbunyi: “Kembalikan, Kampung Halamanku”.

Untuk persiapan ini, saya menulis artikel “Rezim Developmentalisme Demokratis” yang saya kirim ke harian Padang Ekspres. Kampung saya membutuhkan pembangunan yang humanis, selain tentu demokrasi yang sudah mengakar dan mendarah-daging.

Bukan hanya kampung saya, barangkali, yang membutuhkan pembangunan, tetapi juga kampung orang lain. Biarlah puluhan ribu politisi dari 34 partai politik ikut mengubah kampung halaman masing-masing untuk tugas berat ini.

Tentu saya tidak tiba-tiba datang dan masuk Partai Golkar, sekalipun prosesnya berlangsung mendadak dan tiba-tiba. Orang Minang tidak bisa melakukan serangan cepat, akan selalu mengulur waktu, tetapi juga membutuhkan perdebatan keras dalam kancah musyawarah di rumah gadang.

Orang Minang selain sinis dan skeptis kepada orang lain, juga lebih sinis dan skeptis kepada diri sendiri. Sudah sejak pemilu 2004 saya mulai mengenali para petinggi Partai Golkar, ketika mengamati dari dekat Konvensi Nasional Partai Golkar.

Saya juga terus berkomunikasi dengan Prof Dr Djohermansyah Djohan, Deputi Bidang Politik Sekretariat Kantor Wakil Presiden RI, untuk mengetahui pikiran-pikiran Pak Jusuf Kalla.

Prof Djo adalah Ketua Dewan Pendiri Yayasan Harkat Bangsa Indonesia yang menempatkan saya sebagai Ketua Dewan Pengurus. Belakangan saya juga tahu, Prof Dr Azzumardi Azra juga melobi kalangan Partai Golkar untuk menerima saya, barangkali setelah membaca di internet tentang keputusan saya untuk menjadi politikus.

Sebagai warga Muhammadiyah dan buyut dari keluarga Masyumi, saya juga perlu sebutkan dukungan Prof Dr Din Syamsuddin yang dari Los Angeles, Amerika Serikat, dengan mengirimkan sms kepada Ketua Umum Partai Golkar, Jusuf Kalla. Pak Syahrul Ujud, staf khusus Wakil Presiden, juga memberikan dorongan dan dukungan kuat.

Selain itu tentu ada Priyo Budi Santoso, Pompida Hidayatullah, Agung Laksono, Yudhy Chrisnandi, Yamin Tawari, Iskandar Mandji, Rully Chaerul Azwar, Aulia Rahman, Burhanuddin Napitupulu, Yan Hiksas, Agus Gumiwang Kartasasmita, Harry Azhar Azis, Happy Bone Zulkarnaen, Ali Wongso, Yorris Raweyai, serta para petinggi Partai Golkar lainnya yang menyambut saya dengan hangat.

Rumah Partai Golkar ternyata lebih nyaman, jauh dari bayangan saya. Tidak perlu lagi saya merasa sungkan menyebut bagaimana bersahayanya teguran dan sapaan yang diberikan. Orang-orang itulah yang membukakan pintu Partai Golkar untuk saya masuki dengan hati yang lebih damai.

Kegigihan Jeffrie Geovanie dalam memberikan informasi juga perlu saya sebutkan. Tentu, ada yang terganggu dengan kehadiran saya, tetapi itulah politik yang penuh dengan dinamika.

Dalam komunikasi dan advokasi penyusunan undang-undang, saya banyak bergaul dengan politisi Partai Golkar, seperti Agun Gunandjar, Idrus Marham dan Ferry Mursidan Baldan. Saya juga perlu sebutkan Nurul Arifin, salah satu donatur kegiatan ini, sebagai tokoh yang gigih yang bekerja sebagai aktivis Anti-HIV dan terus-menerus belajar sebagai politikus yang tidak kehilangan integritas dirinya.

Nurul bagi saya adalah seorang senior sebagai politikus, karena ia tidak lantas kecewa atas kegagalan menjadi anggota DPR RI tahun 2004 lalu, sekalipun mendapatkan suara terbanyak di daerah pemilihannya. Nurul tentu berbeda dengan artis lain yang menyeberang ke ranah politik praktis yang juga sebagian adalah teman-teman saya.

Dalam banyak perdebatan yang saya ikuti dan sorongkan ke publik, Partai Golkar termasuk yang paling akomodatif atas ide-ide yang saya tulis, selain PAN. Tanpa Partai Golkar, ide-ide otonomi daerah akan mengalami kemacetan dan kemandegan. Liberalisasi di bidang politik diusung penuh oleh Partai Golkar, sekalipun juga tampak kesulitan dalam mengendalikan dan mendisiplinkannya.

Pemekaran wilayah juga bagian dari cara Partai Golkar untuk mendekatkan pemerintahan kepada publik, sekalipun daerah-daerah pemekaran itu kini direbut sebagian oleh PDIP.

Proses perdamaian di Aceh dimana saya terkadang menitikkan air mata ketika menulis kolom, didukung dengan baik oleh Partai Golkar. Peranan aktif dari Jusuf Kalla dalam perdamaian itu memberikan semangat bagi saya untuk menyerang kelompok-kelompok ultra-nasionalis dalam perdebatan di ruang publik.

Dulu, rezim Orde Baru adalah rezim developmentalisme represif dengan keberadaan birokrasi dan militernya. Dibandingkan dengan partai politik yang lain, kini Partai Golkar dihuni oleh kaum demokrat, terutama dari kalangan sipil. Tentu, ada terlalu banyak pengusaha di dalamnya, tetapi bukankah demokrasi lahir dari kelompok borjuasi yang tidak memiliki tanah dan kekuasaan dalam sistem feodal dan monarki awal?

Pilihan untuk bergabung ke dalam Partai Golkar juga semakin dikuatkan oleh keluarnya sejumlah petinggi yang berlatar-belakang militer, seperti Wiranto dan Prabowo Subianto. Saya tidak tahu alasan-alasan dari para tokoh itu keluar dari Partai Golkar dan mendirikan partai baru, tetapi saya merasa lebih nyaman melihat ‘pertarungan’ sesama elite sipil dalam tubuh Partai Golkar dalam perebutan pimpinan nantinya.

Kompetisi di Partai Golkar berlangsung secara baik. Seseorang yang dikalahkan akan tidak memiliki kekuasaan turunan, dibandingkan dengan ketika ia menjabat. Seseorang yang baru aktif akan diberikan tempat baik, apabila memiliki prestasi.

Tentu pertanyaan penting yang bakal diajukan adalah perilaku korupsi, baik yang sudah terbukti atau yang baru dugaan, yang menimpa politisi Partai Golkar. Kalangan pers atau Indonesian Corruption Watch (ICW) yang membeberkan data-data korupsi itu menunjukkan keterlibatan semua partai politik, baik di tingkat nasional, maupun lokal.

Ada yang belum sama sekali disentuh, karena membutuhkan kinerja aparat Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang lebih baik dengan bukti-bukti yang kuat. Korupsi di Republik Indonesia lebih merupakan persoalan mentalitas individual, ketimbang melihat itu sebagai perilaku organisasi, agama atau ideologi seseorang.

Korupsi sudah berakar sejak empat abad silam, ketika VOC-pun bangkrut karenanya. Selain lembaga-lembaga negara dan partai politik, masyarakatlah yang selayaknya memiliki peranan aktif untuk menolak meminta sumbangan kepada politisi.

Saya akan bekerja dengan serius. Keluarga juga secepatnya menetap di Sumatera Barat. Sebagai bentuk pertanggungjawaban sebagai politisi, saya akan bekerja mendapatkan suara, berapapun nomor urut yang diberikan oleh Partai Golkar. Saya akan berbicara dalam bahasa ibu, bahasa Minang, kepada setiap orang yang bertemu di Sumbar dengan modal sebatang rokok, setampuk pinang, serta secangkir kopi yang ditemani penganan khas Minang lain.

(Perlu saya sampaikan juga bahwa sejak saya mengumumkan menjadi politikus, sejumlah orang tua, niniak mamak, cerdik pandai, dalam mailing list Rantau.Net sudah dan akan menyumbangkan biaya kampanye kapada saya, mulai dari Rp. 25.000,-, Rp. 50.000,-, dan seterusnya. Saya sungguh terharu dan tidak bisa tidur atas sumbangan materi itu).

Kalau sebelum ini saya bekerja secara individual untuk mengejar karier akademis dan intelektual, maka sekarang membutuhkan dan melibatkan kerja orang banyak, rakyat banyak, untuk menuju Senayan.

Karena itu saya akan datang dalam ota di lapau (obrolan warung) dan kaji di surau, sebagai bentuk tradisional dari politikus Minang: bergelanggang mata orang banyak, bersuluh matahari. Pergi tampak punggung, pulang tampak muka. Transparansi dalam bahasa moderen. Karena anggota parlemen adalah wakil rakyat, maka rakyat jualah yang mengantarkan ke Senayan. Tanpa dukungan rakyat, politisi bukanlah apa-apa dan siapa-siapa.

Seandainya masuk parlemen atas dukungan rakyat di Ranah Minang, maka saya akan mengerjakan komitmen sebagai berikut:

Pertama, konsentrasi kepada daerah pemilihan saya. Konsentrasi itu berupa perhatian yang lebih atas masalah-masalah utama di bidang kemasyarakatan dan pemerintahan yang berkenaan dengan daerah pemilihan saya. Saya akan menaruh di dalam ruangan kerja saya PETA DAERAH PEMILIHAN saya, lengkap dengan perkembangan data-data statistiknya.

Kedua, mencoba mendorong lahirnya Undang-Undang tentang Otonomi Khusus Provinsi Minangkabau yang berbasiskan konsep ADAT BASANDI SYARA, SYARA BASANDI KITABULLAH. Sekalipun ide ini masih menuai kontroversi, saya merasa sistem pemerintahan ala UU No. 32/2004 tentang Pemerintahan Daerah yang berlaku di ranah Minang sekarang belum begitu cocok dengan kultur masyarakat Minang. Bersama teman-teman seide, sebuah lembaga think tank lokal diperlukan guna mendorong konsep ini.

Ketiga, bertempat tinggal di daerah pemilihan saya, sekalipun tetap berkedudukan di Ibu Kota Negara sebagaimana kewajiban undang-undang. Kalaupun saya harus ke Jakarta selama masa kampanye ini, atau ke daerah lain, itu berupa penugasan Partai Golkar atau kegiatan lain, misalnya memenuhi undangan kalangan jurnalis atau lembaga-lembaga lain. Saya tentu tidak akan berhenti memberikan seminar, pelatihan, menulis dan lain-lain, tetapi dengan label yang berbeda.

Keempat, menerbitkan jurnal atau laporan berkala, bisa harian, mingguan atau bulanan. Website http://www.indrapiliang.com akan tetap saya pertahankan. Baik penugasan oleh partai, komisi, fraksi atau kegiatan lainnya sebagai anggota parlemen, akan saya sampaikan kepada publik sebagai bentuk pertanggung-jawaban saya.

Kelima, bertugas sampai akhir masa jabatan di parlemen. Saya tidak akan tergoda menjadi calon gubernur, bupati, walikota, duta besar atau menteri dan bahkan presiden dan wakil presiden sekalipun. Bagi saya, pilihan menjadi anggota parlemen adalah pilihan terhormat. Saya harus hormati pilihan rakyat dan tidak akan mengubah pilihan itu sampai akhir masa jabatan. Seorang Barrack Obama, dalam konteks kini, atau singa-singa podium semacam Agus Salim, Natsir, Muhammad Yamin, HAMKA dan Syahrir dalam konteks dulu, tidak akan lahir tanpa diasah lewat perdebatan sengit di parlemen.

Di tingkat Partai Golkar, saya menyediakan diri untuk membentuk semacam lembaga think tank internal, sebut saja The Golkar Institute. Memang selama ini sudah ada Badan Penelitian dan Pengembangan, tetapi jauh lebih baik sebuah partai politik melahirkan lembaga think-tank-nya sendiri. Pembentukan sejumlah Center dan Institute yang bersifat personal selama ini menurut saya belum bisa melakukan implementasi atas rekomendasi yang dihasilkan, hanya sebatas gagasan.

Sudah lama ide ini saya dorong dilakukan oleh partai politik, tetapi sampai sekarang belum banyak yang menerapkannya. Partai politik moderen selayaknya memiliki institusi-institusi pengkaderan dan pengetahuan yang baik, kalau perlu mengembangkan semacam kampus-kampus kecil, guna memajukan pemikiran dan ideologi politiknya.

Tentu, saya masih memiliki sejumlah agenda lain. Tetapi kurang elok kalau disampaikan semua dalam kesempatan ini. Loyalitas, konsistensi, komitmen dan integritas menurut saya jauh lebih penting, ketimbang hanya sekadar kekuasaan. Menjadi presiden sekalipun tetap tidak akan terhormat, kalau rakyat ditinggalkan dalam keadaan papa dan menderita.

Terima Kasih

Tentu, saya berterima kasih kepada teman-teman partai politik lain yang juga mengundang saya bergabung, terutama PAN, PDIP, dan PMB. Saya tidak merasa malu untuk mengatakan permohonan maaf saya. Kehadiran teman-teman partai lain dalam forum ini menunjukkan bahwa saya tidak sedang mencari musuh, melainkan mencari teman sebanyak-banyaknya, dalam lapangan politik praktis.

Saya juga berterima kasih atas sambutan yang hangat dari teman-teman, adik, kakak, abang, saudara, saudari, serta orang-orang tua di Partai Golkar. Sungguh saya merasa terkejut ketika menyadari bahwa Partai Golkar tidak menaruh dendam atas kehidupan profesional saya selama ini.

Bahwa saya berbeda pendapat dengan Partai Golkar, misalnya dalam soal pemenang Pilkada Maluku Utara atau Kenaikan Harga Bahan Bakar Minyak atau Sistem Proporsional Terbuka Tanpa Nomor Urut, sehingga merugikan citra Partai Golkar, adalah bagian dari kehidupan profesional saya selama ini. Bahwa sekarang ini saya akan bekerja membesarkan partai ini adalah kehidupan profesional berikutnya di bidang politik. Saya ingin profesional di dunia politik, seprofesional saya sebagai analis, peneliti, pembicara dan kolomnis.

Kepada institusi tempat saya menyepi dan menyendiri dalam kamar yang dipenuhi debu dan buku, Centre for Strategic and International Studies (CSIS), saya mengucapkan terima kasih atas kesempatan yang diberikan sejak 1 Desember 2000. Saya sungguh banyak belajar atas konsep Nalar Ajar Terusan Budi, sikap ketelanjangan dalam membaca dan menerima ilmu pengetahuan.

Ada banyak tangan yang telah membentuk dan menyentuh saya dalam lembaga ini: Pak Daoed Joesoef, Pak Jusuf Wanandi, Pak Harry Tjan Silalahi, Pak Djisman Simanjuntak, Mas J Kristiadi, Pak Hadi Soesastro, Mbak Clara Juwono, Bu Mari Pangestu, Bang Rizal Sukma, Bang Kusnanto Anggoro, Mas Tommi Legowo, Bu Asnani Usman, Bang Pande Radja Silalahi, Mas Edy Prasetyono, Mbak Medelina K Hendytyo, Mas Raymond, Mas Haryo, Mas Faustinus Andrea, Mas Bantarto Bandoro, Nico Haryanto, Ari A. Perdana, Arya Gaduh, Yose Rizal Damuri, Kurnia Roesad, Philips Jusario Vermonte, Christine Susanne Tjin, Puspa Delima Amri, Lina Alexandra, Alexandra Retno Wulan, Syafiah Fifi Muhibat, Imelda Maidir, Uni Titik Anas, Mas Djadiono, Mas Made, Mas Dibyo, Mas Anton Djawamaku, Mas Ismanto, Bang Udin Silalahi, Begi, Sunny, Donny, Teguh, Landry, dan semua nama lain yang tidak bisa saya sebutkan satu demi satu. Saya tidak tahu bagaimana nasib saya di CSIS setelah pidato ini, karena memang saya tidak meminta izin khusus.

Kepada kalangan jurnalis, saya mengucapkan terima kasih. Kalian adalah teman sejati yang paling setia, tidak lelah menelepon atau bertanya kepada saya. Saya tidak pamitan, karena sebagai politikus saya tentu membutuhkan kerjasama berikutnya.

Kepada teman-teman, sahabat-sahabat, serta kolega saya yang bahu-membahu menjadi pengamat sosial, politik, hukum, agama, dan lain-lainnya, serta kalangan aktivis masyarakat sipil, saya meminta izin untuk dijadikan sebagai kelinci percobaan nanti dalam analisa kalian.

Jangan kampanye positif untuk saya, kalau apa yang saya lakukan memang tidak berbuah kepada kebaikan buat orang banyak. Kritiklah saya setajam mungkin, kalau perlu dengan mencari sembilu pada pohon bambu di kampung saya nanti. Buat mata saya perih, hati saya tersayat, serta harga-diri saya luka, ketika kalian menulis tentang program yang saya tawarkan yang tidak sesuai dengan pikiran hati kalian.

Kalau di politik terkenal adagium tiada musuh yang abadi, justru saya minta agar dijadikan sebagai musuh abadi Anda, maka saya tetap menawarkan persahabatan sejati kepada Anda. Dan jangan lupa untuk menyumbang ke rekening khusus yang saya buka, sebagai dana kampanye nanti. Jelas saya tidak punya uang yang cukup dari honor menulis, berbicara atau menjadi konsultan, sebagai modal masuk ke dunia politik. Saya tidak memiliki modal material, tetapi saya punya modal sosial dan modal ilmu pengetahuan.

Apatisme hanya membuat kita kehilangan waktu yang terlalu banyak untuk menangisi keadaan. Adagium yang sering dikatakan oleh Syahrir menyebut: Janganlah Mengutuk Kegelapan, Mulailah Menyalakan Lilin. Barangkali, pilihan saya bergabung dengan Partai Golkar hanyalah nyala sebatang lilin pada kegelapan malam. Satu tiupan angin lembutpun bisa memadamkannya..

Padi Menguning di Rengas Dengklok.

Kapas Mengelupas Jatuh ke Perigi.

Pusaka Dibawa Para Saudagar.

Jaketku Kuning di Kampus Depok.

Samalah Nian dengan di Slipi.

Padi dan kapas akan berkibar.

Wabillahi Taufik Walhidayah

Wassalamu’alaikum Wr Wb.

Jakarta, 06 Agustus 2008

)* Tulisan ini sebelumnya naskah pidato Indra Jaya Piliang (Indra J. Piliang) dalam “Transformasi Indra Jaya Piliang: Dari Analis Politik ke Politisi”, yang dibacakan di Aula Universitas Paramadina, Jalan Gatot Subroto Jakarta, tanggal 06 Agustus 2008. Naskah ini diterbitkan PadangKini.com seizin Indra Jaya Piliang. Bisa juga iakses melalui http://www.indrapiliang.com.


Actions

Information

2 responses

12 11 2010
suryo

saya pengen tahu Profil Indra Jaya Piliang.
bisa saya minta?

28 09 2014
Nurul Arifin Golkar – Berita Terkini

[…] Indra jaya piliang | urang minang […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: