Linda Amalia Sari Gumelar

21 10 2011

Linda Amalia Sari Gumelar, Senang Berorganisasi Sejak Kecil 

Menjadi Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak bukanlah hal mudah. Banyak tantangan dan masalah yang harus diselesaikan. Oleh karena sejak kecil sudah aktif berorganisasi, Linda tak canggung lagi dengan lingkungan barunya. Perjalanan hidup Linda bisa Anda ikuti mulai nomor ini.

Jika ditanya saya berasal dari mana, mungkin bisa dibilang saya adalah orang Indonesia sejati. Ayah, H. Ahmad Tahir (alm.) berasal dari Salatiga, sementara kakek menikah dengan orang Melayu. Sedangkan Ibu, Hj. Rooslila Tahir (alm.), berayah orang Batak dan ibunya berasal dari Pariaman.

Ayah bekerja di TNI AD dan sempat menjabat sebagai Menteri Pariwisata, Pos dan Telekomunikasi, sedangkan Ibu aktif berorganisasi. Ibu pernah menjadi anggota DPR RI dan anggota Dewan Kesenian, ia seorang seniman dan wartawati. Beliau banyak bergerak di organisasi perempuan dan aktivis, bahkan punya sekolah di Medan.

Berhubung Ayah tentara, tugasnya pun selalu berpindah-pindah. Saya lahir di Kota Kembang, 15 November 1951, ketika ayah sedang bertugas di Bandung. Tapi, hanya sampai dua tahun di sana, lalu kami sekeluarga pindah ke Jakarta sampai sekarang. Uniknya, saya malah dapat suami, Agum Gumelar, yang asli orang Bandung. Ha ha ha.

Sering Berpindah-pindah
Saya diberi nama Linda Amalia Sari. Linda diambil dari bahasa Spanyol artinya manis. Lalu Amalia artinya anak yang diharapkan beramal baik dalam ilmu, selalu memperhatikan orang yang sedang kesulitan. Dalam falsafah agama, manusia harus banyak membantu orang. Sedangkan Sari artinya inti.

Setiap Ayah berpindah tugas, saya pun ikut pindah sekolah. Enam tahun di SD, ya enam kali pula pindah sekolah. Di usia 5-6 tahun saya sekolah di Roma, Italia ketika Ayah menjadi atase militer disana. Setahun disanapindah keJakartadi SD Cikini. Baru sebentar diJakarta, Ayah ditugaskan keBandungselama setahun.

Lantaran tahu akan dipindahkan ke Jakarta, sebelumnya kami

 

dipindahkan dulu ke SD Cilacap. Kami dititipkan di rumahOmdi daerah Cipete. Tahun 1959, daerah Cipete masih hutan dan gelap. Kami tinggal di Perumahan Deplu. Kemudian, Ibu mendapat rumah di Panglima Polim, yang sampai kini jadi rumah saya bersama keluarga. Lalu kami sekolah di SD Kwitang V, Jakarta Selatan, dekat rumah.

Bagi saya, berpindah-pindah tempat menjadi pengalaman unik sekaligus merepotkan. Makanya, ketika saya dapat suami tentara juga, saya tak mau anak-anak mengalami hal yang sama. Akhirnya anak-anak tetap di satu tempat, cukup saya saja yang berpindah-pindah mengikuti suami.

Dulu, semasa kecil, saya harus melakukan banyak penyesuaian di sekolah yang selalu berpindah-pindah. Dan itu tidak mudah. Makanya, saya jadi tak punya sahabat atau teman baik. Baru kenalan sebentar sudah pindah rumah. Sisi positifnya, saat memasuki dunia organisasi di masyarakat, saya jadi cepat menyesuaikan diri.

Baru di SMP 13 Jakarta saya menemukan sahabat sejati. Pertemanan kami cukup kental, karena merasa senasib seperjuangan. Malah sampai kini, kami rutin bertemu di acara perkumpulan dan arisan. Begitu juga dengan teman-teman di SMA 6 Bulungan Jakarta, sampai kini kami tetap bersahabat.

Meski dulu pernah mengalami masa susah, Ayah adalah sosok yang tekun dan banyak berjuang. Beliau juga seorang guru dan pernah memproklamirkan kemerdekaan di Sumatera. Ayah selalu berjuang, mendidik kami dengan disiplin, dan membantu dalam pelajaran.

Jadi, beliau tak pernah memanggil guru les seperti zaman sekarang. Lucunya, karena kasihan melihat anak-anak, PR sekolah pernah dikerjakan Ayah. Lalu, paginya dijelaskan bagaimana cara penyelesaiannya. Nah, ketika sampai di sekolah, teman-teman bertanya, “Eh, Papa kamu sudah bikin PR, ya?” Dan mereka pun mencontek PR saya. Ha ha ha. Tapi, itu sesekali saja, lho.

Ayah memang sangat berpengaruh banyak dalam pendidikan kami. Jika kami ujian, selalu ditunggui, lalu pulang ujian pun dijemput beliau. Begitu ujian selesai, bersama teman-teman, saya diajak makan gado-gado Purbawisesa oleh Ayah. Untuk ukuran zaman dulu, makanan itu sudah top sekali.

 

Gemuk & Doyan Makan

Saya anak ke-4 dari 6 bersaudara, dan hanya ada dua anak perempuan. Nah, kepada anak perempuannya, Ayah sangat sayang, terutama saya. Jika semua kakak dan adik tak berhasil minta sesuatu, sayalah yang turun tangan menghadap Ayah. Soalnya saya termasuk anak yang tak pernah minta sesuatu. Misalnya, kami mau pergi beramai-ramai ke suatu tempat tapi tak diberi izin. Lalu saya minta ke Ayah, eh, langsung diberi izin.

Sementara sosok Ibu adalah orang yang aktif berorganisasi. Hal itulah yang menurun ke saya, senang berorganisasi. Rumah kami sudah terbiasa menjadi tempat orang-orang mengadakan rapat.

Ibu adalah Ketua Umum Istri Pajurit Angkatan Darat (Persit). Dulu, istri panglima belum tentu jadi Ketua Persit karena masih dipilih dari seluruh Indonesia. Nah, Ibu terpilih dua kali. Jadi, saya selalu melihat suasana kegiatan ibu-ibu di rumah.

Ibu sangat aktif berorganisasi, memperjuangkan hak-hak wanita. Atau kegiatan seni seperti latihan paduan suara dan tari-tarian. Ada peristiwa lucu yang tak pernah saya lupakan. Bila sedang ada rapat di rumah, saya ikut duduk di ruang tamu. Bukan untuk mendengarkan ibu-ibu rapat, melainkan menunggu kue yang dihidangkan di meja.

Badan saya dulu gemuk karena doyan makan. Di antara saudara lainnya, badan saya paling gemuk. Kalau dikasih makan, saya pasti langsung terdiam. Jadilah saya dititipkan kakak-kakak untuk mengamati kue-kue itu. Nantinya kue lapis legit buat siapa, kue mangkok atau lemper buat siapa.

Dulu, kan, zaman sulit, kue seperti itu belum gampang diperoleh. Jadi, kami juga ingin ikut menikmati kue itu. Mata saya tak pernah berhenti menatap kue itu. Jika kue lapisnya sudah dimakan orang lain, saya lapor ke kakak, ”Kue lapisnya sudah dimakan!” Begitu seterusnya setiap ada kue yang dimakan oleh tamu. Ha ha ha.

Aktif Organisasi
Saya mulai aktif berorganisasi sejak SD, misalnya jadi Ketua Kelas. Bila ada kegiatan sekolah, saya selalu jadi panitia. Di SMP, karena aktif sekali, saya sampai pernah mengkoordinir demo dengan menyewa truk. Saya koordinatornya, jadi duduknya di sebelah sopir. Ha ha ha.

Ketika ada malam penggalangan dana, kami juga bisa mengundang penyanyi super top kala itu, Dara Puspita. Hebat ya, saya bisa mendatangkan mereka. Meski begitu, kedua orangtua selalu mengajarkan sikap-sikap baik. Ketika Ayah jadi Panglima, kami harus bisa menjadi diri sendiri, jangan merasa jadi anak panglima.

Semua fasilitas jangan dipakai, misalnya ayah pakai ajudan, anaknya ya jangan ikut-ikutan. Hal ini saya turunkan juga ke anak-anak, meski dulu kakeknya menteri dan papanya juga menteri, lalu saya kini juga jadi menteri, anak-anak tak perlu berubah sikapnya.

Pernah sekali waktu, kebetulan Ayah sedang bertugas ke luar negeri saat menjadi anggota dewan telekomunikasi. Suasana di Indonesia mencekam karena sedang terjadi pemberontakan. Kami bahkan diteror dan diawasi. Ayah tak bisa pulang karena kondisinya tak memungkinkan. Lantaran khawatir, Ibu terpaksa membawa kami mengungsi selama 3 bulan di suatu tempat. Untungnya kami tetap bisa bersekolah.

Kasih sayang Ibu kepada kami sangat besar. Sosoknya tegar dan mau berjuang. Beliau suka sekali masak dan selalu menyiapkan makanan buat kami. Beliau juga sangat memperhatikan keluarga. Bahkan, adik-adik Ibu pun dibesarkan dan tinggal bersama Ibu. Tapi sayang, kepandaiannya memasak tidak menurun ke saya, melainkan ke kakak saya.

Jadi Vokalis Band 
Saking banyaknya yang hidup bersama kami di rumah, Tante kami juga ikut ke luar negeri saat Ayah sedang bertugas. Begitu juga saat harus ke Italia, kami pergi berbondong-bondong ke Roma.

Dulu, mobil di sana masih besar-besar seperti Cadillac. Jadi, saat kami turun dari mobil sambil pakai jaket karena dingin, orang-orang di sana sampai bingung melihat rombongannya banyak sekali. Satu persatu kami dihitung. “Mamma Mia,” kata mereka. Pasti mereka pikir anaknya banyak banget. Ha ha ha.

Begitu juga saat saya di SMA, kebetulan Ayah mendapat tugas sebagai Gubernur Akabri di Magelang. Suasana di Magelang sepi sekali. Oleh karena suka musik, akhirnya kami membuka stasiun radio pemancar, namanya Antariksa.

Waktu itu modelnya masih radio pemancar. Saat itu usia saya 16 tahun dan sudah jadi penyiar. Kode namanya, Lima Alfa Sierra atau singkatkan dari nama saya. Kami juga pernah bikin band keluarga, lho! Saya main organ dan jadi vokalis. Suaranya semampunya saja, tapi kayaknya sudah paling top saja waktu itu. Saya memang sempat belajar piano tapi tak terlalu jago.

Kegiatan itu kami lakukan hanya untuk mengisi kekosongan saja. Kadang manggung di Akademi Militer atau di rumah saat ada acara tertentu. Setelah saya jadi mahasiswa, sudah tak pernah main band lagi.

Selama setahun di Magelang, sebelum lulus SMA, saya dipindah ke SMA 6 Bulungan untuk persiapan jurusan dan kuliah. Khawatir Ayah ditugaskan lagi ke lain kota, jadi saya lebih dulu pindah ke Jakarta untuk mempersiapkan diri jadi mahasiswi.

Saya sempat kuliah di Fakultas Farmasi Universitas Pancasila. Saya sebetulnya ingin jadi dokter, tapi tak diterima di Universitas Indonesia. Sayang, saya tak bisa meneruskan kuliah karena menikah. Kelak saya melanjutkan kuliah di Universitas Terbuka, Fakultas Ilmu Sosial Politik, Jurusan Administrasi Negara sampai selesai.

Selain menambah wawasan ilmu, intinya saya ingin memberi contoh kepada anak-anak. Belajar tidak ada batas usianya. Jadi, ketika mereka belajar bersama teman-temannya, saya juga ikut belajar. Makanya, tak ada alasan bagi mereka untuk bermalas-malasan. Mereka jadi rajin belajar karena ibunya saja masih terus belajar. Hal itu saya lakukan untuk memotivasi mereka.

Noverita K. Waldan

 

Sumber : http://www.tabloidnova.com/Nova/Profil/Linda-Amalia-Sari-Gumelar-Senang-Berorganisasi-Sejak-Kecil-2


Actions

Information

One response

12 01 2013
Wildenni

mancaliak padusi labiah2 nan lah baumua nan indak ba jilbab iyo lah taraso jangga dan katinggalan mode rasonyo

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: