H. Suhatman Iman

24 07 2009

Padang-Today.com

Legenda Sepakbola Indonesia Impikan Bangsa yang Sportif

suhatmanUcapan sederhana itu mampu membuat airmata Suhatman menetes. Ia membayangkan sepakbola Indonesia bisa bangkit dan mensejajarkan diri dengan sepakbola dunia. Namun, impian itu bagai api yang jauh dari panggang. Banyak persoalan yang membayangi sepakbola Indonesia. Mulai dari manajemen, pendidikan untuk pemain, sampai soal pelatih.

Tanggungjawab Pelatih Sampai ke Akhirat

Ia mencontohkan PSP Padang, kesebelasan tradisional Sumatra Barat. Sejak dulu, Suhatman melihat organisasi PSP tidak dikelola dengan baik. Tidak ada pengurus yang bisa mengelola PSP dengan baik. Sehingga prestasi kesebelasan Urang Awak itu tidak pernah sampai pada puncak.

Ketika PSP didanai APBD berbondong-bondong orang menjadi pengurus. Sekarang, begitu sebuah kesebelasan diharamkan memakai dana pemerintah, tak satu pun pengurus muncul, sindirnya keras.

Masuk akal bagi Suhatman, prestasi PSP sekarang tidak mengkilap. Bagaimana bisa seorang pemain bisa tenang, apabila tidak menerima jerih keringat yang sudah dikeluarkan. Apalagi sekarang banyak pemain Pandeka Minang (julukan PSP) yang baru berkeluarga. Butuh uang untuk menghidupkan keluarga. Sementara gaji yang dijanjikan pengurus entah tersimpan di mana.

Makanya, tanpa pikir dua kali, ia cabut dari manajemen PSP. Pengurus dianggap ingkar oleh Suhatman. Ia tidak tega melihat pemainnya tidak bisa membelikan susu untuk anaknya. Tanggungjawab pelatih itu sampai ke akhirat, ujarnya.

Sebelum mengerjakan apa pun, Suhatan selalu membuat komitmen. Kontrak awal yang telah disepakati itulah yang terus dipegangnya. Kompromi di tengah jalan menjadi sesuatu yang enggan dilakukannya.

Persoalan komitmen ini yang terus menerus mendera Suhatman. Sehingga tak jarang ia meninggalkan sebuah klub begitu saja ketika pengurus tidak mengikuti perjanjian ketika pertama kali dibuat.

Sewaktu meninggalkan PSP, tak sedikit yang mencapnya pengkhianat. Jangan di Sumbar, untuk nasional saja saya pernah meninggalkan tim, katanya.

Tidak banyak yang tahu, Suhatman yang pertama kali membuat cetak biru PSSI Primevara. Ia yang mendisain sampai PSSI Muda itu menuju negara Spaghetti, Itali. Dipilihnya Italia sebagai tempat penggodokan karena profesionalitas sebagai pemain sangat tinggi. Ini menyangkut disiplin pemain dan organisasi sepakbolanya yang kuat. Kalau di Brasil kita hanya akan belajar teknik, alasan pelatih berusia 55 tahun ini.

Rencana awal program ini akan berjalan tiap tahun. Suhatman membayangkan, dengan latihan intensif akan ada 3-4 pemain dari tim Primavera yang akan bermain di seri C atau B. Jika itu dilakukan dengan konsisten maka pemain Indonesia akan matang dengan kompetisi yang ketat. Setelah itu baru kita bisa berbicara di tingkat Asia, katanya.

Namun, di tengah jalan, program itu dibelokkan. Tim Primavera dimasukkan dalam tubuh PSSI. Tim ini kemudian di kirim ke berbagai kejuaraan yunior. Suhatman tidak sependapat. Dalam sejarah sepakbola tidak ada sebuah tim juara yang pemainnya satu generasi, katanya. Ia pulang. Bahkan dengan biaya sendiri.

Begitu juga ketika ia meninggalkan Semen Padang saat melatih Pasukan Karang Putih itu untuk kedua kalinya. Susah-susah ia membangun klub dengan pemain binaannya, manajemen malah menjual delapan pemain sekaligus. Semuanya pemain inti. Ellie Eiboy, Erol FX Iba, Paulus Krey dilego manajemen. Mendapatkan satu pemain (bagus) saja susahnya minta ampun. Manajemen malah menjual delapan sekaligus. Sungguh tidak masuk akal, ujarnya sambil geleng-geleng kepala.

Manajemen Ideal

Ia mengidealkan struktur manajemen seperti pertama kali ia melatih Semen Padang di pertengahan 80-an. Antara pelatih dan manejer duduk bersama. Kedua pihak membicarakan kemajuan klub. Target menjadi fokus.

Di awal kepelatihan, ia membawa proposal empat tahun, agar pemain Semen Padang siap menerima kompetisi apa saja. (Alex) Ferguson butuh waktu empat tahun di awal kepelatihannya untuk membuat MU menjadi tim yang kuat, kata Suhatman.

Suhatman sangat mengerti dengan psikologi pemain. Harus diingat setiap pelatih, mereka (pelatih) sedang melatih manusia. Jadi, mesti paham dengan kondisi pemain, katanya. Meski tak jarang ia mengumpat tapi tak lepas dari keinginannya agar para pemainnnya menjadi —ini istilah Suhatman— bodoh cukup sekali saja. Kalau sudah kenal dengan saya, umpatan yang saya keluarkan tak ada artinya, ujar Suhatman.

Ia sadar sebuah klub juga mesti melahirkan pemain lokal. Maka ia dengan giat melatih pemain-pemain Sumbar. Target pertama memang bertahan di Galatama (Liga Sepakbola Utama). Target itu tercapai. Begitu juga dengan tahun berikutnya. Semen Padang di masa kepelatihan Suhatman pernah menjadi Juara Liga (Copa Indonesia) di awal 90-an. Prestasi tertinggi direbut saat menjuarai wilayah barat pada 1995.

Kehadiran pemain lokal bagi Suhatman punya keuntungan ganda. Suporter jelas respek dengan pemain daerah sendiri. Dengan banyaknya pemain lokal, suporter akan merasa terikat dengan klub. Di mana-mana, pemain lokal selalu mendapat kebanggaan lebih. Keuntungan lain, Suhatman tidak saja menghadirkan pemain daerah sendiri, tapi perlahan ia juga ikut menyetor untuk pemain nasional. Nama Aprius, Neil Maizar, dan beberapa pemain lainnya bergantian mengisi posisi di timnas Indonesia.

Home Sick dan Sambal Kurang Pedas

Suhatman anak ideologis Wiel Coever, pelatih timnas Indonesia berkewarganegaraan Belanda. Dari Wiel ia belajar kepelatihan secara otodidak. Ia mengerti untuk apa dan kenapa Wiel melatihnya begitu keras. Mengapa hanya Suhatman yang dilatih lima kali sehari. Semuanya, kata Suhatman, demi membentuk fisik dan mental. Namun, lebih dari itu, semuannya tergantung pemain sendiri. Seberapa jauh ia bisa bertahan dalam latihan paling berat sekali pun. Kemauan akan membentuk karakter yang kuat.

Menurut Suhatman, Wiel sangat suka dengan pemain yang berkarakter kuat. Baik dalam atau luar lapangan. Contohnya ketika sang Bapak meninggal di pertengahan 70-an. Oleh Wiel, Suhatman tidak diperbolehkan pulang. Suhatman tidak mau. Ia bersikeras untuk pulang meski membeli tiket sendiri. Wiel luruh oleh sikap seperti itu. Ia memperbolehkan anak kesayangannya itu melihat terakhir kali wajah bapak biologisnya.

Menyikapi pemain hari ini, Suhatman menyoroti dua hal. Pertama, homesick, rindu rumah. Hidup di Indonesia berarti berada dalam pagar keluarga. Cara hidup manusia Indonesia adalah dengan melindungi keluarganya. Bagi Suhatman, ini kelemahan mendasar. Meski sudah mengirim pemain ke luar negeri, mereka selalu kembali ke Indonesia meski belum meyelesaikan kontrak. Di luar negeri, meski ia anak orang kaya, biasa saja bagi mereka bekerja sebagai cleaning service, ujarnya. Pola seperti itu mendidik anak menjadi kuat secara mental dan mandiri.

Efek pertama mengakibatkan munculnya akibat kedua. karena jauh dari kampung halaman, maka makanan yang ditemui juga tidak sepadan dengan selera selama ini. Tidak ada kecapnya lah atau sambalnya kurang pedas, kata Suhatman sambil senyum-senyum. Ini merugikan pemain Indonesia. Meski berbakat sekali pun, kondisi itu tidak akan membuat seorang pemain mencapai puncak penampilannya. Jika puncak seorang pemain mencapai nilai sepuluh, pemain Indonesia maksimal hanya berada di angka delapan, katanya.

***

Impiannya untuk membangun sepakbola tidak pernah pudar. Saat ini ia masih memiliki tiga klub sepakbola. Meski tidak turun jadi pelatih langsung, ia masih terus memantau perkembangan klub. Di antaranya PS Kinantan.

Memasuki dunia politik juga tidak haram dilakukannya. Ia pernah masuk sebuah partai karena janji pengurus akan meningkatkan nilai olahraga Sumatra Barat. Suhatman pun rela ikut kampanye. Meski sampai sekarang janji itu tidak pernah menepatinya. Bahkan setelah orang politik itu menduduki jabatan penting di Balai Kota.

Setelah menjalani, ia mengaku dunia politik bukanlah dunianya. Mereka janji rapat pukul 09.00, setengah jam berlalu rapat belum juga mulai. Sebagai olahragawan, disiplin waktu itu nomor satu.

Sebuah peristiwa, sewaktu masih ada di partai, menyadarkannya akan sengkarut bangsa ini. Bisa saja, katanya, seseorang membicarakan keburukan orang lain, tapi di detik berikutnya, keduanya duduk sambil tertawa-tawa. Ini di luar akal saya, katanya.

Sportivitas, itu yang tidak dilihat Suhatman dengan bangsa ini. Padahal, ia yakin, jika semua orang Indonesia mengambil sikap hidup olahragawan sejati, bangsa ini akan lebih baik.

Bila Cinta, tak Ada Khianat di Dalamnya

Kecintaan Suhatman pada sepakbola boleh dibilang tak bertepi. Sampai sekarang tak ada kerja lain yang dilakukannya selain dengan urusan bola. Ketika main pun ia tidak memikirkan uang. Semua dilakukan dengan ikhlas. Ketika ia cedera dan tidak bisa bermain sepakbola lagi, Suhatman menerimanya. Meski ia sakit hati karena tidak ada orang yang memperhatikannya. Bahkan ketika banyak pejabat hanya berjanji-janji untuk meningkatkan marwah olahraga, ia juga terima. Obsesinya hanya satu. Meningkatkan kualitas olahraga, terutama sepakbola.

Kenapa ia mau melakukannya? Karena cinta (dengan sepakbola). Apabila sudah cinta, tidak boleh ada khianat di dalamnya. Semua mesti dilakukan dengan ketulusan dan kesenangan, tentu, ujar Suhatman.

Ia masih ingat, seolah-olah peristiwa itu sedang berada di hadapannya, ketika umur 15 tahun, Suhatman kecil pernah mencuri-curi waktu menjual kerupuk untuk mendapatkan tiket nonton sepak bola. Sayang, sang Ayah tahu dan memarahinya.

Tapi, hal itu tidak membuatnya kapok. Hanya bola yang ada dalam pikirannya. Latihan dan latihan terus dilakukannya. Sekolah pun sering terlupakan. Namun, prestasi diukirnya dalam bentuk yang lain. Umur 16 tahun ia sudah berangkat ke Palembang mengikuti pertandingan. Pencari bakat dari PSSI yang ada di sana melihat kemampuan alamiahnya. Ia dipanggil untuk seleksi di tim nasional.dari 28 pemain tingkat yunior yang di TC, hanya Suhatman yang masuk timnas.

Kemampuannya makin mumpuni setelah dipoles pelatih asal Belanda Wiel Coever. Takkan pernah Indonesia mendapat pelatih sebaik dia, kata Suhatman. Cerita tentang Wiel membuat Suhatman kagum pada pelatih itu. Wiel sebenarnya tidak mau melatih sepakbola Indonesia. Namun, Belanda punya ‘hutang moral yang tidak mungkin habis dibayar sepanjang zaman pada Indonesia. Hutang kolonial.

Seorang pejabat yang dekat dengan keluarga Cendana kemudian memberi masukan kepada Presiden Soeharto agar meminta Ratu Beatrix untuk mengirim seorang pelatih ke Indonesia. Begitu menerima undangan Ratu, Wiel tunduk. Lalu, kemas koper dan langsung terbang ke Indonesia. Dengan Wiel, kemudian tejadilah kisah antara benci dan sayang. Banyak orang yang bilang Suhatman anak emas Wiel. Satu sisi mungkin ya. Hampir seluruh peralatan sepak bola Suhatman dibelikan oleh pelatih yang hanya melatih timnas Indonesia selama setahun itu. Hanya Suhatman yang dilatihanya selama lima kali sehari seminggu penuh. Hari terasa senin semua, kenang Suhatman.

Tiap hari Suhatman mesti menghabiskan segenggam kedelai yang langsung disangai Wiel. Mesti dihabiskan di depan pelatih itu. Keras. Rasa mau tanggal gigi ini. Dan… sekarang memang sudah tanggal semua, ujar Suhatman sambil ketawa.

Di sisi lain, latihan keras dan disiplin yang ketat membuat setitik rasa tak suka muncul di hati Suhatman. Alasannya, ketika teman-teman satu pelatnas berangkat rekreasi, Suhatman hanya bisa melihat sebelum kembali berlari mengelilingi lapangan bola.

Suhatman tak protes dengan suara keras. Ia tahu, profesionalitasnya sedang dituntut. Menu latihan yang ditawarkan Wiel dilalap habis. Hasilnya memang kelihatan. Postur tubuh dan gaya lari saya ikut berubah. Kedelai itu mengandung zat besi. Ini membuat otot saya menjadi keras, cerita Suhatman.

Untuk posisi, Suhatman juga menerima keistimewaan. Selain posisi penyerang dan kiper, posisi lain sudah dicobanya. Hari ini ia bisa berperan sebagai bek kiri. Besoknya bisa dicoba pada gelandang. Boleh dibilang, ia prototype pemain serba bisa yang tren belakangan ini. Setelah pelatihan, kemana pun PSSI bertanding, baik dalam dan luar negeri, nama Suhatman pasti tercantum. Cerita Suhatman, bertanding dengan label PSSI adalah persoalan nasionalisme. Selebihnya, soal honor, dan lainnya adalah bonus. Tidak ada yang memikirkan hal lain selain ingin mengharumkan nama bangsa.

Tahun 1976 bagi Suhatman sulit untuk dilupakan, meskipun masih banyak memori indah sewaktu ia bermain sepakbola. Ketika itu Indonesia berhadapan dengan Korea Utara di pra olimpiade. Lagu Indonesia Raya yang dilantunkan sebelum pertandingan sempat membuat air matanya menentes. Ada yang berkecamuk di dalam hati Suhatman muda waktu itu. Baginya peristiwa bersejarah ini akan dikenang sampai mati. Waktu lagu kebangsaan Indonesia Raya dilatunkan, tanpa terasa air mata ini menetes saja, badan mendingin, bulu meremang, karena kita membawa nama bangsa, kenangnya.

Selanjutnya adalah nilai historisnya sangat tinggi. Dalam pikiran saya waktu itu sulit bagi Indonesia untuk kembali menembus level Olimpiade seperti ini. Sebelumnya Indonesia pernah juga menembus level ini ketika masih berstatus Hindia Belanda. Ya, tahunnya saya tidak ingat lagi, ujar Suhatman.

Suhatman mengingat, jika Indonesia bisa mengalahkan Korea Utara waktu itu, ceritanya mungkin menjadi lain. Mungkin sepakbola Indonesia ini bisa berkaca dari peristiwa bersejarah itu dan menjadikannya sebagai pelecut motivasi. Ya, mungkin Tuhan menginginkan yang lain, ujarnya.

Sampai akhirnya sepakbola harus ditinggalkan sebagai pemain karena cedera kaki yang berkepanjangan. Sebuah benturan di lapangan dengan pemain lawan membuat Suhatman berhenti berkarir sebagi pemain bola. Lututnya luka parah. Wiel pernah ingin mengobati. Suhatman tidak mau. Ia sudah terlanjur sakit hati. Bukan karena ada isu ia sengaja dicederai, tetapi tidak ada orang Indonesia yang sekedar menanyakannya cederanya. Tanah air yang dicoba dibelanya sekuat tenaga.

Ia memutuskan untuk berhenti saja main bola. Selamanya. Ia tidak akan lagi menyentuh urusan sepakbola, begitu janjinya dalam hati. Padahal, umur saya baru 22 tahun, katanya.

Tawaran dari Bank Dagang (sekarang Bank Mandiri) diterimanya. Dengan tekun ia bekerja. Mesti segalanya baru, Suhatman melakukannya dengan sungguh-sungguh. Dengan cepat karirnya naik karena selain rajin bekerja, berbagai pelatihan mengenai perbankan juga rajin diikutinya.

Sampai suatu hari, di 1985, sebuah peristiwa mengubah jalan hidupnya. PT Semen Padang yang akan masuk Galatama, membutuhkan pelatih. Nama Suhatman masuk dalam bursa. Ia masih tetap ingin memegang janji: tidak akan menginjak lapangan hijau lagi. Meski direktur Semen Padang sudah menghadap pimpinan Bank Dagang di Padang.

Masalah ini sampai pada direktur Bank Dagang Pusat di Jakarta. Suhatman masih bersikukuh sampai sang direktur kemudian berkata, Suhatman, ingat janjimu ketika mau masuk kerja? Suhatman mengangguk. Bahwa bersedia di tempatkan di mana saja? Suhatman mengangguk lagi.

Nah, sekarang kamu saya tempatkan di Semen Padang. Suhatman termenung. Tapi, saat itu ia yakin bahwa Allah telah memberikan jalan lain agar dirinya kembali merasakan bola menggelinding di atas lapangan rumput. Kini, setelah usai melatih Persebaya Surabaya, ia menjadi orang rumahan. Saban hari kita bisa bertemu di rumahnya yang terletak di jajaran tepi Bandabakali. Bagi Suhatman, itu tidak terlalu menggusarkan. Ia masih memupuk harapan bahwa sepakbola Indonesia suatu hari akan diterangi cahaya. (S Metron M/Jufri Jao)

http://www.padang-today.com/index.php?today=persona&id=71


Actions

Information

5 responses

25 07 2009
edi erwin

Bang Suhatman, salah satu legenda sepakbola yg dimiliki Sumbar, seorang yg idealis, seorang kakak, seorang teman , memiliki integritas yang tinggi dalam kepribadian. Saya salut dan bangga dengan kepribadian beliau, legenda hidup, baik Sumbar maupun Nasional mengenal beliau di kancah sepakbola Nasional. Seorang kakak yang baik, murah senyum, dan seorang yg gentlement. Saya satu almamater dg beliau saat masih berdinas di PT Bank Dagang Negara, dan semua teman menyukai kepribadian beiau yang baik, ramah dan tidak sombong.” Daman… kami doakan selalu tetap sehat, dan Daman selalu terus mengabdikan hidup untuk sepak bola Indonesia khususnya Sumbar.”

25 07 2009
edi erwin

Majukan terus sepak bola Nasional dan khususnya Sumbar. Legenda hidup dan memiliki kepribadian yang kuat, ramah, murah senyum dan tidak sombong.

30 10 2009
mardanus

Memang benar bang suhatman sebagai sosok pelatih yang keras dan disiplin dan beliau tidk pandang orang sebelah mata,orangnya baik saya salah satu anak didiknya yang hampir sukses saya pada waktu umur 16 th waktu itu saya masih anak gawang di semen padang namun oleh bang suhatman saya di kasih kesempatan main game sama senior-senior pada waktu itu. hal hasil saya di latih terus hingga tamat sma,setelah bang suhatman tidak di semen padang tidak satupun dari pelatih yang mau mengajak saya bergabung. Makanya saya keluar dari Padang untuk main bola di kampung orang. Hal hasil sudah dapat kerjaan dari bola,makanya saya kerja aja. Banyak kok pemain kampung yang jadi oleh Bang suhatman. Prestasi saya selama menjadi pemain pernah di psp junior 90

18 07 2011
Robbi MALVINAS, Sekretaris Tim PSP Padang U-18 Tahun 2011

Suhatman Imam Best Of The Best . . .
Suhatman Imam Penasehat Teknik . . .

12 03 2012
syafrin nursal

Saya Rindu Sosok Daman, Yg Tegar, keras dan sportif dalam Bertindak, Ayo Daman Hidup kan terus Olahraga Kita di Padang Terutama Sepakbola, Jangan Pernah ada Rasa Dendam sedikit pun dihati Walau Masalalu daman di TimNas yg Memilukan dan Tdk ada Perhatian sedikitpun dari Pemerintah Kita.

Syafrin Nursal

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: