Syofyani Yusaf, Dra.

3 03 2010

Mengabdikan Hidup Pada Kesenian

Dalam adat Minangkabau, pada zaman dahulu ada semacam aturan yang melarang anak perempuan untuk memamerkan tubuhnya dihadapan umum. Sebagai contoh, untuk jenis kesenian randai, bila ada peran perempuan selalu dimainkan oleh lelaki. Begitulah pantangannya. Apalagi untuk menari yang jelas-jelas mengeksploitasi tubuh dalam berbagai gerakan-gerakan, bagaimana mungkin ia bisa leluasa menyalurkannya? Tapi hal yang tidak mungkin itu menjadi mungkin bagi kehidupan Syofyani.

Ia termasuk beruntung, sebelumnya, sekitar tahun 30-an di Sumatera Barat muncul organisasi Islam yang moderat dan toleran seperti Muhammadiyah. Pandangan kaku yang mengharuskan wanita itu dipingit berangsur-angsur mulai disingkirkan. Bagi ajaran itu, kaum perempuan dan laki-laki mempunyai hak yang sama dalam kehidupan.

Apalagi seiring masa itu di Padangpanjang didirikan sekolah Guru Perempuan (Normal School) oleh Rahmah El Yunusiyah. Juga di Koto Gadang Bukittinggi berdiri pula organisasi perempuan Amai Setia. Makanya ketika ia mulai terlibat dalam seni tari, ia tidak menemukan hambatan. Lingkungan keluarga pihak ayahnya Bustaman St. Makmur (alm.) sudah menjadikan tari sebagai warisan turun temurun. Salah seoranag adik ibunya, juga seorang pemain tonil. Ketika berusia 4 tahun, Syofyani kecil yang akrab dipanggil Ani sudah diajak Eteknya main sandiwara di panggung-panggung.

Tari piring di atas pecahan kaca, adalah spesifik anak pasangan pasangan almarhum Bustamam St. Makmur dan almarhumah Saiyar Bustaman.. Tari ini warisan kakeknya Dt. Tumanggung. Biasanya penari yang berada di atas pecahan kaca adalah keluarga dekat. Yang pertama membawakan tari piring adalah adik ayah dan adiknya sendiri.

Sekali waktu, ketika hendak melakukan pementasan adik Ani tidak di tempat. Artinya tak ada yang tampil. Yang mau tampil pun tak ada. Memang banyak penari dalam grup yang diasuh kakeknya itu, tetapi mereka semua masih termasuk orang luar. Tak ada pilihan lain. Ani ditunjuk menggantikan. Mau tak mau Ani harus tampil. Tentunya sebagai pemula, ia sangat khawatir. Sebagai kanak-kanak, rasa takutnya berlebihan. Ia menolak. Dalam bayangannya muncul hal-hal buruk. Bagaimana kalau pecahan kaca itu melukai kakinya? Saat itu benar-benar tak ada pilihan.

“Waktu itu memang saya sulit untuk memutuskan. Tapi kata kakek kami harus tetap menampilkan tari piring. Soalnya kami sudah terikat perjanjian,” jelas Ani tentang pengalaman pertamanya menari di atas kaca.

Setiap hari Ani berlatih dengan kakeknya di kampung. Sang kakek mengambil 100 buah botol bir yang sudah dipecahkan.“Saya disuruh menghentakkan kaki di atas pecahan kaca itu. Saya ragu-ragu menghentakkan kaki di atas pecahan kaca itu. Saya ragu-ragu memulai karena takut. Melihat saya cemas, kakek langsung melakukannya. Memang tak terjadi apa-apa. Saya masih takut. Kemudian saya disuruh duduk . Kakeklah yang membantu menghentakkan kaki saya ke atas pecahan kaca . Lama-lama rasa cemas saya hilang. Akhirnya saya bisa,” papar Ani mengenang masa paling berkesan dalam hidupnya.

Pada President Mission Culture di Pakistan, Ani harus menari di atas kaca. Lantaran takutnya Ani meminta didampingi dokter dan obat-obatan. Padahal ia tahu bahwa dokter hanya spirit mental. Andai kata ia terluka sebenarnya kuncinya ada pada Bustaman, sang ayah, ia mewakili kakeknya yang sudah tua. Sejak itu, bila menari Ani selalu didampingi ayahnya. Tari piring memang punya pengiring sebagai kuncinya. Begitulah turun temurun sampai pada anak-anak Ani.

Pengalaman menarik bagi Ani saat remaja adalah ketika ia diajak orang tua menari dalam sebuah acara hiburan bagi pejuang di masa perang. Acara tersebut berlangsung di Kuranji. Ia merasa bangga sekali dapat menyenangkan hati orang yang sedang tertekan akibat perang. Pengalaman itu sangat berarti baginya.

Membentuk sanggar, sebenarnya bukanlah sesuatu yang ia persiapkan atau disengaja. Ani masih ingat ketika itu tahun 1961, ia kuliah di Bukittinggi sebagai mahasiswa IKIP Jurusan Bahasa Inggris. Sebagai mahasiswi ia diminta mengisi sebuah kegiatan ekstra akademis. Karena ia gemar menari, Ani mengajak teman-temanya bergabung menciptakan sebuah kreasi tari. Dari hasil penampilan itu muncul ide untuk membentuk sebuah grup tari. Masa itu grup tari belum ada. Jadilah grup satu-satunya itu berkembang pesat. Lama kelamaan anggotanya bukan hanya mahasiswa IKIP tapi juga dari luar kampus. Kebanyakan anggotanya sudah memiliki dasar dalam menari. Tahun 1962, sepulang dari pekan kesenian Mahasiswa di Bali, ia membentuk grup Syofyani Dance and Music Ensamble. Pertemuan di Bali itu sungguh berarti. Ani bertemu dengan Yusaf Rahman, seorang pemusik anggota tim kesenian mereka juga. Pada tahun 1964, pasangan ini menikah.

Dengan keberadaan seorang Yusaf Rahman, grup ini semakin eksis. Sebab dari segi music, Yusaf sangat mendukung. Ia pula yang melatih music dan mempersiapkan music untuk koreografi Ani. Pasangan serasi ini melangkah bersama-sama, mengelola sanggar tari dan music bagi anak-anak di Bukittinggi dan Padang.

Mengatur anak-anak yang kebanyakan berusia remaja, bagi Ani terasa sulit. Hal ini menyangkut kepercayaan orang tua yang telah menitipkan anaknya di sanggar untuk belajar seni. Ia mesti menjaga itu. Syukurnya, anak-anak sanggarnya tak banyak ulah. Ani menanamkan rasa persaudaraan di mana satu sama lain adalah keluarga. Masing-masing anak diajarkan bertanggung jawab pada teman lain. Tetapi tidak berarti saling tergantung. Bagimanapun, setiap anak harus mandiri.

Pertanyaan yang barangkali sering muncul adalah bagaimana sanggar Syofyani bisa tetap aktif dan bertahan haingga lebih dari 40 tahun? Menurut Ani, kuncinya adalah karena ia dan suaminya pegawai negeri, dosen UNP. Dari sanalah mereka menjamin setiap kekurangan biaya dalam perisapan sebuah pertunjukan. Kalau mengandalkan honor pertunjukan, sepertinya belum memadai meski pun grup mereka sering diundang.

“Undangan itu kan tidak rutin. Sedangkan kami harus berlatih secara kontiniu,” alasan Ani. Acapkali, saat menerima gaji uangnya langusng dimanfaatkan untuk persiapan penampilan. Syukurnya banyak pengeluaran yang bisa ditekan. Misalnya music, karena ditangani suami, honornya bisa gratis. Begitu juga dengan tata rias, ibu enam anak ini mengharuskan penarinya dandan sendiri. Apalagi pakaian dan peralatan, mereka tidak menyewa. Jadi, banyak biaya yang bisa mereka hemat.

Perjalanan sanggar yang dikomandoi Syofyani sudah terbilang banyak. Berbagai tempat yang ia kunjungi. Dari lawatan itu banyak pengalaman dan kesan yang ia peroleh.paling berkesan adalah ketika grupnya diundang oleh panitia Festival du Folklore (Festival Tarian Rakyat) di Monteiro, Prancis. Ia amat tersanjung. Sebab grup merekalah yang pertama kali tampil dalam pertemuan bergengsi ini mewakii nama Indonesia. Melalui festival itulah negara-negara Eropa bisa mengenal Indonesia.

Dalam festival tersebut, Syofyiani Dance tampil dengan tiga tarian menggunakan pakaian yang berbeda. Orang Eropa sempat terkagum-kagum, pasalnya mereka terbiasa menggunakan pakaian yang sama saat melakukan tarian. Bahkan dari awal hingg akhir pertunjukan, mereka cuma mengenakan satu baju.

“Dalam grup, hal itulah yang saya tekankan. Harus cepat dan bisa mengurus diri sendiri. Bisa dibayangkan, dalam tiga menit anak-anak harus mengganti pakaian, sunting atau tanduk kepala. Mereka sudah terlatih. Alasannya sederhana saja. Dalam perjalanan ke luar negeri, jumlah anggota amat terbatas. Kita tidak mungkin bawa rombongan besar. Makanya dalam tiap pertunjukan, urusan busana, tata rias dan pelengkapan tampil termasuk alat musik yang berat-berat harus diangkut sendiri. Tidak ada yang menolong. Semua peraturan berlaku sama, termasuk anak saya sendiri,” papar Syofyani.

Dalam festival di Prancis itu, Syofyani mendapat penghargaan sebagai grup tari terbaik pertama. Padahal Indonesia baru pertama kali ambil bagian dalam festival itu. Syofyani melihat betapa antusiasnya peserta dari negara lain melihat tarian Indonesia. Ani sangat terharu. Saking terharunya, ia sampai menitikkan air mata. Perasaan bangga, bahagia bercampir aduk. Kebanggaan tersendiri dan amat berarti karena ia sudah mempersembahkan sesuatu yang memberi posisi terhormat bagi bangsanya. Penghargaan lain, Syofyani pernah menerima Pengabdian Masyarakat Cemerlang (PMC) dari Yang Dipertuan Agung Malaysia tahun 1996 dan sebagai jasawan tahun 1997 dari Gubernur Sumatera Barat atas pengabdiannya yang tak henti dalam mengembangkan kesenian.Penghargaan lain ia juga memperoleh 63 tahun berkarya dari Depbudpar Sumbar tahun 2008, dan terbaru inspirator award dari Sushi FM pada bulan Mei 2009 lalu.

Secara rutin tahun 1991 dan 1997, Grup Syofyani diundang lagi ke Prancis untuk festival yang sama. Banyak undangan lain berdatangan. Ia sudah membawa Syofyani Dance berkeliling dunia, diantaranya Yunani, Italia, Spanyol, Australia, Swiss, Belanda, Amerika, Korea, Jepang dan seluruh negara Asean. Secara pribadi, Syofyani dan suaminya almarhum juga diundang University Kebangsaan Malaysia sebagai staf pengajar tari dan music selama 8 bulan.

Sebagai orang Timur, dalam keluarganya Syofyani menerapkan kegotong royongan. Hal satu ini sangat kental dalam keluarga besar mereka. Terutama dalam mendidik anak. Bagi keluarga Minang, hal yang biasa terlihat bila cucu diasuh dan tinggal bersama nenek atau eteknya. Ia amat lega saat harus keluar kota bersama suaminya bila di rumah ada Ibu, adik atau saudara lainnya. Bahkan pernah selama berbulan-bulan pasangan itu berada di Malaysia, anak-anaknya aman-aman saja. Mereka suadah terbiasa ditinggal. Nilai rapor mereka tetap bagus.

“Saya bangga pada mereka. Apalagi dalam darah mereka juag mengalir darah seni orang tuanya. Saya tidak pernah memaksa mereka harus belajar tari atau musik. Bakat dan kesadaranlah yang memanggil jiwa mereka untuk menekuni bidang seni,” ucap Syofyani dengan kebanggan yang sulit ia sembunyikan.

Entah kebetulan atau keajaiban apa, ada hal yang masih ia pertanyakan hingga kini. Rasanya memang aneh. Semua anak-anak yang huruf awal namanya Y (Yosi, Yovi Yosa) diambil dari nama ayahnya, berbakat dan mahir bermain music mengikuti jejak sang ayah, Yusaf Rahman. Sementara yang memiliki nama S (Soni, Sandra, Sofi) dari awal nama Syofyani, semuanya berbakat menari.

“Saya menilainya sebagai karunia dan ketetapan dari Allah. Saya amat mensyukuri semua bakat dan kemampuan anak-anak baik dalam kesenian maupun pendidikan. Dua anak saya masuk perguruan tinggi lewat PMDK,” kata Syofyani.

Padahal sebagai dosen dan pengelola grup yang lumayan besar, pasangan seniman ini sering meninggalkan anak-anaknya. Tapi ada satu hal yang selalu ia tanamkan pada anak- anak adalah selalu berpegang teguh pada ajaran Allah.

Sebagai perempuan yang sudah melanglang buana ke berbagai belahan dunia, adat ketimuran masih tetap kental pada keseharian Syofyani. Ia mengaku dibesarkan dan hidup dalam lingkungan adat serta alam budaya Minangkabau. Karena itu ia selalu memegang teguh adat dan budaya yang telah mendarah daging dalam kehidupan dan pandangan hidupnya.

“Perempuan Minang mendapat kedudukan yang terhormat. Ini bermula dari Mitos Bundo Kanduang. Perempuan Minang merupakan andalan dan tiang dari adat dan budaya seperti disebutkan dalam moto, kok tunggak dimakan bubuak tando di rumah gadang karuntuah. Artinya apabila tonggak utama rumah gadang telah keropos, itu tandanya rumah gadang akan runtuh. Bila perempuan moralnya sudah rusak, alamat budayanya akan runtuh,” kata Syofyani berpepatah. Masih banyak perumpaan yang ia sebutkan sebagai simbol yang menyatakan bahwa perempuan Minangkabau sudah mendapat tempat.

Sebagai perempuan Minang yang sudah hampir seluruh hidupnya diabdikan pada kesenian. Nenek 15 cucu ini senantiasa berupaya melestarikan seni pusaka tradisi dalam bentuk kreasi-kreasi baru. Syofyani tak pernah berhenti berkreasi. Pengabdiannya dalam dunia kesenian terutama tari tak perlu diragukan meski suaminya Yusaf Rahman telah meninggal dunia beberapa tahun lalu. Meski tanpa sang suami yang selalu menjadi penyemangat baginya, ia tetap berkaya, melahirkan karya-karya untuk anak bangsa ini. Karena itu pula ia mendapat penghargaan A Lifetime Achievment pada West Sumatera Tourism Award, tahun 2009 lalu. (nit)

sumber: padangmedia.com


Actions

Information

3 responses

17 03 2010
putri

saya putri, reporter news trans v, saa ini saya tengah memegang program yang berkaitan dengan seni dan budaya indonesia. saya tertarik sekali untuk bertemu dengan ibu syofyani untuk liputan saya. apakah saya bisa memperoleh nomer ibu syofiani aau no telp sanggarnya? ini nomer hp saya 08170026905 dan ini email address saya melorin_kyukyu@yahoo.com. saya tunggu kabar dari saudara. terimakasih

7 02 2012
Nanik Muis

www ibu syofyani..baa kaba ibu..lai acok jo mambao panari ka balando..Nani bangga bana jo ibu…..ibu hebat…

9 12 2012
TerMiDoTa

kalau ada kesempatan ke sanggar syofyani, jangan lupa kalo mau browsingan, online ke nurinet ya…, tq

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: