Indra Sjafri

19 10 2013

10knatpdmkIndra Sjafri (lahir di Lubuk Nyiur, Batang KapasPesisir SelatanSumatera Barat2 Februari 1963; umur 50 tahun)[1] adalah seorang mantan pemain sepak bola yang kemudian menjadi pelatih sepak bola Indonesia.[2] Ia dipercaya menjadi pelatih Timnas Junior Indonesia (PSSI), seperti Timnas U-12, U-17 dan U-19yang dijuluki Garuda Muda.[3]

Indra Sjafri pernah membawa timnas junior merebut trofi juara pada turnamen sepak bola tingkat Asia, yaitu pada HKFA U-17 dan HKFA U-19 di Hongkong. Sebelumnya, Indra bertugas sebagai instruktur dan pemandu bakat di PSSI sejak Mei 2009. Indra merupakan mantan pemain sepak bola yang pernah membela PSP Padang pada tahun 1980-an, dan juga pernah menangani klub sepak bola dari ibukota provinsi Sumatera Barat itu sebagai pelatih.[4]

Pada 22 September 2013, Indra Sjafri sukses membawa tim asuhannya, Timnas Indonesia U-19 menjuarai Turnamen Kejuaraan Remaja U-19 AFF 2013setelah di final mengalahkan tim kuat Vietnam dalam pertandingan dramatis yang berujung adu penalti, dimana tim Indonesia menang dengan skor 7-6. Gelar juara ini merupakan gelar pertama Indonesia sejak 22 tahun terakhir dimana Indonesia tak pernah meraih satupun gelar juara baik di level Asia Tenggara maupun level yang lebih tinggi.[5] (wikipedia)





Syekh Thahir Djalaluddin Al-Azhari Al-Falaki

29 04 2011

Ulama Besar Semenanjung Malaysia Keturunan Minangkabau

Ditulis ulang : MuhammadIlham (c) Tim Peneliti FIBA

“Kehadiran Thahir Djalaluddin, menurut Roff, telah menarik perhatian para ulama kaum tua di Semenanjung. Mayoritas para ulama tua ini merasa tersaingi dan terkesan kehadiran ahli falak ini menggerogoti otoritas dan domain keilmuan mereka” (William Roff)

Syekh Thahir Djalaluddin Al-Azhari Al-Falaki (selanjutnya disebut Thahir Djalaluddin) pada waktu kecil memiliki nama Muhammad Thahir. Beliau lahir di nagari Ampek Angkek Canduang, Bukittinggi pada tanggal 7 Desember 1869. Beliau kembali ke Rahmatullah pada tanggal 26 Oktober 1956 di Kuala Kangsar Perak, Malaysia. Secara genetik, Thahir Djalaluddin merupakan keturunan ”darah biru ulama”. Ayahnya bernama Muhammad, yang biasa dipanggil dengan Syekh Cangkiang. Gelar Syekh ini menunjukkan bahwa ayah Thahir Djalaluddin merupakan seorang ulama. Sementara itu, kakeknya bernama Ahmad Djalaluddin dengan gelar Tuanku Sami’, seorang kadi pada masa Paderi. Thahir Djalaluddin merupakan saudara sepupu dari Syekh Ahmad Khatib al-Minangkabawi. Sementara itu, ibu Thahir Djalaluddin, Limbak Urai, merupakan kakak dari Gandam Urai, ibu dari Syekh Ahmad Khatib. Thahir Djalaluddin memiliki empat orang saudara yaitu Aishah, Maryam, Muhammad Amin dan Halimah. Ketika beliau berumur 2 tahun, ayah Thahir Djalaluddin meninggal dunia dan enam tahun kemudian sang ibu-pun menyusul ke rahmatullah. Sejak itu, beliau diasuh oleh adik ibunya, Limbak Urai.Thahir Djalaluddin mempunyai enam orang istri yang dinikahinya dalam waktu yang berbeda. Istri pertama beliau bernama Aishah binti Haji Mustafa yang dinikahinya ketika beliau pertama sekali tinggal di Kuala Kangsar. Dengan aishah ini, Thahir Djalaluddin dikaruniai enam orang anak yang bernama Rahmah, Muhammad Al-Johary, Ahmad, azizah, Hamid dan Hamdan. Sedangkan lima orang lagi istri beliau merupakan keturunan Minangkabau yang dinikahinya ketika Thahir Djalaluddin berkunjung ke Minangkabau. Dengan istri-nya yang lima orang keturunan Minangkabau tersebut, Thahir Djalaluddin tidak dikaruniai anak. Sampai akhir hayatnya, Thahir Djalaluddin tetap menjaga perkawinannya dengan istrinya yang pertama Aishah binti Haji Mustafa. Pada tahun 1880, Thahir Djalaluddin berangkat ke Mekkah untuk menuntut ilmu Islam menyusul kakak sepupunya yang terlebih dahulu ke Mekkah. Syekh Ahmad Khatib berangkat ke Mekkah tahun 1871. Di Mekkah ini, beliau belajar selama 13 tahun (dari tahun 1880-1893), termasuk belajar pada kakak sepupunya Syekh Ahmad Khatib. Karena Thahir Djalaluddin belum merasa puas selama belajar di Mekkah, Thahir Djalaluddin berangkat ke Mesir dan melanjutkan studinya di Al-Azhar selama 3 tahun (1895-1898). Kemudian beliau kembali lagi ke Mekkah dan bergabung sambil belajar dengan sepupunya yang pada waktu itu telah diangkat menjadi Guru dan Imam Mazhab Syafei di Masjidil Haram. Limbak Urai merupakan istri dari Abdul Lathif Khatib Nagari yang merupakan tokoh di kampung halaman Thahir Djalaluddin ketika itu.Pada tahun 1898, beliau kemudian meninggal Mekkah dan menetap di Malaya.Intensitas kegiatan Thahir Djalaluddin kemudian selanjutnya terfokus di daerah Perak, Johor dan Singapura. Kalau tidak mendapat tantangan dari beberapa ulama tua-tradisionalis di Perak, beliau berkemungkinan besar diangkat menjadi Mufti Kerajaan Perak.




Minangkabau Berduka

9 10 2009

Menyalurkan bantuan lewat www.cimbuak.net

minangberdukaAssalamu’alaikum Warrahmatullahi Wabarrakatuh

Innalillaahi Wainnailaihirooji’uun

Tanggal 30 September 2009 pukua 17:16 Wib, Gampo dengan kakuatan 7,6 SR kumbali mangguncang Ranah Minang.

Untuak mambantu dunsanak kito di kampuang,cimbuak memfasiltasi dengan mambuka Dompet Bantuan Musibah Gampo untuak di serahkan ka kampuang halaman.

Bagi dunsanak nan akan memberikan sumbangan, dapek di salurkan melalui :

Untuk Penyaluran Sumbangan

Bank Mandiri :

Yayasan palanta Cimbuak

Bank mandiri cab. Sarinah

No.rek. 103-0004.9210-17

Kode SWIFT Bank Mandiri (untuk sanak yang berada diluar negeri) : BEIIIDJA

atau

Bank BCA :

RENY MUSTIKA

No Rek :777 0402 802

BCA KCU DAGO

Untuk memudahkan bagi Panitia, bagi penyumbang yang melalui Bank BCA dan Bank Mandiri, mohon di tambahkan angka 009, sebagai indetifikasi Sumbangan Bantuan Gempa Sumbar, contoh : Anda akan menyumbangkan Rp. 10.000,- maka mohon di transfer sebanyak Rp. 10.000,009. Terima Kasih

atau melalui

paypal

Paypal melalui email webmaster [at] cimbuak. net

* untuk yang mengirimkan lewat paypal harap konfirmasi di comment dibawah

Untuk konfirmasi donasi :

Lelo : 0818-274 670

Bagi dunsanak nan alah mengirim sumbangan mohon ditulih katerangan “Bantuan Gempa Sumbar”

Mari berlomba-lomba berbuat kebaikan.

Barek Samo Dipikua, Ringan Samo Dijinjiang





Nofrins

9 04 2009

Nofrins, di Balik Geliat Pariwisata Sumbar

nofrins“Kacamata” baru tentang kampung halaman diperoleh Nofrins justru setelah dia lama merantau ke luar Sumatera Barat. Keelokan alam yang merupakan potensi pariwisata di tanah kelahiran itu baru disadari setelah dia mengunjungi daerah dan negara tetangga.

Kesadaran itu meresahkan pemilik nama lengkap Yulnofrins Napilus. Ketika tak banyak orang yang menjadikan keresahan itu sebagai pendorong tindakan nyata, dia termasuk “tangan tak terlihat” yang ikut memajukan pariwisata Sumbar.

Berawal dari hobi memotret, Nofrins lantas mengoleksi foto-foto keindahan panorama Sumbar, mulai dari pantai, pegunungan, dan obyek-obyek wisata lain di Sumbar.

Memanfaatkan keahlian kawan membuat situs, dia merancang situs yang berisi foto-foto berobyek alam Sumbar. Mula-mula, hanya foto jepretan kameranya serta beberapa koleksi kawan yang terpajang di situs west-sumatra.com tersebut.

Nofrins lalu menggandeng teman dan kenalan fotografer dari luar Sumbar untuk datang dan memotret daerah ini. “Saya ingin orang dari luar Sumbar yang memotret karena mereka umumnya bisa melihat hal menarik yang selama ini dipandang biasa-biasa saja oleh orang Sumbar,” ujar Nofrins yang meninggalkan Sumbar sejak kuliah di Institut Teknologi Bandung (ITB).

Kini, situs yang dirintis tahun 2005 itu ramai diisi oleh fotografer dari berbagai daerah. Orang asli Sumbar pun banyak yang memasukkan foto ke situs ini. Setiap ada acara di Sumbar, Nofrins mengabari para pembidik foto agar ikut mengabadikan momen yang nantinya ditayangkan di situs itu.

Read the rest of this entry »








%d bloggers like this: