dr. Rasidin

16 09 2009

dr. Rasidin Diangkat Sebagai Walikota Padang (Minangkabauonline.com)

Oleh: Erison A.W.

Keluarga dr. Rasidin

“Nalo peri libertum quam quitum servicium. (Lebih baik menderita dalam alam kemerdekaan, daripada hidup mewah dalam alam penjajahan). Tulis itu dibagian putih bendera kita!,” kata dr. Rasidin kepada seorang pemuda bernama M. Akhir menjelang pelaksanaan caese fire, penghentian tembak menembak antara tentara republik dengan tentara Belanda tahun 1949.

M. Akhir waktu itu menemui dr. Rasidin atas perintah Mayor Anas Karim yang minta tolong dibuatkan bendera merah putih untuk dikibarkan pada upacara peringatan 4 tahun Kemerdekaan RI di pedalaman Padangpanjang. Menurutnya, bendera tersebut akan dibawa pasukan kita waktu memasuki kota , sebab di pendalaman tidak dapat diperoleh kain merah.

Sang Saka Merah Putih yang dipesan Mayor Anas Karim itu, dijahit oleh istri dr. Rasidin yang akrab dipanggil Umi Cum. Selesai Umi Cum membuat bendera, lalu diseludupkannya ke Peninjauan, tempat kedudukan para tentara kita. Dan bendera itu dikibarkan buat pertama kali di Kota Padangpanjang.

Demikian sepak terjang dr. Rasidin pada zaman kemerdekaan, diungkap dalam buku “Kemerdekaan RI di Minangkabau”, karangan para pejuang dan saksi mata: Mulkan Raden Hidayat, Mr. SM Rasjid, Dahlan Ibrahim, Abdul Halim, Ahmad Husien, Eni Karim, dan Syoeib.

Ungkapan ini juga menggambarkan, 4 tahun pasca Proklamasi dibacakan Soekarno-Hatta, api peperangan masih bergejolak di tanah air. Buktinya, Kota Padangpanjang baru diserah terimakan Belanda 19 Desember 1949. Tepat satu tahun sejak Belanda melancarkan agresi meliternya yang kedua, masa berakhirnya pendudukan Belanda atas seluruh kota yang berhasil direbutnya selama clash kedua. Namun waktu itu, hanya Kota Padang yang belum diserahkan Belanda, karena statusnya agak berbeda dengan daerah yang lain.

Dr. Rasidin semasa itu berpikiran cerdas, pendapatnya banyak diterima orang. Ialah yang mengusulkan nama untuk Perguruan Tinggi Universitas Andalas (Unand). Dan juga  mengusulkan di Bukittinggi dibuat Rumah Sakit Islam (Yarsi sekarang). Sedangkan  sebagai seorang dokter, dr. Rasidin salah seorang dari empat orang dokter yang mengatopsi zenajah Bagindo Aziz Chan di Bukittingggi.

27 Desember 1949 Padang Diserahkan Belanda

Mengenai pergerakan dan perjuangan dr. Rasidin (saya memanggil angku Rasidin), Mulkan Raden Hidayat yang biasa saya panggil Opa banyak menceritakan pada tahun 1980-an. Dia bercerita tak saja di Kota Padang, tetapi juga di Jakarta tempat peristirahatan terakhirnya.

Pak Mulkan sekolah di HIS Adabiah. Jabatan di pemerintahan dari Kepala bagian Pewartaan Jawatan Penerangan Propinsi Sumatera Tengah, sampai Staf Penerangan Sumatera Barat di era kemerdekaan. Sedangkan profesi wartawan digelutinya di Harian Nasional Berita (1932), Harian Pewarta, Harian Nasional Persamaan (1942-Jepang menduduki Padang), Radio Padang Nippo, Harian Republikein (1945), Harian Haluan, Harian Penerangan, dan sampai tahun 1957 sebagai wartawan Antara di Padang.

Menurut Mulkan Raden Hidayat dkk. dalam buku Kemerdekaan RI di Minangkabau, Padang kota terakhir diserahkan Belanda pada pemerintahan Republik Indonesia Serikat (RIS). Tepatnya 27 Desember 1949 di halaman Markas Tentara Belanda atau Kantor Balai Kota Padang sekarang. Hadir dalam penyerahan itu, dr. Rasidin, Mayor A. Thalib, Letnan Kolonel Dahlan Djambek, dan Mr. Abubakar Djaar.

Penyerahan Kota Padang dari Residen Hoofd Tijdelijk Bestuur (HTB) van Straten ke Pd. Gubernur Militer Sumatera Tengah Mr. M. Nasrun yang dikuasakan oleh Anak Agung Gde Agung (Wakil Ketua Panitia Persiapan Nasional) di tanah lapang Plein van Rome atau Lapangan Imam Bonjol sekarang. Serah terima itu, disaksikan ribuan pasang mata rakyat yang terharu ketika Sang Saka Merah Putih dikibarkan tanpa rasa ketakutan oleh tentara kita.

Mulai saat itu, Kota Padang di bawah kekuasaan RIS, tidak lagi di bawah kekuasaan Belanda. Tapi penggabungan kembali Kota Padang dengan Republik Indonesia masih menghendaki waktu menanti ketetapan dari PPN. Artinya, buat sementara Padang di bawah pengawasan Gubernur Militer Sumatera Tengah dan menunjuk dr. Rasidin jadi Walikota Padang yang ditugaskan mengambil alih kekuasaan atas kota itu.

Selesai pengambil alihan kekuasaan dari tangan Belanda, pada hari itu juga Walikota Padang dr. Rasidin mengumumkan penghapusan jam malam. Artinya, keadaan darurat perang (SOB) dalam Kota Padang tak berlaku lagi. Sesudah itu dr. Rasidin dikunjungi oleh Kapten Holt untuk menyampaikan pesan dari Kolonel Van Erp, bahwa mereka belum siap menghadapi perubahan yang mendadak itu. Alasannya, tentara mereka masih bebas berkeliaran dengan senjata lengkap.

Dr. Rasidin menjawab, ia tidak dapat dan tidak bersedia menarik pengumuman yang sudah tersebar luas. Terserah kepada Belanda untuk menunjukan kedisiplinan tentaranya. Kapten Holt menelepon lagi walikota Padang dan mengatakan, tentara Belanda akan dilarang keluar tangsi. Dan berkat kerjasama Belanda dengan polisi, serta pemimpin TNI, ketertiban dan kententraman tumbuh baik, sehingga Belanda mengizinkan tentaranya berangsur-ansur dalam jumlah terbatas, tanpa senjata dan uniform keluar dari tangsi dan berbaur dengan masyarakat.

Pada saat perpisahan dengan pihak Belanda di rumah bola Ons Genoegen, Mr. M. Nasrun dan dr. Rasidin diundang. Belanda menyerahkan cendra mata logam sebesar mata uang rupiah yang berukiran masker (topeng) panglima perang di zaman kuno. Sedangkan Mr. M. Nasrun dan dr. Rasidin menghadiahkan pihak Belanda berupa kulit harimau yang sudah diolah menjadi tikar dengan kepala seperti hendak menerkam mangsanya.***

http://minangkabauonline.com/berita-462-dr-rasidin-diangkat-sebagai-walikota-padang.html


Actions

Information

One response

10 11 2012
femilius

Dalam rangka Hari Pahlawan 10 November…
Buku Kemerdekaan RI di Minangkabau….dikarang oleh MULKAN RADEN HIDAYAT , Dkk
Baca ceritanya di :
https://urangminang.wordpress.com/2009/09/16/dr-rasidin/
http://aswilnazir.com/2009/10/14/dari-plein-van-rome-hingga-lapangan-imam-bonjol/
( Foto : Bpk. Mulkan Raden Hidayat , Alm.)
Status saya di FB , Tgl. 10 Nof’12…..Terima Kasih pak , atas diulas kembali ttg kemerdekaan RI di Minangkabau …kebetulan Bpk Mulkan R. Hidayat , Opa saya…

Anda, Meyriska Pratiwi, Nofrizal Chand, Asko Padang, dan 11 orang lainnya menyukai ini.
Komentar:
Monalisa Soeharto Terima kasih Femil .. Opa kita .. Hehehe
23 jam yang lalu · Suka
Femilius Idham ternyata , nama opa ada di beberapa blog/wordpress…salah satunya di buat oleh Erison Awal…terima kasih buat KKd. Erison.azwil nazir dan kawan2 lainnya yang telah memberi pengetahuan sejarah kota padang untuk generasi penerus bangsa.
23 jam yang lalu · Telah disunting · Suka
Monalisa Soeharto Iyaa .. Terima kasih Erison Awal dkk .. utk semuanya.
23 jam yang lalu · Suka
Susie Yaningsih Suprapto Ya,,,terimakasih erison awal dan azwil nazir,,,,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: