Haji Alay, “Dokter Mal” asal Bukittinggi

25 09 2011

Oleh : Yuyun Manopol (SWA.co.id)

Ia disebut-sebut sebagai “penguasa” Pasar Tanah Abang karena memiliki banyak kios/toko. Ia pun dijuluki “dokter mal” karena mampu menggairahkan mal dan pusat perbelanjaan yang mati suri di berbagai kota. Kini, kiprah pebisnis senior ini lebih banyak di dunia sosial dan pendidikan.

 

Pagi itu sekitar pukul 09.00 suasana Blok F3 Pasar Tanah Abang sudah ramai dengan pedagang dan pembeli. Haji Alay mampir ke salah satu tokonya, Zona Scarf, yang menjual berbagai jenis kerudung dengan label Zona. “Biasanya pukul tujuh pagi saya sudah ada di toko,” ujar pria yang gemar berbaju koko dan berpeci ini.

 

Di seputar Pasar Tanah Abang, Haji Alay merupakan sosok kondang. Pria berusia 58 tahun asal Minang ini disebut-sebut sebagai salah satu penguasa toko di Pasar Tanah Abang. Ia juga dikenal sebagai pebisnis bertangan dingin yang mampu menggairahkan kembali sejumlah mal dan pusat perbelanjaan yang mati suri di beberapa daerah seperti Cipadu, Sukabumi, Cilegon, Makassar dan Ciputat.

 

Ini terbukti ketika penulis berjalan beriringan denganya menuju kantor dari tokonya yang berjarak beberapa ratus meter. Pria kelahiran Bukittinggi, 30 Mei 1953, ini beberapa kali bertukar sapa dengan para pedagang di sepanjang jalan. Mereka saling berjabat tangan dan kadang berpelukan hangat, sembari menanyakan kabar masing-masing. Bahkan, ada seorang ibu tua dengan pakaian lusuh bercerita tentang kondisi kesehatannya yang membaik setelah sebelumnya sulit berjalan karena sakit varises.

 

Keakraban tersebut, menurut sejumlah kalangan, terbentuk karena selama ini pria yang menginspirasi lahirnya komunitas Tangan di Atas (TDA) — sebuah komunitas entrepreneur —ini dikenal sebagai sosok yang suka membagi ilmu berbisnis dan mendukung pedagang kecil, bahkan mantan preman, untuk berdagang di sana.

 

Kantornya amat sederhana. Ketika kami sampai di sana, tidak ada staf yang terlihat. Ruang kerjanya dipenuhi buku-buku dakwah, tak ada barang mewah.

 

H. Nuzli Arismal, begitulah nama Haji Alay yang sebenarnya. Tak banyak orang yang tahu nama ini.Ia memang lebih kondang dengan panggilan Haji Alay.

 

Sebelum sukses seperti sekarang, Haji Alay telah mengenal dunia dagang sejak kecil. tepatnya kala berusia enam tahun. Waktu itu ia tinggal di Bukittinggi, Sumatera Barat. “Saya berjualan serabi buatan Ibu seharga 5 sen, keliling kampung dan kamp tentara,” ujarnya seraya menyebutkan, kala itu masih dalam suasana pergolakan PRRI. Dagangannya laris karena orang jarang berdagang lantaran takut ke luar rumah. “Dari situ saya jadi senang berbisnis,” ujarnya. Tak hanya kue, ia juga berjualan balon, baling-baling kertas, kerupuk dan pisang. Bahkan, bawaan kakeknya (seorang pedagang tembakau) dari kebun berupa cabe rawit, jengkol dan pete pun ia jual. “Saya senang punya uang. Tidak perlu minta orang tua,” ujarnya. Bagi Alay, kakek adalah sosok panutan berbisnis. “Dari beliaulah saya belajar ilmu berdagang. Ajarannya, berdagang dengan jujur dan baik. Artinya, bahasa harus manis dan jujur,” ungkapnya.

 

Ketika menginjak bangku SMA, ia pindah ke Palembang ikut pamannya. Di kota ini ia tinggal dari 1969 sampai 1975. “Saya hanya sempat sekolah tiga bulanan di Pusat Latih Kejuruan Industri (PLKI, selevel SMA),” katanya. Meskipun asyik berdagang, ia tak melupakan sekolahnya. Setelah keluar dari PLKI, ia mengambil kursus malam hari mengenai ilmu agama dan mubaligh. Di Palembang ia berdagang banyak barang, mulai dari rokok, pakaian, hingga tekstil (kain meteran). Modalnya pinjaman dari pamannya senilai Rp 10 ribu atau senilai sekitar 7 gram emas. “Dalam 15 hari, pinjaman itu sudah terbayar,” Haji Alay mengenang, bangga.

 

Tahun 1975, putra pasangan Rajudin Ismail dan Lamsiar ini mencoba berdagang pakaian ke Lampung. “Tadinya saya ingin pindah langsung ke Jakarta. Sebab, uang kan banyak di Jakarta. Dari sini (Lampung) sebagai bantu loncatan saja ke Jakarta,” cerita sulung dari enam bersaudara ini. Di Lampung ia menjadi pedagang pakaian keliling atau musiman. Ketika musim panen cengkeh, ia datang berdagang. Begitu juga ketika musim panen kopi. “Orang punya banyak duit saat itu,” ujarnya. Di Lampung ia tak hanya berdagang pakaian, tetapi juga emas, elektronik, jam tangan dan radio. Modalnya tak lain hasil dagangnya di Palembang.

 

Setelah dua tahun berdagang di Lampung, pada 1977 ia memberanikan diri pindah ke Jakarta. Ia memilih berdagang di Pasar Rawamangun. Ukuran tokonya saat itu 2×4 m2. Di sini ia fokus berdagang pakaian. Namun, tahun 1979 ia memutuskan pindah ke Pasar Tebet karena tempatnya lebih elite. Berkat ketekunannya, bisnisnya berkembang cepat. Pada 1983, ia memiliki total tujuh kios: lima kios untuk berdagang pakaian dan dua kios untuk berdagang sepatu. Sejak 1984, ia mendesain sendiri baju-baju yang dijual di kios-kiosnya.

 

Namun, kegembiraan itu tak berlangsung lama. Saat itu ada gerakan antipungli yang digencarkan Pemerintahan Soeharto. Alhasil, daya beli masyarakat pun ikut turun. Bersamaan dengan itu, mulai muncul banyak department store. Pelanggannya sedikit demi sedikit ikut tergerus. Pendapatannya pun tergerus, sehingga hanya bisa untuk bayar utang ke bank.

 

Tahun 1984 Haji Alay mencoba berdagang di Pasar Tanah Abang. Rupanya, di sinilah peruntungannya. Ia tampaknya enggan bercerita banyak tentang keberhasilannya di pasar grosir terbesar di Asia Tenggara tersebut. Seorang sumber yang dekat dengannya mengatakan, saat ini Haji Alay memiliki puluhan toko. Sang sumber juga menyebutkan, ia tak hanya menjadi pemilik dan pengelola properti di Tanah Abang, tetapi juga di pusat perbelanjaan Mangga Dua dan ITC Cempaka Mas. Haji Alay kini juga menjadi distributor sejumlah merek garmen beken, seperti Lois, Lea, Cardinal, H&R, Watchout, Country Fiesta,Tira, Dadung dan ie-be. Menurut pengakuan Haji Alay, bisnis distributor produk garmen luar sudah diserahkan kepada keluarganya (anak dan keponakan). Alasannya, ia merasa sudah tua dan anak-anaknya pun sudah besar-besar.

 

Yang paling istimewa dari Haji Alay adalah kemampuannya menghidupkan mal-mal belanja yang mati suri. Ia dikenal berhasil menggairahkan kembali sejumlah mal di Sukabumi, Cipadu, Cilegon, Makassar dan Ciputat. Adapun proyek pertamanya adalah Mayofill Mall (1998) di Cilegon dan Sukabumi yang luasnya masing-masing satu hektare lebih. “Ada orang yang datang ke saya. Mereka bertanya, ada mal mati, bagaimana cara menghidupkannya.,” ujarnya. Karena ia adalah ketua pedagang kaki lima (PKL) dan akrab dengan mereka, ia berpikir bagaimana para pedagang kecil itu diberdayakan dan dapat membangun ekonomi umat. “Sementara pemerintah kan nggak pernah mencarikan solusinya,” ujarnya mengkritik. Ternyata, berhasil. Dari sini, ia kemudian dipercaya menggarap Agrope atau semacam pusat ruko (terdiri dari 140 ruko) di Cipadu. Luasnya kurang-lebih tiga ha. Agrope ini dipegang Haji Alay tiga tahun lalu. “Kini perkembangannya luar biasa,” ujarnya menggambarkan kinerja pusat ruko tersebut. Dari Cipadu, ia kemudian dipercaya menggarap Latanete Plaza di Makassar (2002-04) dan Choliva di Ciputat (11 ruko).

 

Tengoklah proyek Choliva di Ciputat. Beberapa tahun sebelumnya, mal ini sepi pengunjung. Kini mal tersebut ramai pengunjung setelah Haji Alay diminta mengelolanya. Itu terjadi kurang dari setahun. “Itu (Choliva) tadinya tempat timbunan sampah. Sekarang sudah menjadi ruko bagus,” ujarnya.

 

Haji Alay juga pernah dipercaya mengelola pusat grosir pakaian di Jalan Banceuy, Bandung. Pertokoan yang diharapkan menjadi pusat garmen terlengkap seperti pertokoan Tanah Abang di daerah Bandung ini diberi nama ATC, singkatan dari Abdurrahman bin Auf Trade Center.

 

Proyek paling anyar Haji Alay adalah meramaikan Blok F Tanah Abang. Sebelumnya, blok ini sepi pengunjung. Namun, setelah ia tangani, jadi ramai. Secara bergurau, ia sering menyebut dirinya sebagai “dokter mal”. “Hampir semua menawari saya. Sekarang lantai 4 dan 5 (di Metro Tanah Abang) menjadi toko termahal,” ujar Ketua Syarikat Masyarakat Industri dan Pasar Indonesia ini bangga.

 

Bagaimana caranya menggairahkan Pasar Tanah Abang ini? Ayah sembilan anak ini mengaku merangkul para PKL dan pedagang rokok jalanan. Ia mempersilakan para pedagang menempati kios-kios di kompleks pertokoan Tanah Abang tanpa dipungut ongkos sewa sepeser pun. Mereka baru membayar sewa jika usaha mereka telah berjalan dan mendapatkan keuntungan. Gebrakannya ternyata manjur. Pusat pertokoan Blok F Tanah Abang, yang tahun-tahun sebelumnya sepi karena tidak laku, tak berapa lama kemudian menjadi ramai. Proyek di blok ini selesai pada pertengahan 2010.

 

“Pertama, pertayaannya adalah ‘kenapa mati’? Ya, karena tidak ada ‘gula’-nya,” kata Haji Alay. Lalu, ia pun mencarikan gulanya. Karena mulanya digratiskan, pasti para pedagang menjual dagangannya dengan harga murah. “Karena murah, orang jadi ramai berdatangan, lama-lama toko bisa sewa, lalu bisa dibeli. Jadi, menghidupkan ekonomi dengan baik. Pemerintah pun senang karena tidak perlu repot-repot mengusir pedagang kaki lima,’ ujarnya.

 

Haji Alay berkeyakinan, konsep meramaikan mal semuanya sama, yakni merangkul PKL. Para PKL ini dibina untuk memilih dagangan. Selanjutnya, Haji Alay yang mengarahkan. Setelah hidup, dijual ke PKL. Caranya, bagi hasil saja. Misalnya, ada anak yatim, disewakan toko. Mereka berjualan di toko tersebut dengan pola bagi hasil. “Saya senang mengontrakkan toko kepada orang, lalu untungnya bagi dua.”

 

Kakek tujuh cucu ini tampaknya memang senang berbagi. Sejak 1977 ia sudah menyebarkan jiwa berdagang atau berbisnis kepada orang lain. “Sudah sejak dulu, preman mabuk pun sayasamperin,” katanya. Ia mengaku sudah banyak orang seperti ini yang dibantunya. Caranya, ia mengajak istri mereka berdagang dengan memberi modal dagang dengan sistem bagi hasil. Kemudian, anak-anaknya diajari ilmu agama. “Mereka (para preman) itu kan jadi segan untuk bertindak tidak baik lagi,” ungkapnya. “Mereka juga saya biayai umroh,” ujarnya. Dari awal ia mengajarkan hidup yang bermanfaat bagi orang lain.

 

“Dasar beragama yaitu kalau kita membantu orang lain, Allah akan membantu kita. Saya memberi jalan kepada orang dengan motivasi agama, Allah akan memberi (membalasnya) berlipat ganda,” katanya. Ia menambahkan, hal yang paling bagus bagi masyarakat Indonesia saat ini adalah menjadi pengusaha. “Karena Indonesia ini kekurangan pengusaha. Kurang dari 1%, paling tidak (kita butuh) sekitar 8% pengusaha.”

 

Kini Haji Alay menyediakan makin banyak waktunya untuk kegiatan seminar kewirausahaan, ceramah agama dan pendidikan. Itulah sebabnya, ia aktif di komunitas TDA. “Ia bagaikan air bagi TDA, sedangkan saya mengemasnya seperti Aqua,” ujar Badroni Yuzirman, pendiri dan Ketua TDA. Roni, begitu ia akrab dipanggil, menyebut Haji Alay sebagai inspirator dan sesepuh komunitas TDA.

 

Roni mengungkapkan, terbentuknya komunitas TDA pada Januari 2006 terinspirasi perbincangannya dengan Haji Alay yang sangat peduli pada tumbuhnya wirausaha di lingkungannya. “Usia beliau sudah tidak muda, namun semangatnya seperti anak muda,” katanya. Hal ini tampak dari ide-ide dan sikapnya yang senang hal-hal yang baru dan mengeksekusinya dengan cepat. “Jadi, sikapnya action-oriented,” ujar pemilik Manet Busana Muslim Plus itu.

 

Bahkan dalam tulisannya di situs TDA, Roni menceritakan pengalamannya ditelepon Haji Alay pada awal 2010. Saat itu, Haji Alay mengungkapkan bahwa ia sedang membangun 300 kios di Tanah Abang dan disewakan kepada para pedagang dengan harga murah, yakni Rp 35 juta/tahun. Selanjutnya, Haji Alay akan membangun gedung untuk membuat 5.000 kios. Sebagai gambaran, harga pasaran kios di Blok A dan B di Tanah Abang berkisar Rp150 -500 juta/m2.

 

Menurut Haji Alay, motivasi dirinya menyemangati TDA adalah ia ingin sekali menjadikan penduduk negeri ini sebagai pengusaha yang bisa menjelajah dunia seperti orang Cina di Asia, atau India di Afrika. Jadi, nantinya Indonesia bukan lagi meraih devisa dari pembantu melainkan dari warga negara yang berada di luar negeri. “Kita tidak lagi ekspor tenaga kerja melainkan pengusaha,” ujarnya optimistis.

 

Kiprah Haji Alay bukan hanya di dunia bisnis dan kewirausahaan, tetapi juga di dunia pendidikan. Pada 2010, ia mendirikan sekolah di Bukittinggi bernama Mage Islamic Center dan telah diresmikan oleh Gubernur Sumatera Barat Irwan Prayitno dan Ketua Mahkamah Konstitusi Mahfud MD. Lalu, di Ciputat, bersama rekan–rekan pedagang Tanah Abang ia mendirikan TK dan SD Nurul Fatahillah yang kini telah mempunyai 1.200 murid. Sekolah ini sama sekali tidak mengambil untung. “Ini sejak tujuh tahun yang lalu. Insya Allah sampai SMA,” ujarnya. Nilai plusnya, semua sekolah yang dikembangkan tersebut berbasis kewirausahaan.

 

Bahkan, Haji Alay juga sedang merintis pendirian yayasan yang akan mengelola sekolah wirausaha dari TK sampai S-1 dengan nama Haji Alay Foundation. Total luas lahan yang sudah dimilikinya di Ciawi saat ini 5.000 m2. Rencananya, areal akan diperluas hingga 10 ha. “Sekarang (sekolah itu) sudah mulai dibangun,” katanya. Selain itu, saat ini ia pun tengah membuat Kampung Sehat Indonesia di Cibinong, Sentul. Total luas tanah rencananya akan mencapai 11 ha. Ia pun merintis klinik pengobatan sejak akhir 2010. Namanya, Klinik H. Alay. Klinik ini fokus pada pengobatan penyakit jantung koroner dan kanker dengan menggunakan obat herbal dan lintah.

 

Di usia yang semakin lanjut, Haji Alay kian aktif berdakwah. Tak hanya di Tanah Air, tetapi juga hingga Malaysia dan Singapura. “Saya tidak pernah mempunyai waktu senggang. Karena hidup kita nanti dipertanggungjawabkan di akhirat, saya membaca kemudian memberikan ilmu kepada orang lain,” ujarnya. Tak mengherankan, ia telah menyerahkan manajemen Hoklay Corporation, perusahaan di bidang jual-beli properti miliknya, kepada keluarganya. “Saya lebih menginginkan toko akhirat, bukan toko duniawi,” katanya menegaskan. (*)

Sumber:  http://swa.co.id/2011/07/haji-alay-dokter-mal%E2%80%9D-asal-bukittinggi/


Actions

Information

2 responses

25 09 2011
eso

Allahu Akbar… Semoga pencerahan yang diberikan H Alay, juga sampai di rantau Jambi.. aamiin

25 04 2016
Raja Shahriman Bin Raja Shahar

Assalamualaikum,
Saya Raja Shahriman Bin Raja Shahar Bin Raja Nong Chik Bin Tengku Hussein Bin Tengku Laut Bin Tengku Tialam Bin Sultan Shairul Alam Shah. Mungkin Tengku Tialam berasal dari Pagaruyung. Saya kurang pasti siapakah ayah kepada Tengku Tialam ini.
Saya tidak tahu untuk memulakan pencarian salasilah di Pagaruyung. Harap dapat membantu saya. Wassalam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: