Datuak Tumangguang Sutan Sulaiman: Kepala Laras Sungai Puar

7 02 2011

Oleh : Suryadi

 

TUANKU LARAS adalah jabatan adat bikinan Belanda untuk mengontrol masyarakat Minangkabau. Gelar tuanku lareh (‘tuanku laras’), atau larashoofd (‘kepala laras’) dalam bahasa Belanda, cukup bergengsi di Minangkabau pada zaman kolonial. Mereka yang dipilih menjadi kepala laras biasanya berasal dari kalangan penghulu berpengaruh di suatu nagari yang bisa diajak bekerjasama oleh Belanda. Jabatan tuanku laras sebebarnya sangat pelik: ke atas ia harus loyal kepada Belanda, ke bawah ia harus melindungi rakyatnya. Banyak kepala laras yang masih memegang idealisme, tetapi tak sedikit yang dibenci oleh masyarakatnya sendiri karena secara langsung atau tidak mereka menjadi perpanjangan tangan kolonialis Belanda untuk menekan dan mengontrol masyarakat Minangkabau di nagari-nagari.

 

Rubrik ‘Minang Saisuak’ kali ini menampilkan foto Kepala Laras Sungai Puar, Datuak Tumangguang Sutan Sulaiman (dalam dokumen-dokumen Belanda namanya ditulis ‘Datoe Toemanggoeng Soetan Soeliman’). Foto ukuran 17,5×12 cm. ini dibuat oleh mat kodak Th. F.A. Delprat pada tahun 1890. Datuak Tumangguang berkuasa antara 1870-an sampai 1930-an. Ia dikenal dekat dengan Belanda dan cukup cerdik menggunakan jabatannya untuk kesejahteraan keluarganya. Rumahnya gadangnya yang besar di Sungai puar, dan termasuk yang termewah untuk ukuran waktu itu, acap kali kedatangan tamu-tamu penting orang Belanda (antara lain perintis pembuatan jalan kereta api, J.W. Ijzerman, peneliti Jerman Alfred Maas, dan mantan misionaris Meint Joustra). Para pengunjung Eropa itu sempat membuat foto interior rumah gadang milik Datuak Tumangguang Sutan Sulaiman (lihat misalnya, buku Alfred Maas, Quer durch Sumatra: Reise-Erinnerungen. Berlin: Wilhem Süsserott, 1904; M. Joustra, Minangkabau: Overzicht van Land, Geschiedenis en Volk. Leiden: Louis H. Becherer, 1921). Foto-foto itu boleh dibilang cukup langka karena tidak banyak sebenarnya dokumen visual klasik yang memotret interior rumah gadang Minangkabau. Fotografer Delprat juga sempat memotret keluarga besar Datuak Tumangguang (akan kami tampilkan pada kesempatan lain).

 

Gaya pakaian tuanku laras seperti dapat dilihat pada foto Datuak Tumangguang Sutan Sulaiman di atas tampaknya mencerminkan pula posisi politiknya. Pakaiannya adalah kombinasi baju gaya Eropa dan pakaian pribumi, seolah-olah merepresentasikan posisi dilematis yang diembannya: antara membela kepentingan rakyat dan merealisasikan perintah-perintah dari atasan Belandanya. Salah satu hal yang sering situgaskan oleh Belanda kepada Tuanku Laras adalah mencari tenaga rodi untuk pembangunan jalan dan pekerjaan-pekerjaan lainnya untuk kepentingan Belanda. Sehingga waktu itu terkenal pantun: Daulu rabab nan batangkai / Kini kopi nan babungo / Daulu adat nan bapakai / Kini rodi nan paguno. Sekarang, jauh setelah era tuanku karas lenyap dari alam Minangkabau, hakikat baris isi pantun itu masih saja terasa, tapi mungkin harus diubah sedikit: ‘daulu adat nan bapakai, kini ko pitih nan nyo tanyo’. ‘UUD (Ujung-Ujungnya Duit)’kata orang sekarang.

 

Suryadi – Leiden, Belanda. (Sumber foto: KITLV Leiden)

Singgalang, Minggu, 6 Februari 2011

 


Actions

Information

5 responses

8 02 2011
Aldi Piliang

Sumber sejarah yang didapat oleh si penulis kurang lengkap, karena tidak mengetahui kalau keturunan dari Sutan Sulaiman ini lahir seorang Pahlawan Nasional yaitu Abdul Moeis, pahlawan kemerdekaan Republik Indonesia, yang meninggal tahun 1959 di Bandung, adalah anak dari Tuangku Laras ini.
Pemangku adat inipun konon pernah ditindak Belanda gara-gara menolak pemungutan pajak (belasting) di desanya. Karena Penolakannya itu diasingkan ke Pulau Bangka.

Suatu hal yang sangat perlu diketahui, bahwa di Kota Bandung (salah satu daerah parantauan bagi orang Sungai Pua) ada jalan dan terminal yang diberi nama Abdul Moeis dan Soedirman (Saudara Abdul Moeis, yang terkenal dengan piala Badminton Soedirman) yang dianggap sebagai pahlawan dan pejuang yang cukup banyak berjasa terhadap Negara Republik Indonesia di bidangnya masing-masing. Berliau berdua adalah anak pusako urang Sungai Pua (anak Tuanku Larch) Soelaiman Dt. Tumangguang. Demikian yang ditulis oleh Inyiak Segeh dalam tulisannya.

http://www.cimbuak.net/content/view/209/8/

1 04 2011
Melinkalinangel

salam….
aku sejarah unand , asli sungai pua…
aku tertarik degan bahsan ini….
bisa da bahan yang lebih lengkap lagi????
aku mau tau bang…terima kasih….

22 01 2012
Hasalizen Hoesin

maaf sanak, “Lareh” jangan dirfubah jadi “laras” itu merubah arti. Laras itu ada si sejata, Lareh adalah jatuah dari ateh kabawah. Mohon sebutan dalam bgahasa Minang jangan di Indonesai kan. Haslizen Hoesin

17 03 2013
nillaoetomoNilla Silvianty Alamsyah, M.Hum

salam
saya keturunan Keluarga Besar Rumah Gadang, dari Lareh Sungai Puar…..pendidikan saya S2 Ilmu Budaya dari UI…….saya tertarik sekali dengan sejarah keluarga dari garis ayah saya ini…..nama ayah saya H. Badris Alamsyah atau nama di kecil beliau Lamsudin Lamisi,,,kakek saya adalah Lamisi Sutan Koelipa,,,,,sebenarnya Lareh terakhir…..tetapi karena Indonesia sudah merdeka …beliau bilang negara sudah merdeka tidak ada lagi gelar Lareh………dimana saya dapat mencari informasi yg lebih jelas……karena saya ini menulis karya ilmiah……terima kasih.

Saya Nilla S, Alamsyah….

18 12 2013
aqtar

Salam Nila,

Saya juga berketurunan Engku Lareh. Harap dapat hubungi saya di talian +60193848535. Saya Aqtar dari Malaysia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: