Budi Satria Isman

31 12 2009

Memilih Pensiun Dalam Usia Muda

Oleh : nita indrawati (Padangmedia.com)

Ketika memutuskan pensiun dalam usia 45 tahun, ia mendapat tantangan dari berbagai pihak, terutama keluarganya sendiri. Karena dalam usia demikian, ia dinilai masih potensial. Bahkan saat ini ia menjabat sebagai President Director di PT Sari Husada. Tetapi Budi Satria Isman sudah kukuh dengan keputusannya.

” Saya punya target, termasuk finansial, sampai umur 45 tahun. Itu seharusnya cukup, untuk hidup, karena hidup bukan mencari kekayaan. Sekedar hidup keluarga dan sekolah anak-anak saya rasa cukup. Dengan sisa kekuatan yang kita miliki, bisa kita berikan kepada orang banyak, melalui yayasan, mengajar atau hal-hal lain buat orang banyak,” ungkap Budi Isman, CEO Sari Husada kepada padangmedia.com, suatu hari. Kala itu ia bersama Andalas Center melakukan kegiatan di Padang. Sebagai direktur eksekutif lembaga itu, ia memang terlibat aktif

Berbeda dengan kebanyakan orang yang memilih pensiun saat berusia hampir 60 tahun. Sebagai manusia untuk ukuran Indonesia, umur yang potensial adalah 45 – 55 tahun. Jika pensiun dalam umur 55 tahun, menurut Budi, seseorang sudah lelah. ”Bagaimana memberikan sesuatu yang berguna bagi masyarakat banyak dalam kondisi kita yang sudah lelah? Padahal yang orang butuhkan adalah sumbangsih kita yang terbaik, yaitu dalam umur 45 tahun,” jelasnya.

Karena itu, meski sangat sulit, Budi berupaya memberikan pemahaman kepada ibunya, terutama anak-anak dan istrinya. Untuk pemahaman itu, ia mengajarkan pada anak-anaknya agar mempunyai target atau tujuan untuk hidupnya. Waktu yang tepat adalah pada awal tahun 2009 lalu, persisnya 1 Januari, ia menciptakan sebuah permainan untuk keluarganya bagaimana menata dan menyikapi kehidupan dalam jangka waktu tertentu.

”Kami melakukan barbeque bersama keluarga di rumah, membuat planning kecil-kecilan. Saya arahkan anak-anak menuangkan mimpi-mimpi atau dreamnya, untuk jangka 4 tahun. Saya katakan pada anak-anak bahwa mereka harus belajar membuat target,” tuturnya lagi.

Kemudian dari keinginan masing-masing anggota keluarganya itu, Budi memilah-milahnya menjadi keinginan pribadi, finansial, kesehatan, pendidikan dan lain-lainnya. Semua anggota keluarganya, mulai dari anak bungsunya yang berusia 6 tahun hingga si sulung yang sudah kuliah, termasuk Budi dan istrinya, terlibat aktif menuliskan seluruh keinginan hingga tahun 2012.

Hasilnya, ternyata sangat bermanfaat. Dengan adanya keinginan-keinginan itu, setidaknya, setiap orang terdorong untuk mewujudkannya. ”Saya pikir hal ini sangat bermanfaat bagi mereka. Seperti anak saya yang tertua, tahun 2012 selesai kuliah. Karena hobi musik, mau masuk musik, tahun 2011, mau punya studio sendiri. Kemudian anak kedua, masih SMA, mau masuk Kedokteran, spesialis kosmetik. Bahkan yang bungsu, meski masih 6 tahun juga sudah punya planning. Jadi mereka semuanya sudah punya program untuk dirinya masing-masing,” papar Budi.

Sebaliknya, kata Budi, anak-anaknya juga tahu semua planning orang tuanya. Mereka mengetahui bahwa ayah mereka meski pensiun masih bisa punya penghasilan yang memadai. Begitupun ibunya, yang juga bisa berpenghasilan sendiri dengan usaha-usaha yang ia jalankan. ”Akhirnya, setelah semuanya dipaparkan dalam permainan itu, ternyata tidak masalah. Semua anak-anak bisa memahaminya,” ujarnya.

Berawal dari Kegagalan

Posisi puncak sebagai CEO di Sari Husada yang dijabat Budi Isman sejak tahun 2005, bukanlah diperolehnya secara tiba-tiba. Perjalanan menuju jabatan itu sangatlah panjang dan berliku. Bahkan, dikalangan teman-teman sesama kuliahnya di Fakultas Ekonomi Universitas Andalas pada tahun 1981, sangat mengejutkan bila seorang Budi Isman bisa mencapai posisi puncak itu.

”Banyak teman-teman yang tidak percaya kalau saya bisa seperti sekarang ini. Karena mereka semua tahu, siapa sih Budi Isman saat kuliah di Padang dulu? Yang mereka tahu, Budi itu orangnya tak pernah masuk kuliah, hanya datang ke kampus untuk duduk-duduk di kantin, main-main gitar di luar kelas, dan sering menginap di kantor senat. Bisa tanya sama teman-teman di kampus dulu, siapa Budi Isman? Pasti ceritanya tentang hal-hal yang buruk. Wah, pokoknya, imej tentang saya sudah terkenal jelek,” ungkapnya seraya tertawa.

Lalu kenapa ia sampai bisa berubah 180 derajat?

Budi tidak bisa menjawabnya. Tapi yang bisa ia katakan adalah kejadian yang ia ingat terhadap keinginannya untuk membuktikan pada keluarga dan kawan-kawan bahwa ia sebenarnya tidak bodoh. Diakui Budi, sebenarnya ada juga kawan-kawan dibelakangnya yang melecehkannya. Mereka yang sama-sama masuk kuliah, ternyata sudah selesai. Sementara ia masih begitu-begitu saja. Ada juga yang mengumpat karena menganggap Budi Isman seperti itu karena orang tuanya pejabat dan punya uang.

”Saya sendiri tidak tahu pasti. Waktu itu tujuan hidup saya memang tidak ada. Namun yang jelas, perubahan itu saya sadari saat memasuki usia 25 tahun. Saya tulis keinginan jangka panjang, sasaran hidup sampai usia 45 tahun,” ucapnya..

Perubahan itu terjadi saat ia berada di Amerika untuk menyelesaikan kuliahnya yang tidak kunjung usai di beberapa perguruan tinggi di Indonesia. Beberapa semester di Fekon Unand, ia tak tamat-tamat. Masuk ke ABA Prayoga 6 bulan tidak selesai. Dua tahun di Universitas Indonesia juga tak selesai.

“Kemudian saya sadar bahwa pilihan dan attitude atau sikap, adalah kunci terhadap apapun yang ingin kita lakukan. Pada saat tingkat satu di ekonomi, saya dapat nilai empat untuk Bahasa Inggris,” ujarnya, mengenang kembali masa-masa kegagalan kuliahnya.

Menurut Budi, nilai 4 untuk bahasa Inggris itu lebih cendrung dikarenakan sikapnya. Padahal dibanding semua teman disitu, bahasa Inggrisnya paling bagus. Tetapi nilainya angka mati, tidak bisa naik tingkat, harus mengulang satu tahun. Akhirnya dari pada menganggur satu tahun, ia bekerja menjual buku dan sore harinya kuliah di ABA. “Saya ingin buktikan bahwa bahasa Inggris saya itu bagus. Cuma 9 bulan disana,” jelasnya.

Diakui Budi, sikapnya yang seolah menyepelekan pelajaran, bisa membuat dosennya marah. Siapa yang tak sakit hati melihat ada mahasiswa yang saat pelajaran berlangsung, malah main-main gitar di luar kelas.

”Akhirnya saya berpikir siapa yang disalahkan? Kalau jujur bapak itu ngasih nilai, saya yakin saya lulus. Tapi mungkin dia sakit hati, dia lihat sikap saya yang tidak baik, karena tidak pernah masuk kuliah. Jika dinilai kemampuan dia dalam bahasa Inggris mungkin lebih rendah dari saya. Kemudian dia melihat sikap saya yang sering memanggil-manggil teman yang sedang kuliah agar keluar lokal. Itu sangat mengganggu hak dia sebagai dosen,” tutur Budi.

Kalaupun akhirnya diberi angka mati, Budi menyadarinya. Setelah berada di Amerika, saat ia sempat merenung-renung, ia berkesimpulan bahwa yang menentukan nasib seseorang adalah dirinya sendiri, bukan dosennya. ”Jika saya tidak mau pusing belajar, duduk manis, tidur saja dalam kelas, saya dengar saja dia bicara ngajar, mungkin saya bisa lulus.”

Selain sikap, hal lain yang penting dan menjadi prinsip bagi Budi kemudian hari adalah pilihan. Kala itu ia telah melakukan pilihan melakukan hal yang membuat dirinya mendapat ganjaran seperti itu. Ternyata, kata Budi, pilihan-pilihan hidup kita dimasa lalu, membawa kita kepada kondisi dimasa sekarang.

Diancam Orang Tua

Tujuh tahun luntang-lantung membuat orang tuanya kewalahan. Ia bahkan diancam ayahnya Yakub Isman (alm) yang kala itu menjabat Rektor di IKIP Padang. Nyaris Budi Isman tak dianggap sebagai anak lagi.

Iapun diberi kesempatan terakhir. Meneruskan kuliah ke Amerika. Cuma 1,5 tahun, ternyata ia bisa menyelesaikan kuliah. Satu hal yang ia ingat adalah pesan terakhir ayahnya. ”Jangan pernah menjadi orang rata-rata karena yang rata-rata tak pernah dilihat orang Carilah yang ekstrim. Terserah mau jadi apa. Karena saya suka main band, jadilah pemain band yang hebat, terkenal di seluruh dunia, dipuji orang. Kalau hanya untuk kelas Padang, tidak akan pernah populer,” ungkap Budi mengingat kalimat ayahnya.

Bahkan lebih ekstrim lagi, kata ayahnya, bila mau jadi penjahat, jadilah penjahat kelas kakap, merampok Bank Dunia. Sikap ektrim itulah yang diajarkan sang ayah, yang tentunya berharap dengan ektrim yang positif.

Dorongan dari ayah dan perenungan yang ia lakukan selama di Amerika, membuat Budi menetapkan sikap dalam hidupnya. Ia membuat target untuk tahapan hidupnya sejak usia 25 tahun menuju 45 tahun. Dalam usia 45 itu, paling telat, ia harus menjadi Direktur Utama di perusahaan multinasional atau perusahaan nasional yang besar.

Budi mulai menapakkan karirnya di perusahaan Mobil Oil Exploration and Production, Dallas Texas USA sebagai Human Resources Advisor. Meski belum tahu jalannya kemana, ia lakoni terus pekerjaannya. ”Karena sudah tahu tujuannya, saya jalani saja,” kata Budi yang menikah dalam usia 26 tahun.

Pulang dari Amerika, Budi bergabung dengan Mobil Oil di Indonesia. Menurut Budi, kalau ia tetap di Amerika, targetnya menjadi Dirut tak mungkin akan tercapai. Ternyata di Indonesia, peluang itu juga tak memungkinkan. Makanya, ia putuskan pindah ke Shell Companies, tahun 1991.

”Sampai tahun 1994, saya bolak balik ke Amsterdam, Denmark. Soal karir, memang cukup bagus ya. Cuma karena waktu itu Shell menciut karena mereka menjual divisi kimianya. Saya amati situasi, rasanya tidak mungkin saya bisa jadi CEO umur 45 tahun di perusahaan ini. Makanya saya pindah haluan.”

Dilamar Tujuh Perusahaan Besar

Ketika memutuskan pindah dari Shell, kondisi perekonoman di Indonesia sangat bagus. . Ada 7 perusahaan besar melamar Budi, termasuk City Bank. Tetapi hanya sehari disana, ia masuk ke Coca Cola. Kebetulan keduanya mengajukan panawaran, tetapi setelah dipertimbangkan dan kemungkinan bisa mencapai target hidupnya, Budi menetapkan pilihan di Coca Cola. Lagi pula City Bank terlalu formal, sedangkan Coca Cola tidak formal, fun, enjoy yang sangat cocok dengan budayanya.

Disinilah ia bertahan cukup lama, 11 tahun. Ia mulai masuk membenahi SDM. Hanya 1,5 tahun, ia dipindahkan ke bagian lain. Tetapi menurut CEO Coca Cola waktu itu orang Amerika, Budi tidakcocok jadi orang SDM, paling pas jadi orang Operational dan Sales.

”Saya dikirim ke Padang jadi GM semacam CEO kecil tahun 1996. Saya ditugasi membenahi persoalan keuangan yang ada disitu. Setahun selesai, saya mendapat penghargaan sebagai best operation, best wilayah. Bos saya bilang, sudah cukup setahun saya belajar di Padang. Saya dipindahkan ke Surabaya, karena persoalan disana lebih besar,” paparnya.

Persoalan di Surabaya, diakui ayah lima anak ini, lebih kompleks. Bukan seperti Padang yang lebih mengarah pada penjualan. Di Surabaya, dengan jumlah karyawan sekitar 1500 orang itu, persoalan lebih ke SDM. Tantangan yang dihadapi Budi sangat berat, apalagi SPSI disana sangat kuat dan cukup menghambat. Hari pertama setelah dilantik saja, ia sudah didemo oleh SPSI. Selama ini, mereka sangat kuat. Dengan keberadaan Budi, mereka menganggap Pimpinan barunya itu akan mengutak atik zona kenyamanan mereka. Selama ini mereka mendapatkan selalu keinginan mereka.

”Kalau tidak dipenuhi mereka mengancam mogok. Bagi saya kalau mogok silahkan. Tetapi saya pelajari dulu kenapa mereka mogok. Kita bahas bersama-sama, saya jadikan mereka teman. Ternyata dulunya tidak begitu. Makanya dengan komunikasi segalanya jadi terpecahkan,” jelasnya.

Dengan pendekatan yang ia lakukan serta menjadwalkan coffe morning untuk membuka dialog dengan karyawannya, segalanya jadi mudah. Satu hal yang mungkin bisa dikatakan sebagai kiat, Budi selalu berusaha mendengarkan, tetapi tidak mau terikat dengan janji. Jika tidak bisa memenuhi keinginan karyawannya, Budi akan mengatakan terus terang, termasuk tuntutan mereka dalam hal kenaikan gaji.

Tetapi dalam hal-hal yang masih sesuai logika, Budi akan berusaha memenuhi permintaan karyawannya sebagai ungkapan kepeduliannya. ”Akibatnya, mereka menganggap saya serius. Semangat kerja mereka menjadi bagus. Komunikasi saya jaga terus menerus dengan menggelar coffee morning bersama 15 – 20 orang karyawan setiap minggu bergantian,” ujarnya.

Bahkan menjaga kedekatan itu, meski sebagai pimpinan, ia meluangkan waktu untuk ikut ke lapangan naik truk merasakan apa yang dirasakan oleh pekerjanya. Agaknya, pola semacam itu, pendekatan organisasi dan SDM, selalu ia terapkan

Disamping itu, tambah Budi, komunikasi yang baik dan benar adalah hal yang penting dalam menjaga hubungan dengan karyawan. Sejauh ini, dimana-mana sering kita lihat orang punya jargon berlebihan seperti kata visi dan misi dari perusahaan. Bagi Budi tak perlu memakai kata sulit itu. Ia lebih suka menggunakan kata yang mudah dimengerti banyak orang. Sebagai contoh, Budi menanyakan pada karyawannya, tentang tujuan atau sasarannya. ”Saya tanyakan apa tujuan yang hendak mereka capai. Kenapa tujuan ini harus dicapai karena akan menghasilkan uang yang mensejahterakan keluarganya. Saya mencoba menyamakan tujuan mereka pribadi dengan tujuan perusahaan, sehingga mereka merasa bahwa ternyata tujuannya sama dengan perusahaan.”

Karena itu pulalah, lulusan Manajemen Organisasi di George Washington University USA tahun 1987 ini tak pernah merasa sulit. ”Mungkin apa yang saya lakukan sesuatu yang menyenangkan dan menjadi hobi yang baru,” cetusnya.

Tahun 2003, putra kedua kelahiran 23 Maret 1962 ini dipercaya menjadi Vice President di Coca Cola. Dua tahun memegang jabatan itu, Budi mulai berpikir untuk mengundurkan diri. Padahal dengan jabatan itu, ia sudah menjadi orang nomor dua di Coca Cola. Namun, Budi tak bercita-cita menjadi orang nomor dua. Ia sudah menanamkan dalam target hidupnya menjadi orang nomor satu di perusahaan multinasional sebelum berusia 45 tahun.

Suatu kali, ia menanyakan pada si bule, pimpinan Coa Cola.”kapan saya bisa menjadi orang nomor satunya di Coca Cola?” Saat menanyakan itu, si bule malah dengan santai menghiburnya. ”tenang saja. Kamu kan masih muda. Nanti saya pindahkan ke Australia, menjadi General Manager di Victoria.”

Tentu saja Budi harus berpikir dua kali. Meski ditawari GM di luar negeri, bukanlah hal yang menggiurkan. ”Soal pengalaman kerja di luar negeri, saya pernah 11 tahun di Mobil Oil. Bukan itu yang saya cari. Memang, boss saya waktu itu baru 6 bulan di Indonesia, biasanya sampai 6 tahun. Kalau saya tunggu 5 tahun lagi, artinya umur saya sudah 55 tahun. Maka target hidup saya tidak tercapai,” tambahnya.

Tak ada jalan lain. Budi minta mengundurkan diri. Semula bossnya menolak. Tetapi dengan berbagai argumen, ia bisa meyakinkan. Bahkan ia juga mengatakan dengan terus terang bahwa sebuah perusahaan lain menawarinya sebagai President Director.

”Mereka bersedia melepas saya, ke Sari Husada dengan catatan kalau selesai kontrak di Sari Husada saya tidak bisa bekerja di tempat lain sebelum dapat izin dari Coca Cola. Bagi saya tak masalah.”

Pensiun Dalam Usia 45

Masuk di Sari Husada, perusahaan itu masih merupakan perusahan publik, dimana pemegang saham mayoritasnya adalah Belanda. Tapi belakangan sudah dibeli oleh Danone, Perancis.

Pertama masuk, kondisinya sedang goyang. Ia ditantang untuk memebenahi masalah internal. Tantangan itu sangat disukainya. Sebaliknya, sikapnya yang mau meninggalkan posisi di Coca Cola yang dinilai sangat bagus membuat banyak orang terheran-heran dan menyayangkannya, termasuk ibunya.

”Itulah kehebatan tujuan. Kalau kita sudah menatap tujuan, apapun akan kita upayakan mencapai tujuan itu. Saya pelajari bagaimana orang sukses, dia tidak menurunkan dream nya, kalau ia merasa tidak bisa mencapainya. Dreamnya tetap, cuma usaha mencapai dream itu diperkuat. Kalau kita tidak bisa mengunakan jalur ini untuk mencapai dream itu, pakai jalur lain. Sekalipun harus mundur lagi tidak masalah. Asal sesuai dengan tujuan saya,” urainya..

Tahun 2005, Budi bergabung dengan target awal membenahi manajemennya. Di perusahaan itu ada konflik manajemen lama dengan pemegang saham utamanya, Belanda. Mereka mempunyai saham 77 persen, sisanya saham masyarakat dan beberapa nama orang Indonesia. Budi bertanggung jawab untuk mengembangkan perusahaan, baik penjualan maupun profit, lebih dari double diggit selama 5 tahun.

Berbagai langkah yang ia upayakan agar perusahaan itu bisa stabil. Salah satunya adalah membeli saham minoritas. Karena ia ingin bekerja full control, ia tak mau diganggu oleh pemegang saham minoritas. Gagasannya disetujui. Tahun 2005 itu saham perorangan dan masyarakat itu dibeli hampir senilai 1 triliun.

”Dengan langkah itu, kita bisa keluar dari pasar modal. Bukan lagi perusahaan publik, tapi perusahaan privat. Alhamdulillah tahun 2008 tercapai target yang mereka minta. Memang masih banyak yang perlu dibenahi, tetapi hal yang pokok sudah bisa tercapai. Cuma konidsi sekarang tahun ini kurang bagus karena ekonomi juga kurang bagus,” paparnya.

Tahun ini, tepatnya 11 Juni lalu, kontrak Budi dengan Sari Husada sudah berakhir. Apakah ada kemungkinan akan diperpanjang?

”Saya tidak berkeinginan untuk memperpanjang, meski mereka ingin memperpanjang. Saya kompromikan dengan mereka, agar saya diganti. Setahun lalu sudah saya sampaikan bahwa saya tidak akan memperpanjang. Saya tetap katakan, target saya itu usia 45 saya sudah pensiun.”

Sebenarnya, pada 2007 lalu, Budi yang sering diminta menjadi nara sumber pada iven seminar sudah mengajukan pensiun. Tetapi karena diminta Danone supaya jangan keluar, ia sepakati bertahan setahun lagi. Kemungkinan Budi akan membantu mereka sampai ada penggantinya.

Menghadapi masa pensiunnya, Budi telah merancang target hidup tahap kedua. Kata-kata meanning full yang ia artikan sebagai berbagi kebahagiaan dengan orang lain, benar-benar akan ia wujudkan. Cara yang ia pilih melalui yayasan, melalui buku, dan motivasi.

Dalam usinya yang masih muda, penuh semangat dan enerjik Budi akan mengabdikan diri untuk kepentingan orang banyak. Ia mengajar , menjadi nara sumber, menulis buku dan memberikan pelatihan motivasi bagi masyarakat yang, memang sangat dibutuhkan pada zaman ini. (nita indrawati)

http://padangmedia.com/index.php?mod=tokoh&id=18


Actions

Information

8 responses

11 03 2010
Abrar Yusuf

Bapaknya rektor dia jadi Direktur Utama ya pantaslah, danmemang seharusnya begitu, kalu nggak yang percuma jadi anak orang pintar. Bapaknya pintar anaknya harus lebih pintar. Menurut saya cita-cita seperti ini harus dicontoh dan ditularkan ke orang banyak terutama urang awak. Semoga berhasil.

29 04 2010
Sjamsir Sjarif

Wah, Budi dah pensiun ya? Budi mungkin lupa Oom Sjamsir, karena sejak ditinggalkan di Bukittinggi awal tahun 1966 Budi masih berumur 4 tahun. Kita sering main-main di Jalan Kayu Ramang, Bukittinggi.

Yah Angku Abrar betul, saya kenal Budi, ayah dan ibu serta suadara-saudaranya. Dengan Pak Yakub saya sering berjumnpa di Midwest karena beliau di Springfiled, Indiana dan saya di Chicago dan Urbana, Illinois sampai tahun 1975. Waktu beliau di Bangkok, saya cari-cari 1991, sayang baru pindah rumah tidak berjumpa.

Selamat pensiun Budi. Salam sama mama dan semua keluarga. Kalau baca ini tolong hubungi Om Sjamsir. Sering di Lapau, Rantaunet.

Salam,
— Sjamsir Sjarif
Santa Cruz, California, USA

21 07 2010
leni

Saya pernah bertemu Da Budi dlm sebuah seminar… orgnya low profile n mengasyikkan …Luarrr biasa salut buat Da Budi disaat posisi on top .. Memutuskan untuk mengabdikan diri pada masyarakat sebuah keputusan yang sangat dan sangat jarang di miliki oleh siapapun untuk melepaskan status sosial saat berada dipuncak. semoga berkah dilimpahi Allah atas niat baiknya semoga Da Budi dapat mjadi contoh teladan bagi saudara, teman, rekan n orang2 d sekitar kehidupan Da Budi. Hidup bukan hanya harta n tahta tapi msh ada second life.. Yang lebih abadi.

28 08 2010
Maryadi.SE

Terlepas dari ortunya siapa, yang perlu dipetik dari tulisan diatasadalah motiasi yang sudah diberikan pada pembaca, dan juga soal target tadi, saya sebagai pembaca baru kali ini seseorang yang punya target terlalu pendek waktunya dan itu tercapai, tapi untuk saya tidak mungkin lagi, tapi akan saya sampaikan pada tiga ankku.trim’s wassalam…

5 12 2010
rasmin

Saya salut kepada budi Isman yang berhasil meng up grade diri dari seorang restless young man menjadi CEO yang sukses. Memb aca riwayat hidup Budi ini saya ingat pengalaman masa lalu yang hampir sama ceritanya, dimana saya saat masih remaja masih terombang ambing menetapkan planning hidup saya yaitu apakah saya akan jadi seorang ekonom atau lawyer, karena bimbingan Allah SWT jua maka saya memilih untuk menjadi lawyer, dan kemudian memilih profesi sebagai jaksa dengan harapan suatu masa sampai di puncak karier, namun Allah menentukan lain walaupun disatu pihak tidak kesampaian, tapi di segi lain saya alhamdulillah dapat menyelesaikan pengabdian saya hingga pangkat golongan tertinggi di PNS yaitu golongan IV e dengan selamat. Dengan berpegang pada prinsip man purpose God dispose, yang saya tularkan kepada anak2 ;alhamdulillah sekali lagi, saya masih dapat menyaksikan tumbuh berkembangnya anak2 saya berhasil menyelesaikan studinya sampai S2 dan bekerja sesuai dengan profesi mereka masing2. Harapan saya adalah agar anak2 sayapun dapat pula menularkan prinsip jujur sederhana dan adil kepada cucuku, dimana harta kekayaan memang perlu tapi, tapi bukan segala galanya.Jadilah makhluk Allah yang dapat bersabar bila susah, bersyukur bila senang dan puaslah dengan apa yanmg dianugrahi Allah. Sekali lagi selamat ya Pak Budi Isman.

30 01 2011
zelfi

saluuut dan selamat mengabdi Pak Budi…Semoga Allah SWT memberkahi niat baik berbagi untuk sesama…..

27 03 2012
lowongan kerja

saya salu sekali dengan pencapaian pak budi.. sukses selalu untuk pak budi.

23 01 2013
tokogobeng

sebuah teladan perjalanan seorang manusia
mencari harta dunia secukupnya saja
dan selanjutnya adl pengabdian kpd manusia2 lain
selamat jalan pak Budi, smg sukses dunia akherat…..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: